Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Kesepakatan itu berakhir!



[Keesokan harinya]


Chloe terbangun tepat pukul 7 pagi, Suasana ruang inap nya begitu sepi. Tampak nya tidak ada lagi yang mengunjunginya kemarin selain Ian dan Rea, Itu pun di sore hari.


Cklek!


Chloe melihat pintu ruangannya terbuka, Menampakkan seorang suster yang membawa nampan berisi makanan. Sesaat Chloe bertemu pandang dengan sang suster dan suster itu tersenyum ramah membalas pandangan Chloe.


Dia meletakkan di nakas lalu mengambil infus baru, Mengganti infus Chloe.


"Nona Watson, Saya bawakan makanan. Tapi saya periksa dulu ya baru setelah itu makan," Kata suster itu ramah.


"Iya,"


Chloe membiarkan sang suster memeriksa nya, Selagi memeriksa si gadis membuka suara.


"Suster, Keluarga saya yang bernama Brian, Elina, Reina, dan Alvin Watson apa juga di rawat disini?"


"Oh iya, Mereka juga di rawat disini. Ruangan mereka bersebelahan kok dengan ruangan Nona,"


"Bagaimana keadaan mereka?"


"Kata dokter Rea, Mereka baik-baik aja. Luka mereka juga mulai pulih,"


Chloe menghela napas lega, Sekarang dia tahu dimana keberadaan keluarganya. Jadi Chloe tinggal mengunjungi mereka nanti.


"Udah selesai, Kalau begitu saya permisi," Kata suster tersebut setelah selesai memeriksa Chloe.


"Iya, Makasih suster,"


Suster itu mengangguk dan berjalan keluar ruangan. Chloe mengambil semangkuk bubur yang sudah disiapkan, Memakannya perlahan meski pun dia agak kurang selera karna rasa bubur itu sedikit hambar.


Usai beberapa menit menghabiskan buburnya, Chloe meletakkan mangkuk itu di nakas. Dia segera meranjak dari tempat tidur, Berniat keluar dari sana mencari keluarganya.


*************


Tok! Tok! Tok!


Chloe memasuki sebuah ruangan dimana dia melihat Brian, Ayahnya sedang terbaring lemah. Pria yang disayanginya itu terlihat menutup mata, Bahkan tidak terlihat tanda-tanda ingin bergerak selain suara dari alat pendekteksi jantung yang berbunyi nyaring.


Dengan sedih Chloe melangkah mendekat, Langkahnya agak tertatih. Dia mendudukkan diri disamping tempat tidur ayahnya, Menatap wajah pria paruh baya itu yang terlihat penuh luka.


Chloe hanya bisa memegangi tangan ayahnya, Dia berusaha menahan isak tangis dan air mata yang ingin tumpah.


"Ayah, Kenapa sih paman begitu jahat sama keluarga kita? Apa salah kita sama dia, Mengapa jadi begini?" Tanya Chloe dengan suara gemetar, Meski dia tahu pertanyaannya tidak akan dijawab.


Dia diam sejenak merenungkan nasibnya sambil memandangi wajah sang ayah. Setelah puas memandangi wajah sang ayah, Chloe meranjak menuju ruangan mama nya.


************


Cklek!


Netra merahnya melihat Alvin dan Reina yang sedang duduk disamping tempat tidur mama mereka, Kedua adik kembarnya itu pun juga memakai infus seperti Chloe. Wajah mereka terlihat murung dan sedih, Juga terdapat bekas luka-luka disebagian tubuh mereka.


"Rei, Vin...," Chloe mendekati kedua adiknya, Sontak saja suara Chloe menarik perhatian Alvin dan Reina.


Kedua nya lantas berdiri terkejut, Memperhatikan langkah Chloe yang semakin mendekat.


"Kakak! Kenapa kakak kesini? Kakak masih sakit kan?" Reina dengan cemas menatap Chloe, Dia lantas mengambil satu kursi lagi agar Chloe bisa duduk.


"Kakak udah mendingan, Kalian gimana? Masih ada yang sakit?" Chloe menggeleng pelan, Mendudukkan diri di kursi yang Reina kasih.


"Luka kami juga udah mulai sembuh, Cuma Ayah dan Mama masih belum sadarkan diri," Kata Alvin lesu, Menatap sedih Elina yang terbaring lemah.


Reina tampak menahan isak tangisnya, Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"...Mengapa paman sangat jahat pada kita? Apa kita berbuat kesalahan padanya kak?" Tanya Reina dengan nada bergetar.


Chloe mengusap surai Reina untuk menenangkan adiknya itu, Dia berusaha tersenyum selembut mungkin. "Kakak juga tidak tahu, Selama ini paman selalu tertutup pada kita. Dia pasti sudah sejak lama merencanakan semua ini. Yang hanya bisa kita lakukan hanyalah berhati-hati ke depannya,"


Elusan lembut di rambutnya perlahan membuat Reina tenang, Gadis itu mengusap air matanya dengan ekspresi muram.


"Aku gak ingin ketemu paman lagi! Dia sudah menghianati kepercayaan kita!" Kata Reina sedih.


Rahang Alvin mengeras mendengarnya, Dia mengepalkan tangan dengan wajah emosi. "Jika aku melihatnya lagi, Aku akan menghajarnya sampai puas. Tidak peduli kalau aku harus mempertaruhkan nyawa ku juga!"


Chloe menepuk pundak Alvin pelan. "Jangan begitu Vin, Kita semua harus tetap selamat. Kakak akan cari cara agar bisa mengalahkan paman nanti. Percaya saja sama kakak,"


"Ya, Kita akan cari sama-sama," Alvin mengangguk mantap disusul anggukan dari Raina.


Chloe tersenyum tipis meski dalam dirinya dia merasa sedih, Tapi dia berusaha terlihat tegar dihadapan kedua adiknya. Ia mengusap surai Reina dan Alvin.


"Kalian istirahatlah kembali. Kita biarkan mama sendirian dulu,"


Alvin dan Reina mengangguk kecil, Mereka keluar dari ruangan itu menuju kamar inap masing-masing termasuk Chloe.


****************


[Malam harinya]


Chloe membaca sebuah majalah sejak beberapa jam yang lalu, Seharian ini dia agak bosan karna tidak ada yang mengunjunginya dari anggota asrama. Bahkan Rea juga tidak terlihat meski Rea bekerja di rumah sakit yang sama dengannya.


Apa mereka sudah tidak peduli lagi padanya? Jika hal itu benar terjadi, Rasanya Chloe akan benar-benar sedih.


Dia menghela napas lirih, Berharap dalam hati anggota asrama mengunjunginya meski hanya salah satu dari mereka.


Dia memakan semangkuk bubur yang terletak di nakas, Memandangi jendela yang tertutup gorden.


Tok! Tok! Tok!


Mendengar suara ketukan pintu, Lantas membuat Chloe menoleh. "Masuk!"


Dia buru-buru menghabiskan buburnya dan meminum segelas air hingga setengah, Sosok yang mengetuk pintu mendekati Chloe. Pria bernetra orange itu memandangi sang gadis dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Akhirnya ada juga yang mengunjungiku hari ini, Aku senang melihat pak Justin disini," Kata Chloe dengan senyum ceria.


Justin hanya diam tak bergeming menatapnya, Dia mendudukkan diri disamping tempat tidur Chloe. Perasaan sedih, bingung, dan marah terlihat jelas dari pancaran matanya.


Sadar Justin tidak mengatakan apapun, Chloe mulai khawatir. Ia harap asrama sedang tidak ada masalah saat ini, Mengingat ekspresi Justin yang tampak muram dan sedih.


"Pak...Apa terjadi sesuatu?" Tanya Chloe hati-hati.


Justin mendongak masih menatap Chloe beberapa saat sebelum membuka suara.


"Aku datang kesini untuk memberitahukan sesuatu, Awalnya aku ingin membicarakannya saat kau sudah pulang dari rumah sakit. Tapi anggota lain memintaku langsung membicarakan saja padamu, Mereka tidak bisa menunggu lebih lama," Justin menarik napas dalam sejenak.


Ekspresi Chloe berubah tegang dan cemas, Merasa berita yang diterima nya mungkin bukan berita baik. Apalagi melihat ekspresi Justin yang serius, Membuat jantung Chloe berdegup kencang merasa was-was.


"Kesepakatan itu kita akhiri sampai disini saja, Kurasa akan lebih baik melepaskanmu. Kita juga tidak bisa hidup terus-terusan dari pernikahan kontrak, Jadi mulai saat ini kau bukan lagi anggota asrama," Sebisa mungkin Justin menjaga suara nya agar tak terdengar bergetar.


"Sebagai kompensasi aku akan berikan gaji terakhirmu untuk bulan ini, Dan setelahnya kita tidak berhubungan lagi," Tambah Justin berusaha tenang, Walau dirinya merasa berat mengatakan semua itu.


Apalagi saat melihat ekspresi terkejut Chloe, Dan raut wajah sang gadis yang menunjukkan rasa kecewa dan sedih yang mendalam.


TBC