Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Justin dan Ezra (2)



Bagi Ezra memasak bukan masalah, Meski dirinya tidak terlalu bisa masak namun ia sudah belajar sedikit dari Felix. Jadi ia rasa masakan nya tidak akan buruk-buruk amat, Semua dia lakukan demi Justin. Baginya Justin adalah segalanya.


Ezra rela belajar memasak agar nanti ketika membawa bekal ke kantor, Justin hanya akan makan masakannya. Meski pun Aiden sudah membuatkan bekal untuk mereka semua. Tapi Ezra mempunyai prinsip hanya dia lah yang boleh membuatkan bekal untuk Justin. Dia tidak akan sudi membiarkan anggota lain memakan masakannya selain untuk Justin.


Jadi Ezra dengan senang hati mulai menyiapkan bahan makanan yang dia perlukan, Sebelumnya dia sudah meminta izin pada Aiden untuk menggunakan dapur.


Makanan favorit Justin adalah sup miso makanan khas jepang yang sangat populer di dunia. Baginya membuat sup miso tidak lah sulit, Seperti membuat ramen saja.


Dia akan membuat seenak mungkin dan tidak ingin mengecewakan Justin dengan rasanya.


Setelah beberapa menit berkutat di dapur, Ezra selesai memasak sup nya. Dengan hati-hati dia menuangkan sup yang masih panas ke mangkuk lalu selanjutnya dia membuat 2 kopi panas untuknya dan Justin.


Beres dengan aktivitasnya, Ezra membawa nampan berisi makanan itu kembali ke ruangan Justin.


***********


Cklek!


Tak!


Ezra meletakkan nampan ke meja lalu menutup pintu, Sementara Justin yang melihat Ezra membawa makanan langsung menutup dokumen miliknya lalu berpindah duduk di sofa.


Ezra menyodorkan mangkuk berisi sup dan kopi ke Justin, Dia ikut duduk dan mengambil kopi bagiannya.


"Kau tidak ikut makan?" Justin menatap heran Ezra, Pasalnya hanya ada satu mangkuk sup disana.


"Tidak, Aku masih kenyang. Kau saja yang makan," Sahut Ezra sambil menyeruput kopi miliknya.


Justin hanya mengangguk, Tanpa berkata apapun lagi dia menikmati makanan yang dibuat Ezra. Sedangkan Ezra sendiri memilih mengerjakan sisa dokumen, Sesekali netra hijau nya melirik ke arah Justin.


"Apa sup ini kamu sendiri yang buat?"


"Iya, Bagaimana rasanya?" Ezra menatap penasaran.


"Yah lumayan enak,"


Ezra tersenyum tipis, Hatinya berbunga-bunga senang mendapat pujian dari Justin. Dia sudah berusaha keras untuk membuat masakan terenak, Apalagi ini makanan favorit Justin. Tidak disangka usahanya tidak sia-sia. Lain kali dia akan belajar lebih giat lagi agar seperti Aiden yang ahli dalam memasak, Minimal seperti Felix.


Tapi tentu saja semua masakan buatannya hanya akan dia berikan pada Justin seorang.


"Jadi...Bolehkah mulai besok aku saja yang akan membuatkan bekal untuk kita berdua di kantor?" Sebisa mungkin Ezra menyembunyikan ekspresi senangnya, Dia tak ingin image nya hancur di hadapan Justin kalau dia berlebihan.


"Bisa dipertimbangkan, Tapi bukankah sudah ada Aiden yang akan membuatkan bekal untuk kita berdua?" Justin menaikkan sebelah alisnya memandang heran, Tidak mengerti mengapa Ezra repot-repot mengajukan diri untuk membuat bekal hanya untuk mereka berdua.


"Aiden sudah terlalu banyak membuat makanan, Dia membuat sarapan pagi sekaligus bekal pasti membuatnya lelah dan kesulitan. Apalagi dia juga bertugas membersihkan asrama bukan, Dia juga perlu menghemat tenaganya meskipun sedikit,"


Sejujurnya itu hanya alibi, Ezra tahu kalau vampir tidak akan mudah lelah dan terkuras tenaganya kalau hanya membuat makanan. Apalagi Aiden itu staminanya yang paling kuat diantara para anggota. Tapi siapa tahu dengan alibi seperti itu, Justin mau dibuatkan bekal olehnya.


"Masuk akal juga sih," Justin mengusap dagunya mempertimbangkan keinginan Ezra, Ia melirik tangan kanannya itu sesaat. "Tapi apa kau yakin tidak keberatan membuat bekal untuk kita berdua setiap hari?"


"Sangat yakin, Percaya saja padaku. Akan kubuatkan makanan yang enak seperti ini lagi, Bahkan jika kau ingin makanan lain akan kubuatkan apapun yang kau inginkan," Ezra balik tatap dengan percaya diri, Bukankah ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan olehnya seumur hidup. Jika dia memberikan apa yang disukai oleh Justin, Image nya pasti mendapat nilai plus dimatanya Justin.


Membayangkannya saja membuat jantungnya berdegup kencang saking senangnya, Tanpa sadar Ezra tersenyum lebar.


Justin yang tidak pernah melihat Ezra tersenyum selebar itu kaget bukan main, Dia cemas sekaligus heran. Apakah sahabatnya ini sedang sakit atau sebagainya? Bagaimana mungkin dalam sekejap mata dia merasa seperti menghadapi Ezra namun dengan sosok yang berbeda.


"Ezra kau baik-baik saja?" Nada Justin terdengar agak cemas, Seumur-umur selama dia mengenal Ezra. Baru kali ini dia mendapati Ezra senyum-senyum sendiri.


Tersadar dari lamunan, Ezra refleks menoleh memandangi Justin sedetik kemudian ia mengalihkan pandangan dengan rona tipis menghiasi pipinya.


Justin speecheles melihat sikap Ezra yang agak aneh hari ini, Namun dirinya tidak berkata apapun lagi. Memutuskan melanjutkan makanannya yang sempat tertunda.


"Hari ini Ezra tampak aneh, Tidak biasanya dia tersenyum lebar seperti itu," Pikir Justin yang sangat mengetahui sifat Ezra yang biasanya bagaimana.


Namun hari ini benar-benar tidak ia sangka bisa berbeda seperti itu. Netra orange nya melirik Ezra sesaat, Memperhatikan aktivitas si pria bernetra hijau emerland itu.


"Kau lupa ya tentang Ezra yang sudah kuceritakan di masa lalu? Dia itu suka sama kamu tau! Jadi wajar saja di masa yang sekarang dia bersikap sangat perhatian padamu, Karna sikapnya kembali lagi seperti di masa lalu,"


Suara Victor terdengar di dalam pikirannya, Dan Victor sudah mengunci pikiran Justin agar Ezra tidak bisa mengetahui isi pikiran Justin termasuk pembicaraan mereka.


Disaat yang bersamaan Justin tersedak. "Uhuk!"


Bukan karena kemunculan suara Victor melainkan fakta bahwa Ezra menyukainya di masa lalu dan pastilah yang dimasa yang sekarang juga masih begitu. Dia sampai melupakan tentang Ezra di masa lalu.


Buru-buru dirinya meraih gelas berisi kopi dan menegaknya hingga setengah, Ezra yang mendengar suara tersedak lantas menatap kaget atasannya itu.


"Justin, Kau tidak apa-apa?"


Justin hanya mengangguk dalam diam dengar gerakan kaku, Dia mengusap bibirnya dengan tisu yang tersedia usai meletakkan kembali gelasnya.


"Tidak apa-apa, Lanjutkan saja pekerjaanmu,"


Meski masih agak khawatir, Ezra mematuhi perintah Justin dan kembali fokus dengan pekerjaannya. Sementara Justin menyesap kopinya sembari berkomunikasi dengan Victor di dalam pikirannya. Walau dirinya terlihat seperti melamun.


"Memang benar seperti nya aku melupakan hal itu, Untung saja kau mengingatkanku Victor," Balas Justin dalam hati, Kalau tidak kejadian di masa lalu mungkin akan terulang lagi di masa yang sekarang.


"Apa kau tidak berniat memberitahunya dari awal? Kasihan kan kalau dia nanti akan patah hati setelah mengutarakan perasaannya padamu, Dan kau menolaknya,"


"Dia akan terlihat seperti anjing kecil yang sedang patah hati karna ditinggal kekasihnya, Dia pasti sangat kecewa kalau tidak kau beritahu dari awal," Tambah Victor.


Justin mendengarkan sambil merenung mengusap dagunya. "Bukankah di masa lalu Chloe berhasil mengubah sikapnya? Bagaimana kalau kita tunggu saja sampai Chloe berhasil, Baru setelah itu aku akan memberitahu yang sebenarnya pada Ezra,"


"Memangnya kau pikir mudah menaklukan Ezra?! Apalagi anak seperti Chloe yang harus berusaha lagi dari nol. Mengubah perasaan Ezra agar tidak suka padamu lagi membutuhkan banyak perjuangan, Di masa lalu saja Chloe harus menerima berbagai ancaman dan perbuatan kasar dari Ezra sebelum berhasil membuat Ezra luluh. Bagaimana dengan sekarang yang harus berjuang dari nol lagi?!"


Justin tanpa sadar menatap Ezra yang masih fokus dengan dokumennya.


"Aku tahu tampaknya akan sulit, Membuatnya merubah perasaannya dariku. Tapi jika kita meminta Chloe melakukannya, Pasti akan lebih mu–"


"Kita tidak tahu ke depannya akan seperti apa Justin, Dimasa yang sekarang berbeda dengan di masa lalu. Di masa yang sekarang tidak tahu apakah Chloe masih menyukai Ezra atau tidak, Syukur-syukur kalau Chloe masih menyukainya dan berjuang mengubah perasaannya darimu. Tapi kalau misalnya Chloe suka orang lain dan bukan Ezra, Artinya kau tidak bisa mengubah perasaan Ezra padamu," Potong Victor cepat.


"Makanya kusarankan hancurkan saja perasaan Ezra dari awal, Aku tidak ingin dia merasa lebih hancur setelah mengungkapkan perasaannya padamu,"


"Tapi aku...,"


"Di masa lalu melalui ingatannya, Ezra hampir bunuh diri setelah kau tolak. Beruntung dia diselamatkan oleh Chloe,"


"Kau mengetahui kejadian itu karna melihat ingatan Ezra?"


"Benar, Makanya lebih baik kau pilih sekarang. Menghancurkan perasaannya di awal atau kah diakhir dengan konsekuensi dia akan melakukan bunuh diri seperti kejadian di masa lalu. Pilihan ada di tanganmu Justin,"


Justin diam terpaku usai suara Victor tidak terdengar lagi di dalam pikirannya, Saking asyiknya melamun dia tak menyadari kalau Ezra sudah selesai dengan tugasnya lalu membereskan sisa mangkuk dan gelas yang sudah kosong.


"Justin, Tugasnya sudah selesai. Aku pergi dulu, Istirahatlah dengan baik,"


Justin tak menjawab dia hanya memandangi Ezra, Sementara pria bermarga Miracle itu pergi dari ruangan Justin sambil membawa nampan berisi mangkuk dan gelas kosong.


TBC