Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Korek Api Pengabul Harapan



Yuji mengambil sebuah kartu berwarna hitam dengan tepiannya yang bersinar terang dari segerumul cahaya putih di hadapannya. Dia mulai membacanya untuk melihat hadiahnya kali ini.


...♧♧♧...


...Beberapa penambahan poin sistem. Sebuah batang korek api ajaib yang akan membuat impian menjadi nyata....


...♧♧♧...


Membaca tulisan yang ada di dalam kartu itu, membuat Yuji menatapnya rumit. Namun belum sempat dia berpikir lebih jauh lagi, tiba-tiba dari segerumul cahaya putih di hadapannya terlihat sebuah kotak kecil.


Yuji meraihnya dan memeriksanya. Dan rupanya itu adalah sebuah korek api dengan batang yang berukuran lebih besar dari korek api pada umumnya.


Belum sempat berkomentar apa-apa, sebuah layar hologram kebiruan juga sudah mulai terlihat di hadapan Yuji. Secara naluri Yuji segera memeriksanya untuk memastikan beberapa hadiah lain yang dia dapatkan.


《《《《《《 Billionare System 》》》》》》


Nama : Yuji Kamiya


Usia : 17 Tahun


Ras : Manusia


Ketampanan : 80


Kepintaran : 83


Ketangkasan : 66


Kecepatan : 67


Kekuatan : 85


Ketahanan : 80


Kharisma : 75


Kemampuan Spesial :


• Membaca pikiran orang


• Teknik bela diri judo ( pro )


Poin sistem : 60


Poin kemampuan : 60


Hadiah Misi 9 : Beberapa dana, beberapa penambahan poin, 1 korek api pengabul mimpi


Dana : 4.306.000 yen ( kira-kira 500 juta rupiah )


Aset dan Investasi :


• Perusahaan Game ( Y Games )


• Perusahaan Kuliner Dan Restoran ( Yummy Restaurant ), dengan cabang 550.


Misi : 10 ( belum dibuka )


Sistem pemandu : Zero


《《《《《《 Billionare System 》》》》》》


Yuji tak banyak berkomentar setelah membaca status terbarunya. Dia hanya menimang-nimang saja korek api ajaib itu.


"Korek api pengabul harapan?" gumamnya lirih dam mengerutkan keningnya. "Bagaimana cara menggunakannya, Zero?"


[ Bayangkan harapan tuan sambil menyalakan korek api ajaib ini. Maka harapan tuan akan segera menjadi kenyataan. ]


Jawab Zero datar.


"Apapun itu? Apakah harapan apapun akan bisa terkabul?"


[ Tentu saja, Tuan. ]


Yuji mulai menyalakan korek api pengabul mimpi itu dengan hati. Menggesekkan ujung korek itu pada pinggiran kotak pembungkusnya yang berwarna hitam. Sebuah api berwarna kebiruan mulai terlihat dan perlahan memakan kayu itu.


"Saat ini yang aku inginkan hanyalah agar Yor bisa bahagia dan benar-benar pulih sepenuhnya dari penyakitnya. Hanya itu saja ..." gumam Yuji seakan bisa melihat senyuman manis sang adik di dalam api kebiruan itu.


Nyala api masih saja terlihat tenang dan semakin lama habis memakan kayu pemegangnya hingga akhirnya setelah beberapa saat api kebiruan itu mulai mati diakhiri dengan kepulan asap kecil


Tak banyak berkata-kata setelahnya. Yuji merebahkan tubuhnya di atas pembaringannya dam menatap langit-langit datar.


"Semoga saja setelah ini Yor benar-benar pulih sepenuhnya." gumamnya lirih sembari memejamkan sepasang matanya hingga akhirnya dia mulai tertidur.


...🍁🍁🍁...


Keesokan harinya ...


Kegiatan belajar mengajar hari ini berlangsung seperti biasanya. Namun disaat jam pelajaran terakhir berakhir, seorang siswa berteriak memanggil Yuji dari arah pintu.


"Yuji! Ada yang sedang mencarimu!"


"Siapa?" tanya Yuji sembari memasukkan buku terakhirnya ke dalam ranselnya.


Namun belum sempat siswa itu menjawabnya, seorang gadis berwajah manis dengan penampilannya yang begitu trendi memasuki kelas Yuji. Spontan semua murid menatapnya dengan tatapan rumit namun juga penasaran.


Ai seketika juga menatap ke arah gadis itu dengan tatapan penuh permusuhan. Padahal selama ini mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Dan hanya pernah bertemu sekali saja di sebuah acara.


Cihh!! Dasar wanita tak tau malu, bisa-bisanya hanya sekali berdansa dengannya saja, kini sudah mencari dan mengejar-ngejar Yuji? Bahkan dia sudah memiliki seorang tunangan! Dasar rendahan!


"Cantik sekali! Siapa sebenarnya dia? Bangaimana Yuji bisa mengenalnya?" bisik murid lainnya.


"Paling-paling dia hanya datang menagih hutang. Ckkk ..." timpal siswa lainnya


"Haha ... kau benar! Ada hal apa lagi saat berurusan dengannya selain soal hutang bukan?"


Cibir Ai di dalam hati dan masih menatap gadis berpenampilan stylish dan fashionable itu dengan tatapan penuh kebencian.


Sementara Jin yang duduk tepat di samping Yuji juga mulai dipenuhi dengan rasa ingin tau.


"Siapa gadis cantik dan manis itu, Yuji?" tanya Jin sangat ingin tau, namun wajah gadis itu cukup familiar, seakan Jin memang pernah bertemu dengannya sebelumnya. Namun dia tak bisa mengingatnya dengan baik.


"Tunggu! Tunggu! Sepertinya aku pernah melihatnya! Bukankah dia adalah gadis yang saat itu berdansa denganmu saat di pesta ulang tahun Ara?" imbuh Jin mulai mengingatnya.


Yuji tak menghiraukan semua itu, dia lebih fokus menatap gadis cantik itu dengan perasaan bingung. Hingga kini sang gadis sudah berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang penuh binar.


"Shiina? Kamu ... mengapa ada disini?" tanya Yuji tak mengerti.


"Tentu saja untuk mencarimu, Yuji!" sahut Shiina masih dengan wajah berbinar.


"Mencariku?" Yuji menuding dirinya sendiri dan seketika merasa aneh karena kini dirinya sudah sepenuhnya menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya. "Tapi ada apa?"


Shiina tak segera menjawabnya, dia mencari sesuatu di dalam sling bag kesayangannya lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Yaitu sebuah dompet kecil berwarna hitam.


"Kamu menjatuhkannya saat makan malam kemarin di rumahku! Tadi pagi saat aku datang ke rumahmu, tapi kamu sudah tidak ada. Dan sepertinya kamu sudah berangkat ke sekolah. Dan kebetulan tadi aku lewat di depan sekolahmu, jadi aku memutuskan untuk sekalian mampir kesini deh! Khawatir kamu akan kecarian karena kehilangan dompetmu. Ini ..." jelas Shiina dengan manis sambil mengulurkan dompet itu untuk Yuji.


"Aku kira sudah hilang. Terima kasih, Shiina. Padahal kamu tak perlu repot-repot untuk mengantarkannya." Yuji menerima dompet itu dan segera menyimpannya kembali.


Dia merasa sangat beruntung karena tak perlu lagi repot untuk mengurus surat kehilangan ataupun pergi ke bank untuk mengurus kartu ATM miliknya yang hilang.


"Apa kamu masih ada kelas?"


"Tidak kok. Aku sudah selesai. Bagaimana denganmu?" ucap Yuji balik bertanya.


"Aku juga baru saja pulang dari sekolah kok. Yuji, kamu harus mentraktirku makan karena aku sudah bersusah payah datang mengembalikan dompet ini padamu!" ucap Shiina terkesan memaksa.


"Ehh? Mentraktirmu?" gumam Yuji dengan wajah polosnya.


"Tentu saja! Ayo!!" tanpa mendengarkan persetujuan dari Yuji, Shiina langsung menarik tangan Yuji dan menggiringnya meninggalkan kelasnya.


Tentu saja hal ini semakin membuat seisi kelas melongo. Yuji si pemuda biasa dan miskin kini sudah bisa membuat para gadis menyukainya dan mengejar-ngejarnya.


"Ai, sepertinya inilah alasan mengapa tiba-tiba Yuji memutuskanmu ..." celutuk seorang gadia.


Ai yang mendengarkan seketika meremas kertas yang ada di hadapannya dan menjadi sekepal sampah.