
"Aduh, Niat nya penasaran eh malah keterusan baca nih novel. Mana udah mau malem lagi," Chloe menggeleng, Gak sadar kalau dia baca novel sampai lupa waktu. Pada akhirnya Chloe menuruni anak tangga sambil membawa keranjang anggurnya yang tersisa sedikit.
Dia berniat mengembalikan buku novel di tangannya pada Ian, Mencari-cari si pria disetiap ruangan. Hingga langkahnya terhenti di ruang tamu, Disudut ruangan Chloe melihat Ian yang sedang duduk disisi bingkai jendela. Pria itu tampak melihat keluar, Entah apa yang dilihatnya. Padahal senja sudah menunjukkan diri, Menandakan hari yang sebentar lagi berganti malam.
Chloe mendekati Ian, Berdiri dibelakang si pria.
"Apa yang kau inginkan?" Chloe sedikit tersentak, Saat pria itu membuka suara. Ian tentu saja menyadari kehadiran Chloe, Tanpa menoleh pun dia sudah tahu. Karna pantulan bayangan Chloe terlihat di jendela.
"Ini, Aku mau mengembalikan novel nya kak," Chloe menyodorkan novel di tangannya.
Ian melirik kecil sebelum mengambil novel tersebut, Dia membuka lembar demi lembar memastikan tidak ada lebaran yang robek atau menghilang disana.
"Isi novelnya sangat seru, Pantas saja kak Ian menyukainya. Aku saja sampai gak sadar baca nya keterusan," Chloe terkekeh pelan, Mengusap tengkuk nya yang tidak gatal.
Ian hanya menatap datar, Sekilas ketika melihat Chloe dia seperti melihat sosok lain dari sang gadis. Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Netra merah Ian beralih pada syal merah Chloe. Dan juga syal itu seperti familiar untuknya.
"Oh iya, Aku juga punya koleksi novel meski gak banyak sih. Kapan-kapan kita bisa tukeran novel, Mau gak?" tawar Chloe tersenyum lebar.
"Terserah!" Ian memalingkan pandangan, Kembali menatap dunia luar.
"Hm...Ngomong-ngomong kak Ian betah gak disini? Kalau aku sih kadang ingin pulang ke rumah, Kangen ayah sama mama dan adik-adikku soalnya. Kak Ian bagaimana?"
DEG!
Bukannya menyahut, Netra Ian sedikit melebar setelah mendengar pengakuan Chloe. Disaat bersamaan seolah siluet dengan gambaran rusak terputar di pikirannya. Samar-samar dia seperti mendengar suara familiar disana.
"Aku rasanya ingin segera pergi dari dunia ini,"
"Kau sudah mulai tidak betah ya?"
"Mungkin, Aku merindukan dunia asli kita,"
"Nanti setelah kita kembali ke dunia nyata, Aku janji akan memberikan jawabanku kembali atas perasaanmu Ian,"
Ian diam mematung, suara-suara itu terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak, Dia menggeleng mencoba menepis suara-suara itu lalu memegangi kepalanya. "Apa itu barusan?"
"Kak Ian...Kak Ian kenapa?"
Si pria tersadar sambil memandangi Chloe, Raut wajah Chloe tampak kebingungan melihatnya. Dia kembali menatap dingin sambil menggeleng pelan. "Gak kenapa-napa,"
Ian meranjak tanpa mengatakan apa pun dia melangkah pergi meninggalkan Chloe yang kebingungan.
***********************
[Kamar Ian]
Bruk!
Langkah kakinya berhenti tepat disamping kasur, Ian lantas mendudukkan dirinya disana. Netra itu menatap kosong sebuah bingkai foto, Foto yang terdiri dari keluarga kecil. Seorang anak kecil bersurai hitam yang diapit oleh dua orang dewasa di sisi kanan-kiri nya. Mereka tampak tersenyum bahagia ke arah kamera.
Tangannya terulur meraih bingkai itu lalu mengusap foto nya perlahan. "Ayah ibu, Bagaimana kabar kalian disana? Apa kalian bahagia?"
Ian menghela napas, Netra merahnya meredup sendu. "Disini aku sendirian, Meski aku punya keluarga angkat. Tapi mereka...Bukan lah keluarga yang benar-benar kuinginkan," Lirihnya.
Dia meletakkan kembali bingkai foto itu di nakas, Kini pikirannya membawa nya ke masa lalu dimana dirinya belum tinggal di asrama ini dan sebelum bertemu dengan Justin serta anggota lainnya.
***************
[Memory Ian]
Ian Pov
Waktu itu umurku masih 8 tahun, Aktivitas sehari-hariku biasa saja. Bermain, belajar, makan, dan tidur seperti anak se usia ku. Terkadang aku sering menyendiri ke taman bermain dekat rumahku, Disana aku lebih sering menghabiskan waktu membaca light novel. Aku sudah menyukai light novel sejak umur ku segitu.
Seperti hari-hari biasanya, Aku duduk di taman sambil membaca novelku. Tapi entah bagaimana anak-anak itu datang, Menghancurkan kesenanganku.
"Oi! Sedang apa kau disini! Ini tempat kami. Cari tempat lain saja sana! Pergi kau!" Salah satu anak itu meneriaki ku. Tapi aku mengacuhkan mereka, Memangnya mereka siapa? Aku sudah lebih dulu berada di taman ini sebelum mereka, Lagipula ini kan tempat umum bukan milik nenek moyangnya.
"Dasar pecundang! Seharusnya kau tidak mengacuhkan kami!"
Aku sontak berdiri dan melindungi kepalaku dengan buku novel, Mereka terus melempariku tanpa henti dan berteriak.
"Pergi! Pergi! Pergi!"
Ck! aku malas sekali meladeni anak-anak macam mereka. Aku mengalihkan novelku. Ingin melawan balik, Belum sempat kulakukan sosok gadis kecil tiba-tiba berdiri tepat dihadapanku sampai merentangkan tangan, Dia berteriak pada anak-anak di depanku.
"Hentikan! Apa-apaan kalian ini!" Teriaknya.
"Apa kau! Mau jadi pahlawan kesiangan?! Kau sama pencundangnya dengan dia!" Tuding anak di depan kami sambil melempari kami.
Tuk!
Kerikil itu mengenai keningku, Aku menatap marah tapi gadis kecil di hadapanku melempar balik pada anak-anak itu.
"Seharusnya kalian yang pergi!"
"Ah, dia melempar balik. Ayo pergi!"
"Awas saja, Akan kuadukan pada ibu ku!"
Mereka akhirnya pergi dan gadis kecil dihadapanku berbalik, Dia mengatakan sesuatu sambil memberikanku perban. Aku tidak ingat apa yang kami bicarakan waktu itu, Wajahnya terasa samar. Satu-satu nya yang kuingat hanya senyum manis dan syal merah yang dipakainya.
Tapi sejak hari itu dia terus menemui di taman ini, Dia selalu mengajakku bermain meski aku selalu mengacuhkannya. Rasa nya aneh karna sekarang dia hadir disekelilingku, Dia juga tak pantang menyerah untuk mengajakku bermain dan bicara, Pada akhirnya aku mulai menerima kehadirannya.
****************
Kini umurku menginjak 14 tahun, Tidak ada yang spesial. aku menjalani hidupku seperti biasanya. Gadis kecil itu tidak terlihat lagi disekelilingku, Yang kuingat dia beda SMP denganku. Jadi aku menjalani hidup sendirian lagi.
Saat ini aku membantu ibu ku memasak, Yah aku hanya mencuci sayur. Kalau pun bisa masak, Aku hanya bisa masak yang simple nugget misalnya atau ramen.
"Nak, cita-citamu kalau sudah lulus nanti mau jadi apa?"
"Ibu mau nya aku jadi apa?" Balasku balik bertanya sambil memotong sayur yang sudah kucuci.
"Ya, Terserah. Ibu sih pengennya Ian jadi idol," Sahut ibuku sambil tersenyum.
"Oke,"
"Serius Ian mau jadi idol?"
"Iya, Ian bakal usaha biar bisa jadi idol," Kataku sambil mengangguk.
"Hehehe, Jangan dipaksain nak. Kan Ian gak harus mengikuti keinginan ibu. Ini hidup Ian, Jadi Ian yang menentukan,"
"Gak apa-apa, Aku yang ingin bu,"
"Ya udah, Belajar yang rajin ya nak,"
Aku mengangguk kecil. Setelah obrolan itu, Telpon rumahku berbunyi dan ibu pergi untuk mengangkatnya. Aku tidak tahu pasti apa yang dibicarakan oleh ibu dan penelpon itu tapi yang pastinya aku mendengar suara benda jatuh yang cukup keras.
BRAK!
Karna itu aku bergegas meninggalkan pekerjaan ku untuk mencari asal suara nya, Ketika sampai kulihat ibu ku jatuh dengan mata yang sembab, Dia menangis dan terus meracau memanggil nama ayah. Saat itulah aku sadar kalau ayahku sudah tiada karna kecelakaan kerja.
TBC
Bonus:
Trio Santuy dan bar-bar