
[Di sisi lain]
Justin mengedarkan pandangannya di sebuah ruangan, Netra orange nya memandang tajam penuh teliti seolah tidak ingin melewatkan sesuatu.
Selama beberapa menit dia berdiam diri disana, Hingga Ezra yang sejak tadi ikut diam mulai membuka suara.
"Tuan Justin, Apa yang sebenarnya kita lakukan disini? Sejak tadi tidak ada yang terjadi," Tanya Ezra heran, Memandang Justin yang berada disampingnya.
Justin menggeleng pelan masih memandang lurus. "Tidak ada apa-apa, Aku hanya mengenang sesuatu saja disini," Balas nya.
Dia berbalik lalu keluar ruangan di ikuti Ezra, Mereka keluar hingga tiba di halaman depan. Justin mendongak memandangi bangunan yang berdiri kokoh di depan mereka.
Bangunan itu terlihat tua dengan banyaknya tanaman lumut yang merambati bangunan tersebut, Suasana luar nya pun tampak gelap dan terkesan angker. Lantai-lantai di bangunan itu juga terlihat kotor termasuk teras depan, Seolah sudah bertahun-tahun tidak ditinggali.
"Bangunan ini mirip asrama waktu di dimensi lain, Bagaimana ya kabar asrama kami dulu. Aku sudah lama tidak kesana, Pasti sudah terbengkalai karna tidak ada yang membersihkannya," Pikir Justin merenung sejenak.
Ezra disamping Justin ikut memandangi bangunan itu, Pikirannya seolah berkecamuk ketika melihatnya.
"Entah kenapa bangunan ini tampak familiar, Seolah aku pernah menempatinya tapi di tempat lain. Sepertinya hanya perasaanku," Ezra masih menatap lekat, Dia menghela napas sebelum memandang Justin.
"Tuan, Apa ada masalah?"
"Tidak, Ayo kita kembali ke kantor,"
Justin melangkah pergi menjauhi bangunan itu, Ekspresinya sama sekali tidak bisa ditebak oleh Ezra. Entah emosi apa yang sedang dirasakan sahabatnya itu sekarang.
Ezra memandang punggung Justin yang mulai menjauh, Sebelum mengikuti Justin menuju mobil mereka.
Blam!
Di dalam mobil, Justin menyamankan dirinya dan disusul Ezra yang duduk di kursi kemudi. Sesaat Justin merasakan handphonenya bergetar, Lantas dia segera mengeceknya memastikan kalau ada berita penting dari salah satu anggota nya.
From: Chloe Watson
To: Justin Garfield
...Pak, Asrama saat ini sedang sepi. Aku tidak bisa menjaga asrama lama-lama. Ada urusan keluarga yang harus ku urus, Dan ini sangat mendesak. Kalau misi bapak atau anggota yang lain sudah selesai cepat pulang ya, Biar ada yang jaga asrama....
Ezra memperhatikan ekspresi Justin dari kaca spion mobil, Ia melirik sahabatnya itu sambil menyalakan mesin mobil.
"Dari siapa?" Tanya Ezra seolah tahu kalau Justin menerima pesan.
"Chloe, Dia cuma bilang kalau asrama sedang sepi karna dia tidak bisa menjaga lama-lama. Ada urusan keluarga katanya," Balas Justin tenang tanpa menoleh.
"Lagi-lagi melalaikan tugas," Cibir Ezra kesal, Mengcengkeram erat kemudi mobil.
Justin tidak menjawab, Dia hanya menatap handphone nya dalam diam. Setahu Justin yang tahu rumah Chloe hanya Livian, Maka dari itu dia segera menghubungi Livian dan memastikan kalau tidak terjadi apa-apa pada salah satu anggota nya.
Tut!
"Halo?"
"Livian, Apakah misi mu dan Ian sudah selesai?"
"Sudah, 2 jam yang lalu sudah selesai,"
"Kau tahu rumah Chloe?"
"Hm...,"
"Tadi aku mendapat pesan dari nya kalau asrama saat ini sedang sepi karna dia tidak bisa menjaganya lama-lama. Ada urusan keluarga katanya. Bisakah kau pergi ke rumahnya untuk memastikan masalah keluarganya?" Pinta Justin serius.
"Oke, Kami akan segera kesana,"
Tut!
Justin mematikan sambungannya, Dia menyimpan handphone dan memandang Ezra. Urusan dengan masalah Chloe sudah selesai, Livian akan mengurusnya jadi dia tinggal menunggu info selanjutnya.
"Ayo pergi Ezra!" Kata Justin.
"Baik," Ezra menjalankan mobilnya melintasi jalan raya.
*****************
"Setelah persimpangan belok kanan," Kata Livian sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Hm...,"
"Lain kali kau harusnya bawa topeng, Hampir saja identitas kita terbongkar gara-gara kau," Livian mendengus kecil, Menatap jalanan di depan mereka.
"Hm...," Ian tidak menoleh maupun melirik sama sekali, Dia lebih fokus mengemudikan mobil.
Livian merotasikan matanya kesal, Melirik ke arah lain. "Ck! Dasar kulkas!" Gerutunya.
Ian melirik sesaat, Dia memilih diam tak ingin terpancing emosi hanya karna cibiran Livian.
"Kurasa kau harus minta maaf pada anak itu atas apa yang terjadi 2 hari yang lalu, Kau agak berlebihan memperlakukannya. Dan kau juga belum mendengar penjelasannya," Ucap Livian membuka suara.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, Semuanya sudah jelas. Jika kau ada diposisiku kemarin, Mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama," Balas Ian dingin.
"Yah...Kau benar...," Livian menatap ke luar jendela, Memandangi rumah-rumah yang mereka lewati.
Sisa perjalanan mereka diliputi keheningan, Livian merenung apa yang akan terjadi jika dirinya berada di posisi Ian? Mungkin akan lebih parah. Sedangkan Ian hanya menatap kosong jalanan di depan mereka.
Dari jauh Livian melihat sebuah rumah sederhana dengan cat berwarna biru campur ungu di luar nya. Livian masih ingat dengan jelas rupa rumah Chloe.
"Berhenti di rumah itu," Livian menunjuk rumah yang dimaksud.
Ian mengikuti intruksi Livian, Dia menghentikan mobil tepat di depan rumah Chloe. Livian melepas seatbelt dan keluar lebih dulu kemudian disusul oleh Ian.
Blam!
"Kau yakin ini rumahnya?" Tanya Ian memperhatikan rumah di depan mereka.
"Yakin sekali,"
Livian berjalan lebih dulu memasuki perkarangan rumah, Dari luar rumah itu tampak sepi seakan tak berpenghuni. Dia mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat.
Hanya keheningan yang menyambut mereka, Livian berusaha mengintip dari jendela namun dirinya tidak melihat apapun dari dalam.
Ian yang sejak tadi menunggu hanya memperhatikan pergerakan Livian, Dia mengernyit ketika merasakan kekuatan yang sangat aneh dari dalam rumah. Tanpa berlama-lama Ian segera menuju pintu dan berusaha membukanya.
Cklek!
"Tidak dikunci," Ian bergegas membukanya, Memasuki rumah tersebut.
Livian terkejut karna Ian dengan seenaknya memasuki rumah orang lain, Pria itu lantas mengikuti temannya.
"Ian!" Panggil Livian berusaha mengejar langkah Ian yang agak cepat.
Brak!
Ian membuka pintu lainnya dengan kasar, Dirinya merasakan energi yang lebih kuat dari balik pintu itu. Livian berhenti dibelakangnya.
Sejenak keduanya terdiam ketika melihat pemandangan mengerikan di depan mereka. Ruangan itu dipenuhi bercak darah dimana-mana, Terdapat 3 orang yang tergeletak bersimbah darah, Dan 1 orang yang sedang berdiri di tengah-tengah ruangan sambil mencekik seorang gadis dengan satu tangan.
Itu Chloe! Ian mengenal dengan jelas pakaian yang di pakai sang gadis.
Liam menoleh merasakan dua energi besar berada tak jauh darinya, Netra merah itu menatap tajam Ian dan Livian yang berdiri di ambang pintu.
Bruk!
Tanpa merasa kasihan, Liam melempar Chloe hingga menabrak tembok. Terlihat jelas tubuh sang gadis sudah tak berdaya, Banyak luka sayatan di sekitar tubuhnya. Pakaian nya pun agak robek di berbagai sisi akibat pertarungannya dengan Liam.
Chloe menggulirkan matanya, Menatap Ian dan Livian dengan pandangan sayu.
"P-Pergi...," Kata nya dengan nada lirih.
Chloe mengalihkan pandangan menatap Brian, Elina, dan Alvin yang tergeletak bersimbah darah. Perlahan dia mengulurkan tangan berusaha menggapai tangan Alvin.
"Ayah...Mama...Alvin...Maaf...," Napas Chloe memendek, Dia kesulitan bernapas. Hingga perlahan kegelapan mengambil alih kesadarannya.
Hal terakhir yang Chloe dengar hanyalah suara pertarungan yang begitu besar.
TBC