Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Bertemu Misa



"Yuji! Yuji!!" Jin masih saja berusaha untuk berlari kecil mengejar Yuji, hingga akhirnya setelah terkejar, Jin segera merangkul Yuji sambil mengatakan sesuatu.


"Ternyata kamu sudah memiliki seorang kekasih ya? Mengapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku, Yuji? Siapa dia? Apakah gadis yang sudah bertunangan itu?" tanya Jin sangat ingin tau dan mencoba menebak-nebak.


Mendengar ucapan dari Jin, Yuji hanya meringis dan sedikit meliriknya.


"Melihat ekspresimu yang seperti ini, sepertinya kamu sudah membuat cerita palsu ya. Apakah itu benar, Yuji?" tanya Jin mencurigai Yuji.


"Hehe ... saat ini aku memang sedang tidak memiliki kekasih sih. Tapi aku pasti akan mengajak seorang gadis saat Festival Budaya nanti." ucap Yuji meringis.


"Siapa yang mau kamu ajak?"


"Entahlah, aku tidak tau." jawab Yuji dengan santai dan tak mau memusingkannya.


"Gila kau, Yuji! Festival Budaya tinggal 3 hari lagi. Tapi kamu masih saja santai seperti ini. Kamu pikir gampang apa mencari kekasih?!" celutuk Jin frustasi sendiri.


"Kamu tidak sedang berpikir untuk mendekati tetanggamu yang cantik itu bukan? Ingat, Yuji! Dia bahkan sudah memiliki seorang tunangan yang sangat galak dan overprotective. Matanya sangat tajam dan tubuhnya sangat kekar dan atletis. Dan pastinya dia memiliki anak buah yang seram dan banyak seperti yang ada di film-film. Hii ... Menyeramkan!!" kicau Jin ketakutan sendiri membayangkan semua itu.


"Lagipula mereka hanya sebatas tunangan saja bukan? Belum tentu mereka akan menikah." ucap Yuji dengan asal dan segera melangkahkan kakinya lebih cepat.


"Ehh!! Hei!! Tunggu, Yuji! Sebaiknya jangan kau teruskan atau mereka akan mencelakaimu! Yuji! Tunggu!!"


Jin berusaha untuk mengejar Yuji kemballi. Namun Yuji juga semakin mempercepat langkah kakinya.


...🍁🍁🍁...


Hari demi hari berlalu, namun Yuji masih belum menemukan gadis yang akan diajaknya untuk Festival Budaya yang akan digelar di sekolahannya besok. Bahkan sepertinya Yuji malah melupakan hal itu begitu saja.


Sore ini dia memutuskan untuk mengajak Yor pergi ke tempat pusat perbelanjaan untuk membeli tas serta sepatu baru untuk dirinya maupun untuk Yor. Karena tas sekolah serta sepatu mereka sudah sedikit rusak. Dan sebenarnya terakhir mereka membelinya adalah 2 tahun yang lalu dari gaji bulanan Yuji sebagai seorang penjaga sekaligus kasir minimarket.


[ Misi akan segera dimulai, Tuan. Temukan seorang gadis dan ajaklah bersama gadis itu untuk menghadiri Festival Budaya di sekolahan tuan esok hari. ]


Tiba-tiba saja suara Zero sang pemandu sistem mulai terdengar oleh Yuji ketika Yuji sedang memilih sepatu baru di sebuah toko di pusat perbelanjaan.


Ckk ... aku hampir saja lupa! Untung saja kamu mengingatkanku, Zero. Tapi ngomong-omong ... siapa yang harus aku ajak? Bahkan aku juga harus memintanya untuk berpura-pura untuk menjadi kekasihku. Gadis cantik, cerdas, sexy, ramah, baik hati dan tidak sombong serta menyukaiku apa adanya? Haha ... aku benar-benar seorang pembual! Hanya karena tidak ingin terlihat payah di hadapan Ai, aku malah merangkai cerita palsu seperti itu. Ughh ... apakah ada gadis yang seperti itu ya ...


Batin Yuji malah termenung menatap sepasang sepatu sport berwarna putih kombinasi hitam yang sedang dia coba saat ini.


"Sangat bagus dan cocok untukmu, Yuji." ucap seorang gadis yang sudah berdiri di hadapan Yuji.


"Hhm. Baiklah. Aku akan mengambil ini saja kalau begitu." jawab Yuji santai dan segera melepasnya kembali untuk dibawa ke kasir.


Namun setelah beberapa detik Yuji yang masih menunduk terdiam berpikir karena merasa ada yang sedikit aneh.


Tunggu dulu! Darimana petugas toko mengetahui namaku?


Terlihat seorang gadis muda yang cantik dan anggun sudah berdiri di hadapannya. Senyuman khasnya yang lembut juga menghiasi wajah ayunya yang sangat tak asing untuk Yuji.


Gadis yang selalu berpenampilan anggun dan dewasa itu kali ini dia mengenakan dress remple pendek berwarna lembut dan kalem lengan panjang. Kaki jenjangnya yang indah terlihat begitu saja dan begitu sempurna.



Yuji sempat membeku beberapa saat menatap gadis yang tak lain adalah Misa itu. Entah karena dia merasa terpana atau ada sesuatu hal lainnya lagi yang sedang dipikirkan olehnya.


Cantik, cerdas, sexy, ramah, anggun, baik hati dan tidak sombong. Tepat sekali! Semua itu dimiliki oleh Misa!


Batin Yuji penuh binar menatap Misa.


Tapi apakah Misa akan bersedia untuk datang menghadiri Festival Budaya itu bersamaku? Dia pasti akan sangat sibuk. Ditambah lagi ... dia hanya menganggapku seorang anak SMU yang jauh lebih muda darinya. Mana mau dia datang bersama berondong sepertiku. Huftt ... dia pasti menginginkan pemuda matang yang tentunya jauh lebih dewasa dan sudah meniti karir sukses. Eh ... apa yang sedang aku pikirkan? Bukankah aku hanya mengajaknya untuk sedikit berpura-pura saja menjadi kekasihku? Tapi ... katakan tidak ya? Katakan ... tidak ... katakan ... tidak ... ughh ... tapi aku tak punya banyak waktu untuk mencari kandidat yang sempurna seperti dia.


Batin Yuji kembali semakin bingung akan pemikirannya sendiri yang saling bergejolak.


"Yuji? Mengapa kamu malah terdiam? Apakamu sedang datang untuk memneli sepatu?" tanya Misa membuyarkan angan Yuji.


"Ehh ... oh ... i-iya ... bagaimana denganmu, Misa?"


"Kebetulan aku hanya datang untuk melihat sepatu juga. Tapi aku malah melihatmu disini. Jadi aku menghampirimu." sajut Misa dengan wajah ayunya yang berbinar.


"Apa kamu sudah menemukan sepatu yang tepat, Yuji? Kalau menurutku sepatu yang sedang kamu kenakan itu adalah pilihan yang bagus dan sangat cocok denganmu. Dengan desain menggunakan warna dasar hitam dan putih, dilengkapi dengan aksen berwarna emas dan merah yang begitu menonjol, sepatu ini akan mampu membuat pemakainya terlihat sporty dan juga elegan."


Ucap Misa memberikan penilaian terhadap sepatu itu.


"Benarkah itu, Misa? Jika memang seperti itu, maka aku akan membelinya. Aku juga menyukainya, karena bahannya terlihat sangat kuat. Pasti juga awet. Hehe ..." jawab Yuji lalu bergegas untuk ke kasir.


Mereka berdua menuju ke kasir karena kebetulan Misa juga sudah selesai berbelanja. Sementara Yor masih yang mengatakan akan pergi ke kamar mandi juga belum kembali lagi.


"Harganya 996 ribu yen ( kira-kira 110 juta ), Tuan. Mau pembayaran cash atau debit, Tuan?" tanya petugas kasir wanita itu dengan ramah.


"Apa?! Apa nona tidak salah? Bolehkah nona memeriksa kembali harga sepatu itu?" ucap Yuji sangat syok setelah mendengar harga dari sepatu sport tersebut.


"Maaf, Tuan. Tapi harga itu sudah benar. Dan ini adalah produk asli dan limited edition dari sepatu Nicko keluaran terbaru. Tuan sangat beruntung karena masih bisa mendapatkannya. Karena seri terbaru itu hanya tersisa itu saja." ucap sang kasir dengan ramah.


Karena tak mungkin membatalkannya lagi, akhirnya Yuji mengeluarkan kartu ATM nya untuk pembayaran debit. Akan sangat malu jika tiba-tiba saja dia membatalkannya untuk pembelian itu, terlebih ada Misa di sebelahnya.


Sudahlah, lagipula uangku juga masih banyak. Hanya untuk membeli sebuah sepatu berkelas saja tak akan langsung habis bukan?


Batin Yuji.


Setelah melakukan pembayaran, tiba-tiba saja seorang gadis muda mulai menghampiri mereka berdua dengan wajah cerianya.