
Setelah pembicaraannya dengan Felix tadi membuat Chloe kepikiran dengan tawaran Justin, Apa ia harus mencoba nya mengingat ia juga butuh uang saat ini?. Chloe memandang kosong ke depan, Berjalan pelan dan sibuk dengan pikirannya sendiri, Hingga dirinya tanpa sadar sudah berada di depan sebuah pintu, Chloe memandangi pintu itu. Ya, Nama Justin tertempel disana menandakan bahwa ruangan itu milik sang pria bernetra orange.
Dengan ragu Chloe mengetuk pintunya, Sudah saatnya dia memberikan jawaban itu pada Justin. Meski dilanda rasa gugup dan cemas.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!"
Mendengar sahutan dari dari dalam, Chloe membuka pintunya dan memasuki ruangan itu. Dia hanya melihat Ezra dan Justin disana, Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tak lama Justin memandangnya, Seolah bertanya kenapa Chloe datang ke ruangannya.
Chloe yang masih berdiri di depan pintu mengutarakan tujuannya. "Ano...Aku disini untuk membicarakan soal kesepakatannya,"
"Kesepakatan?" Ezra mendongak usai mendengar tujuan Chloe. Dia mempertajam pandangannya pada gadis itu, Menatap benci.
Justin yang paham menutup laptopnya. "Duduklah!"
Chloe mendekati kursi didepan Justin, Duduk senyaman mungkin hanya sebuah meja yang membatasi mereka. Setelah memastikan Chloe duduk, Pria bernetra orange itu menatap Ezra.
"Ezra, Bisakah kau keluar dulu? Aku ingin bicara empat mata dengan Chloe,"
"Baiklah tuan," Ezra menatap muram sebelum meranjak dari duduknya, Dia menutup laptop dan melangkah pergi.
Saat Ezra ingin keluar dari sana, Pria itu bertemu pandang dengan Chloe. Dia menatap tajam seolah mengatakan 'Awas kalau macam-macam terhadap tuan Justin!' pada Chloe. Setelah kepergian Ezra, Barulah mata Chloe mengerjap. Merasa heran dirinya selalu ditatap tajam setiap bertemu dengan pria itu.
"Entah hanya perasaanku atau tidak, Tapi aku merasa dia seperti tidak suka dengan keberadaanku di asrama ini," Pikir Chloe kalut.
"Jadi apa jawabanmu?"
Suara Justin menarik Chloe dari lamunannya, Dia memandang pria itu sejenak sebelum membuka suara.
"Sebelum kuberikan jawaban, Aku ada satu pertanyaan. Apa disini ada pekerjaan lain, Selain dari misi yang kau berikan?"
"Tidak ada, Pekerjaan itu bisa didapat tergantung dengan misi yang kuberikan. Dan kau tidak mendapatkannya karna kau belum jadi anggota disini," Jelas nya dingin sembari bersidekap.
"Eh, Bukannya aku sudah jadi anggota disini?"
"Ya, Tapi kau belum resmi karna belum memberikan jawaban dari misi pertama mu,"
Mata Chloe kembali mengerjap, Ia menunduk hingga helai-helai rambut menutupi sebagian wajahnya. "Begitu, Tapi benar kan di peraturan dalam perjanjian itu tidak melewati batas sampai ke tahap hubungan pasutri?"
"Ya, Benar. Kau hanya perlu pura-pura saja ketika di luar lingkungan asrama,"
"Baiklah aku terima kontrak itu. Pegang kata-kata mu pak Justin," Kata Chloe serius yang mendapat dengusan kecil dari Justin.
"Tidak ada juga yang tertarik melakukannya. Lagipula kau masih terlalu muda untuk melakukan hubungan seperti itu,"Justin mengalihkan pandangannya lalu mengambil dokumen yang kemarin, Dia menyodorkan dokumen itu kehadapan Chloe bersama pulpennya dan menunjuk tempat dimana si gadis harus tanda tangan.
Chloe kembali memeriksa aturan dalam pernikahan kontrak itu, Memastikan kalau-kalau Justin mengubah isi perjanjiannya.
...Peraturan dalam pernikahan kontrak:...
...1.) Tidak melakukan hubungan pasutri...
...2.) Harus pura-pura terlihat seperti pasangan di luar asrama ketika menghadiri undangan/ pesta...
...3.) Tidak mencium sembarangan sebelum mendapat izin dari orangnya...
Itulah aturan yang Chloe baca di dalamnya, Tentu saja sang gadis merasa setuju-setuju saja. Setelah di baca 2 kali.
"Isi aturannya tidak berubah, Tetap seperti kemarin. Baguslah," Pikir Chloe.
"Kau hanya perlu mematuhi 3 aturan itu," Tambah Justin setelah melihat raut wajah si gadis sebelumnya.
"Apa aku bisa menambahkan aturannya sedikit?"
"Silakan," Justin juga menyodorkan tinta stampel yang sudah terbuka pada Chloe. "Setelah tanda tangan, Tolong cap tiga jari juga,"
"Baiklah," Chloe menambahkan sedikit aturan yang ada, Setelah nya dia tanda tangan. Dan membubuhkan cap tiga jari disana.
Selesai dengan persetujuannya, Chloe mengembalikan dokumen tersebut pada Justin.
"Bisa minta cincin yang kemarin?"
Tanpa mengatakan apapun Chloe menyerahkan cincin yang selalu dibawanya itu. Hilang juga gak apa-apa, Toh Chloe juga tidak membutuhkannya. Usai menerima, Justin ikut tanda tangan dan membubuhkan cap tiga jari di dokumennya.
"Kau boleh pergi,"
"Terima kasih,"
Chloe sedikit membungkuk dan berjalan keluar dari ruangan si pria. Disaat bersamaan Ezra kembali masuk membuat keduanya berpapasan. Si pria seperti biasa memberikan tatapan tajam sedangkan Chloe hanya membalas dengan senyum manis sebelum benar-benar jauh dari ruangan Justin hingga tak terlihat lagi dari pandangan pria bernetra hijau emerland itu.
"Tuan, Sebenarnya kesepakatan apa yang tuan berikan pada anak itu?" Tanya Ezra ketika melihat sebuah dokumen di tangan Justin.
Justin tersenyum tipis mendengar pertanyaan Ezra, Dia memandang tangan kanan sekaligus sekretarisnya itu. "Rahasia, Nanti akan kuberitahu saat makan malam,"
Ezra hanya memandang heran dengan perkataan tuannya yang sedang menyembunyikan sesuatu, Meski begitu dia tak bertanya lebih lanjut dan memilih kembali melanjutkan pekerjaannya.
*********************
[Malam harinya]
Satu persatu dari anggota asrama mulai berkumpul, Termasuk Chloe yang mendekati Aiden berniat bertanya pada si pria bersurai ungu bercampur hitam itu.
"Ano...Ada yang bisa kubantu?" Tanya Chloe melirik bahan-bahan yang Aiden gunakan untuk memasak.
"Tidak ada," Balasnya dingin tanpa menoleh dan sibuk mencuci sayur ditangannya.
"Oh baiklah,"
Chloe pergi ke kursinya bergabung dengan anggota lain. Dia memperhatikan setiap wajah para anggota di depannya, Berusaha mengingat sekaligus mengenali wajah mereka satu-persatu.
"Disana Pak Justin, Lalu kak Felix, Kak Neil, Kak Raizel, Pak Livian. Dan...," Netra Chloe mengerjap, Hanya sebagian anggota yang nama dan wajahnya Chloe ingat. Sedangkan sisa nya Chloe tidak tahu.
"Oh iya Chloe, Kamu belum mengenal anggota sisa nya kan?"
Perkataan Felix yang tepat sasaran seolah bisa membaca pikiran Chloe. Gadis itu agak kaget dan mengangguk malu, Dia memandang canggung karna perhatian beberapa anggota juga tertuju padanya.
"Baiklah mari berkenalan, dimulai dari Devian," Felix tersenyum ramah, Memandang Devian disampingnya yang mendapat tatapan kesal dari Devian sebelum pria itu mengenalkan diri.
"Devian Orlindo, No.4," Kata Devian datar, Pria bersurai coklat kehitaman itu agak malas memperkenalkan dirinya.
Disamping Devian terdapat Rion yang tersenyum tipis, Chloe balas tersenyum. Tak lama Rion mengetik sesuatu di handphonenya dan menunjukkan pada Chloe.
[Aku Kazuhara Rion, No.7 salam kenal]
Chloe yang membaca tulisan Rion mengangguk masih mempertahankan senyumnya meski agak terkejut karna Rion hanya menunjukkan tulisannya sebagai perantara komunikasi.
"Apa dia bisu?" Pikir nya bingung.
Setelah perkenalan Rion, Justin membuka suara.
"Aku Justin Garfield. Pemilik asrama," Kata Justin, Karna dia ingat belum memperkenalkan diri sama sekali pada Chloe meski gadis itu sudah mengetahui namanya.
"Ezra Miracle, No.1," Ezra melirik ke arah lain, Dia tak ingin memandang wajah gadis itu.
Chloe memandang Ian begitu pun dengan Felix, Seharusnya setelah Ezra. Ian memperkenalkan dirinya, Namun pria itu hanya diam dengan pandangan dingin sedingin kutub. Tidak ada tanda-tanda pria bernetra merah itu akan membuka suara. Felix menghembuskan napas melihat Ian hanya diam saja, Dia memutuskan mengambil alih sesi perkenalan itu.
"Yang disana Ian Salvatore, No.3. Maaf, Dia memang irit bicara," Felix tersenyum hambar, Merasa tak enak pada Chloe.
"Oh iya, Gak apa-apa," Chloe balas tersenyum kikuk.
Selanjutnya Rea yang sejak tadi diam menyimak dengan tatapan angkuhnya. "Aku Rea, No.11,"
"Hanya itu? Mana nama kepanjanganmu?" Heran Felix.
"Malas, Panggil saja Rea," Balas Rea melirik ke arah lain, Chloe mengangguk mengerti.
Felix hanya menggeleng, Lalu dia menunjuk ke arah Aiden yang tengah memasak. Chloe pun mengikuti arah telunjuk Felix. "Nama nya Aiden, No.2. Dia chef di asrama ini,"
Kemudian Neil ikut menyahut. "Meski aku sudah memperkenalkan diri sebelumnya. Aku akan memperkenalkan ulang. Namaku Neil Gracia, No.9," Neil tersenyum ramah.
Chloe sedikit membungkukkan kepalanya. "Aku Chloe Watson. Panggil saja Chloe," Meski mungkin sebagian anggota sudah mengetahui namanya, Dia tetap memperkenalkan diri.
Justin mengangguk kecil, Lalu memandang para anggotanya. "Setelah makan malam, Jangan ada yang pergi dulu. Ada sedikit info untuk kalian,"
Semua anggota hanya diam mendengarkan, Tak lama Aiden menyajikan makanan yang baru saja dimasaknya. Semua anggota pun mulai menyantap makanan masing-masing.
*******************
Usai menghabiskan makanan masing-masing, Tidak ada yang meranjak satu pun disana sesuai perintah Justin. Semuanya menunggu tindakkan Justin selanjutnya. Pria bernetra orange itu mengambil beberapa lembar kertas dalam dokumennya dan memberikan satu persatu pada setiap anggota yang namanya tertera di sana (Kecuali Chloe karna dia sudah baca kontraknya tadi).
Semuanya diam dalam keheningan sibuk dengan kertas masing-masing, Hingga tak lama suara bentakan terdengar dari Rea.
Brak!
"Apa maksudnya ini?! Pernikahan kontrak?!" Bentak Rea marah menatap Justin tajam.
TBC