
Tap! Tap! Tap!
Lari, Ia terus berlari dengan suara langkah nya yang bergema sepanjang perjalanan. Chloe tidak peduli dengan tubuhnya yang mulai letih dan napas nya yang memburu. Pikirannya hanya terfokus untuk mencari keberadaan Felix sesuai petunjuk si pria.
Perasaan cemas dan khawatir menggerogoti hatinya tak kala ia menemukan jalan buntu, Langkah Chloe terhenti di sebuah taman terbengkalai. Ia yakin sekali kalau jalan yang menjadi tujuan nya sudah sesuai petunjuk itu.
Harusnya Felix ada disini kan? Tapi mengapa taman ini begitu sepi?
"Tolong...Berhenti...!"
Samar-samar Chloe mendengar suara lirih di sekitarnya, Si gadis lantas menoleh mencari asal suara. Ia berlari menuju sudut taman, Menemukan Xavier dan Vallen yang sekarat dengan sukumpulan serangga mengelilingi kedua pria itu.
Namun diri nya tidak mendapati keberadaan Felix disana. Ia berusaha memanggil nama si pria.
"Kak Felix, Kamu dimana?" Teriak nya sembari memperhatikan sekitar.
Xavier memuntahkan darah segar dari mulut nya, Ia merasa sekumpulan serangga itu mulai menjauh dari mereka. Kini ia bisa sedikit bergerak bebas meski tubuh nya merasa sakit.
Felix mendengar suara Chloe, Sekumpulan serangga itu pun menyatu membentuk tubuh Felix. Dia kembali ke wujud semula dan berdiri tak jauh dari si gadis. Sejenak tatapannya tertuju pada Vallen yang pingsan sementara Xavier tampak lemah dan kesakitan.
Dia mengabaikan mereka dan memilih memanggil Chloe. "Chloe, Aku disini!"
Chloe berlari menghampiri Felix usai mendengar panggilan si pria. "Kak Felix, Apa kamu baik-baik saja? Kau bilang sesuatu telah terjadi dan membuatmu harus sementara waktu meninggalkan cafe. Semua baik-baik saja kan?" Tanya Chloe cemas.
Felix menyunggingkan senyum tipis. "Ya semua baik-baik saja, Urusan ku sudah selesai. Lagi pula untuk saat ini mereka pasti tidak bisa berbuat apa-apa, Kita bisa kembali ke cafe sekarang,"
Pandangan Chloe beralih pada Xavier yang berdiri perlahan, Napas pria itu tampak memburu dan penuh amarah. Dia membopong adiknya yang pingsan sembari menatap tajam Felix.
"Untuk saat ini kau memang menang lagi, Tapi ingat lah aku pasti akan mengalahkan mu suatu saat nanti," Gertak Xavier marah.
Tapi Felix hanya menanggapi gertakan itu dengan nada tenang. "Semoga beruntung di pertarungan selanjutnya, Aku dengan senang hati menunggu," Balas Felix tersenyum ramah.
Xavier memberikan tatapan tajam terakhir sebelum sebuah portal muncul di atas mereka. Portal hitam tanpa dasar itu memunculkan cahaya menyilaukan yang tertuju pada tubuh Xavier dan Vallen, Perlahan tubuh keduanya menghilang dari pandangan Felix dan Chloe bersamaan tertutupnya portal hitam tersebut.
"Sayang sekali pertarungan ini selesai terlalu cepat, Mereka agak mengecewakan. Dulu mereka tidak selemah ini," Kata Felix.
"Dan aku terkadang masih tidak terlalu percaya kalau masih ada manusia-manusia yang memiliki kekuatan super keren seperti mereka," Sahut Chloe tampak terpaku.
Felix menoleh dan tertawa kecil, Dia mengacak surai Chloe dengan gemas. "Mulai sekarang kau harus terbiasa, Kau masuk ke kehidupan kami yang artinya semakin banyak yang akan kau ketahui di masa mendatang. Bahkan termasuk siapa saja manusia yang memiliki kekuatan spiritual. Yah contohnya anggota Fallen Angel seperti mereka tadi,"
"Dulu hidup ku aman dan tentram, Lalu sekarang semenjak tinggal bersama kalian, Hidupku jadi terasa aneh dan membingungkan. Apa suatu saat nanti aku akan seperti kalian, Memiliki kekuatan spiritual?" Chloe menatap Felix, Membiarkan rambutnya sedikit berantakan karna acakan si pria.
Felix menarik tangannya lalu memasang ekspresi berpikir. "Mungkin saja, Tapi tergantung manusia itu sendiri sih. Kebanyakan manusia lebih memilih hidup damai tanpa ingin ikut campur dalam hal-hal spiritual. Kalau pun memilih hidup berdampingan dengan kekuatan spiritual, Pasti ada resiko yang harus ditanggung,"
"Kalau begitu aku lebih baik hidup seperti manusia biasa saja, Hidup dengan kemampuan spiritual rasanya seperti berat bagiku," Chloe sedikit menunduk sambil menautkan jari-jari tangannya.
Felix tersenyum tipis dan menepuk pelan pundak Chloe. "Itu pilihan mu Chloe, Tidak ada yang memaksamu untuk memiliki kekuatan spiritual. Lagian kan seharusnya manusia dan mahkluk spiritual seperti kami tidak boleh hidup berdampingan,"
"Lha? Terus untuk apa kalian di dunia manusia kalau gak boleh hidup berdampingan?!" Chloe speechles seketika.
"Ceritanya panjang, Dan semua itu bermula dari sebuah kesepakatan. Kalau ingin mendengar ceritanya, Tanya saja pada Justin. Dia yang paling tahu kalau masalah makhluk spiritual,"
"Begitu, Pak Justin tampaknya sangat dihormati di asrama," Chloe melangkah kan kakinya untuk kembali ke cafe.
Felix berjalan disamping Chloe setelah mendengar kata-kata si gadis. "Ya, Kami cukup menghormati nya karna dia yang mempertemukan kita semua, Kalau dia tidak mengajak anggota lain untuk bergabung. Mungkin kita semua tidak akan bertemu dan tidak akan saling mengenal satu sama lain,"
"Iya juga sih," Chloe mengangguk setuju.
Sejenak Felix terdiam, Ia kehabisan topik dan memutar otak mencari topik yang akan dia bicarakan dengan Chloe agar tidak canggung selama perjalanan. Tak lama dirinya teringat dengan pembicaraan antara Ian dan anggota lain termasuk dirinya.
Dimana saat itu Ian bilang, Dia melihat Chloe bersama pria lain saat di rumah sakit. Pria itu juga mengantar Chloe sampai depan asrama, Bahkan obrolan antara pria asing dan Chloe waktu di depan asrama di dengar juga oleh Ian dan dirinya termasuk anggota lain.
"Ngomong-ngomong, Aku ingin mengetahui beberapa hal," Kata Felix memulai obrolan kembali.
"Tanya saja,"
"Kamu bilang kamu dulu pernah punya gebetan, Masih naksir dia gak sekarang?"
"Oh, Udah gak sih. Udah lama juga, Itu cuma masa lalu. Lagian kayak nya dulu aku cuma kagum aja sama dia, Gak pernah ada niat buat pacaran," Jelas Chloe santai.
"Lalu akhir-akhir ini pernah ketemu dia gak?"
"Pernah, Waktu di rumah sakit. Dia pernah nolong aku, Waktu itu aku pingsan dan dia membawaku ke rumah sakit. Dan dia sekalian mengantar ku pulang ke asrama,"
Felix melirik kecil. "Persis seperti cerita Ian, Dia tidak menutup-nutupi nya. Jujur sekali,"
"Lalu setelah mengantarmu, Apa dia mengatakan sesuatu sebelum kamu masuk asrama?" Felix sedikit menyipitkan matanya, Berusaha mencari kebohongan di mata Chloe. Tapi sepertinya dia tidak menemukan apapun.
Chloe diam sesaat setelah ditanyai hal itu, Tatapan masih fokus memandang ke depan sebelum menjawab Felix. "Ada, Tapi janji jangan marah ya kak Felix," Kata Chloe agak was-was.
"Oke, Gak apa-apa. Ngomong aja," Felix kembali menunjukkan senyum ramahnya.
"Waktu itu dia tanya aku masih suka sama dia atau enggak, Aku bilang udah gak suka lagi dan aku ngasih tahu dia kalau aku udah nikah. Awalnya kak Herry gak percaya, Tapi aku berusaha meyakinkan dia. Setelah itu dia bilang meski aku udah nikah, Dia gak bakalan nyerah. Gak peduli aku udah nikah atau belum," Chloe mengakhiri ceritanya disana.
Gadis itu menghela napas berat, Mendadak Felix memegangi kedua pundaknya. Tatapan pria bernetra aqua itu terlihat serius tanpa senyum ramah yang biasa dia tunjukkan. Hal itu membuat langkah Chloe berhenti dan terfokus pada netra Felix yang menatapnya.
"Mendengar cerita mu, Kusarankan lebih baik jauhi dia. Aku tidak yakin sikap dia tetap sama seperti terakhir kali kau mengenalnya, Manusia itu bisa saja berubah. Kau harus hati-hati," Kata Felix serius.
"Kak Felix maksudnya gak suka sama keberadaan kak Herry?" Chloe mengernyitkan alisnya bingung.
"Bukan begitu, Aku hanya merasa kalau dia berbahaya. Selain itu aku juga merasa dia bakalan melakukan apa saja agar bisa mendapatkanmu. Setelah mendengar obrolan kalian tempo hari, Kami sudah menduga-duga,"
"Jadi kalian mencuri dengar apa yang kubicarakan dengan kak Herry?! Itu tidak sopan tau!" Chloe menatap kesal membuat Felix agak kaget.
"Maaf, Kami hanya penasaran karna kau diantar pulang olehnya. Lagian yang dengar cuma aku, Ian, Ezra, Dan Neil kok," Felix menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Agak kikuk karna tidak sengaja keceplosan.
"Setelah mendengar hal itu, Ian sangat marah jadi dia ke kamar mu,"
"Jadi yang waktu itu dikamarku dan mematikan lampu adalah kak Ian?!" Pekik Chloe kaget.
Felix mengangguk kecil, Ia jadi merasa bersalah karna membiarkan semua nya terjadi. Apalagi waktu itu Ezra sempat marah-marah karna dia bilang Chloe masuk ke kamarnya dan mengganggu istirahatnya.
"Aku tahu tidak seharusnya aku membiarkan mu pergi sendirian, Apalagi sampai mengetahui tugas apa yang dikerjakan setiap masing-masing anggota. Waktu kamu pingsan pun, Saat itu karna Ian tidak ingin kamu ikut campur dalam misi nya kan?"
"Iya, Kak Felix tahu dari mana?"
"Ian sendiri yang bilang," Felix menghela napas kecil. "Apa mungkin lebih baik sekarang kau tidak boleh pergi sendirian lagi ya? Aku merasa semenjak kau mengenal kami. Hidup mu jadi tidak aman deh," Tambah Felix cemas.
Chloe hanya memalingkan pandangan, Tak lama senyum manis terbit di bibirnya. Tatapan lembut ia berikan pada Felix.
"Aku akan baik-baik saja kak Felix. Itulah resiko yang harus diterima sebagai istri mahkluk spiritual macam kalian. Walau gak mudah, Setidaknya aku juga ingin berguna dan berjuang bersama kalian,"
Felix tertegun sesaat, Tatapan matanya seolah menyiratkan rasa tak percaya sekaligus terharu. Rona tipis menghiasi kedua pipinya sebelum menarik Chloe ke dalam dekapan sang pria.
Ia berbisik pelan tepat di kuping si gadis dengan senyum lembut. "Kalau begitu, Boleh aku menggigitmu sekarang?"
"Hah, Gigit apa?"
...Arc Felix Edricson Complite...
TBC