Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Serangan Shoto



Keesokan harinya, Yuji yang sudah datang lebih pagi dari biasanya di sekolahannya, memutuskan untuk menguji kalung ajaibnya. Dan memang benar, di sepanjang berjalan menyusuri koridor sekolahannya, semua orang benar-benar tidak bisa melihatnya.


Kalung itu sungguh membuat Yuji transparan dan tak terlihat. Fantastis! Dan Yuji merasa ini sangat luar biasa. Namun setelah berpikir panjang, diapun kembali dibuat bingung oleh sesuatu ... untuk apa kalung ajaib ini? Akankah suatu saat akan menjadi sangat berguna?


Namun tiba-tiba saja tak sengaja Yuji melihat seorang pria dewasa yang terlihat necis dan berwibawa dengan setelan jasnya memasuki sebuah ruangan kepala sekolah. Dia adalah papa dari Shoto.


Untuk beberapa saat Yuji terdiam dengan kening berkerut, seakan dia sedang terdiam memikirkan sesuatu. Setahu Yuji, papa Shoto adalah orang besar yang sangat sibuk dan sangat jarang untuk menghadiri acara apapun di sekolahan putranya.


Namun mengapa kali ini tiba-tiba saja dia menyempatkan datang ke SMU Keio? Bahkan hari ini tidak ada acara apapun di sekolahan ini. Karena merasa penasaran, akhirnya Yuji memutuskan untuk mengikutinya dan memasuki ruangam kepala sekolah.


Sayangnya tubuh Yuji saat ini hanya transparan dan tak terlihat, dia tak bisa menembus apapun. Jadi tak ada pilihan lain untuknya memasuki pintu itu dengan menunggu ada orang lain yang memasukinya terlebih dulu. Jika tidak, maka akan terlihat sangat aneh jika tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka begitu saja.


Hingga akhirnya setelah menunggu selama beberapa saat, ada seorang petugas cleaning service yang memasuki ruangan itu dengan membawa beberapa peralatan pel. Dan disaat itulah Yuji segera mengekorinya memasuki ruangan kepala sekolah.


"Saya tidak mau tau! Pokoknya anak itu harus mendapatkan hukuman! Dia sudah membuat anak saya babak belur malam itu dan mengajaknya untuk datang ke tempat tidak benar itu! Saya melapor kesini karena saya dengar dia sudah tidak memiliki kedua orang tua, jadi saya harap pihak sekolah bisa menanganinya." tandas pria paruh baya yang berpenampilan necis itu.


"Baiklah, Tuan. Kami akan segera menangani masalah ini dan akan memberikan hukuman untuk Yuji jika dia memang terbukti bersalah." jawab sang kepala Sekolah.


"Baik. Saya harap kalian bisa memberikan keadilan untuk putra saya! Permisi!" ucap papa Shoto dengan tegas dan arogan lalu meninggalkan ruangan ini.


Atas dasar apa mereka malah menuduhku mencelakai Shoto dan mengajak mereka datang ke tempat itu? Padahal jelas-jelas para brandalan itu yang menghajar Shoto karena tingkat Shoto yang bodoh saat mabuk. Dan kita juga tak sengaja bertemu disana, bukan karena aku yang mengajaknya! Aku tidak boleh berdiam diri saja! Aku harus membuktikan jika aku tidak bersalah!


Batin Yuji lalu segera meninggalkan ruangan kepala sekolah.


...🍁🍁🍁...


Kegiatan belajar mengajar hari ini berlangsung dengan lancar seperti biasanya. Namun disaat Yuji dan Jin hendak pergi bersama ke kantin sekolah dan sudah berjalan menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba saja seseorang menghampirinya.


"Yuji! Pak kepala sekolah memintamu untuk segera menghadapnya di ruangannya sekarang juga." ucap murid itu menyampaikan.


Yuji terdiam beberapa saat lalu tersenyum tipis namun sinis, "Hhm? Sudah akan dimulai ya?" gumamnya tanpa sadar.


"Nani? Apanya yang akan dimulai?" tanya Jin dengan tatapan rumit.


"Hhm? Tidak apa-apa! Aku pergi dulu!" setelah mengatakannya, Yuji segera meninggalkan Jin.


.


.


.


"Apa bapak memanggil saya?" tanya Yuji dengan nada sopan.


"Duduklah!" titah pria paruh baya itu datar namun tegas.


Yuji segera duduk di sebelah Shoto.


"Apa kamu sudah tau kesalahanmu, Yuji?" sebuah kalimat tanya yang dilontarkan oleh sang kepala sekolah itu sebenarnya lebih terdengar seperti sebuah tuduhan dan penuh dengan intimidasi.


Yuji menggeleng pelan karena dia memang merasa tak pernah membuat masalah dengan mereka.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Yuji! Kamu ini masih seorang pelajar kelas 2 SMA, namun perilakumu sudah sangat keterlaluan dan tidak mencerminkan dirimu! Bukanya berperilaku baik karena tidak memiliki kedua orang tua, namun kamu malah sebaliknya! Kamu malah mengajak mereka untuk mendatangi sebuah caffe bar yang sangat tidak pantas untuk anak seusia kalian! Kamu bahkan malah mabuk dan menghajar teman-temanmu sendiri hingga Shoto dirawat di rumah sakit! Sungguh sangat keterlaluan!!"


Ketus sang kepala sekolah terlihat begitu murka. Wajah putihnya yang sudah cukup banyak dipenuhi dengan guratan-guratan halus, kini sudah terlihat merah padam.


Yuji terlihat sangat santai bahkan tersenyum tipis setelah mendengarkan semua itu.


"Pandai sekali mereka membuat sebuah rangkaian cerita palsu ini. Aku sungguh merasa sangat kagum padamu, Shoto!" ucap Yuji beralih menatap Shoto yang sudah menatapnya penuh dengan ketidaksukaan.


"Yuji!! Jangan mengelak dan akui semua kesalahanmu! Kamu masih sangat muda! Kamu masih bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Tidak memiliki kedua orang tua bukan berarti kamu bisa hidup dengan bebas dan tanpa aturan. Biar bagaimanapun kamu masih memiliki seorang adik bukan? Setidaknya berperilakulah yang baik untuk memberikan sosok figur yang baik sebagai seorang kakak untuknya!" ucap sang kepala sekolah lagi menceramahi Yuji.


"Aku tidak akan pernah mengakui apa yang tidak pernah aku lakukan! Aku memang tidak punya orang tua lagi, namun aku sangat tau apa yang seharusnya aku lakukan! Aku jauh lebih tau lebih baik jika hanya dibandingkan dengan seorang anak manja yang bisanya hanya selalu mengandalkan kekuasaan dan kekayaan orang tuanya saja!" tandas Yuji dengan penuh penekanan dan masih menatap Shoto tajam.


"Apa kau bilang?! Dasar tak tau diri! Beraninya anak sepertimu mengatakan hal seperti itu padaku!!" ketus Shoto tersulut emosi.


BRAK ...


"Kalian berdua diam!!" tandas sang kepala sekolah hingga membuat Yuji dan Shoto terdiam.


"Yuji, kamu akan dihukum! Kamu akan mendapatkan skorsing selama satu minggu dan tidak boleh mendatangi sekolahan selama masa skorsing!" tandas sang kepala sekolah.


"Baik, Pak Kepala sekolah! Aku akan menerima hukuman itu, namun jika memang aku terbukti bersalah!" ucap Yuji tanpa ada rasa takut sediikitpun. "Namun jika aku terbukti tidak bersalah, maka mereka yang akan mendapatkan hukuman tanpa jaminan apapun! Bagaimana?" imbuhnya unyuk menegakkan keadilan untuknya.


"Cihhh!! Mau berusaha bagaimanapun kamu tetap akan mendapatkan hukuman!" ucap Shoto kembali.


"Laporan dari mereka berempat sudah menunjukkan jika kamu memang bersalah, Yuji. Dan dari rekaman CCTV yang ada di caffe bar tersebuh hanya menyisakan ini saja. Karena serangan berandalan saat itu cukup membuat banyak kerusakan."


Kali ini sang kepala sekolah mulai memutarkan sebuah video rekaman CCTV melalui laptopnya dan memperlihatkan kepada kelima murid itu.


Shoto dan ketiga temannya terlihat tersenyum tipis penuh percaya diri. Namun Yuji masih saja terlihat santai saat menyaksikan video rekaman CCTV yang sedang memperlihatkan sosok yang menyerupai dirinya dari sisi belakang mulai memasuki caffe bar itu dengan merangkul Shoto. Sementara di belakang mereka ada ketiga teman Shoto yang mengikutinya.