
"Yuji? Kaukah itu?" sapa wanita paruh baya itu masih saja menatap lekat Yuji yang masih sibuk dengan yakitorinya.
Sedangkan Yuji cukup lama menatap wanita dan pria paruh baya itu dengan senyuman yang perlahan memudar.
"Apa yang sedang kamu lakukan disini? Apa kamu bekerja di restoran ini?" tanya sang paman menyelidik.
Sebenarnya pria paruh baya itu juga merasa cukup aneh saat melihat keponakannya saat ini. Karena Yuji terlihat semakin lebih baik dari segi penampilan maupun fisiknya.
Jika Yuji yang dulu sedikit lusuh, kurus dan selalu berpenampilan super biasa, dan bahkan pakaian ataupun segala aksesoris yang dia kenakan adalah barang murahan dan setengah pakai. Namun Yuji yang saat ini terlihat di hadapannya adalah sosok pemuda tampan yang bersinar dengan tubuh yang bersih dan atletis.
Bahkan pakaian dan segala aksesorisnya juga bukanlah barang murahan. Semua itu ber-merk dan cukup menguras kantong. Sang paman dan bibi yang cukup mengenal dunia fashion dan sosialita tentunya sangat tau semua itu.
"Yuji, siapa mereka?" tanya Misa karena melihat Yuji yang hanya terdiam dengan tatapan dingin ketika menatap mereka.
"Bukan siapa-siapa, Misa. Ayo segera selesaikan makanmu, dan kita segera pergi dari tempat ini, Misa." jawab Yuji lirih dan datar dan sudah beralih menatap Misa.
"Apa?! Bocah ini sungguh sangat keterlaluan!! Tidak punya etika dan sopan santun seperti mendiang ibunya!" geram sang paman dengan wajah yang sudah memerah dipenuhi dengan amarah.
Yuji yang pada awalnya tak mau berurusan kembali dan ingin segera meninggalkan tempat ini, namun kini seketika dia berhenti dengan tangan yang mengepa.
"Jangan pernah menyinggung ibuku! Biar bagaimanapun ibuku jauh lebih baik dari istrimu yang sangat serakah itu!" geram Yuji tak bisa mengendalikan dirinya karena mereka malah menyinggung mendiang ibunya.
Dia masih sangat mengingat kejadian di masa lalu, meskipun hanya beberapa potong kenangan di masa lalu. Dimana paman dan bibinya memang tak pernah menyukai ibunya. Bahkan paman dan bibinya selalu saja memusuhi ibunya disaat itu dan selalu memperlakukannya dengan tidak baik, seakan mereka tak pernah menerima kehadirannya untuk menjadi menantu pertama keluarga besar Kamiya.
"Apa kamu bilang?! Yuji! Kamu benar-benar berani sekali mengatakan hal seperti itu pada bibi!" geram sang bibi terkejut bukan main.
Selama ini Yuji adalah pemuda yang penurut dan selalu sopan di hadapannya. Namun mengapa setelah sekian lama tidak bertemu, kini Yuji berubah sangat tak tau diri? Mungkin sang paman dan bibi berpikiran seperti itu.
"Tenanglah, Sayang. Mungkin ada baiknya jika kita tak berurusan denganya lagi. Anak tak tau diri biarkan saja! Pasti suatu saat dia yang akan mengemis-ngemis kepada kita untuk adiknya yang penyakitan itu! Orang seperti dia hanya akan menyusahkan orang lain dan tak akan pernah sukses." ucap sang paman berusaha untuk menenangkan istrinya yang sudah dipenuhi dengan amarah. Namun pria paruh baya itu mulai beralih menatap Yuji penuh dengan ketidaksukaan.
Mendengar ucapan dari sang paman, membuat Yuji mengepalkan tangannya dan tersenyum menakutkan.
Tertawalah kalian sepuasnya! Aku akan menjadi orang yang tak akan bisa kalian gapai! Kalian terlalu percaya diri, Orang tua tak berhati! Aku akan mengembalikan hinaan yang telah kalian berikan padaku berkali-kali lipat kepada kalian dengan kemampuanku! Bukan hanya untuk kedua orang tua ini!! Tapi untuk semua yang selalu meremehkanku dan Yor!!
Yuji segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang dengan ponsel berlogo strawberry itu. Dan hal ini semakin membuat paman dan bibinya merasa kesal, karena menganggap Yuji tidak sopan dan malah tak menghiraukan mereka sama sekali.
Sementara sang paman masih memegagi bahu sang istri berusaha untuk menenangkannya.
Tak menunggu terlalu lama, akhirnya panggilan itu mulai diangkat oleh seseorang di seberang line.
"Hallo. Selamat malam, Tuan Yuji." sapa seorang pria penuh wibawa dari seberang line.
"Manager Yanai, aku sedang butuh bantuanmu saat ini. Cabut dan putuskan semua kerjasama dengan K Group, tarik semua penanam saham itu dan hanya perbolehkan mereka bekerja sama dengan Yummy restaurant, Y Games atau Y Entertaiment saja! Jika ada yang menolak, masukkan ke dalam blacklist dan segera urus semuan dengan baik! Aku tidak butuh mereka yang masih terikat dengan K Goup! " titah Yuji menandaskan dengan sangat tegas.
"Baik, Tuan Yuji." sahut seorang pria yang sangat berkharisma dari seberang line telpon.
Yuji segera mengakhiri panggilan itu dan menyimpan kembali ponselnya.
Ucapan Yuji sempat memuat Misa mengerutkan kening rumit. Selama ini dia hanya mengetahui jika Yuji adalah hanya seirang pelajar SMU Keio, namun kini dia baru saja menghubungi seseorang yang bernama Yanai? Orang yang cukup berpengaruh dalam dunia bisnis kota besar ini, terlebih di bisnis kuliner.
Bahkan Yuji bisa memerintahkan hal besar sepertu itu kepada manager Yanai. Hal ini tentunya sungguh sangat mengejutkan untuk Misa.
Hal yang sama juga dirasakan oleh sang paman dan sang bibi. Namun raut keterkejutan dan kebingungan itu hanya berlangsung 3 detik saja, karena detik berikutnya sang paman dan bibi haya tertawa kecil meremehkan.
"Bocah ini sejak kapan pandai membual seperti ini? Mimpimu itu terlalu tinggi, Yuji! Mau bekerja di mini market selamanya pun tak akan membuatmu menjadi orang sukses. Kamu tetaplah miskin. Dan sebaiknya jangan pura-pura untuk mengenal tuan Yanai. Dia adalah orang yang sangat terkenal dan terhormat yang juga memegang seluruh Yummy restaurant. Aku tau kamu hanya ingin terlihat keren di depan kekasihmu. Namun sebaiknya jangan terlalu tinggi bermimpi, atau kamu akan malu dan sakit sendiri." ucap sang paman meremehkan dan sesekali melirik Misa yang masih berdiri di samping Yuji.
Yuji terdiam dan tak menjawabnya. Dia hanya memberikan tatapan dingin dengan senyuman misterius yang tertahan selama beberapa saat.
"Ckk ... hanya ingin terlihat keren dan kaya, kamu sampai melakukan kebohongan ini di hadapan nona ini. Yuji, sebaiknya kamu tidak membohongi nona ini." imbuh sang bibi seakan malah mecela dan memojokkan Yuji.
Baru saja sang bibi menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sebuah melodi mulai terdengar dan berasal dari ponsel sang paman. Setelah melihat nama si pemanggil, pria paruh baya itu sempat mengerutkan keningnya dan berguman lirih, "Tuan Shou? Penanam saham terbesar di K Group?"
Pria paruh baya itu sempat menatap sang istri dengan raut wajah rumit. Namun akhirnya dia segera menggeser tombol hijau ke samping lalu mendekatkan benda pipih itu pada telinga kanannya.
"Halo, Tuan Shou. Apa kabar ..."
"Mulai sekarang aku menarik semua sahamku dan taj akan berhubungan lagi dengan K Group!" ucapan pria dari seberang line telpon itu bagaikan halilintar di siang bolong bagi sang paman.