Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Arc Devian Orlindo (3)



Setelah mengantri cukup lama barulah tiba giliran Devian dan Chloe, Mereka membayar tiket dan menaiki wahana itu bersama beberapa pengunjung lainnya. Permainan itu berjalan lancar tanpa kendala, Devian tampak menikmati rolle coester nya begitu pun dengan Chloe. Sesekali si gadis akan berteriak kecil ketika kereta itu melintasi rel yang menurutnya ekstream.


Beberapa menit pun berlalu, Keduanya menuruni wahana tersebut dan memutuskan untuk mencari tempat duduk, Terlebih wajah Chloe terlihat agak pucat dan hampir mual. Perutnya serasa diaduk-aduk dan kepalanya begitu pusing.


"Kak Chloe tunggu disini, Aku belikan minuman nya dulu,"


Devian mendudukkan Chloe di sebuah bangku kosong, Setelah mendapat anggukan dari si gadis. Devian lantas melangkah pergi mencari vending mesin terdekat.


Selagi menunggu Devian, Chloe menghirup aroma dari minyak angin yang dia bawa. Untunglah Chloe membawanya untuk jaga-jaga, Jadi rasa pusingnya sedikit berkurang.


Tap! Tap! Tap!


"Kak Chloe...,"


"Hm...," Chloe mendongak memperhatikan Devian yang sudah berada di depannya sambil memegangi dua buah minuman kaleng bersoda.


"Di vending mesin minuman biasa nya udah habis, Tinggal yang bersoda aja. Gak apa-apa kan kak?"


"Iya, Ini aja udah cukup. Makasih," Chloe menerima kaleng itu, Dia membuka penutupnya dan mulai menegaknya.


Devian mengangguk kecil, Duduk disamping Chloe dan ikut menegak minumannya. Sesaat netra coklat muda itu melirik ke arah kantong plastik yang Chloe bawa.


"Ngomong-ngomong, Kak Chloe beli barang sebanyak itu buat apa?" Tanya nya memulai obrolan.


"Oh, Buat keluargaku. Sekali-kali aku ingin membelikan mereka barang baru,"


"Begitu...," Devian sedikit tertunduk, Ia memandangi tanah yang dipijaknya. "Kau beruntung ya...Punya keluarga yang harmonis. Aku jadi iri,"


Chloe yang tidak paham sama sekali dengan maksud Devian, Memandangi si pria dengan satu alisnya yang terangkat heran.


"Maksud?"


Ia diam sejenak tanpa berkata-kata lagi, Kemudian Devian mendengus kecil dan meranjak serta membuang kaleng yang isi nya sudah kosong ke tempat sampah.


"Bukan apa-apa, Ayo kita pulang. Sebentar lagi akan malam,"


Chloe hanya mengangguk kecil tanpa menanyakan lebih lanjut maksud dari kata-kata Devian, Dia menghabiskan minumannya dan segera membuang ke tong sampah sebelum mengambil kantong plastik berisi barang-barang yang Chloe beli di mall.


Mereka berdua berjalan keluar dari wahana taman bermain, Devian memang tidak membawa motornya saat itu. Jadi dirinya memilih jalan kaki. Sementara Chloe berjalan di sisi kiri Devian.


Selama perjalanan dalam hening itu, Keduanya memutuskan lewat jalan pintas untuk lebih cepat sampai ke asrama. Yaitu melewati jalan bekas gedung tua, Kebanyakan orang-orang ketika menjelang senja atau malam hari tidak ada yang berani lewat jalan itu karna rumor yang terdengar, Jika ada yang melewati gedung tua itu maka akan dihantui atau dijahili oleh penunggu disana.


Devian yang pada dasarnya tidak percaya hantu atau semacamnya, Tentu saja dengan santai dan tanpa takut melewati gedung tersebut. Sementara Chloe yang tidak tahu rumor tentang gedung tua itu hanya melirik sekitarnya dengan waspada.


"Devian, Kenapa kita harus lewat jalan sepi begini? Bukannya masih banyak jalan lain yang lebih ramai?" Tanya Chloe masih menatap waspada.


"Biar lebih cepat aja, Lagian ini juga jalan pintas yang lebih baik dibanding jalan gang sana. Kenapa? Takut?" Devian tersenyum jahil, Melirik Chloe disampingnya.


"Gak tuh, Cuma kalau lewat jalan sepi kaya gini biasa nya kan..."


"Hantu?" Potong Devian cepat, Ia kembali mendengus dan mengibaskan tangannya. "Hantu itu cuma mitos, Gak ada yang nyata,"


"Bukan itu! Tapi biasanya jalan sepi begini banyak preman yang memanfaatkan situasi untuk malak atau menakut-nakuti orang kan!" Balas Chloe mengernyitkan alisnya.


Bukannya menyahut, Devian hanya menyerigai kecil. "Justru hal itu yang kutunggu sejak pagi tadi, Selain alasanku jalan-jalan keluar. Aku juga ingin tahu apakah benar yang dikeluhkan para warga kota kalau di tempat ini ada hantu atau preman,"


"Hah?"


Chloe tentu tidak mengerti apa rencana Devian sebenarnya. Devian tampak mendongak memandang gedung tua yang menjulang tinggi tepat di samping mereka. Chloe yang penasaran ikut mendongak, Seolah obrolan mereka tadi menjadi panggilan.


"Devian...,"


Devian terlihat serius, Tak menghiraukan panggilan Chloe. "Perasaan macam apa ini? Kenapa rasanya aku merasakan aura yang kuat dari sosok itu?" Pikir Devian masih menatap serius.


Di luar dugaan tiba-tiba saja sosok itu melompat turun dari ketinggian tepat dihadapan Devian dan Chloe, Debu-debu kecil bertebaran ketika sosok tersebut sudah mencapai tanah.


Bum!


Situasi itu memaksa Devian dan Chloe menyilangkan tangan mereka dan sedikit menyipitkan mata demi menghindari debu-debu yang bertebaran itu.


"Salah satu dari Black Shadow, Akhirnya aku menemukanmu," Kata sosok itu ketika melihat Devian.


Devian menurunkan tangannya begitu juga dengan Chloe, Kini Devian terlihat bersiaga sementara sosok di depan mereka masih berdiri santai.


"Kau dari kelompok itu, Mau apa kau disini?" Balas Devian sengit.


Tawa kecil terdengar dari sosok itu sebelum menjawab pertanyaan Devian. "Kudengar ada siluman atau sejenisnya yang berkeliaran disini, Jadi aku datang untuk membasmi nya. Dan kebetulan sekali aku bertemu dengan mu,"


Devian mengernyit sementara Chloe yang tidak paham dengan topik pembicaraan itu hanya menatap bengong. Sosok tersebut tiba-tiba berbalik dan menatap gedung tua di depan mereka.


"Dia datang...," Gumam nya lirih.


"Apa? Dimana? Siapa yang datang?" Chloe terkejut, Dengan panik melihat sekitarnya sembari celingak-celinguk.


Mendadak dari arah tembok yang tidak terkena cahaya, Sebuah jaring laba-laba berukuran cukup besar di tembakkan begitu saja ke arah mereka. Sontak saja Devian menarik Chloe.


"Menghindar!"


Wwuusshh!


BRUK!


"Aduh...!" Chloe meringis saat punggungnya menghantam tanah, Devian yang juga sempat terjatuh langsung berdiri dan melihat sosok pria misterius yang di temui nya tadi kini sedang bertarung dengan seekor laba-laba raksasa.


TTRRIING!


TTRRIING!


Gooaarr!


Laba-laba raksasa tersebut mendesis keras ketika pedang dari pria misterius memotong salah satu kaki nya.


"Apa itu siluman yang dia maksud? Laba-laba raksasa?!" Pekik Chloe kaget setelah berdiri dari jatuhnya.


Devian mengangguk kecil. "Ya, nama lainnya adalah Spider of poison atau laba-laba beracun. Salah satu dari spesies laba-laba mematikan, Memang menyebalkan kalau harus berurusan dengan serangga ini,"


"Ukurannya itu tidak normal seperti laba-laba pada umumnya. Maksudku, Lihatlah ukuran tubuhnya, Hampir setara manusia tau!" Chloe nunjuk-nunjuk sambil bergidik ngeri.


"Aku tau, Dengan ukuran tubuhnya yang seperti itu. Dia sudah termasuk dianggap laba-laba siluman dan mau bagaimana pun harus dibasmi karna sudah memakan banyak korban. Kupikir gedung ini ditakuti karna ada hantu atau preman tapi ternyata karna ulah laba-laba ini,"


Devian berkacak pinggang sejenak dan berdecak kecil. Dia mengambil sesuatu dari balik jaket nya, Sebuah pisau perak dengan gradiasi biru gelap.


"Tunggu lah disini, Aku akan membantu nya,"


"Hee? Devian bahaya!" Chloe berniat menghentikan Devian namun si pria sudah keburu pergi melawan laba-laba tersebut bersama si pria misterius.


TBC