Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Ian Salvatore (2)



4 tahun telah berlalu setelah kematian ayahku. Umurku sekarang menginjak 17 tahun, Sekarang setelah kematian ayah. Semuanya tampak berbeda, Ibu tidak seceria dulu lagi. Kini rumahku seperti sunyi dan senyap. Terkadang saat tengah malam, Aku sering mendengar ibu ku menangis di kamarnya, Saat ibu ku menangis aku hanya bisa diam, Tidak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya.


Walau begitu, Ibu ku selalu mencoba terlihat tegar dihadapanku meski aku tahu dia tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sebisa mungkin dia menjalani aktivitas seperti biasa seolah-olah tidak terjadi apapun. Begitu juga denganku, Setiap aku membahas soal ayah, Dia akan menangis. Maka dari itu aku tidak pernah membahas soal ayah lagi pada ibu. Dan aku menjalani kehidupanku seperti biasanya.


Pada saat itu, Disekolahku sedang mengadakan perlombaan menyanyi. Pemenang dari perlombaan itu akan dikirim ke sebuah agensi yang menjadi penyelenggara lomba sebagai perwakilan sekolah. Nama agensi nya adalah J.G Entertainment, Dan kebetulan aku ditunjuk sebagai perwakilan kelasku karna setiap kelas wajib mengirimkan perwakilannya.


Awalnya aku ogah mengikuti perlombaan itu, Tapi kemudian aku teringat dengan keinginan ibu ku yang ingin aku menjadi idol. Makanya dengan suka rela aku mengikutinya.


Dari sekian banyak siswa yang ditunjuk, Pada akhirnya aku yang jadi pemenangnya. Aku menceritakan pengalamanku pada ibu, Dia terlihat bangga. Dan memintaku untuk bersiap-siap untuk mengikuti lomba lagi di agensinya. Esok hari nya, Disana lah pertama kali aku bertemu Justin dan Ezra.


Justin hanya menerima 5 orang saja dari banyaknya perwakilan sekolah. Dari banyaknya perserta yang diseleksi, Yang terpilih hanya aku, Raizel, Revan, Ash, dan Al. Dari sana juga aku mulai mengenal Raizel, Dia orang yang cuek saat aku melihatnya begitu juga dengan Revan. Hanya Al dan Ash yang menjadi pencair suasana.


Lagi-lagi setelah hari seleksi itu dan aku berhasil menjadi trainee. Aku menceritakan pengalamanku pada ibu. Dan tentu saja pada gadis yang menolongku waktu itu. Dia terlihat senang karna aku berhasil jadi idol meski belum debut.


Yah, Saat SMA pun kami beda sekolah. Mungkin sudah takdir.


****************


Setahun telah berlalu, Sekarang umurku 18 tahun. Grup idol kami beberapa bulan lagi akan debut, Aku cukup senang karna akhirnya bisa membuat ibu ku bahagia. Tapi beberapa hari sebelum debut, Aku mendengar kabar bahwa gadis itu kecelakan lalu lintas dan saat ini koma di rumah sakit. Aku sempat mengunjunginya dan membawakan buah tangan pada keluarganya yang sedang bersedih.


Aku selalu menantinya hari demi hari, Namun dia tak kunjung bangun. Saat itu aku sudah debut pertama ku, Dan hampir setiap hari setelah pulang sekolah kusisih kan waktu untuk menjenguknya. Selalu seperti itu, Sampai suatu hari aku mendengar kabar yang tidak mengenakkan di rumahku. Ya, Ibu ku meninggal karna mengalami overdosis tinggi, Dia didiagnosa mengalami depresi berat dan memutuskan untuk bunuh diri.


Dan aku sebagai anaknya tidak menyadari hal itu, Saat melihat tubuhnya yang terbujur kaku yang aku lakukan hanya bisa diam terpaku tanpa sepatah kata pun. Barulah setelahnya aku memanggil tetangga untuk meminta bantuan, Karna kejadian itu aku absen dari latihan selama beberapa hari bahkan juga absen dari sekolah.


******************


"Turut berduka cita ya nak untuk ibu dan ayahmu,"


Saat itu aku hanya diam menatap batu nisan di depanku tanpa menghiraukan ucapan bela sungkawan dari para tetangga ku. Satu-persatu dari mereka pergi meninggalkan area makam, Menyisakan aku yang masih betah berdiri sendirian disini.


Aku tidak menangis, Lebih tepatnya tidak bisa ketika melihat batu nisan kedua orang tuaku berdampingan. Rasanya hampa, Aku hanya bisa menatap kosong, Hidupku menjadi sunyi dan senyap. Semua orang meninggalkanku sendiri.


Aku melangkahkan kaki ku keluar area pemakaman tanpa arah, Aku tidak ingin pulang tapi aku juga tidak tahu harus pergi kemana. Yang bisa kurasakan hanyalah rasa hampa dan kosong. Sampai langkahku terhenti di sebuah jembatan.


Aku naik ke atas pembatas, Kurentangkan tanganku disana sambil menatap dasar danau yang jernih. Banyak bebatuan disana. Aku tidak memiliki semangat hidup lagi, Saat itu yang terbesit dipikiranku hanya ingin menyusul ayah dan ibu. Aku ingin bertemu mereka.


Kubiarkan tubuhku terjatuh mengikuti gravitasi, Lalu semuanya menjadi gelap saat kurasakan tubuhku mulai tenggelam dan kepalaku menghantam sesuatu yang keras.


BYUR!


BRAK!


**************


Sunyi, Senyap, dan gelap. Kepalaku sakit, Sebisa mungkin kubuka mataku. Pemandangan pertama kali yang kulihat adalah ruangan serba putih, Apa tempat ini adalah alam akhirat? Tapi kurasa tidak karna aku mencium aroma obat-obatan disini.


"Hm...Ian, Kau bisa mendengarku?"


Suara itu rasanya tidak asing, Kuarahkan netraku ke sisi kiri ranjang. Dimana sosok Justin berdiri bersama sosok pria lain yang yang kukenal sebagai Aiden.


"Justin, Kenapa aku bisa ada disini?" Kataku dengan suara parau.


"Aku memang sengaja membawamu kesini, Yah kebetulan saja salah satu anggotaku melihatmu mau bunuh diri,"


"Seharusnya kau biarkan saja aku mati disana!" Sahutku agak keras, Mengakibatkan kepalaku berdenyut sakit setelahnya.


Kulihat tatapannya tampak berbeda, Seolah sedang mengasihani ku. "Kau begitu putus asa ya, Sampai-sampai nekat ingin bunuh diri seperti itu?"


Aku mengunci mulutku rapat-rapat tanpa ingin memberitahu, Kudengar dia menghembuskan napas.


"Saat ini kata dokter kau kekurangan 20 persen darah, Tersisa 10 persen darah dalam tubuhmu. Kau kehilangan banyak darah saat itu karna kepalamu membentur bebatuan. Kau ini, Baru beberapa hari debut tapi sudah mengalami kejadian buruk,"


"Ian, Apa kau ingin keluarga pengganti?"


"Tidak! Aku ingin menyusul ayah dan ibu," Sahutku dingin.


"Hm...Sebenarnya aku tidak ingin memberitahukan hal ini sih," Kulihat Justin mengambil sesuatu dari pria bersurai ungu campur hitam disampingnya. Sebuah foto dia sodorkan padaku.


"Sebenarnya kecelakaan kerja ayahmu itu bukan kebetulan semata. Ada seseorang yang memang sengaja menyabotase nya agar terlihat murni kecelakaan biasa,"


"Maksudmu ada seseorang yang menjadi dalang di balik kecelakaan ayahku?!"Kata ku menerima foto itu. "Dapat dari mana foto ini?"


"Benar, Aku mencari informasi tentang kecelakaan itu dan mendapatkan foto ini dari salah satu saksi mata sekaligus pekerja disana,"


Aku mengepalkan tangan, Kutolehkan lagi kepalaku menatapnya. "Info apa lagi yang kau dapat?"


"Kudengar salah satu pelaku nya adalah teman dekat ayahmu," Justin tersenyum lalu mengulurkan tangannya padaku. "Apa kau ingin balas dendam?"


Aku yang tidak memperdulikan apapun lagi lantas mengangguk, Benar bagaimana pun juga nyawa dibalas dengan nyawa. Aku kehilangan orang tua ku karna satu akar permasalahan itu saja, Dia harus mempertanggung jawabkan semuanya.


"Kalau begitu ayo buat kesepakatan denganku," Tawarnya masih mengulurkan tangan.


"Kesepakatan apa?"


"Jadilah anggotaku, Kau bisa melakukan apapun sesukamu. Kau akan aman selama jadi anggotaku. Dan yang lebih menyenangkan kau bisa membunuh siapapun orang yang kau benci," Dia menawarkan kesepakatan itu padaku, Seolah kata-kata itu terngiang-ngiang di kupingku.


Sejenak aku terdiam sambil mengcengkeram foto itu hingga tak terbentuk, Aku tidak memiliki siapa pun lagi. Rasa yang hampa dan kosong ini mengikatku, Satu-satunya yang bisa kurasakan sekarang hanya rasa balas dendam. Karna itu aku menerimanya, Tidak peduli dengan konsekuensi yang akan kuhadapi nantinya.


Menerima kesepakatan itu, Aku menjabat tangannya dan dia tampak tersenyum puas. Setelah selesai berjabat tangan, Di memandangi Aiden.


"Aiden, Lakukan tugasmu,"


"Hm..."


Kulihat Justin berjalan pergi meninggalkanku bersama Aiden, Sejenak aku menatap pria itu ketika dia mendekat.


"Apa yang akan kau lakukan?"


"Memberikan sedikit darahku, Kau kehilangan banyak darah dan saat ini rumah sakit sedang tidak ada donor darah yang cocok denganmu. Setelah ini, Kau bukan manusia lagi. Apa kau akan menerima nya?"


"Lakukan saja, Aku sudah tidak peduli lagi dengan kondisiku. Yang terpenting balas dendamku tercapai," Balasku dingin. 


"Baiklah,"


Dia menyayat telapak tangannya dengan sebuah pisau kecil, aku tidak tahu kapan dia membawanya. Darahnya mengalir deras dan dia menampungnya di sebuah gelas kecil. Dia memintaku meminum darah itu.


Sejak saat itu aku selalu haus akan darah, Aku merasa seperti menjadi sosok yang berbeda, Aku tidak seperti dulu lagi. Kehidupanku berubah dalam sehari, Dan semua itu karna aku menerima kesepakatannya, Menjadi salah satu anggota Justin selain Ezra dan Aiden.


Dan cukup kau tahu saja, Sekali kau menerima kesepakatannya maka kau tidak akan bisa lagi keluar dari lingkaran hitamnya. Itulah yang terjadi padaku sampai sekarang, Aku terjebak di asrama ini bersama anggota lain, Tanpa bisa melepaskan diri.


Dan sejak hari itu juga, Sebagian ingatanku menghilang. Aku melupakan hampir semua kenangan yang terjadi dalam hidupku, Yang hanya kuingat adalah orang tuaku dan anggota asrama. Sisa nya hilang tanpa bekas, Bahkan pertemuanku dengan gadis kecil itu juga menghilang.


Ian Pov End


TBC


Bonus:


Trio Supernatural