Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Memory yang hilang



Selama perjalanan hanya diisi keheningan oleh mereka. Alvin memilih fokus dengan jalanan sementara Chloe menoleh sesaat pada pria di sampingnya.


"Jadi siapa kau sebenarnya?" Tanya Chloe pelan.


"Hanya orang asing yang kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat adikmu di hajar oleh preman," Balas Raizel datar tanpa menoleh.


Kening Chloe mengernyit mendengarnya. "Jangan bercanda, Aku serius tau?!"


"Aku juga serius,"


"Yakin?"


Raizel menghela napas kecil, Dia menoleh dan menarik Chloe sedikit menjauh dari Alvin agar obrolan mereka tidak terdengar.


"No.6," Raizel sedikit menarik masker nya, Memperlihatkan rupa wajah. Dia yakin Chloe pasti sudah bisa mengenalinya.


Chloe memperhatikan wajah Raizel sesaat lalu mengangguk paham, Kemudian Raizel kembali menutup wajahnya.


"Kenapa kak Raizel bisa ada disini?" Chloe menatap jalanan di depan mereka.


"Aku baru saja menyelesaikan misi, Dan kebetulan melihat adikmu," Raizel memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. "Sepertinya kau harus mengajarinya bela diri, Kulihat dia agak lemah,"


"Yah, Dulu aku pernah mengajarinya tapi hanya bela diri dasar. Dia memang agak perlu bimbingan lagi," Chloe sedikit menunduk. "Ngomong-ngomong soal surat cerainya...Apa kau sudah dengar?"


"Ya, Aku sudah mendengar dari Justin dan membaca surat itu. Rasanya seperti kembali ke kehidupan yang dulu,"


"Benar, Sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa lagi,"


".....,"


Raizel memilih diam sibuk dengan pikirannya, Yah mau bagaimana pun mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi sekarang.


Tak terasa mereka akhirnya sampai tepat di halaman depan rumah Chloe, Si gadis meminta Alvin masuk lebih dulu dan dituruti sang adik. Sementara Chloe kembali bicara dengan Raizel.


"Makasih sudah mengantar, Apa mau mampir dulu?"


"Tidak usah, Lagian aku juga mau pulang," Raizel menggeleng pelan sebagai tolakkan.


Dia melirik jam arlojinya yang menunjukkan pukul 9 malam.


"Baiklah, Hati-hati dijalan," Chloe tersenyum manis sesaat, Senyum Chloe membuat Raizel diam dan tertegun sejenak.


Mendadak sesuatu menghantam pikirannya, Sebuah suara dari ingatan-ingatan acak yang berputar bagai kilas balik.


*************


"Benar-benar sangat indah, Kenapa kau tidak memberitahuku sejak dulu kalau ada tempat seindah ini?"


"Kau tidak bertanya,"


"Iya sih, Tapi kan kalau aku tahu ada tempat seindah ini. Aku pasti akan sering berkunjung kesini," Netranya kembali menatap pemandangan kota di bawahnya.


"Kalau begitu kau harus berterima kasih padaku,"


"Hah, Ya kau benar. Kalau saja kau tidak membawaku kesini, Aku tidak akan tahu tempat ini," Dia menoleh lalu senyumnya mengembang. "Terima kasih Raizel,"


***************


Raizel melihat Chloe berbalik dan berjalan pergi menuju rumahnya, Sedangkan Raizel masih diam mematung hingga dia sontak menahan tangan Chloe.


"Tunggu!"


Merasa tangannya di tahan, Chloe menoleh dengan tatapan heran. "Eh, Ada apa kak Raizel?"


"Apa yang kulakukan? Kenapa samar-samar rupa wajahnya muncul di pikiranku? Tower, Cafe, Cemilan, dan Ketinggian. Aku melihat semua itu di pikiranku," Pikir Raizel dalam diam, Dia tak menyahut pertanyaan Chloe.


Saat ini Raizel masih sedang mencoba memproses ingatan-ingatan yang muncul secara acak di pikirannya, Terlebih di semua ingatan itu memunculkan wajah Chloe yang samar-samar dapat Raizel lihat. Meski rupa wajah gadis dalam ingatan dengan Chloe di depannya agak berbeda, Tapi yang paling Raizel ingat adalah senyum manis Chloe yang sama persis dengan senyuman gadis di ingatannya.


"Apa sebelumnya aku pernah bertemu gadis ini?" Raizel masih merenung keheranan. Hingga lambaian tangan Chloe di depan wajahnya menyadarkan Raizel.


"Kak Raizel, Kakak gak apa-apa kan?" Tanya Chloe bingung.


Raizel tersadar, Dia lantas melepaskan tangan Chloe dengan rona tipis yang tersembunyi di balik maskernya.


"Aku gak apa-apa," Balasnya cepat.


"Tadi kenapa menahan tanganku?"


"Bukan apa-apa," Raizel memalingkan pandangan, Untung saja dirinya memakai masker jadi rona di pipi nya tidak akan terlihat.


Dia lantas berbalik dan berjalan menjauh dari Chloe. "Sampai nanti,"


"Kak Raizel! Tunggu!"


Langkah Raizel terhenti ketika mendengar suara Chloe, Dia melihat gadis itu sudah sampai di depannya dengan berlari kecil. Dia menunggu tindakkan sang gadis selanjutnya.


Chloe melepas syal abu-abu yang dipakainya lalu mengalungkan syal itu ke leher Raizel, Membuat Raizel agak tersentak.


"Pakai syal ini, Malam ini begitu dingin. Bahkan tangan kakak juga dingin tadi,"


Deg!


Raizel memandang dalam diam, Wajahnya sontak merona. Meski hanya perhatian kecil, Tindakkan Chloe mampu membuat jantungnya berdegup kencang tak terkendali.


"Apa dia lupa kalau aku vampir?" Pikir Raizel malu.


"Hawa dingin tidak akan membunuhku,"


"Meski kebal tetap saja yang namanya dingin ya dingin. Memangnya kak Raizel tidak takut sakit?" Chloe mengernyit heran.


Raizel mendengus kecil dan tersenyum di balik maskernya. "Aku tidak akan sakit kalau cuma hawa seperti ini,"


"Aku jadi heran, Sekebal apa kalian para vampir?" Chloe menggaruk pipi yang tidak gatal dengan jari telunjuk, Menerka-nerka.


"Kau tebak sendiri," Raizel berdehem kecil, Menyembunyikan rasa malunya. "Tapi makasih, Akan kukembalikan syal ini nanti,"


"Iya, Jangan lupa tutup juga perutmu itu entar masuk angin," Chloe terkekeh kecil, Melihat hoodie Raizel yang terbuka memperlihatkan perutnya karna alasan gerah.


Raizel menunduk dan lantas menurunkan hoodie nya hingga tertutup sepenuhnya, Pandangannya kembali tertuju pada Chloe. Gadis itu tersenyum lebar.


"Kak Raizel, Walau kita sudah cerai aku masih bekerja di cafe dan berhubungan baik dengan kak Felix,"


"Lalu apa hubungannya dengan ku?"


"Um...Maksudku kalau kak Raizel pergi ke cafe kak Felix, Maka kakak akan sering bertemu denganku disana. Aku cuma mau kasih tahu itu kok,"


"Oh begitu," Raizel mengangguk datar. "Bisakah aku minta sesuatu sebagai perpisahan kita?"


"Bisa, Minta apa?" Chloe mengangguk terima.


Raizel menunduk dan menjajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Chloe, Lalu menunjuk pipi kanannya.


"Cium disini,"


Chloe mengerjap sesaat, Tanpa ragu dia mencium pipi si pria sesuai permintaan Raizel.


Cup!


Raizel sontak diam mematung dan wajahnya menjadi merah padam, Dia pikir tadi Chloe tidak mau karna permintaannya aneh. Namun ternyata salah, Gadis itu benar-benar menciumnya!


"K-Kupikir tadi dia tidak mau, Ta-Tapi tadi...tadi...!" Wajah nya semakin memerah, Raizel mendadak tak bisa mengontrol wajahnya yang memanas.


"Kak Raizel–"


Wuuuush!


Dalam sekejap Raizel hilang dari pandangan Chloe, Tentu saja si gadis melongo heran. Karna mendadak si pria menghilang tanpa jejak dan tanpa mengatakan sepatah kata pun sebelum pergi.


"Lho, Kok ilang? Kemana dia?"


***************


[Asrama]


Cklek!


Neil yang sedang menonton TV di ruang tamu, Langsung menoleh saat mendengar suara pintu utama yang terbuka. Dia melihat Raizel yang masuk dengan wajah merah padam dan tatapan kosong.


"Hei, Dari mana aja? Lama banget ngerjain misi nya. Tuh, Justin minta kamu keruangan nya habis ngerjain misi," Kata Neil yang menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


Tak mendapat sahutan apapun dari Raizel membuat Neil heran dan memutuskan mendekati si pria.


"Oi Raizel! Kau dengar tidak?!" Neil menyentuh pundak Raizel.


Tanpa diduga dalam hitungan detik, Tiba-tiba Raizel pingsan dan ambruk menghantam lantai yang membuat Neil kaget.


"Astaga, Raizel!"


TBC