Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Apa yang terjadi dengan Elina?



"Kamu...!"


"Elviana...," Lirih Elina dengan tatapan sendu.


"Elliot...," Gumam Brian tanpa melepas pandangannya dari Ian.


Chloe yang mendengar dua nama yang disebutkan kedua orang tuanya menatap bingung. Dia heran, Apa hubunganya Ian dengan kedua nama yang disebutkan orang tuanya?


Elina melangkah mendekati Ian dan berdiri berhadapan dengan pria itu menyisakan jarak 1 meter.


"Elviana...," Lirih Elina kembali, Kali ini dia menempelkan telapak tangannya di pipi Ian.


Ian sedikit mengernyit, Menatap wanita di depannya. "Siapa wanita ini? Mengapa dia bisa tahu nama ibuku?" Pikirnya bingung.


"Aku melihat cerminan Elvi di dalam dirimu, Kau sangat mirip dengan Elliot dan Elvi. Kau sudah tumbuh setinggi ini," Elina tersenyum teduh, Ian diam terpaku menatap netra merah Elina yang berwarna sama seperti netranya. "Mereka pasti bangga padamu karna bisa bertahan sejauh ini tanpa mereka,"


"Siapa...Anda? Apa hubungan anda dengan orang tua ku?" Tanya Ian, Kali ini ekspresinya tidak bisa ditebak. Netra merahnya pun tampak redup dan kosong.


"Aku...," Elina terdiam saat cahaya di mata Ian menghilang, Tidak ada pantulan dirinya lagi di mata itu. Elina menjauhkan tangannya. "Aku dan Elvi...kami...,"


Mendadak Elina kehilangan kesadaran, Dia terjatuh menghantam lantai. Refleks Brian dan Chloe berlari menuju Elina.


"Elina!"


"Mama!"


Brian lantas memangku kepala istrinya dan menepuk-nepuk pipi Elina. Chloe juga berusaha menyadarkan sembari mengusap-usap tangan Elina agar sadar.


Sementara Ian bergerak mundur sesaat, Menatap kosong tubuh Elina yang terbaring pingsan. Livian bergegas mendekati Ian, Menatap si pria.


"Hei, Apa hubunganmu dengan keluarga Watson?" Tanya Livian sedikit menarik Ian menjauh dari Brian dan Chloe.


"Tidak tahu, Aku hanya merasa pernah melihat wanita itu lalu wajah-wajah yang terlihat familiar," Ian masih menatap kosong hingga tatapannya beralih ke Livian. "Dan semuanya menjadi aneh,"


"Sepertinya kau perlu istirahat, Wajahmu sangat pucat," Saran Livian lalu menoleh menatap Elina. "Aku akan memanggil Rea untuk memeriksa ibunya Chloe,"


Ian memilih diam, Tak lama suara beberapa derap langkah kaki terdengar disana. Memunculkan Felix bersama Neil dan Rea.


"Ada apa ini? Kami mendengar suara seperti benda jatuh," Kata Felix memperhatikan situasi.


"Ibunya Chloe tiba-tiba pingsan, Rea tolong periksa ibunya," Pinta Livian yang mendapat tatapan sinis dari Rea.


"Tch! Untuk apa–"


Chloe menoleh lalu berdiri menatap Rea dengan tatapan memohon. Lantas memotong perkataan Rea. "Pak Rea tolong mama ku!" Pintanya dengan memelas.


"Gak–"


"Biar aku saja," Felix bergerak cepat menghampiri Brian, Dia berjongkok disamping Brian yang masih berusaha menyadarkan Elina.


"Permisi, Saya akan memeriksa istri anda. Tapi tolong sebelumnya ikuti saya untuk membawanya ke kamar tamu," Pinta Felix dengan senyum ramah.


"Baiklah," Tanpa pikir panjang sekaligus dilanda rasa cemas, Brian segera mengggendong Elina ala bridel style lalu mengikuti langkah Felix yang membawa mereka menuju kamar tamu.


Meninggalkan anggota lain bersama Chloe disana. Ian melangkah pergi menuju kamarnya masih dengan tatapan kosong, Sementara Livian, Neil, dan Rea hanya memandangi kepergian Felix.


"Entahlah, Aku juga tidak tahu. Sepertinya mama mungkin punya hubungan dengan ibunya kak Ian. Hanya mereka berdua saja yang tahu," Chloe menggidikkan pundaknya tanda tak tahu.


"Terus ngapain masih disini huh?!" Ketus Rea bersidekap sambil menatap sinis Chloe.


"Nunggu mama sampai siuman," Chloe tertunduk lesu lalu. "Pak Rea beneran gak mau bantu mama ku?"


"Gak! Ngapain bantu manusia kayak kalian?!" Rea berbalik dan berjalan pergi dari sana.


"Gak apa Chloe, Kalau Rea gak mau bantu. Masih ada Aiden kok," Kata Neil tersenyum ramah.


"Aku gak paham masalah kedokteran, Jadi aku gak mau ikut campur urusan ini," Livian ikut pergi menyusul Rea.


Chloe mendongak memandangi kepergian Rea dan Livian lalu menatap Neil yang masih tersenyum ramah di depannya.


"Begitu ya, Kuharap kak Aiden bisa bantu sama Kak Felix. Sayang pak Rea gak mau bantu, Padahal kalau mau aku bisa kasih imbalan dengan darahku," Kata Chloe murung, Karna setahunya di asrama ini satu-satu nya anggota yang bekerja dibidang kedokteran cuma Rea.


Sayang sekali pria bersurai orange itu sangat sulit diminta tolong oleh Chloe yang statusnya manusia, Diketahui Rea sangat membenci manusia maka dari itu dia tidak mau sedikit pun membantu Chloe.


Mendengar kata 'imbalan' seketika Neil membulatkan matanya, Dia lantas menoleh kesekitarnya memperhatikan situasi.


"Ssstt! Jangan bilang begitu keras-keras!" Neil menaruh jari telunjuknya tepat di depan bibirnya untuk memperingatkan Chloe, Dia memegang pundak si gadis dengan tangan lainnya. Sementara Chloe hanya menatap bingung.


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata-kataku?"


"Jelas sangat salah! Jangan pernah berkata sembarangan di depan vampir lain, Apalagi jika sampai kau memberikan darahmu sebagai imbalan. Bahaya tau!" Kini ekspresi Neil berubah serius, Dia memelankan nada suaranya agar tidak bisa di dengar anggota lain. "Kalau sesama vampir tidak akan jadi masalah, Tapi kau ini manusia. Yang ada kau hanya akan mati konyol karna kehabisan darah,"


"Eh? Begitu ya. Maaf aku tidak tahu kalau ada peraturan itu di asrama ini," Chloe menatap terkejut kemudian tertunduk. "Tapi aku hanya ingin mama ku baik-baik saja, Walau harus mengorbankan diri atau darahku,"


"Ugh...! Sudah kubilang jangan berkata sembarangan," Neil mendengus kecil lalu menjauh beberapa langkah dari Chloe. "Ternyata kau naif juga, Mengorbankan diri untuk ibumu. Kau tidak memikirkan dirimu sendiri?"


"Meski begitu, Aku tidak bisa membiarkan keluargaku terluka atau kenapa-napa terutama menyangkut mama ku. Aku tahu aku naif tapi aku tidak bisa membiarkan orang-orang yang kusayangi menderita!" Ucap Chloe serius, Netra berwarna merah itu tampak berkilat.


Neil tersenyum miring mendengarnya, Dia bersidekap sembari menyandarkan tubuhnya pada tembok.


"Besar juga nyalimu, Hanya demi orang-orang kusayangi kau rela berkorban ya. Bahkan saat adikmu disakiti, Kau selalu mengorbankan diri. Aku jadi ingin tahu sejauh mana kau berkorban untuk orang-orang terdekatmu," Neil memainkan belati di tangannya. Lalu menatap Chloe kembali.


"Silakan saja kau minta tolong lagi pada Rea, Aku tidak akan menghalangimu. Tapi tanggung sendiri akibatnya," Tambah Neil tenang.


Chloe diam sesaat, Mengingat Rea mungkin tidak akan membantunya. Chloe memilih opsi kedua saja, Yaitu meminta bantuan Aiden.


"A-Aku akan minta bantuan kak Aiden saja," Setelahnya Chloe berjalan pergi untuk mencari keberadaan Aiden. Meninggalkan Neil yang masih asyik bermain dengan belatinya.


Tak!


Setelah kepergian Chloe, Neil menyimpan kembali belatinya, Tampak berpikir sembari mengusap dagunya.


"Kalau dipikir-pikir selama anak itu tinggal disini sebelum keluar dari asrama, Aku belum pernah mencicipi sama sekali rasa darahnya. Padahal aromanya cukup enak," Neil kemudian menatap arah Chloe pergi. "Ku ikuti saja dia,"


Neil bergegas pergi menuju arah Chloe menghilang, Dia harus memanfaatkan kesempatan ini selagi Chloe membutuhkan pertolongan sebelum gadis itu pergi.


TBC