Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Misi Ian



Chloe tentu saja tidak bisa melupakan kejadian itu dengan mudah, Kejadian dimana dia melihat wujud werewolf milik Livian dengan mata kepala nya sendiri, Saat sudah pulang ke asrama pun dia tetap memikirkannya.


"Oi!"


Lamunan Chloe buyar saat Livian menepuk pundaknya, Sontak si gadis langsung menoleh.


"Ya pak?"


"Nih, Bawa cemilannya ke dapur. Aku mau istirahat duluan," Livian menyerahkan sekantong berisi cemilan pada Chloe. Lantas si gadis menerimanya.


"Iya, Mau sekalian ku pijitin nanti? Bapak pasti capek bawa mobil sepanjang perjalanan," Tawar Chloe.


Livian menguap kecil lalu menggeleng pelan. "Gak deh, Aku mau langsung tidur aja. Bye!"


Livian segera melangkah pergi dari hadapan Chloe, Kesan Chloe untuk sikap Livian adalah pria itu tukang tidur, Selalu ingin istirahat di mana pun dia berada.


Terkadang Chloe berpikir, Anggota asrama memiliki sifat unik masing-masing ternyata. Tak ingin memikirkan hal itu lama-lama, Chloe segera ke dapur membawa sekantong cemilan di tangannya.


******************


Sesampainya di dapur tentu saja hanya suasana sepi yang menyambutnya. Entah kemana para anggota lain, Tapi yang Chloe dengar dari Livian. Anggota lain sedang menjalani misi masing-masing, Jadi memang tidak ada seorang pun yang menjaga asrama. Namun Chloe tidak ambil pusing langsung memasukkan cemilan-cemilan itu ke dalam kulkas.


Usai melakukan tugasnya, Chloe mendudukkan diri di kursi. Dia mengetuk-ngetuk meja dengan jari lentiknya, Tampak berpikir apa yang harus dia lakukan lagi. Mengingat tidak ada yang bisa Chloe kerjakan disini, Terlebih dia kembali merasa gabut.


"Apa aku jalan-jalan keluar aja ya? Aku belum terlalu lelah sih habis perjalanan tadi," Pikir Chloe masih mengetuk-ngetuk jarinya ke meja, Memasang ekspresi berpikir.


Akhirnya karna memang tidak tahu harus ngapain, Chloe memutuskan jalan-jalan ke luar mencari udara segar. Mungkin dia bisa ketemu keluarganya lagi.


*******************


Wwuuusshh!


Semilir angin menerpa wajah si gadis, Menerbangkan helai-helai rambutnya. Chloe berjalan santai melewati para pejalan kaki yang hilir mudik. Terlihat banyak toko perbelanjaan berjejer rapi disana, Dan Chloe cukup menikmati udara segar yang menerpanya.


Hari ini cuaca nya cerah sekali seperti mood nya sekarang, Banyak hal menarik yang bisa Chloe kunjungi. Namun dia hanya ingin menikmatinya dari kejauhan saja.


Langkah kaki gadis itu terhenti di sebuah bangunan yang dinamai 'Perpustakaan kota'. Tampaknya hal itu menarik minat sang gadis untuk memasukinya, Dia melangkah melihat-lihat setiap sudut bangunan.


Terdapat banyak rak buku yang berjejer rapi bahkan sampai memiliki lantai 2 di atasnya, Chloe cukup terpukau karna desain dari perpustakaan itu tampak kuno dan antik di saat yang bersamaan.


Terlihat hanya beberapa pengunjung yang mampir disana, Yah wajar. Sekarang sudah serba digital jadi kalau ingin baca buku tinggal liat di handphone saja tanpa perlu susah-susah ke perpustakaan. Setelah cukup puas mengagumi seisi bangunan, Chloe mulai mendekati rak berisi buku novel.


Dia meneliti setiap buku novel yang menarik perhatiannya, Beberapa saat setelahnya Chloe menemukan novel yang menarik baginya. Sebuah novel dengan sampul kuno di bagian sisi nya sudah sedikit menguning karna dimakan usai, Meski begitu Chloe tak peduli. Dia membelinya bersama dua novel lain yang sudah dipilih.


Dia tak ingin membaca di perpustakaan, Takut pulang terlambat nantinya. Jadi setelah membeli buku itu, Chloe bergegas pergi keluar perpustakaan.


Hari sudah semakin siang, Cuaca yang semakin panas membuat Chloe memutuskan untuk mampir ke sebuah cafe yang terletak tidak jauh dari pusat kota.


Kkrriing!


Bel kecil di atas pintu berbunyi ketika Chloe membuka pintunya, Ia mengedarkan pandangan mencari tempat duduk kosong diantara lautan para manusia yang asyik bercengkrama.


Semuanya tampak penuh, Untung saja Chloe melihat tempat duduk kosong di sudut ruangan kalau saja dia tidak melihatnya dengan teliti. Ia bergegas mendekati meja kosong dan duduk di kursinya.


Chloe melihat-lihat menu yang tertera dia selembaran kertas yang tergeletak di sana.


"Cuaca panas-panas begini enaknya, Makan rasberry cake dan jus alpukat deh," Pikir Chloe masih melihat menu-menu itu.


Beberapa saat kemudian Chloe mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya, Dan suara datar seseorang.


"Selamat datang di cafe kami, Apa yang ingin anda pesan?"


"Aku ingin pesan rasberry cake dan–" Perkataan Chloe terhenti ketika dirinya menoleh, Ia menatap terkejut manatap barista yang melayani nya ini.



Ian yang terpanggil pun cukup terkejut karna dia bertemu Chloe diantara para pelanggan yang dia layani, Namun ekspresi terkejut itu hanya beberapa detik sebelum digantikan ekspresi datarnya kembali.


"Kupikir kita tidak akan bertemu meski saat aku kerja disini," Kata Ian dingin, Dia mengangkat sedikit buku catatannya.


"Kau kerja disini? Tapi kenapa?" Chloe masih terkejut.


Ian mendelik tajam, Kemudian merendahkan nada suara nya. "Pelankan suaramu, Aku disini karna sedang melaksanakan misi,"


"Misi apa?" Chloe ikut memelankan suaranya, Sesekali melirik pelanggan lain di sekitar mereka.


"Kau tidak perlu tau!" Ian mengenyit, Kemudian dia kembali ke nada normal tanpa bisik-bisik lagi. "Jadi bisakah kau katakan pesananmu?"


Chloe mendengus kesal, Apa tidak boleh baginya sedikit saja mengetahui misi apa yang sedang di kerjakan anggota lain? Mengesalkan sekali.


"Rasberry cake dan jus alpukat 1," Kata Chloe setelah memesan.


Ian mencatat pesanan Chloe, Menatap datar. "Baik, Silakan ditunggu beberapa menit lagi,"


Si pria lantas berjalan pergi untuk memberikan pesanan itu pada sang koki yang bertugas memasak.


Selama menunggu, Chloe memandangi setiap sudut cafe. Entah mengapa dia seperti pernah datang ke cafe ini sebelumnya. Tapi Chloe merasa ini pertama kali nya ia menjejakkan kaki disini. Sungguh dekorasi serta desain di cafe ini mirip dengan cafe seseorang.


Chloe tidak bisa mengingat wajah pemilik cafe itu dengan jelas, Tapi yang pastinya dia merasa deva ju ketika menjejakkan kaki di cafe ini.


Ah, Sudahlah. Chloe menepis pemikiran itu, Mungkin hanya perasaannya.


************


[Disisi Ian]


Ian bolak-balik mengantar pesanan sejak tadi, Tak jarang beberapa pelanggan meminta foto dengannya karna wajahnya yang tampan. Untung saja para pelanggan itu tak sadar kalau ia adalah seorang idol karena sempat menghipnotis mereka agar tidak mengenalinya.


Tentu saja selama mengantar pesanan, Ian selalu memperhatikan salah satu barista yang menjadi target misi nya sejak awal. Ian mendapat laporan dari Justin kalau barista itu adalah seorang mata-mata dari kelompok mafia, Dan saat ini sedang menyamar.


Barista itu dicurigai sebagai dalang di balik kebakaran sebuah perkampungan yang menewaskan sejumlah penduduk, Maka dari itu Ian terus mengawasinya.


Bisa dibilang kelompok Black Shadow satu-satunya yang bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengungkap kasus yang tidak bisa diungkap pihak kepolisan. Tentunya dengan kesepakatan yang sangat besar antara Black Shadow dan pihak kepolisian.


Oke, Kembali ke sisi Ian. Si pria kini sudah mengantar pesanan Chloe, Saat diantar pun sang gadis hanya mengucapkan terima kasih sebelum menyantap makanannya.


Ian kembali ke ruang dapur usai menyelesaikan pekerjaannya, Dia melihat barista yang diincarnya tampak keluar cafe melalui pintu belakang setelah izin dengan si manager.


Tentu saja Ian juga bergegas izin pada manager sebelum menyusul barista itu keluar cafe. Secara perlahan dia terus mengikuti langkah si barista dengan mengendap-endap, Sampai si barista itu berbelok ke sebuah gang.


Ketika Ian ikut berbelok, Dia hanya menemukan gang buntu disana. Sedangkan si barista sudah hilang entah kemana.


Ian mendengus kesal. "Aku kehilangan jejaknya, Cih!"


"Sudah kuduga, Ternyata kau yang sejak tadi mengikuti ku,"


Ian berbalik, Menemukan si barista yang sudah berada di hadapannya dengan sebuah pistol di genggaman sang barista.


"Fufufu, Kali ini kau tertangkap penguntit!" Barista itu terkekeh namun Ian masih memasang ekspresi tenang.


"Merepotkan," Gumam Ian.


TBC