
Brak!
"Apa maksudnya ini?! Pernikahan kontrak?!" Bentak Rea marah menatap Justin tajam.
"Ya, Tenang lah Rea. Pernikahan kontrak ini hanya pura-pura," Jelas Justin menenangkan Rea yang keburu emosi.
"Pura-pura bagaimana maksudmu?! Ini seperti perjodohan namanya!" Bentak Rea.
"Tidak, Pura-pura saja seperti pasutri di luar asrama ketika kalian menghadiri undangan,"
"Maaf tuan Justin, Tapi apa yang dikatakan Rea ada benarnya. Ini seperti mempertaruhkan harga diri," Ezra, Menyetujui ucapan Rea. Yang tampaknya dia juga menolak ide itu.
Justin memandang Ezra dan Rea bergantian. Hanya dua orang itu yang memberikan pendapat, Sedangkan sisa nya masih mencerna tujuan dari pernikahan kontrak tersebut.
Livian menatap datar kertas di tangannya, Netra hijau lime nya memperhatikan setiap aturan yang ada.
...Peraturan dalam pernikahan kontrak:...
...1.) Tidak melakukan hubungan pasutri...
...2.) Harus pura-pura terlihat seperti pasangan di luar asrama ketika menghadiri undangan/ pesta...
...3.) Tidak mencium sembarangan sebelum mendapat izin dari orangnya...
...4.) Tidak mengurusi kehidupan pribadi satu sama lain...
...5.) Tidak mengekang pasangannya mau dekat dengan siapa saja...
"Apa maksud dari aturan ke-5?" Livian mengalihkan pandangannya ke arah Justin dan Pria bernetra orange itu menggidikkan pundak tanda tak tahu.
"Entahlah, Bukan aku yang nulis. Aku cuma mengikuti kalimat yang anak itu tambahkan. Aku hanya membuat sampai aturan ke-3," Justin menggeleng pelan.
"Mana? Biar kulihat," Chloe berdiri dan mendekati Livian yang menunjukkan aturan ke-5 dalam kertas itu.
"Oh itu, Yah misalnya kalau salah satu dari kalian punya pacar. Aku tidak mengekang kalian untuk dekat dengan pacar kalian, Bahkan ke tahap sampai serius pun aku biarkan. Kan hanya pernikahan kontrak, Tugasku cuma pura-pura dan akting jadi istri kan beres. Pernikahannya juga gak beneran kok," Kata Chloe santai.
Felix mengerutkan alisnya. "Jadi maksudmu kalau kami punya pacar/ pasangan yang kami sukai, Kau tidak masalah dan tidak marah?"
Chloe mengangguk cepat sambil tersenyum lebar. "Iya, Begitu pun sebaliknya. Kalian enggak boleh mengekang ku kalau aku punya orang yang kusukai di luar asrama,"
Neil tersenyum sesaat. "Memangnya kau punya orang kau sukai?"
Seketika Chloe diam sejenak lalu mengusap tengkuknya yang tidak gatal sambil cecengesan. "Waktu SMP ada sih, Kakak kelas. Aku masih ingat namanya kak Herry. Orangnya keren banget jago basket lagi,"
Alhasil Chloe Fangirlingan mengingat wajah kakak kelas itu, Gadis itu tersenyum sendiri dengan aura berbunga-bunga disekitarnya yang seketika mendapat tatapan jengah dari Ezra, Rea, Dan Livian. Tak lama Devian melempar Chloe dengan gulungan kain kecil tepat mengenai kening gadis itu.
"Sudah gila ya senyam-senyum sendiri?" Komentar Devian datar.
Chloe mengaduh dan menatap kesal karna imajinasi mengenai wajah Herry jadi hilang. "Ganggu aja orang lagi senang," Gerutu gadis itu.
"Apa! Tapi pak Justin bahkan memperbolehkanku menambahkan beberapa aturan, Bukankah itu tidak adil?" Protes Chloe lalu memandang Justin yang hanya diam. "Pak Justin, Benar bukan kalau itu tidak adil?"
"Memang, Hanya saja semua keputusan ada di tangan masing-masing. Mau nya gimana agar semua nya sepakat, Aku juga tidak bisa memutuskan sendiri tanpa persetujuan anggota lain," Justin menghembuskan napas pelan.
Devian juga menunjukkan tanda tangan Chloe di kertasnya. "Tanda tanganmu juga sudah tertera disini, Artinya kau menyetujui kesepakatan yang ada, Mengikuti aturan asrama,"
Chloe menunduk, Dia menggigit bibir bawahnya. Merasa gusar dengan kesepakatan yang di setujui, Apa dirinya salah langkah lagi? Atau dirinya kembali dibohongi?
"Berapa lama pernikahan kontrak ini berlangsung?" Tanya Felix.
"5 tahun," Sahut Justin.
Sadar Chloe sama sekali tidak bersuara lagi, Membuat Felix merasa bersalah. Dia berdiri lalu menepuk pundak gadis itu. "Apa kau benar-benar menyukai kakak kelasmu itu?"
"Dulu, Sudah sangat lama. Sekarang aku tidak menyukai nya lagi karna sudah lama tidak bertemu," Sahut Chloe masih menunduk.
"Kau tahu, Mungkin beberapa diantara kami memang punya orang yang disukai tapi sama seperti kasus mu. Semua rasa itu sudah hilang karna sudah lama tidak bertemu," Felix tersenyum lembut lalu menepuk pelan rambut Chloe.
"Tenang saja, Kalau kau punya orang yang kau sukai. Kami tidak akan mengekangmu, Benar kan Justin?" Felix mengalihkan pandangannya pada Justin yang menyantap makanan penutup. Pria bernetra orange itu mengangguk kecil.
"Iya, Itu terserah kamu. Yang penting tidak sampai melanggar aturan,"
Neil yang mendengarnya agak cemberut, Karna tidak ada yang mendukungnya untuk menghapus aturan ke-5.
Sedangkan Ian tanpa mengatakan apapun langsung menandatangani kertas itu dan membubuhkan cap tiga jari disana. Menandakan dirinya menerima kesepakatan itu. Dia menyerahkan kertas tersebut pada Justin.
"Ian, Kau menerimanya?" Kata Justin agak kaget, Dirinya mengira Ian akan menolak karna pria itu paling anti dengan yang namanya perjodohan atau sejenisnya. Terlebih setelah kematian kedua orang tuanya Ian semakin tertutup bahkan pada anggota asrama yang lain.
Ian hanya mengangguk dengan pandangan dinginnya, Kemudian melangkah pergi dari sana. Berbeda dengan Livian, Dia masih merenungi aturan itu. Netra hijau lime nya memandang malas tanpa minat, Berhubung dirinya sangat butuh dengan kesepakatan seperti ini dan beberapa hari terakhir orang tuanya mendesaknya agar cepat pulang karna ingin dijodohkan. Maka Livian dengan senang hati menandatangi kontrak itu.
Dia tidak akan membuang kesempatan kali ini. Toh nanti dia juga yang untung karna bisa membungkam orang tuanya. Pria bersurai hitam campur silver itu menandatangani surat tersebut dan membubuhkan cap tiga jari sebelum menyerahkan pada Justin.
"Aku duluan," Livian menguap kecil dan meranjak pergi dari sana.
"Bagaimana pendapat yang lain? Masih ada yang protes?" Tanya Justin setelah menerima kertas dari Ian dan Livian. Tidak ada yang menyahut perkataan Justin, Semuanya hanya diam.
Aiden tidak ambil pusing dengan kesepakatan itu, Dia hanya ingin menjalani hari-harinya seperti biasa. Tentu saja, Aiden menandatangi kontrak itu tanpa mau memperpanjang masalah seperti Rea dan Ezra. Kemudian dia menyerahkan pada Justin.
Neil dan Felix ikut menerima nya, Walau Neil agak berat hati karna aturan ke-5 sama sekali tidak bisa diubah. Rion juga menerimanya termasuk Devian dan Raizel. Namun disini Raizel masa bodo, Dia mengikuti saja. Tersisa Ezra dan Rea yang sama sekali belum menandatangani kontrak itu.
"10 vs 2, Anggota lain sudah menerimanya. Apa kalian berdua masih menolak?" Justin menatap datar Rea dan Ezra yang terdiam.
Dengan berat hati tanpa mengatakan sepatah kata pun Ezra menandatangani nya, Begitu pun dengan Rea. Dia menggertakkan gigi nya kesal sebelum menandatangani nya. Justin tersenyum puas karna semuanya sudah setuju, Setelah mengumpulkan semua kertas kontrak itu. Dia membuka suara.
"Besok persiapkan diri kalian semua," Perintahnya lalu berjalan pergi dari sana keluar dari ruangan dapur.
TBC