Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Dimulainya Kontrak (2)



Tap! Tap! Tap!


"Hah...Hah...Maaf...Aku terlambat...," Chloe menghentikan langkahnya di lantai dasar, Tangannya bertumpu pada lutut. Mengatur napasnya yang ngos-ngosan karna buru-buru. Tak lama Felix menyusul di belakangnya.



(Anggap aja warna gaunnya biru, Soalnya sulit nyari visual yang sesuai).


Semua anggota asrama yang berkumpul di ruang tamu memandangi penampilan Chloe, Mereka memperhatikan sejenak sebelum Devian membuka suara.


"Hm...Apa benar ini gaun yang kau pilihkan Justin?"


"Memang iya, Tapi kok rasanya ada yang beda ya," Justin bersidekap, Memicingkan mata berusaha mencari perbedaan ketika Chloe memakainya.


Berbeda dengan Chloe, Gadis itu tampak merengut kecil. Pasalnya perutnya lapar karna belum diisi sedangkan mereka semua sudah siap untuk pergi.


"Ugh...Aku lapar," Pikir Chloe tanpa sadar memegangi perutnya.


Netra merahnya memandang Ian yang saat itu makan sebuah burger, Tentu saja rasa lapar Chloe semakin menjadi-jadi. Dia kan juga pengen burger itu.


Chloe mendekati Ian, Memandangi burger di tangan si pria. "Apa burger nya enak?" Tanya nya penasaran dengan netra berbinar layaknya anak kecil.


Sadar bahwa dirinya sedang didekati, Ian hanya diam. Dia menoleh menatap Chloe, Tanpa mengatakan apapun pria itu menyodorkan burger yang barusan di makannya. Masih sisa setengah sih.


"Untukku?" Tanya Chloe bingung dan ditanggapi sebuah anggukan oleh Ian. Si gadis tersenyum ceria dan menerima burger itu. "Terima kasih,"


Chloe langsung duduk dan memakannya dengan lahap, Dia tidak peduli jika faktanya burger itu bekas Ian, Yang hanya Chloe pedulikan adalah mengisi tenaga sekaligus mengisi perutnya.


Bahkan Ian juga menyodorkan minumannya yang tersisa setengah. Dia tahu mereka sedang buru-buru, Tidak punya waktu untuk membuat makanan ulang untuk Chloe. Jadi dia menyerahkan sisa makanan dan minumannya.


Neil tertawa pelan melihat Chloe yang makan dengan lahap, Seolah gadis itu tidak makan selama 3 hari. Tatapannya kemudian beralih pada Justin.


"Apa kita pergi sekarang, Aku sudah menyiapkan mobilnya,"


"Ya, Ayo Pergi sekarang," Justin menatap Chloe sesaat. "Kau bisa makan di dalam mobil,"


"Bentar, Dikit lagi," Chloe menghabiskan burger nya dan meminum air mineral yang disodorkan Ian. Menegaknya sampai habis sebelum membuang sisa sampahnya ke tempat sampah.


Usai membereskan semua sisa makanannya, Chloe mengikuti anggota lain keluar dari asrama menuju mobil mereka yang sudah siap digunakan.


Tidak ada yang berkomentar apapun soal gaun yang Chloe kenakan. Yang artinya mereka semua tidak peduli dengan penampilan gadis itu, Mau secantik apapun tentunya tidak ada yang tertarik, Selain karna misi semata.


****************


Selama perjalanan semuanya hanya diam dengan aktivitas masing-masing, Mengingat Chloe masih tidak terlalu dekat dengan mereka. Bahkan dia duduknya paling pojok dekat jendela mobil sambil memandangi pemandangan luar.


Tidak tahu tujuan mereka kemana, Yang pastinya Chloe hanya mengikuti saja. Canggung? Oh tentu saja karna sejak tadi tidak ada yang memulai obrolan. Setelah perjalanan yang memakan waktu agak lama, Mereka sampai di sebuah tempat.


Chloe keluar lebih dulu disusul Rion di belakangnya.


Blam!


Si gadis mendongak ketika melihat sebuah gapura dengan tulisan-tulisan yang tidak ia mengerti tertempel disana, Sejauh mata memandang gadis itu menemukan sebuah kuil yang menjulang tinggi di ujung sana. Jalan menuju kuil itu pun juga dipenuhi anak tangga sepanjang 2 meter.


"Kenapa kita berhenti di kuil ini?" Bisik Chloe disamping Rion.


Pria bersurai silver itu mengetik sesuatu di handphone nya, Lalu menunjukkan pada Chloe.


[Aku juga tidak tahu, Yang kudengar dari Justin. Di kuil ini pernikahannya di mulai]


"Menikah di kuil?" Gumam Chloe menatap kuil dihadapannya.


Raizel melangkah melewati Chloe dan Rion, Saat Chloe sadar. Anggota lain sudah berjalan duluan menaiki tangga. Sejenak Rion dan Chloe saling pandang sebelum keduanya mengikuti langkah anggota lain.


******************


[Di dalam kuil]


Beberapa saat kemudian, Mereka memasuki dalam kuil. Yang Chloe lihat banyak tempat duduk berjejer rapi disana, Di depan altar tampak seorang pria paruh baya berdiri menunggu kedatangan mereka. Sayang nya tempat itu sangat sepi, Tidak terlihat tanda-tanda tamu undangan berada.


"Dimana tamu undangannya?" Tanya Chloe, Dia melangkah pelan mendekati altar.


"Tidak ada, Disini saksinya hanya pendeta," Kata Justin tanpa menoleh, Dia menghentikan langkah tepat di depan altar. Begitu pun dengan Ezra disampingnya.


Ah, Jadi pernikahan sembunyi-sembunyi ya. Memang lebih baik begitu sih menurut Chloe karna pernikahan mereka hanya pernikahan kontrak. Tidak perlu banyak orang menjadi saksi. Langkah nya terhenti di depan altar, Chloe mendongak memandangi altar yang begitu indah.



Anggota lain duduk di tempat masing-masing, Chloe kebingungan karna hanya dirinya dan Justin yang berdiri di altar menghadap pendeta.


"Boleh aku ikut duduk?" Bisik Chloe pada Justin, Dan langsung di tatap oleh pria bernetra orange itu.


"Tidak, Kau tetap disini. Kami melakukannya secara bergantian,"


Mata Chloe mengerjap, Jelas gadis itu tampak bingung. Dia tak mengatakan apapun lagi selain mengikuti perintah dari pendeta.


"Bersediakah anda Justin Garfield menerima Chloe Watson sebagai istri anda, Dalam suka maupun duka?" Tanya sang pendeta memandang Justin.


"Saya bersedia!" Suara tegas Justin membuat Chloe agak panik.


Pandangan pendeta beralih pada Chloe. "Bersediakah anda Chloe Watson menerima Justin Garfield sebagai suami anda?"


Jantung Chloe berdegup kencang ketika pertanyaan itu tertuju padanya, Perasaannya campur aduk antara gugup, Bingung, dan Sempat-sempat nya biaya pengobatan ayahnya terlintas di pikirannya.


"Tenang Chloe, Demi ayah dan demi keluarga. Demi mama dan adik-adikmu. Tenang....," Pikiran Chloe mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"Saya bersedia!" Berusaha nada suaranya tidak terdengar bergetar, Chloe menjawab lantang. Walau kakinya sendiri merasa lemas ketika mendengar jawabannya sendiri.


"Silakan pasang cincin di jari pasangan masing-masing,"


Justin mengambil cincin yang dia minta dari Chloe, Cincin yang kata Livian tidak ada artinya. Dengan tenang Justin meraih tangan kiri Chloe, Memasangkan cincin disana.


Chloe hanya diam, Dia tak bisa berkomentar apapun lagi dengan situasi yang dialaminya saat ini. Usai memasangkan cincin, Kini giliran Chloe memasangkan cincin di jari Justin.


"Saya nyatakan kalian sah menjadi pasangan suami istri!" Suara menggelegar dari pendeta terdengar ke seluruh penjuru kuil. "Sekarang kalian bisa mencium pasangan kalian,"


Seketika Chloe memandang horror, Ciuman termasuk ke dalam kontrak mereka, Dan hanya bisa dilakukan ketika sudah mendapat izin.


Namun disini Justin tidak melakukannya, Dia hanya meraih tangan Chloe dan mencium punggung tangan si gadis. Setelah itu, Si pria memandang sang pendeta.


"Untuk selanjutnya tidak ada ciuman, Mengerti!" Netra orange nya menatap tajam.


Seketika si pendeta tersentak kaget dan mengangguk takut. "Iya tuan...,"


Kini giliran Ezra yang menaiki altar setelah Justin pergi dari sana. Dia berdiri disamping Chloe, Melirik tajam pada sang gadis sebelum memandang si pendeta.


"Lakukan dengan cepat!" Perintahnya, Tentu saja Ezra tak ingin berdiri berlama-lama disamping gadis itu. Cih! Kalau bukan demi Justin dia tidak ingin melakukannya.


Proses ritual sama seperti sebelumnya tapi kini hanya Chloe yang memasangkan cincin pada Ezra, Dan si pria langsung berlalu pergi setelah prosesnya selesai, Dan tentunya dengan aura suram dan sinis.


Giliran Aiden yang berdiri di altar, Proses ritualnya sama. Hanya saja saat bagian selesai memasangkan cincin, Pendeta tiba-tiba menyodorkan sebuah pisau lipat pada Chloe.


"Tolong teteskan darah nona sedikit ke gelas ini," Pinta pendeta sambil menunjuk sebuah gelas disana. Tentu saja Chloe terkejut mendengarnya.


"Eh? Untuk apa?"


"Di bagian ini ada sedikit penambahan ritual," Jelas si pendeta.


Chloe merasa takut, Lihat darah berceceran saja sudah membuatnya mual apa lagi meneteskan darah sendiri ke dalam gelas. Tangan Chloe yang memegang pisau tampak bergetar, Dia tak ingin menyayat tangannya sendiri.


Aiden yang melihat Chloe tak kunjung melakukannya, Langsung mengambil alih pisau itu. Dia meraih tangan si gadis dan menyayat kecil telapak Chloe, Gadis bersurai hitam itu tersentak, Tangan satunya mencengkeram meja altar menahan sakit ketika Aiden mengarahkan tangannya ke gelas.


Darah segar menetes dari tangan Chloe, Aroma dari darah itu menguar bahkan tercium sangat pekat di indra penciuman Neil, Rea, Aiden, Dan Livian.


Rea mempertajam netra merahnya, Mata nya terus memandangi darah Chloe yang menetes. "Aroma ini...Sangat harum. Darah langka yang kucari, Aku sering menemui pemilik darah langka seperti ini tapi ini baru pertama kalinya aku mencium aroma senikmat ini," Pikir Rea diam-diam tersenyum dingin.


"Ini kesempatan langka, Aku sekaligus bisa mencicipi darahnya. Dengan ini aku bisa membandingkan rasa darahnya dengan anggota lain. Jadi tidak sabar saat giliranku," Neil tersenyum lebar, Jantungnya berdegup kencang dan darah dalam tubuhnya seperti berdesir. Sudah sejak lama Neil tidak merasakan perasaan semenyenangkan seperti ini.


Sedangkan Livian sedikit mengendus aroma yang menggelitik indra penciumannya, Rasa ngantuknya sedikit menghilang saat mencium aroma itu.


"Aroma nya enak, Justin memang tidak salah pilih anggota. Tapi sayangnya dia tidak bisa dimakan, Berbeda dengan manusia lain. Andai dia bukan anggota, Aku pasti sudah kenyang memakan manusia langka sepertinya," Pikir Livian dengan perasaan kecewa di hatinya.


Kembali kesisi Chloe dan Aiden. Merasa cukup, Aiden menjauhkan tangan Chloe dari gelasnya dan langsung meminum darah dalam gelas itu. Dia tak menghabiskannya, Selesai dengan ritual Aiden berjalan pergi dan kini giliran Ian.


Chloe memegangi tangannya yang gemetar, Merasa kehilangan seperempat dari darahnya. Kini tiba saatnya giliran Ian, Proses ritual berjalan seperti sebelumnya.


Chloe selesai memasangkan cincin di jari Ian, Dan sejak tadi tentu saja Ian sadar kalau tangan Chloe bergetar terus-menerus setelah darahnya diambil. Pria itu lantas sedikit membungkuk dan meraih tangan si gadis. Tanpa rasa jijik dia menjilat sisa darah yang menempel di tangan Chloe.


Tentu saja Chloe kaget dengan perlakuan Ian yang tiba-tiba, Usai membersihkan darahnya. Ian menempelkan perban di tangan Chloe sebelum meminum sedikit darah dalam gelas.


Dia pun pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun, Tiba giliran Devian. Lalu dilanjutkan Felix, Raizel, Rion, Neil, Livian, Dan yang terakhir Rea.


Ritual berjalan sama seperti yang dijalankan Justin, Hanya ada sedikit penambahan ritual di bagian Aiden, Ian, Neil, Livian, dan Rea.


Setelah ritual pernikahan kontrak selesai, Mereka pun keluar dari kuil dengan banyak pertanyaan di benak Chloe. Yang membuat gadis itu bertanya-tanya adalah mengapa sebagian anggota ritualnya sedikit berbeda dengan ritual yang dilakukan Justin, Sebagian dari mereka meminum darahnya?


Meski masih dipenuhi pertanyaan, Chloe memutuskan tidak memikirkan hal itu dulu. Dia hanya ingin pulang ke asrama dan istirahat disana setelah mengalami hari yang melelahkan.


TBC


Bonus:


[Nama: Chloe Watson


Age: 21 tahun]