Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Justin dan Victor (2)



Chloe memperhatikan gedung-gedung pencakar lagit dari balik kaca jendela mobil, Kemudian tatapannya beralih pada Justin yang sedang fokus menyetir. Ia memperhatikan wajah serius si pria.


"Apa ada sesuatu di wajahku?" Sadar kalau diperhatikan, Justin sedikit melirik gadis disampingnya. Sontak Chloe menggeleng cepat.


"Enggak, Cuma aku mau tanya. Kita sebenarnya mau kemana?"


"Ke rumah Kakek Nenek ku, Mereka memintaku untuk berkunjung," Sahut Justin kembali fokus dengan jalanan di depannya.


"Hm...Berarti bukannya pak Justin saja yang pergi, Kenapa aku juga diajak?"


"Jika aku kesana, Pasti yang mereka bicarakan hanya soal perjodohan. Aku sudah pusing mendengarnya. Jadi untuk kali ini misi mu adalah menemaniku," Sahut Justin masih fokus menyetir.


"Ternyata begitu," Chloe manggut-manggut paham, Pantas saja Justin terlihat gelisah sebelum mereka pergi. Dari raut wajah si pria, Tampaknya Justin tidak suka pergi berkunjung ke rumah kakek nenek nya. Seolah ada sesuatu yang membuat pria itu enggan pergi kesana, Namun mau tak mau mereka harus tetap pergi.


Chloe kembali memandangi luar jendela sambil bertopang dagu.


"Ngomong-ngomong soal Ezra, Apa yang kalian berdua bicarakan sebelum kita pergi tadi?"


Chloe yang melamun seketika agak tersentak ketika mendengar suara Justin, Namun kini nada suaranya agak berat dari sebelumnya. Seolah Chloe dihadapkan dengan orang yang berbeda, Tapi gadis itu tak mau ambil pusing dan menjawab pertanyaan Justin.


"Pak Ezra cuma berpesan padaku agar menjaga pak Justin selama kita pergi. Hanya itu," Sahut Chloe sembari menoleh dan seketika dia bertemu pandang dengan netra si pria.


Lantas si gadis diam seribu bahasa, Tunggu! Rasanya ada yang aneh. Seingat Chloe, Warna mata Justin adalah orange. Ya, Dia ingat dengan jelas warna mata si pria. Tapi kenapa kini warnanya merah seperti darah?


"Begitu, Ezra perhatian seperti biasa padaku ya," Katanya tersenyum dan diakhiri tawa kecil. Sebelum kembali menatap jalanan.


Saat ini otak Chloe tengah memproses apa yang dilihatnya barusan, Perlahan ia membuka mulutnya. "Pak..."


"Hm...,"


"Matamu..."


"Ada apa dengan mataku memangnya?"


"Kok warna matamu beda? Aku ingat dengan jelas warna mata pak Justin itu orange," Chloe menatap serius, Seketika mendadak pria disampingnya terdiam.


Victor menghembuskan napas, Dia menepikan mobilnya ke sisi jalan. Setelah berpikir sejenak, Barulah dirinya menjawab pertanyaan Chloe.


"Ini memang agak mengejutkan tapi sebenarnya aku memiliki dua jiwa dalam satu tubuh, Dan saat ini Justin sedang tidak siap menghadapi kakek dan nenek jadi aku yang menggantikannya untuk sementara," Jelas Victor, Namun tampaknya Chloe bingung dan tak paham kenapa bisa begitu.


"Apa memang benar?" Chloe tak tahu harus berkomentar apa, Pada akhirnya dia hanya menanyakan hal itu dengan ragu.


Melihat reaksi Chloe, Victor sudah menduganya. Dia memalingkan wajah. "Aku tahu ini sulit dipercaya, Semua orang yang juga memberikan reaksi yang sama sepertimu bahkan kakek nenek ku. Mereka menganggap ku gila, Bahkan aku pernah di bawa ke psikiater dan mendiagnosa aku memiliki penyakit kepribadian ganda. Sudah 17 tahun aku dibawa berobat, Tapi sampai sekarang tidak sembuh juga,"


Chloe mendengarnya dalam diam, Disatu sisi dia merasa aneh dan bingung harus menanggapinya seperti apa. Tapi disisi lain dia juga merasa kasihan.


"Sekarang terserahmu mau menganggapku seperti apa, Apa kau percaya padaku. Atau kau bisa menganggapku memiliki penyakit kepribadian ganda dan mencap ku gila seperti orang-orang kebanyakan,"


Chloe mendongak ketika Victor sama sekali tidak menatapnya, Nada pria itu tampak lirih seolah tertekan dengan hal yang menimpanya. Jika sudah 17 tahun berobat tapi tidak sembuh-sembuh juga, Itu artinya Justin tidak sakit kan? Malah pria itu tampak baik-baik saja. Dia hanya sedikit spesial, Yang berbeda dari orang-orang kebanyakan.


Chloe menghela napas kecil, Dia meraih tangan Victor dan menggenggamnya. Victor yang merasa tangannya di genggam, Seketika menoleh. Agak terkejut ketika melihat senyum lembut Chloe.


"Kau tidak sakit, Aku percaya itu,"


"Kau percaya?" Netra merah Victor membulat kaget.


"Iya, Kau bilang sudah dibawa berobat selama 17 tahun tapi tidak sembuh-sembuh juga kan. Jadi aku rasa kau tidak sakit pak, Kau hanya sedikit spesial diantara orang lainnya," Chloe mengangguk mantap masih tersenyum lembut.


Victor diam mematung, Perasaan nya seakan menghangat setelah mendengar perkataan Chloe. Selain anggota asrama dan ayah serta ibunya yang percaya, Awalnya hanya mereka. Tapi sekarang ini pertama kalinya ada seorang gadis yang percaya padanya. Padahal sebelum bertemu Chloe, Banyak gadis-gadis yang dijodohkan pada nya memilih kabur atau menganggap kondisinya hanya omong kosong belaka.


"sebelum ini hanya ayah dan ibuku yang percaya, Karna mereka yakin kami hidup dalam satu tubuh. Karna kami anak kembar, Dari dua jiwa yang lahir hanya satu raga yang bertahan," Victor mendesah lelah, Dia memalingkan pandangannya. "Tapi makasih sudah percaya padaku,"


"Tentu," Chloe terkekeh kecil sambil melepaskan pegangannya dari tangan Victor. "Habisnya aku juga mikir, Mana mungkin warna mata bisa berubah dalam sekejap. Kayak keren aja gitu,"


Victor mendengus kecil. "Itu karna Justin yang memintaku menggantikannya. Sepertinya dia kena mental duluan," Diakhir kalimatnya, Victor tergelak seolah mengejek Justin.


"Victor Garfield, Ingatlah yang membedakan kami cuma warna mata. Dia orange sedangkan aku merah,"


"Baiklah, Aku paham,"


"Hm, Ya sudah. Kita akan berangkat lagi, sepertinya kita membuat mereka menunggu lama,"


"Eh, Aku belum bawa buah tangan pak," Sesaat Chloe tersadar kalau dirinya sama sekali tidak membawa oleh-oleh.


"Gak usah khawatir, Tuh ada dibelakang. Udah dibeli tadi sebelum kita berangkat," Victor menunjuk ke belakang kursi kemudi.


Chloe mengikuti arah telunjuk Victor, Benar saja. Sudah ada beberapa keranjang percel di kursi penumpang. Sontak saja mata si gadis mengerjap heran. Lha kapan belinya? Perasaan Chloe tadi dia gak liat Victor atau pun Justin bawa keranjang percel deh.


Si gadis hanya bisa speechless, Ya sudahlah kalau sudah ada. Sedangkan Victor kembali melajukan mobilnya di jalan raya.


********************


[Rumah Justin]


Blam!


Victor maupun Chloe keluar dari mobil secara bersamaan. Sejenak si gadis memandangi rumah mewah di hadapannya, Sudah bisa dipastikan kalau keluarga Justin ini adalah keluarga terpandang.


"Ayo,"


Suara Victor menyadarkan lamunan Chloe, Dia dan Victor melangkah mendekati rumah itu, Perlahan Victor membuka pintu dan melangkah masuk di ikuti Chloe.


"Kakek Nenek, Aku pulang!" Suara Victor bergema memenuhi seisi ruang tamu.


Tak lama suara derap langkah terdengar dari arah tangga, Seorang wanita paruh baya dengan senyum manis terlihat di wajah keriputnya.


Wanita itu menyapa ramah Victor dan Chloe usai mendekati mereka. "Selamat datang cucu ku, Kau semakin dewasa sekarang," Kata nya disertai tawa kecil.


"Aku memang sudah dewasa nek," Victor tersenyum, Namun Chloe tahu itu hanyalah senyum palsu.


Si nenek yang bernama Margaret masih memasang senyum manis sebelum menepuk pundak cucunya. "Nenek yakin kau sudah siap dengan obrolan kita nanti,"


Victor berdehem pelan sambil melirik Chloe yang hanya tersenyum ramah. "Ya, Hanya saja nenek perlu berkenalan dulu dengan dia,"


Sadar bahwa ada orang lain disamping cucunya membuat Margaret mengalihkan pandangan. "Oh, Siapa gadis cantik ini? Baru pertama kali nenek melihat kau membawa seorang gadis ke rumah kita,"


Victor membuka suara berniat memperkenalkan Chloe, Namun suara lainnya lebih dulu menyahut.


"Margaret, Dimana Justin. Apa dia sudah datang?" Seorang pria paruh baya baru saja menuruni tangga, Berjalan perlahan mendekati mereka.


"Dia ada disini Hans," Margaret menunjuk cucunya, Memberitahu pada suami nya Hans bahwa Victor sudah ada disana.


Sejenak Hans memandangi Victor dan Chloe, Ekspresi wajah yang tadinya serius kini melunak disertai senyum tipis. "Kau membawa tamu ya Justin, Kita bisa lanjutkan obrolan di meja makan,"


"Oh benar sekali, Nenek sudah membuat makanan favorit Justin. Gadis manis ini pasti juga akan menyukainya," Margaret menyatukan kedua tangannya membuat tepukan kecil, Chloe yang diperhatikan hanya tersenyum canggung tanpa bersuara.


Kakek dan nenek Justin serta Victor tidak tahu kalau raga Justin saat ini sedang diambil alih oleh Victor, Mereka hanya tahu nama Justin. Maka dari itu Victor hanya tersenyum getir, Ketika kakek dan nenek nya hanya mengetahui nama Justin saja. Dirinya benar-benar merasa diasingkan.


"Nah, Justin. Ayo kita makan dulu sambil ngobrol biar kalian lebih nyaman," Margaret menarik pelan tangan cucunya.


Victor mengangguk kecil, Dia bersama Chloe mengikuti Hans dan Margaret menuju ruang makan.


TBC


[Nama: Livian Gevariel


Age: 26 tahun]