
Apa? Jadi itu artinya ada Ai disini? Uhm ... tapi dimana dia? Apakah dia sengaja mengikutiku?
Batin Yuji mulai membenarkan duduknya, namun dia masih mengedarkan pandangannya dengan ekor matanya.
Sementara Shiina sedang menikmati pop corn sambil mulai fokus untuk menikmati film yang akan mereka tonton malam ini.
[ Benar, Tuan. Nona Ai sedang berada di dalam teater ini juga. Dan dia sedang mengamati tuan Yuji dan nona Shiina. ]
Sahut Zero datar.
Yuji menghembuskan nafas kasarnya ke udara mendengar jawaban dari Zero.
Baiklah. Intinya aku hanya harus membuatnyanya merasa kesal dan membuatnya merasa yakin jika aku sudah melupakan dia bukan?
Tanya Yuji di dalam hati.
[ Benar sekali, Tuan. ] sahut Zero lagi.
Baiklah-baiklah. Terkadang misi yang kamu berikan ini akan membuat para gadis ini salah paham denganku. Tapi demi hadiah aku akan melakukannya ...
Jawab Yuji di dalam hati sambil menikmati pop corn miliknya.
[ Sistem hanya membantu memperbaiki kehidupan yang tuan Yuji alami. Dari segi financial, maupun dalam semua hal. Termasuk percintaan tuan Yuji. Nona Ai memiliki sebuah niat, dan sistem tidak rela jika tuan Yuji lengah kembali. ]
Ai memiliki sebuah niat? Apakah maksudmu adalah Ai masih menyukaiku, Zero?
Batin Yuji bertanya kembali.
[ Benar. Nona Megu mengatakan seperti itu. ]
Jawab Zero yang rupanya mendengarkan percakapan antara Ai dan Megu.
Ckkk ... gadis itu memang tak punya pendirian. Disaat Shoto tak memiliki apa-apa kini dia mulai mengincarku kembali? Jangan harap kamu bermimpi terlalu jauh lagi, Ai!
Batin Yuji mulai berdehem dan semakin mencondongkan tubuhnya mendekati Shiina.
"Ehem, Shiina ... coba popcorn milikku! Ini manis dan gurih sekali loh." ucap Yuji menyuapi sebuah popcorn untuk Shiina.
Hal itu terlalu cepat, bahkan Shiina tak sempat mengelak dan akhirnya menerima suapan itu. Shiina juga menatap Yuji dengan tatapan aneh.
"Popcorn kita bahkan memiliki rasa yang sama. Yaitu original ..." celutuk Shiina yang membuat Yuji seketika terlihat konyol dan membuat Yuji tertawa garing.
"Ahahha ... benar-benar. Aku melupakan itu karena terlalu fokus menonton. Ahhh ... di dalam teater ini cukup dingin. Kamu harus memakai pakaian yang lebih hangat. Tunggu sebentar ..." ucap Yuji segera melepas pakaian hangatnya dan memakaikannya untuk Shiina.
Ada apa dengan Yuji? Mengapa tiba-tiba saja dia menjadi seperti ini? Apa jangan-jangan dia benar-benar menyukaiku seperti yang pernah dia katakan sebelumnya? Bagaimana jika itu memang benar? Tapi ... jika dipikir-pikir Yuji jauh lebih baik dari Shuzo. Dia juga sangat pengertian dan tidak suka mengekangku. Bahkan aku juga merasa nyaman saat aku menceritakan beberapa masalahku kepadanya.
Batin Shiina malah menatap lekat Yuji yang saat ini sudah duduk kembali di bangkunya sambil menikmati popcorn dan menikmati film horor itu.
Yuji mendengar semua isi hati Shiina dan hal itu membuatnya mengukir senyum tipis di bibirnya.
"Shiina, setelah menonton film aku ingin mengatakan sesuatu padamu." ucap Yuji tiba-tiba dan melirik Shiina dengan ekor matanya.
"Ehh? I-iya ..." sahut Shiina terbata dan mulai menatap ke arah layar karena merasa malu dan seakan Yuji bisa mengetahui isi hatinya ( padahal Yuji memang bisa membaca isi hatinya ).
Tentu hal itu cukup membuat Ai merasa kesal.
Dasar, Buaya! Padahal baru beberapa pekan yang lalu dia membawa Misa ke sekolahan dan mengatakan jika Misa adalah kekasihnya. Dan kini dia malah mendekati gadia bernama Shiina itu! Ahaha ... aku sungguh tidak mengira semua ini. Dasar hidung belang!
Ai memaki Yuji dalam hati ketika melihat Yuji merangkul Shiina disaat detik-detik melihat Shiina ketakutan dan terkejut melihat kehadiran mengejutkan dari salah satu hantu di dalam film yang sedang mereka saksikan saat ini.
Saking kesalnya, akhirnya Ai memutuskan untuk meninggalkan teater ini lebih awal.
"Aku bosan! Aku mau keluar saja!" ucap Ai melenggang dengan penuh kekesalan. Bahkan sangat terlihat disetiap hentakan kakinya.
"Ai! Ai tunggu! Tapi film ini baru setengah tayang!" pekik Megu lirih dan berusaha untuk mengejar Ai.
Yuji yang melihat kedua gadis itu mulai meninggalkan teater itu tertawa lirih dan segera menutupinya.
[ Mission completed. Selamat, Tuan. ]
Sahut Zero membuat Yuji merasa puas.
"Yuji, bukankah mereka berdua adalah teman sekolahmu?" tanya Shiina yang rupanya mengenali sosok Ai dan Megu.
"Oh ... iya. Mereka adalah teman sekelasku." sahut Yuji seadanya.
Setelah misi Yuji berhasil, Yuji kembali menjadi seperti biasanya. Tidak lagi mendekati Shiina dan melakukan hal-hal manis untuknya. Dan ini cukup membuat Shiina bingung.
Satu jam lima belas menit belalu. Dan akhirnya film itu telah selesai tayang. Yuji dan Shiina meninggalkan teater dan mendatangi salah satu restoran yang berada di food street dari pusat perbelanjaan ini.
"Bukankah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku, Yuji?" tanya Shiina disaat mereka sedang menikmati makan malam mereka.
"Oh ... iya. Aku sudah meminta ijin pada papamu untuk mengajakmu jalan-jalan saat liburan musim dingin. Dan aku memutuskan untuk berlayar dengan menggunakan kapal pesiar." jawab Yuji sambil menikmati sepotong sirloin steak miliknya.
"Wah!! Benarkah? Asyikkkkk!! Pasti seru! Sudah lama sekali aku tidak naik kapal pesiar!" seru Shiina sangat bersemangat.
"Tapi, Shiina ... papamu meminta sesuatu kepada kita."
"Sesuatu? Apa itu?" tanya Shiina sangat ingin tau.
"Kita boleh berlibur saat musim dingin dengan kapal pesiar. Tapi papa kamu meminta kita bertunangan. Aku sudah berusaha untuk menyampaikan kepada papamu atas keinginanmu yang tidak ingin terkekang karena hubungan semacam itu. Jadi ..."
"Aku tidak akan merasa terkekang jika orang itu adalah kamu, Yuji!" pangkas Shiina dengan cepat.
Untuk beberapa saat mereka berdua terdiam dan menghentikan aktifitas makan malam mereka. Pandangan mereka bertemu namun tak ada kata yang terucap.
"Selama ini aku merasa terkekang karena Shuzo yang sangat berlebihan. Sangat berbeda denganmu, Yuji. Kalau boleh jujur aku cukup merasa nyaman saat bersama denganmu." ucap Shiina akhirnya memberanikan diri namun mulai menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Bukan soal siapa kamu ... tapi sejak pertama kali bertemu, kamu sudah menjadi penyelamatku. Dan tidak aku sangka takdir kembali selalu mempertemukan kita."
"Shiina, aku hanya ingin bertanya padamu. Apa kamu menyukaiku? Apa kamu bisa memegang komitmen itu? Kita bahkan masih sangat muda ... aku hanya takut kelak kamu akan menyesal. Karena aku tidak memiliki keluarga yang utuh, aku hanyalah anak yatim piyatu." ucap Yuji merendah, karena hal itulah salah satu yang selama ini selalu menjadi bahan hinaan orang-orang untuknya.
"Aku tidak akan menyesal, Yuji! Dan aku tidak peduli hal lain dan apapun itu! Aku ... menyukaimu ..." ucap Shiina menunduk malu, karena saat ini wajahnya sudah sangat merah seperti tomat.
"Aku harus segera pulang ... terima kasih untuk hari ini ..." imbuh gadis pecinta warna hitam itu lalu meraih sling bag hitamnya dan segera meninggalkan Yuji.