
Ingatan itu berakhir disana, Sejak dia menjadi anggota Justin, Dia berhasil membalaskan dendamnya. Hanya saja sampai sekarang Ian sama sekali tidak bisa mengingat wajah gadis kecil itu, Dan sekarang dia kembali tidak memiliki tujuan hidup, Kehilangan arah.
Ian hanya diam di kamarnya setelah mengingat kenangan masa lalunya sebelum bertemu dengan Justin, Rasa nya semuanya berlalu begitu cepat. Pria bernetra merah itu menghembuskan napas. Sekarang hanya dia satu-satunya anggota keluarga dari Salvatore yang masih hidup, Itu pun dia bukan ras manusia lagi.
Si pria tidak tahu lagi harus menjalani kehidupannya seperti apa, Entah harus senang atau sedih. Namun untuk saat ini dia merasa kehidupannya sudah cukup, Yang terpenting dirinya menjalani kehidupan seperti biasa.
Netra merahnya melirik bingkai jendela, Kini diluar sudah gelap karna tergantikan oleh malam hari. Dia meranjak menutup gorden jendela yang tadinya terbuka lebar. Si pria lantas pergi keluar kamar menuju dapur, Sebentar lagi makan malam akan dimulai.
*********************
Tap! Tap! Tap!
Semua anggota kini sudah berkumpul di ruang makan, Seperti biasa Aiden memasak kini dibantu Felix. Saat mendudukkan diri Ian menyadari kalau gadis bersurai hitam yang beberapa hari lalu tinggal di asrama tidak terlihat sama sekali waktu mereka berkumpul. Tapi tentu saja dirinya hanya diam, Biar anggota lain saja yang menyadarinya.
Benar saja sesuai dugaan Ian, Salah satu dari mereka tampaknya menyadarinya.
"Eh, Kak Chloe mana? Biasanya dia udah ada disini?" Celetuk Devian sambil memandangi kursi kosong disamping Rion yang biasanya menjadi tempat duduk Chloe.
"Tadi kusuruh beli beberapa bahan makanan, Tapi ini sudah 1 jam lebih gak balik-balik," Kata Felix meletakkan sepiring lauk yang sudah jadi ke meja.
"Biasanya Neil kan yang mengawasi?" Kata Livian malas, Ia menopang dagunya sambil menguap kecil.
"Justin gak nyuruh tuh," Neil hanya menunjukkan senyum ramahnya.
Mendengar namanya ikut terlibat, Justin memijit keningnya sambil menghembuskan napas. "Neil, Tanpa kusuruh pun kau saharusnya sudah tahu kan apa misi mu? Selalu awasi dia ketika diluar,"
Neil mengusap tengkuknya masih tersenyum ramah. "Apa benar kau bilang seperti itu?"
Justin menatap datar sambil bersidekap. "Jangan bilang karna kau malas?!"
Pria bersurai ungu magenta itu terkekeh kecil membenarkan tebakkan Justin. "Itu tau, Lagian keburu masuk makan malam sih. Aku kan juga lapar,"
Justin hanya bisa menggeleng pasrah, Benar-benar kelakuan beberapa anggota memang membuatnya pusing. Kemudian Ezra menyahut entah untuk menenangkan atau tidak.
"Gak usah dicari, Nanti juga anak itu bakal pulang sendiri," Kata Ezra yang kemudian mengunyah makanannya.
Mendengar hal itu Justin terdiam beberapa saat, Dia menatap jam arlojinya. Dia sama sekali lupa untuk memberikan jam arloji itu pada Chloe. Akibatnya dia tak bisa melacak keberadaan si gadis.
Dia pun berusaha tidak memikirkan hal itu dan mulai menyantap makanannya meski perasaan Justin agak gelisah. Semuanya makan dalam diam tanpa Chloe.
Beberapa menit kemudian....
Mereka selesai makan dan tinggal merapikan piring-piring kotor bekas makan, Namun tiba-tiba disaat yang bersamaan mereka mendengar suara hujan yang mengguyur asrama dengan deras.
CTAR!
Sejenak semuanya terdiam ketika sekilas petir tampak menyambar di luar, Tapi Aiden tetap melanjutkan pekerjaannya. Dia merapikan piring-piring kotor dan mencucinya di wastafel. Menghiraukan kejadian tadi seolah angin lalu.
Felix melirik jam arlojinya yang menunjukkan pukul 9 malam. Sudah 2 jam berlalu namun Chloe yang dia minta untuk membeli bahan-bahan makanan tak kunjung kembali. Dia mulai khawatir, Takut terjadi sesuatu pada gadis bersurai hitam itu. Ia menoleh, Melihat ekspresi Justin yang mulai berubah. Pria itu tampaknya juga mulai cemas sama seperti dirinya.
Kecuali beberapa anggota lain yang tampak cuek, Seperti Devian, Rea, Livian, Raizel, dan Neil. Mereka lebih dulu pergi dari sana, Sedangkan Ezra menunggu Justin pergi kalau sudah pergi barulah dirinya ikut pergi. Namun ketika ia melirik tuan nya yang sama sekali tidak meranjak membuat Ezra heran. Tidak biasa nya Justin diam begitu, Biasa nya habis makan langsung pergi.
Sadar tampaknya Justin dan Felix khawatir, Ian sontak berdiri sambil menghembuskan napas. "Biar aku saja, Aroma nya pasti tidak jauh dari sini,"
"Tolong ya Ian," Justin menatap lega karna Ian mau mengajukan diri mencari Chloe, Ditambah hujan yang lebat begini gimana gak khawatir coba?
"Hm...,"
Ian berjalan santai keluar ruangan, Berbekal mengikuti aroma Chloe. Ia yakin Chloe masih berada tidak jauh dari asrama.
******************
[Disisi Chloe]
"Makasih kak,"
"Iya, Terima kasih juga sudah mengunjungi toko kami,"
Chloe mengangguk kecil sambil tersenyum, dia menenteng dua kantong besar disisi kanan-kirinya. Cukup banyak juga bahan pangan yang dia beli, Wajar sih ya kalau anggotanya juga banyak. Ia melangkah keluar dari toko perbelanjaan, Kebetulan hanya toko itu yang paling dekat dengan asrama. Cukup berjalan 17 meter.
Sontak Chloe menghentikan langkah, Gadis itu diam terpaku. Ia meletakkan dua kantong belanja nya di tanah, Dan refleks berjongkok sambil memegangi perutnya. Chloe meringis menahan sakit.
"Ugh, Kenapa tiba-tiba malah sakit perut? Jangan-jangan...," Chloe menggigit bibir bawahnya masih menahan sakit, Meski pun dirinya kuat menahan sakit semacam luka gores atau pun sakit saat berkelahi. Tapi kalau sakit perut karna pms beda lagi ceritanya, Kalau ini mah Chloe nyerah, Dia bakalan bertekuk lutut. Dan setiap wanita pasti juga pernah merasakan sakitnya.
Bahkan saking sakitnya bagai ditusuk ribuan jarum, Chloe sampai tak bisa bergerak dan tetap dalam posisinya. Biasanya sakit ini akan mereda sekitar 10 menit sampai 15 menit.
CTAR!
"Gyyyaa!" Chloe berteriak kaget karna petir menyambar tiba-tiba dan ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suara petir itu membuatnya takut.
Tak lama setelahnya hujan mulai mengguyur tubuh Chloe dengan deras, Si gadis hanya bisa terdiam masih menahan sakit, Tubuhnya mulai gemetar akibat hawa dingin yang menusuk-nusuk kulit. Sudah 20 menit berlalu, Namun sakitnya tak kunjung mereda. Bahkan tidak ada seorang pun yang lewat disana. Dia merasa sedih dan kesepian. Chloe merasa perutnya seperti ditonjok ratusan kali oleh petinju profesional, Otot pahanya kram karna kelamaan berjongkok dan kepalanya mulai berkunang-kunang.
Chloe hanya bisa memeluk dirinya sendiri erat-erat, Ia menggigit bibir bawahnya yang sudah mulai pucat. Chloe nyaris pingsan karna menahan sakit sekaligus gemetar kedinginan. Untung saja dia mendengar suara derap langkah mendekat.
"Chloe, Sedang apa disini?"
Suara itu...Chloe sontak mendongak ketika suara familiar itu terdengar, Dia menatap lega saat melihat Ian yang berdiri dihadapannya dengan sebuah payung berwarna merah maroon. Tatapan si pria tampak dingin dan tajam.
Namun saat mendengar kata-kata Ian yang kembali meluncur membuat perasaan Chloe down kembali.
"Ini sudah jam berapa hah?! Udah gila ya duduk disini hujan-hujanan? Malem-malem begini!"
CTAR!
Kata-kata pedas Ian terlontar dengan nada tinggi dan menyatu dengan kilat petir, Mata Chloe memanas mendengarnya, Ia menahan tangis. Tidak bisa kah pria itu lihat dia sedang menahan sakit dan kedinginan disini? Semua pakaiannya basah kuyup dari ujung rambut sampai kaki, Dan omelan Ian malah membuat Chloe semakin sedih. Bukannya bersimpati, Malah diomeli.
Chloe memilih diam sambil menundukkan kepalanya, Seketika Ian terdiam masih memandangi Chloe, Sadar tidak mendapat respon apapun dari si gadis membuat Ian menghela napas.
Perlahan dia ikut berjongkok menjajarkan dirinya dengan Chloe. "Kamu kenapa?" Kini nada suaranya sedikit merendah walau tanpa intonasi, Setidaknya tidak setinggi tadi.
Ian memayungi Chloe, Meski percuma karna tubuh Chloe sudah basah kuyub.
Dan sekarang Chloe tidak tahu cara menjelaskannya pada Ian. Tentu saja, Ini agak memalukan. Tapi perut Chloe yang sedang sakit membuatnya lebih mudah melupakan urat malu nya.
"...Aku sakit perut...Datang bulan...,"
Kalau tidak kedinginan dan kehujanan, Mungkin Chloe akan menertawakan ekspresi bingung Ian. Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, Sebelum akhirnya dia terlihat paham.
"Sesakit itu sampai gak bisa pulang?" Kali ini Ian bertanya tanpa nada sarkatis dan dingin yang biasa dia keluarkan.
Chloe mengangguk kecil. Bagaimana cara ia berjongkok dan memeluk perutnya sudah jelas kan kalau ia kesakitan?
"Gak bisa jalan?" Tanya Ian lagi. Chloe kembali mengangguk. Jangankan berjalan, Berdiri saja ia rasanya tak sanggup.
Sesaat Ian mendengus sebelum berbalik dan memunggungi Chloe.
"Ayo naik,"
"Eh?" Chloe menatap bingung.
"Kau gak bisa jalan kan? Mobil juga gak bisa masuk ke gang ini, Dan kalau minta Devian jemput pakai motor bakal lama,"
Jadi kesimpulannya adalah Ian tak punya pilihan lain selain menggendong Chloe.
Sejujurnya Chloe agak sungkan, Namun rasa sakit membuat ia melupakan segalanya. Yang Chloe inginkan hanyalah berada di tempat yang nyaman dan aman sampai rasa sakit diperutnya pergi. Karna itu Chloe segera naik ke punggung Ian dan suami nya itu berdiri dengan hati-hati.
"Payung...," Gumam Chloe, Teringat dengan payung mereka yang terlupakan di tanah.
"Biarin aja," Sahut Ian dingin. Jelas mereka tidak membutuhkan, Ian fokus menggendong Chloe dan si gadis terlalu sakit untuk peduli pada payung. Lagian mereka sudah terlanjur basah kuyub.
"Pegangan yang kuat," Kata Ian, Dan Chloe hanya mengangguk menuruti. Ia mengencangkan pegangannya sebelum Ian membawa dirinya pergi dari sana.
Poor untuk payung dan bahan-bahan pangan yang terlupakan.
TBC