Black Shadow: Gangster X Family

Black Shadow: Gangster X Family
Misi Raizel (2)



Blar!


Raizel mengakhiri pertarungannya dengan wanita laba-laba itu, Dia mengerahkan kekuatan terbesarnya.


"Flame!"


Kobaran api muncul dari tongkat besinya dan mengarah pada siluman tersebut. Perlahan wanita siluman itu terbakar dan menjadi abu.


"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin kalah!!!" Teriak nya histeris hingga suara nya perlahan menghilang menyisakan debu yang berterbangan tersapu angin.


Raizel menarik napas dalam, Menangkan napasnya yang tersegal-segal. Dia mengambil ponselnya dan memotret abu siluman tersebut. Sebagai bukti kalau misi nya sudah selesai.


"Hah~, Benar-benar kacau. Siluman ini agak merepotkan," Gumam Raizel menginjak abu di bawahnya.


Dia membersihkan tongkat besinya yang terdapat noda darah dengan tisu, Sebelum membakar tisu itu dengan elemen api nya.


Raizel berjalan pergi meninggalkan rumah tersebut tanpa jejak, Dalam perjalanan dirinya terus merenung memikirkan nasib selanjutnya.


Saat berbelok dia tak sengaja melihat sesosok pemuda bersurai hitam sedang di palak oleh 3 orang preman, Pemuda itu tampak bersikeras membela diri namun 3 preman itu juga tak mau kalah, Mereka sampai mengancam membunuh jika pemuda itu tidak menyerahkan uangnya.


Raizel mendengus kecil, Dia menatap ke arah lain dan melajutkan perjalanannya. Toh bukan urusannya juga untuk ikut campur.


"Cepat! Serahkan uangmu!"


"Gak! Minggir kalian jangan halangi jalanku!"


"Bocah tengik ini! Berani sekali pada kami!"


Buak!


Brak!


Suara pukulan demi pukulan terdengar di belakang Raizel, Sontak saja Raizel menghentikan langkah dan menoleh. Ia melihat si pemuda yang terjatuh menahan pukulan salah satu dari preman tersebut.


"Sudah bocah tengik! Belagu lagi! Kau benar-benar harus di beri pelajaran biar jera!" Kata salah satu preman marah sambil melayangkan pukulannya.


Buak!


Raizel menatap datar, Dia menghela napas kecil. "Para manusia ini berbuat ulah lagi, Benar-benar deh aku harus turun tangan," Pikirnya.


Dia mengambil masker dari saku jaket dan memakainya untuk menyembunyikan identitas, Dengan tongkat besi yang tergenggam di tangan kanan. Raizel melangkah santai mendekati para preman yang sedang menghajar si pemuda.


"Oi kalian! 3 lawan 1 benar-benar pengecut! Cuma main keroyokan," Celetuk Raizel yang seketika mendapat perhatian dari para preman tersebut termasuk si pemuda.


"Apa kau bilang! Mau jadi pahlawan kemaleman hah?!" Bentak salah satu preman.


"....,"


Preman lainnya menatap tongkat besi yang dibawa Raizel. "Bos, Dia bawa senjata,"


"Kita juga bawa senjata, Bukan cuma dia! Ayo hajar dia karna sudah ikut campur!" Kata si bos marah.


Kedua anak buah nya pun maju dan menyerang Raizel dengan pisau yang masing-masing di tangan mereka.


Bagi Raizel menghadapi serangan manusia adalah hal yang mudah, Tanpa menggunakan kekuatan pun dia sudah bisa melumpuhkan mereka.


Srat!


Sayang sekali tangannya sempat tergores pisau salah satu dari preman itu hingga membuat luka yang cukup lebar disana, Darah merah pun terus mengalir.


Raizel hanya melirik tangannya yang terluka, Dia tidak mempermasalahkan hal itu, Nanti juga sembuh sendiri.


Disaat Raizel sibuk meladeni dua preman, Si pemuda yang sejak tadi hanya diam ikut membantu dengan menghajar si bos.


Buak!


"Argh! Bocah sialan!" Geram si bos sambil memegangi pipi nya yang mendapat bogem mentah dari sang pemuda.


"Jangan panggil aku bocah paman! Nama ku Alvin!" Seru Alvin tak terima dipanggil bocah.


"Yang tanya nama mu siapa bodoh! Aku tidak peduli!" Hardik si bos sambil melayangkan arah pisau nya berniat menusuk Alvin. Tanpa menyadari ada seseorang di belakangnya.


Tap! Tap! Tap!


Wuuush!


"Jangan coba-coba sentuh adikku!"


Buak!


Sebuah tendangan kencang melayang tepat mengenai kepala si bos, Membuat ketua preman terpental hingga menabrak tembok. Bukan cuma dibuat terpental, Ketua preman bahkan tubuhnya dibanting dan tangan di buat patah oleh sang pelaku.


Kraak!


Arggghh!


Teriakan kesakitan itu menggema memenuhi lorong gang, Puas membuat si preman tepar tak berdaya. Sosok penolong Alvin pun berdiri dengan percaya diri dan menghampiri sang adik.


"Kamu gak apa-apa?"


Sementara Alvin yang tadinya siap dengan serangan ketua preman dibuat sweetdrop ria karna ulah sosok sang kakak yang menjadi penolongnya, Dia merasa dirinya dibuat tidak berguna sekarang.


"Aku baik-baik saja kak," Kata Alvin masih dalam mode sweetdropnya.


Raizel yang juga sudah menumbangkan kedua preman lainnya hanya menatap datar interaksi Chloe dan Alvin.


"Hm...Yah, Sebenarnya ada yang menolongku juga," Alvin mengalihkan pandangannya ke Raizel, Dan sedikit membungkukkan badan. "Terima kasih sudah membantu,"


Chloe mengikuti arah pandang Alvin, Menemukan sosok pria berhoodie coklat dengan menggenggam tongkat besi di tangannya. Chloe merasa familiar dengan perawakan si pria namun dia menepisnya dan berkata dalam hati mungkin itu hanya perasaannya.


"Terima kasih telah membantu adikku," Chloe ikut membungkuk kecil.


"Hm...Lain kali jangan keluar terlalu larut malam, Kawasan disini berbahaya," Kata Raizel dingin, Dia menatap wajah Chloe sejenak sebelum menyadari satu hal.


Netra ungu muda nya sedikit melebar sebelum kembali ke semula. "Chloe Watson...Anggota ke-8!" Pikirnya kaget.


"Ah aku lupa, Dia kan bukan lagi anggota asrama," Raizel menelisik wajah Chloe dan Alvin bergantian.


Sementara Chloe melihat tangan Raizel yang berdarah karna tergores pisau, Dia tentu saja tidak mengenali Raizel karna wajah pria itu tertutup masker.


"Ano...Tuan tanganmu berdarah, Sebagai balas budi saya akan mengobatinya," Tawar Chloe mengambil perban dari saku jaketnya.


Raizel hanya diam ketika perlahan Chloe memegang tangannya.


"Tangannya dingin sekali seperti freezer, Apa dia baik-baik saja?" Pikir Chloe heran usai memegang tangan Raizel yang dingin seperti es batu.


Chloe memasang perban di tangan Raizel dengan hati-hati hingga luka itu tertutup sepenuhnya.


"Selesai," Chloe tersenyum ramah, Sementara Raizel hanya menatap lekat wajah si gadis beberapa saat sebelum mengalihkan pandangan.


"Makasih,"


"Hu'um, Kalau begitu kami pergi dulu," Chloe menarik tangan Alvin. "Ayo Vin, Keburu tengah malem,"


"Oke," Alvin yang ditarik hanya pasrah, Mengikuti langkah sang kakak.


Sebelum benar-benar pergi, Raizel sontak mencegat langkah Chloe dan Alvin.


"Tunggu! Biar kuantar kalian," Tawar Raizel, Diam-diam menghilangkan tongkat besinya tanpa disadari oleh Chloe dan Alvin.


"Tidak makasih, Tapi kami bisa jaga diri," Alvin tersenyum masam, Mengingat ulah para preman tadi membuatnya waspada kalau-kalau pria dihadapan mereka melakukan hal yang sama.


Raizel mengernyitkan alisnya heran. "Apa wajahku terlihat seperti penjahat? Aku hanya berniat mengantar kalian saja. Lagian daerah sini mulai sepi, Bagaimana no.8?"


Dia menatap lekat pada Chloe, Dengan suara yang rendah di akhir kalimatnya. Mengkode bahwa dirinya adalah salah satu anggota asrama, Semoga saja Chloe peka dengan kodenya itu.


Chloe mengerjap sesaat sadar kalau sejak tadi pria dihadapan mereka terus menatap lekat dirinya, Saat samar-samar ia menangkap kata no.8 dari pria itu barulah Chloe sadar siapa yang sedang berada di hadapan mereka saat ini.


Netra merahnya sedikit membulat terkejut sebelum kembali seperti semula.


"Dia tadi bilang no.8?! Apa dia anggota asrama? Tapi aku tidak bisa percaya begitu saja," Pikir Chloe menyipitkan matanya menatap Raizel.


"Maaf, Tapi akan lebih baik kami segera pulang. Terima kasih telah membantu kami sampi sini," Alvin tersenyum palsu, Mendorong pundak kakaknya agar segera pergi dari sana.


"Baiklah, Kurasa kalian harus berhati-hati dijalan," Raizel sedikit mengangkat hoodienya, Memperlihatkan perut nya yang terdapat simbol bulan sabit berwarna ungu di samping kanan. Dia yakin Chloe pasti tadi mencurigainya sabagai musuh kalau tidak menunjukkan simbol khusus black shadow.


Tanpa sadar pandangan Chloe tertuju pada perut Raizel, Simbol bulan sabit itu agak bersinar memancarkan aura berwarna ungu. Dan sekarang Chloe yakin kalau pria dihadapan mereka benar-benar anggota asrama.


"Yah, Lebih bagus begitu. Ngomong-ngomong kau agak aneh karna memakai hoodie setengah yang memperlihatkan perutmu di malam yang dingin ini," Kata Alvin heran.


"Oh ya, Aku agak gerah," Raizel berdehem pelan, Lalu berbalik. "Kalau begitu hati-hati, Bye!"


Dia melangkah pergi, Chloe pun menepuk pundak Alvin pelan.


"Vin, Kayaknya lebih baik kita minta temani dia deh. Lebih aman kakak rasa,"


"Apa? Tapi dia itu hanya orang asing," Alvin menggeleng tak setuju.


"Gak apa-apa kok, Percaya aja sama kakak," Chloe mendekati Raizel, Mencegat pria itu untuk pergi. "Hei,"


Dia memegangi ujung hoodie Raizel hingga pria itu berhenti melangkah dan menoleh.


"Hm?"


"Oke, Bisa temani kami sampai rumah. Kau benar, Jalan ini lumayan sepi,"


Raizel tersenyum tipis dibalik maskernya, Untung saja Chloe tidak melihatnya. "Aku tahu kau tidak akan menolak,"


"Ini sebagai terima kasihku karna sudah membantu adikku, Anggap saja aku tidak menolaknya. Jangan berharap apa-apa karna kita sudah cerai," Ucap Chloe dengan suara rendah agar hanya Raizel yang mendengarnya, Pandangannya pun tampak serius.


"Huh? Kamu jangan terlalu percaya diri. Lagian siapa juga yang berharap? Aku hanya ingin memastikan kalau kau masih menjaga rahasia kami dengan rapat,"


"Semuanya masih aman, Aku akan minta tolong kali ini saja. Setelahnya anggap saja kita tidak saling mengenal," Chloe sedikit menjauh, Memalingkan pandangan ke arah lain.


"Baiklah, Jangan bicara yang aneh-aneh di depan adikmu," Raizel berbalik dan melangkah santai berjalan duluan melewati Alvin dan Chloe.


Alvin hanya menatap heran interaksi Raizel dan Chloe, Dia melihat Chloe yang mendekatinya.


"Apa yang kalian bicarakan barusan?"


"Bukan apa-apa, Kakak hanya minta dia untuk melindungi kita selama perjalanan," Bohong Chloe sambil menarik tangan Alvin. "Ayo,"


Dia dan Alvin melangkah mengikuti Raizel yang sudah berjalan lebih dulu.


TBC