Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Kesepakatan (2)



Kkrreeiitt!


Blam!


Chloe mendekati meja rias di kamarnya, Sepanjang perjalan tadi. Dia terus memikirkan kesepakatan yang Justin tawarkan, Memang menarik namun juga berisiko besar. Gadis itu menghentikan langkahnya tepat di depan cermin, Netra merahnya memandang pantulan wajahnya sendiri. Perlahan Chloe menarik kerah bajunya, Menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi lehernya. Hingga tanda itu akhirnya terlihat, Tanda melingkar yang berbentuk diamond di sekitar lehernya.


"Kenapa baru sekarang tanda nya terlihat? Padahal sebelum aku pergi ke asrama ini, Tanda nya tidak pernah ada," Gumam Chloe murung. Gadis itu menghembuskan napas sambil mengusap tanda di lehernya.


Dia lantas menghempaskan tubuhnya ke kasur, Menatap langit-langit kamarnya dengan posisi telentang. Tawaran Justin kembali muncul di benaknya.


"Ayah mama, Apa yang harus kulakukan?" Gumamnya lirih, Dia menutup matanya dengan lengan. Dia masih mengingat saran mama nya, Bahwa setiap pilihan yang ada ikuti lah kata hati.


Chloe kembali memandang langit-langit kamarnya sejenak, Sebelum matanya tertutup dan masuk ke alam mimpi.


**********************


[Keesokan harinya]


Pagi itu mentari bersinar cerah, Burung-burung terbang melintas sembari berkicau melewati sebuah mansion. Chloe Watson, Gadis pemilik kamar no.8 itu sudah siap dengan pakaian kasualnya. Tak lupa memakai syal merah hadiah dari mama nya, Dia merapikan tatanan rambutnya beberapa saat.


Beberapa saat kemudian handphone Chloe berbunyi, Menandakan ada panggilan masuk dari seseorang. Gadis itu bergegas mengangkat panggilan tersebut.


Tut!


"Halo?"


"Kakak, Kakak sibuk gak disana?" Chloe bisa mendengar suara cemas Reina di sebrang telepon.


"Tidak, Memangnya ada apa?"


"Itu kak, Penyakit ayah kambuh lagi. Dan ayah pengennya kakak jenguk kesini,"


"Serius? Baiklah nanti selesai sarapan kakak buru-buru kesana. Tapi penyakitnya gak parahkan?" Chloe menatap khawatir, Dia mengeratkan pegangannya pada ponsel persegi panjang itu.


"Syukurnya gak terlalu parah kak,"


"Syukurlah, Nanti kakak dateng kesana. Tolong jaga ayah sama mama dulu ya Reina," Chloe menghela napas lega.


"Iya kak, Dah"


"Dah,"


Panggilan itu pun terputus secara sepihak, Chloe menyimpan handphonenya kembali. Lalu sedikit merapikan rambutnya lagi.


Setelah siap, Chloe keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Kemungkinan anggota lain sudah berkumpul disana, Ia melangkah santai sembari bersenandung pelan. Tepat di depan pintu dapur, Sayup-sayup Chloe mendengar sedikit keributan di dalam.


"Ian, Akhirnya kau pulang. Rea, Devian dan Rion juga,"


"Berisik Neil! Baru saja pulang sudah ribut saja,"


"Hahaha baiklah maaf, Rea. Jangan berekspresi seperti itu,"


"Cih! Jangan ribut. Aku sedang banyak pikiran sekarang!"


"Ck ck ck, Orang kantoran memang sulit,"


"Pekerjaanku sebagai dokter tahu!"


"Sudah sudah, Jangan ribut kalian. Kasihan Felix masih lemas, Nanti dia juga ikut ikut pusing,"


"Hahaha, Gak apa-apa kok. Aku cuma sedikit lelah,"


Chloe merasa canggung kalau dirinya masuk kedalam, Namun karna perutnya sudah sangat lapar. Gadis itu memutuskan melangkah ke dalam, Dia membuka pintu perlahan. Sedikit menyembulkan kepalanya memastikan seisi ruangan.


Krriieet!


Beberapa perhatian anggota asrama terpusat padanya ketika mendengar suara itu, Si gadis tersenyum canggung. Sang gadis masuk perlahan dan menutup pintu, Dia berjalan tergesa mendekati kursinya lalu duduk disana. Chloe berusaha senyaman mungkin karna perhatian beberapa anggota masih tertuju padanya (minus Ezra dan Aiden).


"Jadi dia anggota ke-8 yang hilang itu?" Devian mengalihkan pandangannya pada Justin dan diangguki oleh sang pemimpin.


"Ya,"


"Lalu dimana tanda nya?" Rea membuka suara, Netra merahnya menyipit seolah menatap curiga pada Chloe.


"Ya pasti lah tersembunyi. Jangan memberikan pertanyaan frontal," Sahut Felix lalu dia mengalihkan pandangannya pada si gadis, Tersenyum sopan. "Chloe bagaimana tidur mu semalam, Nyenyak?"


"Pertanyaan macam apa itu," Cibir Neil.


"Diamlah!" Devian mendelik kesal karna Neil terus berkicau di sampingnya.


Chloe menghiraukan cibiran Neil dan fokus pada Felix balas tersenyum. "Iya, Sangat nyenyak sekali. Aku juga suka dengan dekorasinya,"


"Baguslah kau menyukainya," Felix mengangguk kecil.


Tak lama pandangan Chloe beralih pada Justin. Dia ingat pembicaraan nya dengan Justin malam itu, Memanggil si pria dengan panggilan pak. "Pak Justin...Setelah sarapan, Bisakah aku pulang dulu ke rumahku?"


"Ah, Akhirnya panggilan itu muncul lagi," Diam-diam Justin tersenyum tipis, Saking tipisnya dia bahkan terlihat tidak tersenyum. Namun ekspresinya berubah datar. "Untuk apa? Kau mau pergi dari asrama ini?"


"B-Bukan, Tapi aku ingin menjenguk ayahku yang sakit. Adikku bilang penyakit ayahku kambuh lagi. Maka nya aku ingin menjenguknya," Chloe sedikit menunduk menghindari tatapan Justin. Dia memilin ujung bajunya gugup.


Yang lain hanya diam menyimak sibuk dengan aktivitas masing-masing, Sedangkan Justin menatap diam beberapa saat lalu melirik ke arah lain. "Baiklah, Tapi jangan sampai pulang kemaleman,"


"Terima kasih," Mendengar diizin kan membuat Chloe tersenyum sumringah. Justin mengangguk kecil.


Tak lama Justin melirik Neil yang tampak memperhatikan Chloe, Entah bagian mana yang diperhatikan. Pria bernetra orange itu mengetik sebuah pesan di handphonenya.


From: Justin Garfield


Awasi dia selama berada di rumah keluarganya, Pastikan dia benar-benar berada rumah keluarganya atau tidak. Ikuti kemana pun dia pergi.


From: Neil Gracia


To: Justin Garfield


Apa ini? Aku merasa seperti stalker jika melakukannya. Tapi baiklah, Sesuai keinginanmu hehehe.


Usai berbalas pesan dengan Neil, Justin kembali melirik pria bersurai ungu magenta itu dan dibalas senyum ramah dari Neil.


Chloe merasakan handphonenya bergetar, Gadis itu merogoh saku pakaiannya dan melihat pesan yang tertera dilayar handphone. Pesan dari Alvin, Sejenak gadis itu membaca nya dengan teliti. Namun belum sempat dibaca sampai selesai, Suara bisikan tiba-tiba saja terdengar di samping kupingnya bersamaan napas hangat yang menerpa kupingnya membuat gadis itu merasa geli.


"Cepat makan sarapanmu, Jangan main handphone terus!"


"Gyaa!" Sang Gadis terpekik pelan dan sontak menjauhkan kepalanya dari asal suara itu, Dia lantas menoleh mencari dan menemukan Aiden yang berdiri disampingnya. Netra merah Chloe melirik sepiring takoyaki yang sudah berada di mejanya.


"I-Iya nanti aku makan,"


Aiden memandang datar sebelum pergi menuju kursinya sendiri, Bergabung dengan yang lain. Chloe kembali membaca pesan adiknya.


From: Alvin


To: Kak Chloe


Kak, Gawat! Penyakit ayah semakin parah. Sekarang ayah berada di rumah sakit xxxx, Kakak cepetan kesini.


Netra merah Chloe membulat kaget, Sedangkan anggota lain sibuk makan dan Neil yang sesekali memperhatikan ekspresi Chloe. Sang gadis bergegas memakan takoyakinya terburu-buru, Dia hampir tersedak dan bergegas minum air mineralnya. Usai menghabiskan sarapan, Dia meranjak dari duduknya.


"Aku selesai,"


Chloe menyimpan handphone nya dan buru-buru meletakkan piring serta gelas ke wastafel. Ia berlari kecil berniat keluar dari sana. Namun suara Raizel menghentikan langkah Chloe.


"Oi, Dompet mu ketinggalan," Raizel menunjukkan dompet Chloe yang tergeletak di meja.


"Makasih,"


Usai mengambil dompet dia melanjutkan larinya, Menghiraukan tatapan aneh dari beberapa anggota.


"Neil!" Tegur Justin, Seketika menghentikan aktivitas Neil yang asyik-asyiknya makan sarapan. Neil menatap balik, mendapat kode dari Justin. Dia lantas menghabiskan makanannya dan meminum air mineral sebelum meranjak dari sana dengan santai.


"Ada apa lagi dengan anak itu?" Kata Livian memandang malas kepergian Neil.


"Yang mana anggota ke-8 atau Neil?" Sahut Raizel.


"Anggota ke-8, Siapa ya namanya lupa,"


"Chloe Watson," Balas Felix usai menelan makanannya.


"Nah iya, Anak itu. Kenapa buru-buru?"


Seketika Felix tersenyum kesal. "Percuma saja di kasih tahu nama, Ujung-ujungnya tetap dipanggil dengan sebutan anak itu,"


"Entah, dengar sendiri kan tadi kalau dia bilang mau jenguk ayahnya," Balas Devian cuek.


"Ya benar sih,"


Keheningan melingkupi mereka, Masing-masing kembali fokus dengan sarapannya hingga tak lama usai menghabiskan sarapannya. Justin mendapat panggillan vidio call dari Neil. Pria itu mengangkat panggilannya, Melihat wajah serius Neil di sebrang sana.


"Justin, Tampaknya anak itu juga punya masalah seperti anggota lainnya,"


"Masalah apa?" Justin mengernyitkan alis.


"Lihatlah,"


Neil menunjukkan sebuah vidio dimana Chloe kini berada ditaman rumah sakit yang sepi bersama seorang pria paruh baya. Neil tampaknya bersembunyi di balik semak-semak untuk merekam kejadian itu. Suara menggelegar si pria paruh baya terdengar nyaring tampak membentak Chloe.


"Kamu tidak seharusnya menuruti keinginan orang tua mu, Tidak seharusnya kamu menikah dengan pria itu, Kamu seharusnya ikuti kemauan paman saja!"


"Maksud paman apa? Paman ingin aku mengekang perintah orang tuaku? Memangnya paman siapa? Paman memang keluargaku tapi keinginan orang tua ku lah lebih yang penting,"


"Apa kamu lupa, Paman juga yang mengasuh kamu sewaktu kecil," Paman Chloe tampak marah begitu juga dengan Chloe.


"Aku tahu tujuan paman mengasuhku cuma mau agar warisan ayah dan mama jatuh ke tangan paman kan?! Jadi ketika mereka tiada, Warisan itu jatuh ke tangan paman dan paman bakal menjadi kepala keluarga menggantikan ayah. Itu kan sebenarnya tujuan paman?!" Chloe mengepalkan tangannya mendelik marah.


Ekspresi paman Chloe tampak terkejut, Tak lama kemudian tangannya terangkat melayangkan sebuah tamparan keras tepat mengenai pipi gadis itu.


PLAK!


Chloe dia membisu setelah merasa kebas di bagian pipi kirinya, Rasa sakit berdenyut disana. Dan ia hanya menatap tajam balik pada pamannya.


"Sudah berani kamu bicara begitu sama paman!" Paman Chloe geram. Wajahnya memerah mengeluarkan emosi yang meluap-luap. "Ingat saja, Kamu bakal menyesalinya karna sudah berlaku begini sama paman!"


Paman Chloe pun pergi meninggalkan Chloe sendirian disana, Dan si gadis hanya bisa memegangi pipinya yang memerah bekas tamparan.


Semua anggota asrama yang ikut nimbrung melihat vidio itu (Kecuali Ezra, Ian, dan Aiden) saling pandang, Mereka juga agak terkejut saat kejadian Chloe ditampar.


Vidio call kembali menunjukkan wajah Neil.


"Neil, Aku ingin kau selidiki pria itu juga," Perintah Justin dingin.


"Baiklah,"


Vidio call pun berakhir.


TBC