
"Halo, Tuan Shou. Apa kabar ..." sapa paman Yuji saat mengangkat panggilan itu.
"Mulai sekarang aku akan menarik semua sahamku dan tak akan berhubungan lagi dengan K Group!" ucapan seorang pria dari seberang line telpon itu bagaikan sebuah halilintar di siang bolong bagi sang paman.
Pria paruh baya itu terdiam selama beberapa saat dan kembali mendapatkan kesadarannya setelah beberapa detik. Namun pria paruh baya itu malah terkekeh karena menganggap ini hanyalah sebuah lelucon saja.
"Ahaha ... tuan Shou, masih bisa bercanda seperti dulu. Ini adalah salah satu sifat humoris dari tuan Shou yang masih sangat melekat dan tidak pernah hilang dari diri tuan." ucap paman Yuji masih dengan kekehannya.
"Aku tidak sedang bercanda, Tuan! Setiap ucapanku adalah serius dan bukan sebuah lelucon! Jadi persiapkan saja semua dengan baik!" tandas pria di seberang line yang bernama Shou itu.
Mendengar ucapan itu, seketika membuat tawa paman Yuji mereda dan wajahnya seketika berubah menjadi kusut.
"Tu-tuan Shou, tunggu sebentar... sebenarnya apa yang sudah terjadi, Tuan? Kita bisa membicarakannya baik-baik,Tuan. Kita juga sudah cukup lama saling mengenal dan bekerja sama. Mengapa kita harus mengakhiri kerjasama kita seperti ini? Tolong pikirkan kembali, Tuan ..." ucap paman Yuji penuh harap.
"Ya! Kita sudah cukup lama saling mengenal dan bekerja sama. Tapi baru kali ini aku menyadari sesuatu jika bekerjasama bersama orang seperti tuan adalah sia-sia. Selama ini aku masih sangat menjaga dan mempertahankan hubungan kerjasama ini karena mengingat jasa dari mendiang dari tuan besar Kamiya. Namun rupanya K Group yang saat ini berdiri, bukanlah K Group yang dulu lagi."
Setelah mengatakan hal itu, pria dari seberang line segera mengakhiri panggilan itu.
"Tidak! Tuan Shou! Tuan, tunggu dulu!" paman Yuji berusaha untuk memohon kepada Shou, tapi sia-sia saja. Karena panggilan mereka sudah tidak terhubung.
Belum lama panggilan itu berakhir, ponsel paman Yuji kembali berdering. Dan dia kembali mengangkatnya dengan wajah yang masih sangat kusut.
"Hallo, Tuan Kazama ..." sapa paman Yuji masih sangat tak bertenaga.
"Aku ingin membatalkan kerjasama dan tender kita, Tuan! Perusahaan besar kami tak ingin berhubungan dan terikat dengan K Group!" ucap ucap seorang pria dari seberang line telpon.
"Ti-tidak. Tolong jangan lakukan semua itu, Tuan Kazama. Tolong pikirkan lagi soal kerjasama dan tender besar ini." ucap paman Yuji masih memohon-mohon. Sementara istrinya hanya bisa memegangi salah satu tangannya dengan raut penuh dengan kecemasan.
"Maaf sekali. Tapi kami sungguh tidak mau mengambil resiko karena harus terus mempertahankan hubungan kerjasama dengan K Group. Sampai jumpa!" ucap pria bernama Kazama lalu mengakhiri panggilan itu.
Paman Yuji terlihat begitu frustasi. Wajah dan sikap arogannya beberapa saat yang lalu seketika memudar dan lenyap begitu saja dan kini bergantikan dengan raut wajah menyedihkan. Seakan dia sudah kehilangan hal besar yang sangat berarti di dalam hidupnya. Pikirannya menjadi kalang kabut dan sangat berantakan saat ini.
"Sayang? Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tuan Shou dan tuan Kazama tiba-tiba saja melakukan hal besar seperti ini? Lalu bagaimana dengan K Group milik kita?" tanya bibi Yuji juga mulai kalang kabut.
Pria paruh baya itu menggeleng lemah masih dengan raut wajah yang kusut dan kacau. Dia mengusap rambutnya yang selalu disisir rapi itu frustasi.
Sementara Yuji terlihat mulai menarik sudut-sudut bibirnya hingga membentuk sebuah seringai manis bak setan.
"Bagaimana? Apakah kalian masih bisa membanggakan aset kakek yang bahkan seharusnya diwariskan padaku sebagai cucu pertama pria keluarga Kazami?" Yuji melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada menahan tawa, membuat pasangan paruh baya di hadapannya semakin terlihat kesal dan dipenuhi amarah.
"Yuji ... to-tolong tarik kembali ucapanmu. Ka-kamu tau kan, kakek kamu sangat menyayangi dan menjunjung tinggi K Group. Kakekmu sudah sangat berjuang keras dan berat selama ini untuk K Group. Dia sudah cukup banyak berkorban untuk perusahaan keluarga kita. Tolong jangan sampai membiarkan K Group hancur begitu saja. Kakekmu pasti akan sedih jika melihat perusahaannya yang selama ini selalu dijaganya tiba-tiba ambruk dan bangkrut. Tolong jangan sampai membiarkan semua itu terjadi, Yuji. Bibi mohon padamu, Yuji." ucap sang bibi membujuk Yuji dan berharap Yuji akan merubah keputusannya.
"Kita adalah keluarga, Yuji. Tolong pikirkan semua itu kembali dentan baik." imbuh sang bibi.
"Ckk ... kita adalah keluarga? Lalu selama 8 tahun ini kemana saja kalian? Kalian bahkan sangat tega mengusirku dan Yor dari rumah kakek setelah ibu dan ayah meninggal. Dimana perasaan kalian? Bagaimana mungkin kalian membiarkan anak kecil hidup mandiri di luar sana menghadapi kerasnya dunia ini? Bahkan kalian tega dan membiakan Yor ..." Yuji menggantung ucapannya dan mengepalkan tangannya karena mengingat detik-detik saat dia kehilangan Yor saat itu.
"Ckkk ... sudahlah! Aku sudah muak dengan semua ini. Dan karena kita adalah keluarga, maka aku hanya melakukan sedikit hal untuk kalian! Karena jika tidak, aku bisa melakukan dengan lebih buruk lagi! Ayo, Misa! Sebaiknya kita pergi dari sini!!" ucap Yuji lagi dan mulai melenggang meninggalkan tempat itu.
Berulang kali sang bibi dan pamannya berusaha untuk memanggil Yuji, namun Yuji sama sekali tak menghiraukannya. Yuji terus berlalu meninggalkan restoran itu bersama dengan Misa.
.
.
.
"Yuji, apakah itu artinya kamu sudah hidup mandiri semenjak berusia 10 tahun? Dan apakah itu artinya kamu juga yang menghidupi adikmu seorang diri?" tanya Misa saat mereka sudah sampai di depan rumah Misa.
Mendengar pertanyaan dari Misa, Yuji tersenyum samar dan mulai menjawab.
"Bisa dikatakan seperti itu. Tapi ada baiknya juga sih. Karena perlakuan buruk mereka, aku bisa belajar mandiri sejak kecil. Dan akhirnya aku bisa keluar dari kediaman yang selalu membuatku merasa muak dan murka. Meskipun sebenarnya ada beberapa yang sesekali aku rindukan ..." jawab Yuji seadanya.
"Ya sudah aku pulang dulu. Ini sudah sangat larut. Kamu juga segeralah masuk. Udara malam semakin dingin." ucap Yuji kembali memakai helmnya.
"Hhm. Hati-hati. Dan terima kasih karena hari ini kamu sudah menolongku. Mika juga sangat berterima kasih padamu. Dia akan mentraktir kita kapan-kapan." ucap Misa masih menghiasi wajahnya dengan senyum ramah.
"Baiklah. Aku harap aku bisa ..."
"Uhm ... Yuji ..." ucap Misa kembali menahan Yuji.
"Mengapa kamu bisa memberikan perintah untuk tuan Yanai?" tanya Misa sangat ragu-ragu dan berhati-hati.
"Hhm? Dia adalah salah satu dari orang kepercayaanku. Dia anak buahku ..." jawab Yuji dengan santai dan jujur.
Mendengar hal itu, tentu saja Misa melongo begitu saja. Dia terkejut bukan main. Yuji yang masih berstatus sebagai seorang pelajar SMU memiliki anak buah seseorang yang memiliki nama yang sudah cukup besar dan terkenal di dunia bisnis? Bahkan orang itu bukanlah sembarang orang. Melainkan orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis!