Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Rencana Misa



CKITTT ...


Ducati Panigale V5 Super Alyen merah kombinasi hitam itu benar-benar telah sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu 15 menit saja.


Misa masih masih saja memejamkan matanya sambil memeluk erat Yuji. Karena beberapa saat yang lalu, Yuji benar-benar mengemudikannya dengan cukup kencang, hingga membuat Misa hanya memejamkan sepasang matanya karena takut.


"Mau sampai kapan kamu akan memelukku seperti itu, Misa. Kita sudah sampai loh ... dan lihatlah, teman-temanmu sedang melihat kita." ucap Yuji dengan nada jenaka dan seolah sedang menahan tawanya.


Misa segera membuka sepasang matanya dan melihat sekitarnya. Dan benar saja, ada beberapa gadis dengan balutan pakaian formal seperti dirinya sedang menatap lekat mereka berdua dengan senyum yang tertahan.


Reflek saja, sepasang mata Misa membulat sempurna dan Misa segera melepas pelukannya. Dia segera turun dari Ducati Panigale V5 Super Alyen yang gagah itu dan melepas helmnya.


"Aku tidak tau jika kamu adalah seorang pembalap, Yuji. Huft ..." sungut Misa menyindir Yuji karena caranya mengemudikan motornya.


Yuji yang mensengarnya tertawa kecil sambil melepaskan helmnya.


"Aku hanya tak ingin kamu dan temanmu mendapatkan masalah yang lebih lama lagi kok. Ayo, masuk! Bukankah kita harus segera bergegas? Kita tidak boleh membuang-buang waktu bukan?" jawab Yuji dengan santai.


Seketika Misa mulai mengingat tujuan utamanya mengunjungi salah satu agensi ini. Dan dia segera bergegas untuk mengajak Yuji untuk memasuki gedung megah itu.


Beberapa kali terlihat beberapa orang yang menyapa Misa. Misa juga kembali menyapanya ramah, namun langsung melanjutkan kembali untuk segera menuju ke salah satu ruangan yang berada di lantai 7.


"Misa, kamu cukup terkenal ya disini. Padahal ini adalah agensi yang cukup besar. Keren!" ucap Yuji saat melihat beberapa orang itu menyapa Misa.


"Hhm? Tidak juga kok. Hanya sedikit mengenal saja kok. Karena terkadang aku yang merias mereka." sahut Misa seadanya.


"Oh iya apakah benar-benar tidak masalah jika aku ikut bersama denganmu nih?" tanya Yuji disaat mereka melenggang bersama menyusuri sebuah koridor yang di sisi-sisinya dipenuhi dengan ruang latihan maupun ruang lainnya.


"Tidak kok. Asalkan kamu tidak menggunakan ponselmu sembarangan untuk memotret mereka."


"Hhm. Begitu ya. Okay deh."


Tapi ngomong-ngomong masalah apa lagi yang akan dihadapi Misa ya? Apakah misi kali ini hanya untuk menemani Misa disini saja? Katakan sesuatu padaku, Zero!


Batin Yuji bertanya kepada Zero.


Namun belum sempat Zero menjawab pertanyaan Yuji, Misa sudah menarik tangan Yuji untuk memasuki sebuah ruangan.


Di dalam ruangan itu dipenuhi dengan cermin yang mengitari ruangan, ada juga beberapa alat make up yang tentunya sudah sangat lengkap yang sudah disiapkan. Beberapa model dan make up artist juga sudah terlihat sibuk dengan kesibukannya masing-masing.


Seorang gadis berambut peach tiba-tiba menghampiri Yuji dan Misa dangkah yang terburu.


Misa sempat menoleh ke belakang dan memberikan isyarat untuk Yuji agar dia menunggu dulu di salah satu kursi yang ada di ruangan sebelah yang hanya tersekat dengan kaca saja dengan ruangan make up ini.


Yuji yang memahaminya segera menuju ke ruangan itu dan memutuskan untuk menunggu Misa di sana. Karena tak memiliki kesibukan dan ingin mengusir rasa bosannya, Yuji memutuskan untuk berselancar di media sosialnya.


Sementara itu ...


Beberapa model telah mendapatkan sentuhan ajaib make up dari Misa dan Mika, namun tiba-tiba sebuah masalah kembali hadir dan membuat mereka kebingungan. Mereka kekurangan seorang model pria, untuk pemotretan kali ini, karena tiba-tiba saja salah satu model pria mengalami cedera kecil dan terkilir pada kaki dan tidak bisa berjalan dengan baik.


Mereka kelabakan seketika, padahal masih ada beberapa pemotretan masih harus tetap dilakukan. Dan beberapa pakaian juga harus segera digunakan oleh seorang model untuk pemotretan selanjutnya.


"Duhh ... bagaimana ini dong? Apa kamu sungguh tidak bisa berdiri untuk pemotretan selanjutnya, Suho? Padahal hanya tinggal 3 pakaian lagi lo." celutuk Mika kebingungan.


Sementara model tampan bernama Suho itu masih terduduk di atas kursi dan memegangi kakinya yang masih kesakitan. Dan seseorang juga terlihat sedang memijit kaki jenjangnya untuk membenarkan saraf kakinya yang terkilir.


"Apa kamu tidak melihat, Mika? Untuk duduk saja aku sudah kesakitan, bagaimana aku bisa berdiri dan berjalan untuk melakukan pemotretan itu?!" sungut Suho meringis kesakitan saat pria yang sedang berusaha untuk membenarkan saraf kakinya memijit kakinya yang sempat terkilir. "Arrgghhh ... sakit sekali! Pelan-pelan sedikit!!"


"Aduh, bagaimana dong ini? Padahal pemotretan hanya tinggal sebentar lagi selesai. Tapi model kita malah mengalami cedera seperti ini." gumam Mika kebingungan.


Misa yang sudah menyelesaikan merias seorang model wanita, kini menghampiri mereka dan terlihat juga sedang berpikir keras saat ini.


"Jika kita meminta tolong model lain di luar, itu tetap tak akan sempat lagi. Belum lagi waktu yang tersisa seharusnya hanya tinggal 1 jam saja untuk pemotretan ini. Bagaimana ini, Misa? Apakah tidak ada model cadangan yang bisa kita gunakan saat ini untuk mengganti Suho?" gumam Mika masih kebingungan dan mengedarkan pandangannya menatap sekitar, dan berharap bisa menggunakan orang lain untuk menggantikan Suho saat ini.


"Tidak mungkin bukan jika kita menggunakan salah satu dari staff disini? Jujur saja tidak ada satupun wajah dari mereka yang memenuhi standar tampan tingkat idola." imbuh Mika berbisik kepada Misa.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Misa mulai mendapatkan sebuah ide. Wajahnya mulai berbinar menatap Mika.


"Mika, aku tau! Ada orang yang bisa membantu kita saat ini. Dan saat ini dia juga ada di tempat ini." ucap Misa penuh binar.


"Benarkah seperti itu? Siapa dia? Dan dimana dia?" gadis berambut peach yang juga memiliki profesi sebagai spesial make up artist itu mulai mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok yang dimaksud oleh Misa. Namun dia tak menemukannya.


Misa tersenyum penuh binar dan segera berkata, "Tunggu sebentar. Aku akan meriasnya dan akan segera membawanya ke tempat ini."


Setelah mengatakan hal itu, Misa segera meninggalkan Mika. Dia memasuki ruangan sebelah, atau lebih tepatnya ruangan tunggu dan ruangan istirahat saja.


Misa segera menghampiri seorang pemuda yang masih sibuk berkutat dengan ponselnya dengan serius. Namun dia segera menyimpan ponselnya yang berlogo strawberry itu setelah menyadari kehadiran Misa.


"Hei, apakah sudah selesai?" tanya pemuda itu dengan wajah polosnya mendongak menatap Misa yang sudah berdiri di hadapannya.


Namun bukannya menjawabnya, Misa malah tersenyum manis namun penuh misteri.