
Dengan kesal pria itu memperlihatkan sebuah kartu identitasnya kepada gadis penjaga mini market itu dan melemparnya hampir mengenai wajah gadis itu.
Sang gadis penjaga segera memeriksa kartu identitas itu dan mencocokkannya wajah antara foto yang terpasang di dalam kartu identitas dan wajah pria itu.
"Maaf. Tapi wajah tuan sangat berbeda dengan yang ada di dalam foto kartu identitas ini. Kartu identitas ini bukan milik tuan kan? Jadi ... tuan tidak diijinkan untuk membeli wine ini. Maaf ..." ucap wanita penjaga itu yang sebenarnya cukup ketakutan saat ini, karena pria itu terlihat sangat tidak senang saat ini.
BRAK ...
Pria sangar itu mendobrak keras meja kasir di hadapannya saking emosinya hingga membuat wanita itu terperanjat kaget.
"Ini adalah aku!! Tentu saja terlihat sangat berbeda karena mereka sedikit mengeditnya. Berani sekali gadis sepertimu menentangku! Apa kamu tidak tau siapa aku? Apa perlu aku memberikan pelajaran untukmu?! Hah??" geram pria itu masih saja dengan suara lantang dan dipenuhi amarah hingga raut wajahnya menjadi kelam.
Namun tiba-tiba saja dia mulai tersenyum misterius dan mulai menatap sang gadis penjaga dari ujung kaki hingga ujung kepala, seakan sedang ada sebuah niat jahat yang sedang dipikirkan olehnya saat ini.
"Jika lebih diperhatikan, ternyata kamu cantik juga dan memiliki tubuh yang cukup bagus. Dadamu juga cukup besar, pasti indah sekali. Bolehkah aku melihatnya, manis? Atau paling tidak bolehkah aku merabanya ..." ucapnya menyerungai.
Dan dengan sangat lancang dan kurang ajar, pria itu mengangkat tangannya dan berniat untuk meraih salah satu gundukan itu.
PLAKK ...
Belum sempat hal itu terjadi, gadis itu sudah melayangkan stampel lima jarinya dengan cukup keras mengenai pipi pria itu.
Pria itu cukup terkejut sekaligus marah. Sangat terlihat karena saat ini wajahnya sudah sangay merah padam seperti kepiting rebus.
"Jangan berani kurang ajar padaku!" tandas wanita itu memberanikan diri. "Aku akan menghubungi keamanan untuk menyeret kalian!!" imbuhnya berniat untuk menghubungi seseorang menggunakan telpon mini market.
Namun belum sempat sang gadis itu melakukannya, tiba-tiba saja tangannya sudah ditarik oleh sang pria. Bahkan dia malah menyeretnya untuk meninggalkan mini market ini.
"Lepaskan!! Kalian mau membawaku kemana?!!" ucap sang gadis berusaha untuk menahan tubuhnya agar tidak semakin terseret oleh sang pria, namun percuma saja karena kekuatan cowok itu tentunya berkali-kali lebih besar dari dirinya.
"Aku akan membawamu untuk bersenang-senang, Manis! Gyahaha ..." pria itu menyauti dengan tawa menggelegar dan masih saja menarik sang gadis.
GREPP ...
Tepat saat berada di dekat pintu keluar, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menahan tangan pria sangar yang sedang menarik gadis itu. Hal itu membuat langkahnya terhenti.
"Lepaskan dia!" tandas Yuji menegaskan dan menatap tajam pria itu.
"Ka-kau ... pria pelanggan pembalut wanita yang tadi ..." gumam gadis penjaga itu sambil menuding Yuji.
Haishh ... apakah tidak adakah panggilan yang lebih baik lagi dari itu? Sial sekali aku hari ini! Tak aku sangka aku masih harus tetap berurusan dengan berandalan menyebalkan ini. Mau bagaimana lagi. Lagipula aku juga harus menyelesaikan misi kali ini bukan? Huft ...
Batin Yuji menatap malas bos berandalan itu.
Bos preman itu kini mulai beralih menatap Yuji dan memperlihatkan kegeraman.
Sementara si bos preman mulai tertawa menggelegar karena mendengar ucapan dari sang gadis.
"Kau pemuda bodoh mengapa mau diperdaya oleh kekasihmu, hingga kau rela menurunkan harga dirimu sebagai seorang pria hanya dengan membeli pembalut wanita. Ckk ... benar-benar bodoh!" ucap bos preman itu mencibir.
"Bukan urusanmu!! Sekarang lepaskan dia!!" tandas Yuji kembali menegaskan.
"Kau mau menjadi pahlawan dan berani menantangku?? Hah??!!"
Mendengar ucapan Yuji membuat si bos preman itu melengos dan mendengus meremehkan Yuji.
"Lalu ... bagaimana jika aku yang menang? Apa yang akan aku dapatkan?" ucap sang bos menaikkan salah satu alis tebalnya.
"Aku akan memberikan wine mahal dan berkualitas untuk persediaanmu selama 1 tahun." ucap Yuji masih menatap tajam pria di hadapannya itu.
"Okay! Aku setuju!" sahut sang bos dan segera melepaskan tangan sang gadis penjaga.
Dia bahkan tak berpikir panjang dan sangat meremehkan Yuji. Dia merasa sangat yakin, jika dia akan mengalahkan Yuji dengan sangat mudah.
Yuji dan ketiga berandalan itu akhirnya meninggalkan minimarket dan segera mendatangi sebuah gang kecil dan sempit yang berada tak jauh dari mini market itu.
Yuji dan sang bos sudah mulai bersiap-siap, mereka berdiri saling berhadapan dan saling menatap tajam.
Ckk ... aku akan segera mengalahkanmu, Pengganngu! Kamu akan menyesal karena sudah berani menantangku! Aku akan menggunakan teknik tendangan mautku yang kuat untuk mengakhiri semua ini. Kekuatan yang selalu aku bangakan selama ini. Kau akan cedera!!
Batin sang bos mulai memasang kuda-kuda. Dan sebenarnya dia hanya sedang mengecoh Yuji saja. Karena serangan yang akan dia gunakan saat ini adalah tendangan.
Yuji tersenyum miring karena bisa membaca pikiran dari pria itu.
Jadi dia mau mengecohku ya? Hhm. Baiklah. Aku akan segera menyelesaikan semua ini dengan cepat. Akan aku buat kau kehilangan tendangan supermu untuk selamanya, lagipula selama ini kau selalu menggunakannya untuk hal tidak benar. Kau pantas untuk dihukum!
Batin Yuji menyeringai, namun tubuhnya masih berdiri tegap dan tak bersiap untuk melakukan kuda-kuda seperti lawannya.
"Ayoo ... majulah! Aku tak punya banyak waktu lagi dan harus segera pulang." ucap Yuji memandang remeh pria itu.
"Kurang ajar! Baiklah!! Aku akan kabulkan keinginanmu dengan cepat!! Hiaatthh ..." sang bos terprovokasi dan mulai melayangkan salah satu tinjunya ke arah Yuji.
Sementara Yuji masih saja berdiri dengan tegap di tempatnya. Dia sudah tau siasat dari pria itu. Jadi Yuji bukan fokus pada serangan tinju itu, melainkan pada kaki kanan sang pria yang akan dia gunakan untuk menyerang Yuji. Yuji sama sekali tak berusaha untuk menghindari tinju itu.
Dan benar saja, disaat yang sangat cepat tinju itu berhenti. Sementara kaki kanan sang bos mulai terangkat dan bersiap untuk melakukan sebuah tendangan putar. Namun sayang sekali, Yuji dengan cepat segera menangkap kaki panjang itu lalu segera memplintirnya hingga terdengar sebuah bunyi retakan.
KRAAKK ...
Bersamaan dengan terdengarnya suara retakan itu, sang pria memekik kesakitan, "Aarrghhh ... kakiku!!!"
"Bagaimana? Apa masih mau dilanjutkan? Baru segitu saja kamu sudah kesakitan seperti ini. Ckk ... padahal kamu yang menyerangku! Sungguh mulut besar!" cibir Yuji lalu melepaskan kaki sang pria hingga pria itu terjatuh di atas lantai.
"Jangan mimpi aku mau menyerah! Ini hanya kebetulan saja! Ayo lanjutkan!! Aku belum kalah!" tandasnya kekeh.
"Baiklah-baiklah. Selanjutnya aku akan mematahkan kaki kirimu deh. Siapkan saja kursi roda untuk menjalani hari-harimu." ucap Yuji dengan santai dan mulai memijak kaki kiri pria itu.
"Eehh ... ja-jangan! Ba-baiklah! Aku mengaku kalah!! Dan aku tak akan membuah kericuhan lagi di sekitar sini ..."
Mendengar pengakuan itu, membuat Yuji mulai mengukir sebuah senyuman penuh kepuasan. Senyumnya semakin mengembang disaat Yuji juga mendengarkan suara dari Zero.
[ Mission completed, Tuan. Selamat ...]
Yuji segera meraih ranselnya kembali dan berbalik meninggalkan tempat ini.