Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Deja vu



Dia menghentikan langkah di depan pintu ruangan Justin, Pertepatan dengan Ezra yang baru saja keluar dari ruangan si pemilik asrama.


Cklek!


Ezra menyadari kehadiran Chloe, Lantas ia langsung memusatkan perhatiannya pada si gadis. Seperti biasa ia memberikan tatapan datar andalannya, Sebelum membuka suara menanyakan keberadaan sang gadis disana.


"Ada urusan apa kau kemari?!" Kata Ezra ketus.


"Aku mau ketemu pak Justin, Ada yang ingin kubicarakan sebentar,"


"Dia sibuk! Justin saat ini tidak bisa diganggu!" Balas Ezra masih ketus.


"Hanya sebentar," Pinta Chloe penuh harap.


"Kau tidak tuli kan?! Aku bilang dia sibuk ya sibuk! Memangnya urusanmu itu penting?! Ingat, Kau bukan anggota lagi disini!" Ezra besidekap dengan alis yang mengernyit, Merasa jengkel dengan keberadaan Chloe disana.


"Ini sangat penting dan aku butuh penjelasan," Chloe bersikeras untuk masuk namun dengan sigap Ezra menghalangi nya dengan tatapan marah.


"Diam disana!" Bentak Ezra yang seketika membuat Chloe terdiam di tempat.


"Apa lagi yang perlu dijelaskan?! Sudah jelas kan kalau kau bukan anggota lagi disini!" Ezra menatap tajam masih menghalangi jalan Chloe. "Cih, Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Justin merekrut anggota manusia lemah sepertimu, Padahal tidak ada yang menarik darimu sama sekali,"


"Mana kutahu, Makanya aku ingin menemui pak Justin untuk mendengar penjelasannya," Sahut Chloe tak mau kalah.


"Tidak! Jangan macam-macam kau! Kau tidak tahu saja kondisi Justin bagaimana saat ini, Kehadiranmu hanya akan memperburuk kondisinya! Pergi saja sana!" Usir Ezra kasar, Dia mendorong pundak Chloe agar cepat pergi dari sana.


Chloe terdorong mundur, Namun dia masih tidak meranjak dari tempatnya.


"Apa terjadi sesuatu pada pak Justin? Biarkan aku menjenguknya," Kali ini ekspresi Chloe berubah cemas.


Karna permintaan itu membuat Ezra semakin marah. Aura suram menguar dari tubuhnya dengan tatapan menusuk.


"Kau bilang apa tadi? Menjenguknya? Jangan harap! Tidak akan kubiarkan kau melangkah lebih dari ini!" Ezra mendekat masih dengan aura suramnya, Chloe perlahan mundur dengan keringat dingin dan tubuhnya yang agak gemetar karna tatapan Ezra.


Bruk!


Gadis itu menjadi panik saat merasakan punggungnya menabrak tembok dan disaat yang bersamaan Ezra sudah berdiri di depannya membuat dirinya terjebak antara tembok dan Ezra.


"Kalau kau macam-macam pada Justin, Melangkah lebih dari ini, Atau pun menghianatinya. Akan kupastikan kau tidak bisa hidup dengan tenang selamanya," Ezra menunjuk-nunjuk kening Chloe dengan jari telunjuknya. Suara pria itu sedikit merendah dengan nada ancaman di dalamnya.


"Kalau 3 hal itu sampai terjadi siap-siap saja, Akan kuambil nyawa mu secara paksa dengan tangan ku sendiri tengil. Pakai otakmu kalau kau ingin selamat dan jauhi Justin. Camkan itu!" Bisik Ezra dengan tangan yang lain mencengkeram lengan Chloe dengan kuat.


"Si-Situasi ini rasanya deja vu, Aku seolah pernah mengalaminya di suatu tempat," Pikir Chloe menatap was-was Ezra dihadapannya.


Chloe yang merasakan cengkeraman di lengannya sontak menahan sakit, Dia hanya bisa mengangguk tanpa berkata-kata. Bagaimana pun Chloe saat ini hanya bisa mengangguk saja, Sebisa mungkin dia menahan agar tidak berteriak kesakitan.


Cengkeraman Ezra tidak main-main, Tenaga pria itu begitu kuat sampai membuat lengan Chloe mulai membiru dan lebam.


Ezra kembali berdecih usai mendapat anggukan dari Chloe, Dia melepas cengkeraman itu.


"Pergi dari sini dan jangan pernah menjejakkan kakimu lagi disini manusia!"


Ezra berlalu pergi setelah mengusir Chloe dengan kalimatnya, Meninggalkan si gadis seorang diri.


Merasa Ezra sudah menjauh, Chloe memegangi lengannya yang membiru bekas cengkeraman Ezra. Ia terduduk sembari mengaduh kesakitan.


"S-Sakit banget...Dia benar-benar ingin membunuhku!" Gumam Chloe masih kesakitan. "Tempat ini sudah tidak aman, Lebih baik aku segera ke tempat mama dan ayah,"


Dengan susah payah Chloe berdiri lalu bergegas menuju kamar tamu tempat mamanya di rawat, Dia masih memegangi lengannya. Setelah kejadian ini dia mungkin tidak ingin kembali menjejakkan kaki di asrama ini dengan alasan apapun itu.


Karna dia tahu, Sudah tidak ada alasan lagi untuknya kembali. Lagipula tidak ada gunanya juga, Semua anggota ini tidak menyukai kehadirannya, Jadi sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.


********************


[Kamar tamu]


Cklek!


"Permisi,"


Chloe perlahan masuk, Dia melihat mama nya yang sedang terbaring masih tak sadarkan diri. Di sisi kasur terdapat ayahnya yang tengah menunggu si istri untuk bangun, Sementara dirinya tidak melihat tanda-tanda keberadaan si Felix disana.


"Ayah...," Chloe mendekati ayahnya yang diam merenung dengan ekspresi murung. "Dimana kak Felix?"


Merasa terpanggil Brian mendongak. "Felix? Apa maksudmu pria yang membantu ayah tadi?"


"Iya,"


"Dia pergi keluar entah kemana, Dia bilang ingin mengambil kompres dan minyak angin,"


Chloe tertunduk sesaat, Brian memperhatikan ekspresi anak pertamanya itu sejenak.


"Sebenarnya pria yang bernama Felix itu siapa? Mengapa dia bisa berada di rumah mantan suami mu ini?"


"Kak Felix itu teman pak Livian, wajar saja kalau dia menumpang tinggal disini," Bohong Chloe agak gugup.


"Mereka berteman jadi sama-sama menumpang tinggal. Lalu ayah dan mama kenapa begitu terkejut melihat kak Ian? Apa kalian mengenalnya?"


Chloe memutuskan untuk mendudukkan diri di sisi kasur berseberangan dengan sang ayah. Namun Brian yang mendapatkan pertanyaan itu dari anaknya merasa ragu untuk menceritakan sekarang. Mengingat mereka masih berada di asrama.


"Ayah mengerti kamu penasaran, Tapi akan lebih baik kita bahas lain kali. Tidak sopan rasanya kalau harus membahas di tempatnya langsung," Jawab Brian tenang, Sesekali dia mengusap punggung tangan istrinya. Berharap istrinya cepat sadar.


"Baiklah, Kalau begitu bagaimana kalau kita bawa mama ke rumah sakit saja yah? Soalnya akan lebih baik dirawat di sana," Usul Chloe.


"Tapi bagaimana dengan pria tadi? Kita tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja tanpa pamit,"


"Biar aku yang akan bicara sama kak Felix kalau dia sudah kembali kesini,"


"Ya sudah, Kalau begitu ayah akan pesan taksi dulu,"


Chloe mengangguk, Sementara Brian menjauh dari sana dan segera memesan taksi untuk membawa mereka ke rumah sakit.


Disaat yang bersamaan terdengar suara pintu yang baru saja dibuka, Menampakkan sosok pria bersurai coklat dengan netra aqua nya yang memancarkan tatapan lembut.


Cklek!


Felix melihat Chloe disana sedang memperhatikan orang tuanya, Seulas senyum ramah terpatri di bibirnya sebelum memutuskan untuk mendekati si gadis.


"Chloe, Aku membawakan kompres dan minyak angin untuk ibu mu,"


Mendengar suara Felix lantas membuat Chloe menoleh, Tatapannya tertuju pada kompres dan minyak angin yang berada di tangan Felix. Dia menerima kedua benda itu.


"Terima kasih kak Felix," Jawab Chloe seadanya, Dia meletakkan kompres di kening mama nya dan mengoleskan sedikit minyak angin di hidung sang mama.


"Aku ingin tahu, Apa benar kalau pak Justin saat ini sedang sibuk dan tidak bisa diganggu?"


"Ah, Soal itu memang benar. Kau tahu dari mana, Jangan bilang dari Ezra?" Felix memperhatikan aktivitas Chloe.


"Iya benar, Sejujurnya aku hanya ingin pamit. Aku tidak bisa kesini lagi,"


"Mengapa?"


"Percuma saja aku kesini kalau ujung-ujungnya di usir juga, Lagian rata-rata anggota disini tidak suka manusia kan? Jadi lebih baik aku cari aman saja ketimbang harus mendapat perlakuan berbeda lagi," Sahut Chloe tenang, Usai mengolesi dengan minyak angin. Dia meletakkan benda itu di nakas.


"Meski yang lain begitu, Tapi aku merasa kau manusia baik-baik. Jangan dengarkan perkataan anggota yang lain, Mereka hanya merasa iri denganmu," Felix memandang Chloe dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Iri? Apa yang perlu di iri kan dari manusia lemah sepertiku?! Aku memang berbeda kan dengan kalian, Aku tidak sekuat anggota lain dan hanya menyusahkan. Alasan yang lain karna mereka juga benci manusia," Chloe tertunduk sembari mencengkeram ujung bajunya.


"Kau tidak mungkin selemah itu, Kalau kau tidak berguna dan menyusahkan. Untuk apa Justin repot-repot mencarimu sebagai anggota no.8 yang hilang?" Tangan kanan Felix terangkat, Dia menepuk-nepuk rambut Chloe pelan. "Justin pasti sama yakinnya denganku kalau kau itu sebenarnya kuat, Makanya dia mencarimu dimanapun kau berada. Kau itu tidak lemah, Hanya kurang mengasah kemampuanmu,"


Chloe mendongak menatap wajah si pria yang tersenyum lembut, Rambutnya kini sedikit berantakan karna di acak oleh Felix. Netra nya sedikit berkaca-kaca merasa terharu.


"Kak Felix..."


"Hahaha, dasar. Kamu jangan memasang ekspresi seperti itu, Nanti aku dikira membuat mu menangis oleh ayahmu," Felix tertawa kecil masih mengacak surai milik Chloe, Sementara Chloe mengangguk patuh. Dia mengusap matanya dengan lengan.


"Buktikan saja pada anggota lain kalau kau tidak selemah itu," Felix kembali tersenyum lembut, Dia menarik tangannya.


"Iya, Aku akan berusaha," Chloe mengangguk semangat, Kini ekspresinya tampak serius. "Btw kak Felix, Aku sama orang tuaku pamit ya. Soalnya aku ingin merawat mamaku di rumah sakit saja,"


"Ah, Karna tidak ada yang mau membantu ya. Rea dan Aiden gak mau bantu?"


"Iya, Kata kak Aiden kalau mau dibantu harus kasih imbalan dulu,"


"Duh, Mereka itu terlalu pilih kasih," Felix menghela napas berat. "Baiklah kalau itu keinginanmu, Hati-hati di jalan,"


Chloe mengangguk pelan, Lalu tak lama Brian kembali menghampiri Chloe.


"Chloe, Ayah sudah pesan taksi. Kamu duluan saja ke depan, Biar ayah yang bawa mama," Kata Brian.


"Baik ayah,"


Tatapan Brian beralih ke arah Felix yang berdiri disamping Chloe, Ia tersenyum tipis. "Terima kasih atas bantuannya tadi ya nak, Kami pamit dulu,"


Felix membalasnya dengan senyum lembut. "Iya sama-sama, Hati-hati dijalan paman,"


Chloe tersenyum lalu berjalan keluar kamar lebih dulu, Brian hanya mengangguk lalu menggendong tubuh Elina ala bridel style keluar kamar. Meninggalkan Felix yang masih berdiri diam di tempat.


Felix menatap kepergian keluarga Watson itu sesaat, Dia mengambil minyak angin yang tergeletak di nakas sebelum menyimpannya.


Felix memutuskan mendudukkan diri disisi kasur, Senyum yang biasa terpatri di bibirnya kini menghilang tergantikan ekspresi tenang dengan tatapan kosong.


"Di masa lalu aku hampir berhasil membunuhmu, Tapi semua rencana itu sia-sia. Setelah menjadi anggota kau merubah semuanya," Felix tertunduk hingga helai-helai rambutnya sedikit menutupi wajahnya, Dia mencengkeram seprai dengan kuat. "Penyesalan ku di masa lalu adalah aku tidak sempat membuatmu menderita sedikit saja,"


Netra aqua nya berkilat tajam di tengah kesunyian ruangan itu, Felix mendongak menatap dingin langit-langit kamar.


"Tapi di masa yang sekarang, Setelah aku hidup kembali. Akan kuselesaikan tugasku yang tertunda di masa lalu, Dengan rencanaku sendiri!" Gumamnya penuh aura dingin.


TBC