
Selama beberapa saat, Yuji memunguti daun yang berguguran di halaman sekolahnya yang cukup luas itu. Namun selalu ada dedaunan yang berguguran kembali, seakan tak akan ada habisnya.
"Jika daunnya terus saja berguguran seperti ini, maka kapan hukumanku akan segera berakhir? Huft ..." dengusnya mulai duduk dan bersandar di sebuah pohon lalu menengadahkan wajahnya menatap langit cerah.
Suasana yang begitu tenang dengan semilir angin yang berhembus dengan lembut membuat dirinya merasa sangat mengantuk. Hingga akhirnya tak sadar Yuji malah tertidur begitu saja dan malah membolos di beberapa jam pelajaran.
Hingga akhirnya dia malah terbangun saat jam pelajaran terakhir hari ini sudah berakhir. Dia bergegas kembali ke kelasnya dan mendapati teman-temannya sudah bergegas untuk meninggalkan kelas.
Sementara Yuji segera mendatangi bangkunya lalu meraih ransel hitamnya dan menggendongnya hanya dengan satu bahu saja.
"Hei Yuji! Kamu pergi kemana saja? Kamu sedang menjalankan hukuman tapi malah membolos dan memanfaatkan kesempatan itu rupanya. Ckk ..." Jin yang juga sudah menggendong ranselnya mencibir Yuji.
"Aku ketiduran. Makanya aku tidak kembali beberapa saat yang lalu." jawab Yuji dengan jujur.
"Apa? Sebegitunyakah kamu menikmati hukuman memunguti daun-daun yang berguguran itu hingga kamu bisa tertidur begitu saja?" celutuk Jin kebingungan.
"Hehe ... mungkin saja karena karena aku terlalu kelelahan. Ya sudah aku harus segera pergi! Jaa matte ne! ( sampai jumpa )" ucap Yuji mulai melenggang untuk meninggalkan kelasnya.
"Eh? Kamu mau pergi kemana, Yuji? Bukankah kamu sudah berhenti bekerja di mini market itu?" Jin berusaha untuk menyusul Yuji.
"Hhm. Benar. Aku tidak bekerja disana lagi." jawab Yuji seadanya.
"Lalu bagaimana kamu bisa membayar biaya sekolah dan biaya hidupmu jika kamu tidak bekerja?" tanya Jin sangat kebingungan, karena selama ini Yuji hanya mengandalkan pekerjaan itu saja untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya dan sang adik.
"Tenang saja. Aku sudah mendapatkan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan kok!" jawab Yuji melirik Jin sekilas dengan senyum smirk-nya. "Oh ya, aku harus pergi untuk menemui tuan Hans. Jaa matte ne!"
"Ehh! Tunggu, Yuji! Tuan Hans yang mana? Kamu tidak pernah bercerita apapun padaku." Jin masih saja mengekori Yuji hingga sampai ke tempat parkiran sekolah.
"Tuan Hans pemilik dari Mars games." ucap Yuji mulai menaiki motor keren dan gagah itu lalu mengenakan helmnya.
"Hah? Apa?? Apakah maksudmu adalah tuan Hans dari Mars Games yang terkenal dan terbesar kedua setelah Y Games itu? Developer game terbesar kedua yang berasal dari kota ini?Benarkah itu, Yuji?" ucap Jin membelalakkan sepasang matanya menatap Yuji seakan masih tidak mempercayainya.
"Benar. Ya sudah aku pergi dulu. Aku akan terlambat jika tidak segera pergi menemuinya. Bye!!" setelah mengatakannya, Yuji segera melaju meninggalkan sekolahannya untuk menuju ke salah satu restoran mewah yang berada di salah satu hotel berbintang di prefektur Yokohama.
.
.
.
"Selamat sore, Tuan Hans. Maaf jika aku sedikit terlambat. Karena laju Tokyo sore ini benar-benar sangat padat." ucap Yuji saat menemui tuan Hans yang datang dengan ditemani manager Yanai.
Namun pria yang berusia sekitar 35 tahun dengan penampilan super necis itu malah terdiam di tempat duduknya dengan raut wajahnya yang sangat terlihat begitu kebingungan.
Benarkah dia adalah tuan Yuji Kamiya pemilik dari Y Games? Tapi mengapa masih terlihat sangat muda? Bahkan di balik pakaian hangatnya itu dia juga mengenakan sebuah jas almamater salah satu SMU di Tokyo. Apakah tuan Yuji tiba-tiba saja berhalangan hadir dan meminta keponakannya untuk menemuiku ya? Hhm ...
Sementara Yuji yang bisa membaca isi hati dari tuan Hans hanya tersenyum kaku.
Karena aku adalah memang seorang murid SMU. Ahaha ... dan tuan Yuji yang kamu maksud adalah aku. Yor bahkan lebih muda dariku dan malah masih duduk di bangku SMP. Lalu bagaimana mungkin aku memiliki seorang keponakan secepat itu. Ahaha ...
Batin Yuji mengulum senyum.
"Baiklah. Karena kita sudah bertemu, bagaimana jika kita langsung membahasnya saja, Tuan? Aku tau tuan Hans adalah orang yang sangat sibuk dan pastinya tak ingin membuang-buang waktu sedetikpun. Karena waktu tuan Hans pastinya sangat berharga." ucap Yuji dengan sopan.
"Tunggu dulu!" sergah Hans tiba-tiba. "Jika tuan Yuji memang masih sibuk dan belum bisa untuk menemuiku, maka tolong sampaikan saja padanya jika aku akan menunggu kesempatan selanjutnya saja." ucap Hans yang rupanya masih saja mengira jika pemuda yang ada di hadapannya saat ini adalah keponakan dari Yuji yang datang untuk mewakili Yuji.
Mendengar ucapan itu, membuat Yuji tertawa kecil. Sedangkan manager Yanai juga mulai menatap Yuji, menunggu jika sewaktu-waktu diperintahkan untuk menjelaskan semua ini.
"Tuan Hans. Sebenarnya akulah Yuji Kamiya. Dan aku memang seorang murid SMU Keio jurusan seni kelas 2. Ini adalah kartu pelajarku ..." ucap Yuji sambil memperlihatkan kartu pelajarnya yang akan memperkuat ucapannya.
Hans memperhatikan kartu pelajar milik Yuji untuk memastikan. Dan rupanya apa yang dikatakan oleh Yuji adalah benar. Namun dia kembali beralih menatap manager Yanai untuk mendengarkan penjelasan darinya juga. Manager Yanai yang tanggap, akhirnya segera menjawabnya.
"Benar. Dia adalah tuan Yuji Kamiya, Tuan Hans." ucap manager Yanai memperkuat semua itu.
"Sugoi! Jadi ternyata pemilik dari Y Games yang begitu besar dan sukses selama ini adalah seorang pelajar SMU yang masih sangat muda. Ini sungguh luar biasa sekali, Tuan Yuji! Padahal aku dulu merintis Mars Games setelah aku menyelesaikai kuliahku di Harvard University. Orang-orang selalu mengatakan jika aku sangat genius. Namun rupanya masih ada orang yang lebih genius dariku. Menakjubkan! Di usia yang masih sangat muda, namun sudah sukses dengan menciptakan sebuah deleloper game."
Puji Hans dengan takjub. Bahkan tak ada kebencian atau iri yang terlukis pada wajah berwibawanya. Padahal selama ini kedua developer game ini bisa dikatakan adalah sebuah rival yang cukup kuat di dalam pasar.
Namun Hans benar-benar tak menganggap Yuji sebagi rival-nya. Dia malah sangat mengagumi Yuji atas segala pencapaian Yuji. Sementara Yuji hanya bisa tersenyum kaku dan mengusap tengkuknya.
Dia merasa sangat aneh akan ucapan dari Hans. Karena dirinya bukanlah seorang genius berbakat. Namun dirinya mendapatkan semua itu dari sistem dan hanya dengan menjalankan misi-misi tertentu saja.
"Hehe .. tuan Hans jangan berlebihan. Karena sebenarnya aku tak sehebat itu. Tuan Hans lah yang jauh lebih menakjubkan." ucap Yuji menyangkal semua itu.
"Beginilah jika orang hebat dan berbakat, selalu merendah!" Hans menyauti dengan senyuman ramahnya, membuat Yuji semakin merasa aneh.
"Baiklah, jadi apakah tuan Yuji ingin membicarakan seauatu denganku? Mengenai apa itu?" tanya Hans setelah beberapa saat.
"Jadi begini, aku selaku pemilik dari Y Games ingin mengajak bekerja sama. Aku akan menginvestasikan sejumlah uang untuk Mars Games. Selama ini Y Games dan Mars Games juga cukup disukai oleh para pecinta game. Pasti kerjasama ini akan sangat bagus dan saling menguntungkan untuk kedua developer. Bagaimana?"
"Baik! Aku sangat setuju!" sahut Hans begitu antusias. Bahkan dia tak berpikir panjang lagi untuk menjalankan semua penawaran ini.
DING ...
[ Mission completed. Selamat, Tuan Yuji. ]
Sebuah suara notifikasi sistem yang diikuti oleh suara Zero, seketika membuat sebuah senyuman penuh binar mulai terukir pada wajah Yuji.