
[Siang harinya]
Niel berjalan santai di sekitar asrama, Ia bersenandung kecil menikmati udara segar di sekitarnya. Meski sinar mentari tampak terik di siang itu, Sesaat netra hijaunya menangkap sebuah apel yang jatuh dari pohonnya. Neil mengambil apel itu dan membersihkannya menggunakan kain baju.
Dia menggigitnya sembari memandang pohon apel didepannya. "Kalau Aiden yang menanam . Entah kenapa setiap buah atau sayur yang dimakan rasanya 2x lipat lebih enak. Jangan-jangan dia pakai sihir lagi," Gumamnya masih memandangi pohon apel.
Tap! Tap! Tap!
"Gak dicuci dulu tuh apelnya? Kotor lho,"
Mendengar suara yang tidak asing membuat Neil menoleh dan menemukan Felix yang berjalan mendekatinya. Pria bersurai ungu magenta itu tersenyum kesal ketika melihat sepupu yang menurutnya menyebalkan.
"Udah bersih, Gak dicuci juga gak apa-apa. Lagian bukan kau juga yang makan," Neil masih tersenyum sebelum kembali memakannya. "Kalau kau kesini cuma mau berdebat denganku, Mending kau pergi sebelum kulempar apel bersama pohonnya,"
Felix mendengus pelan, membuka suara. "Siapa yang ingin berdebat? aku kesini untuk mengajak makan siang, Kau bisa masak kan sedikit. Bantu aku membuat makan siang,"
"Aku lagi tidak mood untuk membuatnya, Lagian biasanya Aiden tuh yang masak,"
"Jangan aneh-aneh, Dia lagi mengerjakan misi sekarang. Cepat bantu aku," Felix berbalik berjalan memasuki asrama.
Neil berdecak sebal, Ia berjalan mengikuti langkah Felix. Berjalan sejajar dengan sepupunya itu. "Btw, Kenapa Justin bilang gadis itu anggota ke-8 yang hilang? Memangnya dia pernah tinggal di asrama juga?"
"Aku juga tidak mengerti, Awalnya ketika melihat wajahnya pertama kali. Aku merasa seperti pernah bertemu dengannya seperti familiar, Tapi mungkin itu hanya perasaanku. Bagaimana pandanganmu tentangnya?" Felix mengalihkan pandangannya pada Neil.
"Oh, Tentu saja menurutku dia seru untuk diajak bermain. Hahaha...Anggota ke-8 lebih supel kayaknya dibanding anggota lain termasuk kau," Neil tertawa sekaligus menyindir Felix disampingnya.
"Heh, Padahal kukira kau akan langsung membunuhnya. Kau kan dulu juga begitu," Felix tersenyum kesal, Mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Neil diam sejenak, Dia terus melangkahkan kakinya lalu tersenyum tipis. "Kau ingin tahu kenapa aku tidak langsung membunuhnya? Karna aku memang sengaja menunggu sampai kalian pulang, Biar kalian tidak ketinggalan acara live nya. Ah, Tapi sayang aku tidak bisa membunuhnya lagi karna dia ternyata anggota ke-8 itu,"
Neil mendesah kecewa, Sedangkan Felix hanya mendengus. "Tentu saja tidak bisa lagi, Kau sudah terlambat. Lupakan saja niat membunuhmu itu, Aku malah lebih penasaran kenapa anggota ke-10 malah menikahi anak itu,"
"Entah, Mana mungkin dia tertarik pada anak itu kan? Selama kita tinggal seatap aku tidak pernah melihatnya tertarik dengan masalah percintaan," Neil membuang sisa apelnya ke tempat sampah, Melanjutkan perjalanannya bersama Felix.
"Sepertinya bukan alasan itu yang membuatnya tertarik, Pasti ada sesuatu yang lain,"
"Mungkin saja," Neil membuka pintu dan memasukinya. "Kau punya apron?"
"Ya, Ambil saja punya Aiden,"
"Rasanya aku jadi ingin membuat steak,"
"Terserah kau saja,"
Felix mendengus kecil, Dia berjalan melalui Neil yang mengikuti dari belakang dengan santai.
********************
Kreeiit!
"Felix, Apa kau sudah melacak keberadaan Devian?" Raizel yang baru saja sampai, Langsung duduk di kursi nya. Dia memandangi Felix dan Niel yang sibuk memasak.
"Sudah, Dia mengerjakan misi di perbatasan dengan kelompoknya. Dari titik yang kulacak, Ada beberapa kelompok yang berpisah dari kelompok Devian. Mereka membaginya menjadi dua grup," Jelas Felix tanpa menoleh, Sibuk mengaduk sup nya.
"Trik yang jitu untuk mengecoh lawan, Tapi bukankah Neil juga berada di kelompok Devian. Mengapa tidak ikut mengerjakan misi bersamanya?" Raizel menaikkah satu alisnya heran.
"Males, Lagipula ada Rion disana. Dia juga bisa bantu Devian. Tugasku kan menjaga asrama selama kalian semua pergi, Tapi karna kalian sudah pulang jadi tugasku selesai," Neil tersenyum, Menggidikkan pundaknya acuh.
Raizel mendengus sejenak, Sebelum memalingkan pandangan. Dia menopang dagu sambil memandangi luar asrama dari bingkai jendela.
"Raizel, Bisakah kau ajak anggota ke-8 kesini? Dia pasti belum tahu letak dapurnya," Pinta Felix sedikit menoleh.
"Kenapa tidak kau saja? Kau kan sudah kenal dengannya lebih dulu," Raizel melirik malas. Oh tentu saja karna dirinya malas harus menaiki anak tangga lagi hanya untuk mengajak gadis itu makan bersama.
"Kau tidak lihat aku sedang apa, Punya mata kan?" Felix tersenyum kesal, Meski wajahnya tampak kalem namun netra aqua nya menyiratkan sebuah ancaman seolah-olah berkata 'Cepat panggil anak itu atau kau tidak akan mendapat jatah makan!'.
Felix juga menunjukkan pisau di tangannya yang digunakan untuk memotong bawang pada Raizel, Membuat ancaman terlihat tidak main-main, Seketika Raizel berdecak sebal kalah telak dari Felix.
Tanpa berkata apa-apa, Pria bersurai hitam bercampur coklat di ujung rambutnya itu bergerak pergi meninggalkan ruang dapur.
Tak lama setelah kepergian Raizel, Mata Felix berkaca-kaca. Dia mengusap matanya yang agak berair. Neil menunjukkan senyum seringai di bibirnya setelah melihat ekspresi Felix.
"Ciiee~ Ada yang pengen nangis ditinggal ayang. Cemburu tuh~" Goda Neil sambil menaik turunkan alisnya.
Felix melotot seketika langsung melayangkan jitakan pada sepupu gak ada akhlaknya itu.
"Sakit oi!" Protes Neil refleks menjauh dan mengusap kepalanya yang menjadi korban jitakan Felix.
"Your eyes! Mataku perih gara-gara motong bawang tau! Pikiranmu jangan treveling ya. Lagian aku masih normal woi!" Felix tidak menghiraukan protesan Neil sebelumnya. Pria bersurai coklat itu berkacak pinggang.
"Siapa yang treveling?" Neil masih menyerigai. "Tapi kalau mau, Bisa aja sih hahaha...,"
Gelak tawa dari Neil pun bergema di seluruh penjuru ruangan dapur, Felix menatap jengkel. Dia melempar sendok yang dipakainya untuk mengaduk adonan pada Neil, Neil sontak menghindar lalu menjulurkan lidahnya mengejek Felix.
Prang!
"Gak kena, Wekk~"
"Neil....!" Kata Felix geram melihat Neil yang terus mengejeknya.
Akhirnya Felix mengambil bungkus tepung yang masih ada isi nya, Dan melempar kembali pada Neil. Bukannya mengenai Neil, Tepung itu malah mengenai wajah seseorang yang kebetulan baru saja memasuki area dapur.
BUK!
Neil yang menunduk menghindari lemparan tepung seketika menoleh ketika mendengar suara itu, Dia sontak mundur dan menjauhi sosok pria bersurai ungu bercampur hitam di puncak rambutnya yang berdiri tak jauh dari Neil.
Rambut dan wajah pria itu kini dipenuhi oleh warna putih dari tepung yang menimpa wajahnya, Dia hanya menunjukkan ekspresi stoic dan datar miliknya tanpa mengucapkan apapun.
Skatmat! Yang punya dapur datang!
"Hohoho, Aiden. Apa kabar? Kau baru pulang dari misi ya. Maaf, Tadi itu ada kesalahan kecil," Neil tersenyum palsu, Bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa disekitar mereka.
"Hahaha, Maaf Aiden. Kami pinjam dapurmu sebentar ya," Felix ikut tersenyum palsu, Menutupi detak jantungnya yang berpacu cepat. Dia yakin pasti kejadian selanjutnya akan berakhir buruk setelah ini.
Tap! Tap! Tap!
"Wow! Ada apa dengan ruangan ini? Seperti habis diguncang gempa bumi saja," Justin, Selaku pemilik asrama. Menatap heran pemandangan dapur yang tampak berantakan di depannya. Ezra ikut heran di belakang Justin, Suasana dapur seperti kapal pecah dengan tepung yang bertebaran dimana-mana.
Aiden tentu menyadari kehadiran Justin dan Ezra, Namun ia mengacuhkan saja. Ekspresi datar nya masih tertampang jelas di wajah pria itu.
"Aku baru meninggalkan dapur ku beberapa hari, Tapi sekarang sudah seperti ini," Aiden mengangkat tangannya lalu menunjuk Neil dan Felix. "Kau dan kau! Kalian berdua ikut aku!"
Glek!
Tanpa sadar Neil dan Felix meneguk seliva masing-masing dengan kasar, Neil masih mempertahankan senyum palsunya.
"Hahaha...Aiden, Kalau kami berdua ikut denganmu. Siapa yang akan masak?" Ucap Neil tertawa pelan, Meski hanya pura-pura tertawa.
Aiden melirik, Dia menemukan Chloe dan Raizel yang baru saja memasuki area dapur.
"Kacau sekali," Raizel mengernyit.
"Umm...Kenapa ini?" Chloe menatap bingung situasi dihadapannya. Justin menggidikkan pundak tak tahu sedangkan Ezra hanya diam masih penuh tanda tanya dalam pikirannya.
Aiden tak menjawab, Dia mengambil apron yang tergeletak di meja lalu menarik tangan Chloe secara tiba-tiba membuat gadis itu tersentak kaget. Pasalnya dia tidak mengenal pria bersurai ungu dengan netra ungu tua itu.
Aiden meletakkan apron tersebut di tangan Chloe. "Tolong gantikan aku masak. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan mereka dulu,"
"Hah?!" Chloe melongo sambil memegang apron ditangannya. Kini otaknya mendadak blank, Berusaha memproses kata-kata Aiden tadi. Dia baru saja sampai di dapur, Tidak tahu situasi apa yang terjadi, Tapi tiba-tiba malah disuruh langsung masak? What?!
"Kabur!"
Neil dalam sekejap mata langsung menghilang bersama Felix setelah memegang pundak sepupunya itu. Seketika Chloe, Raizel, dan Justin melotot horror melihat Neil dan Felix yang menghilang sekejap mata.
Ezra diam menatap speecheles, Tentu saja dirinya tak tahu harus berkomentar apa lagi setelah melihat kaburnya Neil dan Felix.
"Wah, Sialan! Mereka kabur tuh!" Kata Raizel kesal.
"Tidak bertanggung jawab, Sudah bikin dapur berantakan malah kabur pula," Balas Ezra datar.
Aiden hanya memejamkan mata sembari mendesah lelah, Tak lama dia ikut menghilang meninggalkan yang lain di dapur.
Dan kini otak Chloe semakin loading, Si gadis masih planga-plongo di tempat.
"Sebenarnya mereka itu makhluk apa barusan?!" Tanya Chloe bengong.
"....."
TBC