Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Solusi



[Disisi lain]


Chloe menatap Cafe di depannya sesaat, Memperhatikan situasi cafe yang tampak ramai terlihat dari luar. Perlahan dia melangkahkan kaki memasuki dalam cafe.


Krriing!


Bunyi bel terdengar ketika Chloe membuka pintunya, Suasana cafe masih sepi. Hanya terlihat beberapa pegawai cafe yang sedang menyiapkan meja dan peralatan makan lainnya. Untungnya dia tidak terlambat, Dengan langkah santai Chloe menyapa Finni yang sedang menghitung pemasukkan kemarin di meja kasir.


"Pagi kak Finni," Sapa Chloe melewati meja kasir.


Finni mendongak sesaat lalu tersenyum. "Pagi Chloe," Balasnya sebelum kembali melanjutkan kegiatan.


Chloe mengganti pakaiannya dengan seragam cafe di ruangan staff, Usai memakai seragam dan mengikat rambut ala pony tail. Dia segera menuju pintu depan lalu mengelap kaca dan mengelap beberapa meja.


Mereka semua bersiap-siap sebelum membuka cafe untuk pelanggan, Semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga setelah dirasa siap. Felix membuka cafe nya, Sekarang mereka tinggal menunggu para pelanggan berdatangan.


Selagi menunggu, Chloe mengelap piring dan gelas secara hati-hati. Dia terlalu fokus dengan pekerjaan nya hingga tak menyadari kehadiran Felix yang entah sudah sejak kapan berdiri disampingnya.


"Hari ini kau terlihat lebih murung, Atau hanya perasaanku saja?"


Suara Felix agak mengagetkan Chloe, Untung saja tidak sampai membuat piring ditangannya tergelincir.


"Ah ya, Tebakan kak Felix tidak salah. Hari ini entah mengapa aku merasa sangat lelah dan tidak bersemangat, Tidak seperti biasanya, Padahal aku belum mengerjakan pekerjaan berat, Hal itu membuatku murung," Keluh Chloe sambil menghela napas berat.


Felix manggut-manggut paham, Lalu menatap Chloe lekat. "Biar kakak periksa,"


Chloe hanya mengangguk ketika Felix menatapnya, Dia diam membisu entah harus bagaimana saat Felix hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi setelahnya.


Sesaat Felix berjalan mengelilinginya dengan tatapan lekat seolah sedang mengelilingi menara paris, Chloe mendadak diam seperti patung.


"Aura mu hitam, Agak aneh karna biasa nya aku sering melihat warna-warna cerah di aura manusia lain tapi kenapa aura mu gelap ya?" Tanya Felix heran sesampainya di hadapan Chloe kembali, Dia mengusap dagunya tampak berpikir.


"Hi-Hitam? Apa saat ini aku sedang diikuti oleh hantu atau semacamnya?!" Tanya Chloe agak panik, Dia menoleh kesekitarnya tapi tidak menemukan apapun selain Felix yang tampak tertawa kecil.


"Hahaha, Tidak tidak bukan begitu. Tidak ada hantu atau semacamnya kok disekitarmu. Aura mu hanya berwarna hitam, Tapi rasanya dulu aura mu putih deh. Aku jadi bingung juga,"


Felix menatap sesaat ke arah kursi cafe dimana para pelanggan mulai berdatangan, Dia kemudian menarik Chloe dari sana.


"Ayo kita ke ruanganku, Aku ingin kita berdua bicara secara empat mata,"


"Baiklah," Chloe meletakkan piring ditangannya ke tempat semula sebelum mengikuti langkah Felix.


******************


[Ruangan Felix]


Blam!


Felix meletakkan pulpennya di meja, Dia kembali memandang Chloe. "Apa kau akhir-akhir ini sering merasa cepat lelah?"


"Iya, Setiap hari malah. Dulu gak begini,"


"Sejak kapan kau mulai merasakan gejala itu?"


Chloe menggaruk pipinya dengan jari telunjuk tampak berpikir dan mengingat. "Um...Kalau tidak salah sejak 2 minggu yang lalu saat aku pertama kali melihat tangan bayangan hitam di rumah sakit,"


"Tangan bayangan hitam?" Beo Felix bingung.


"Iya, Saat itu dia muncul dari balik kaca di rumah sakit dan merayap seolah ingin menggapai kaki ku, Sejak saat itu aku merasa cepat lelah meski tidak melakukan aktivitas berat,"


Mendengar cerita Chloe membuat Felix semakin mengernyit. "Muncul secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, Apakah itu semacam wujud monster devil atau kah hanya halusinasinya semata?"


"Apakah sebelum kejadian itu terjadi kau melakukan sesuatu yang membuat bayangan itu datang, Ritual misalnya?" Felix menyandarkan punggungnya ke tembok.


Chloe kembali mengingat-ingat kejadian sebelum bayangan itu muncul. "Um...Sepertinya ada...Oh iya!"


Chloe mengingat sesuatu lantas saja dia menceritakan semua detailnya pada Felix, Bermula dari Justin yang menemuinya di dalam mimpi usai insiden Liam yang melukai keluarganya.


Setelah Chloe menceritakan semuanya, Felix tersenyum kecil. "Jadi karna itu kau terus diterror bayangan tangan, Dia mengikuti mu rupanya,"


"Tentu saja bukan!"


Felix mendekat hingga menyisakan 10 langkah jarak diantara dirinya dan Chloe. "Kalau kau bilang sejak awal padaku, Aku bisa bantu. Mahkluk itu tidak akan menyakitimu kok, Dia cuma ingin mengetahui siapa pemiliknya dan mendapat perintah saja darimu,"


"Eh, Aku gak tau. Kupikir dia semacam siluman mengerikan, Aku terkadang setiap malam hampir tidak bisa tidur karna takut dia akan menggangguku dalam mimpi," Chloe meringis.


"Sekarang kau tidak perlu khawatir, Aku akan menetralkan aura mu," Felix mendekat dan memegangi pundak Chloe. Tatapan keduanya bertemu karna hal itu membuat atmosfer disekitar mereka mendadak canggung.


Rona samar menghiasi pipi Felix, Dia mengalihkan pandangan saat Chloe menatap lekat dirinya. Lalu berdehem kecil.


"Tatapanmu seolah ingin mengulitiku saja, Lagian kita tidak sedang adu tatapan. Kau membuatku tidak fokus," Kata Felix masih memalingkan pandangannya.


Mendengar hal itu Chloe tersadar dan nyengir. "Hehehe, Maaf kak. Kalau begitu aku akan menunduk saja,"


Chloe menunduk sesuai perkataannya, Mengalihkan pandangan menatap lantai.


"Dia kiriman Justin, Makanya otomatis kau berkontrak dengannya. Dengan syarat dia mengambil aura dan energimu sebagai makanannya, Itulah yang membuat kau cepat merasa lelah," Jelas Felix sambil fokus menyingkirkan aura hitam yang menyelimuti Chloe.


"Curang sekali, Padahal aku tidak pernah menggunakan dia untuk apapun. Tapi dia mengambil energiku seenaknya," Chloe cemberut lalu mendongak. "Tapi 'dia' yang kak Felix maksud siapa?"


"Dia adalah devil neraka, Atau bisa disebut Underworld. Memang rata-rata para underworld ini memiliki syarat dengan orang-orang yang berkontrak dengan mereka, syaratnya pun bermacam-macam. Untuk kasusmu, Syarat yang ini masih dibilang mudah,"


"Dia hanya mengambil energimu, Coba kalau underworld yang lain. Entah bagaimana nasibmu nanti," Tambah Felix menggeleng pelan.


Seketika Chloe menatap horror. "Apa jika underworld lain aku akan mati?"


"Mungkin saja, Ada yang ingin nyawa setelah tugasnya selesai, ada yang ingin kulit sebagai ganti makanan mereka, Ada juga yang ingin darah seperti vampir. Tergantung syarat yang mereka berikan,"


"Kenapa pak Justin memberikan ku mahkluk seperti itu sih? Tidak ingin begini,"


Felix menghela napas kecil. "Kau lupa kata-kata Justin di mimpimu? Dia bilang ingin kau menjadi kuat seperti anggota asrama yang lain. Keinginan itu muncul dari hatimu sendiri, Makanya Justin memberikan sedikit dorongan untuk memunculkan kekuatanmu,"


"Iya tapi...Bukan berarti aku ingin berkontrak dengan devil! Aku tidak mau, Kak Felix tolong lepaskan kontrak ini dariku. Aku tidak mau memiliki kekuatan seperti ini," Mata Chloe memanas, Dia ingin menangis sekarang.


Felix yang sudah selesai menetralkan aura Chloe mendadak panik saat Chloe tiba-tiba bersimpuh di lantai dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Hiks...kak Felix, Aku harus bagaimana?" Ucap Chloe dengan nada bergetar karna menangis dan sesegukan.


Felix rifleks ikut bersimpuh menjajarkan tingginya dengan si gadis, Dia memegangi pundak Chloe dengan panik. "H-Hei Chloe tenanglah, Mahkluk ini tidak berbahaya kok,"


"Tetap saja dia seperti parasit...hiks...Dia mengambil energiku dan membuatku tidak bisa melakukan aktivitasku seperti biasa," Racau Chloe masih menangis, Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Duh, Bukannya aku gak mau bantu. Tapi aku benar-benar gak tau cara mengusirnya dan lagian yang mengirim mahkluk ini adalah Justin, Jadi harus dia juga yang melepaskan kontraknya," Felix berusaha menenangkan Chloe dengan mengusap punggung gadis itu.


"Terus...hiks...aku harus bagaimana?...Kita juga udah cerai, Aku gak mungkin balik ke asrama lagi. Pak Ezra dan pak Rea sudah pasti tidak menerima kehadiranku di asrama,"


Felix mengusap tengkuknya bingung, Apa yang Chloe katakan memang benar. Sekarang akses untuk bertemu Justin untuk orang luar semakin susah karna ada Ezra yang selalu siap siaga disampingnya dan Rea yang tidak memperbolehkan cewek manapun untuk masuk ke asrama. Lalu Aiden yang juga selalu merasa risih dengan keberadaan orang luar.


"Nanti kita pikirkan sama-sama, Sekarang kamu tenang dulu," Pinta Felix lembut. Dia mengusap rambut Chloe menangkan gadis itu.


Chloe masih sesegukan meski tangisannya perlahan mulai reda. Felix meranjak dan memberikan sekotak tisu pada Chloe, Chloe mengusap wajahnya dengan tisu itu. Ekspresinya masih murung, seperti sebelumnya.


Felix tentu saja tidak tega, Dia menangkup pipi si gadis dan menatapnya lekat. Pandangan Chloe otomatis hanya tertuju pada Felix karna pria itu menangkup kedua pipinya.


Chloe ingin mengatakan sesuatu, Namun diurungkan karna Felix membungkamnya dengan sebuah ciuman yang lembut. Chloe agak tersentak, Dia tak berniat membalas dan hanya mencengkeram pakaian Felix.


Merasa hampir kehabisan oksigen, Chloe mendorong kecil tubuh si pria, Meminta waktu untuk mengisi paru-parunya. Dia menghirup oksigen dengan rakus.


"Kak Felix bikin kaget tau," Protes Chloe dengan wajah merah padam antara malu dan kesal.


"Hehehe, Maaf habisnya ekspresimu menggemaskan sih," Felix terkekeh kecil lalu mengacak pelan rambut Chloe.


"Ayo kerja lagi, Kita bantu yang lain," Felix meranjak dan meletakkan kotak tisu di mejanya. "Sebelum itu cuci muka mu dulu,"


Chloe menggangguk dan sedikit mendengus kecil, Dia mengikuti Felix keluar ruangan untuk membantu barista lain.


TBC