Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Sebuah Kebohongan



Yuji merasa sangat lega karena sudah berhasil membuat Shoto dan ketiga temannya mendapatkan skors. Namun sebenarnya dia merasa jika hukuman itu sangatlah kurang setimpal untuk Shoto.


Bahkan disaat dia membayar seorang wanita untuk merusak nama baik restorannya, Shoto juga terbebas dari hukuman itu.


"Manager Yanai, mengapa saat itu bocah itu bisa terlepas dari hukuman? Bukankah sudah jelas dan sudah ada bukti saat itu? Jika Shoto-lah dalang dibalik kericuhan yang terjadi saat itu di restoran cabang baru?" tanya Yuji sambil menikmati ramen kesukaannya di kantin sekolah.


Karena baru saja Yuji memaksa manager Yanai untuk menemaninya makan si kantin sekolahannya. Tentu saja pemandangan ini cukup menarik perhatian hampir semua murid SMU Keio.


Selama ini Yuji tidak memiliki seorang wali. Terkadang kedua orang tua Jin yang akan mengambilkan rapornya atau mengurus hal lainnya sebagai wali dari Yuji. Atau terkadang dirinya sendirilah yang harus mengurus semua itu.


Namun kini tiba-tiba saja ada seorang pria berkharisma tinggi dan penuh wibawa yang datang ke sekolahannya dan mengaku sebagai walinya. Tentu saja hal ini cukup menghebohkan.


Terlebih sangat terlihat jika manager Yanai bukanlah sembarang orang. Penampilannya sangat berkelas dan necis, auranya tegas dan kuat.


"Ini semua adalah karena papanya yang menjaminnya, Tuan. Bahkan papanya memberikan nominal besar untuk aparat agar bisa melepaskan putra mereka. Hukum di negara ini terkadang masih bisa dipermainkan seperti ini. Mereka tak kuasa karena papa Shoto juga mengancam akan memberhentikan mereka bagaimanapun caranya jika tidak patuh." jelas manager Yanai yang hanya memutuskan untuk menikmati minuman kaleng hangat saja.


"Huftt ... selalu saja seperti itu. Papanya selalu saja memanjakannya seperti itu. Pantas saja Shoto selalu percaya diri dalam melakukan hal apapun, sekalipun itu menentang hukum. Jika seperti itu terus, Shoto akan benar-benar menjadi sangat buruk saat dia semakin dewasa nanti. Karena dia akan selalu menganggap jika apapun yang dia lakukan selalu benar dan tak bisa dibantah." Yuji mendengus dan kembali menyantap ramen uddon itu.


"Eh? Pemikiran tuan Yuji sangat luar biasa. Bahkan di usia yang masih sangat muda seperti ini saja, tuan Yuji sudah memiliki pemikiran yang sangat dewasa seperti ini." ucap manager Yanai sangat takjub menatap sisi samping wajah Yuji.


Yuji tersenyum simpul lalu meminum minuman kalengnya beberapa tegukan.


"Itu adalah karena aku yang memang sudah terbiasa hidup sendirian tanpa kedua orang tua. Semua hal yang aku lalukan adalah atas kehendakku dan tidak ada yang mengekangku. Namun meskipun begitu, aku tidak boleh sembarangan untuk menjalani hidupku. Biar bagaimanpun aku masih memiliki seorang adik. Aku harus bisa menjadi seorang kakak yang baik untuknya sekaligus menjadi orang tua untuknya." ucap Yuji seadanya.


"Lagipula menurutku ... kedewasaan bukanlah soal umur. Tapi kedewasaan adalah merupakan fase ketika kita menyesuaikan diri dengan pola kehidupan baru yang lebih luas." imbuh Yuji lagi


"Tuan Yuji benar sekali. Usia memang tidak sepenuhnya akan menjamin kedewasaan seseorang." jawab manager Yanai menyetujui pemikiran Yuji. "Uhm. Maaf, Tuan. Tapi aku harus segera pergi. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera aku selesaikan di restoran pusat." imbuh pria dewasa berkacamata minus itu.


"Baiklah. Pergilah, Manager Yanai. Terima kasih sudah meluangkan waktu berharganya untuk menjadi waliku." ucap Yuji dengan tulus.


"Sama-sama, Tuan. Jika tuan memerlukan bantuanku lagi, katakan saja padaku dan tidak perlu merasa sungkan, Tuan."


"Hhm. Okay!"


"Baik, kalau begitu aku pergi dulu, Tuan. Permisi " ucap manager Yanai lalu berdiri dan sedikit membunggukkan badannya menghadap Yuji.


Setelah manager Yanai pergi, kini seorang pemuda datang dan langsung duduk di sebelah Yuji.


Namun belum sempat Yuji menjawabnya, tiba-tiba saja ada seorang gadis yang datang menghampiri meja mereka dan menggebrak meja mereka dengan cukup keras.


BRAKK ...


"Yuji! Berani sekali kamu melakukan semua ini?! Gara-gara kamu Shoto dihukum! Bukan hanya itu saja!! Dia bukan hanya di skorsing dari sekolah! Tapi dia juga akan dihukum oleh papanya! Dia bahkan akan kehilangan semua fasilitas yang selama ini diberikan oleh papanya!"


Gadis yang tak lain adalah Ai itu ngamuk di hadapan Yuji dan Jin karena merasa kekasihnya sudah mendapatkan perlakuan yang tidak adil. Ai sama sekali tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya dan hanya sebatas tau jika Yuji sudah melaporkan sesuatu kepada kepala sekolah SMU Keio, sehingga Shoto mendapatkan sebuah hukuman.


"Mengapa kamu melakukan ini kepada Shoto?! Aku tau kamu pasti kesal karena melihat aku yang kini sudah menjadi kekasihnya! Namun seharusnya kamu tidak seperti ini padanya!"


Sepasang mata Yuji membelalak terkejut mendengarkan kicauan dari mantan kekasihnya itu. Bahkan Yuji juga terlihat mendengus dalam tawa mengejek.


Yuji bangkit dari tempat duduknya dan kini saling berhadapan dengan Ai. Hanya ada satu meja saja yang membatasi mereka berdua. Tatapan mereka saling bertemu, namun dengan aura yang rumit.


"Kau!! Kau keterlaluan, Yuji!"


"Aku atau kekasihmu yang sudah keterlaluan. Sebaiknya kalau mencari informasi itu jangan dari satu nara sumber saja! Carilah informasi dengan benar sebelum kamu menyalahkan seseorang!" tandas Yuji.


Ai meremas rok sekolahnya dan mengeraskan rahangnya dengan tatapan penuh kekesalan menatap Yuji.


"Dan tolong jangan terlalu percaya diri, Ai! Aku katakan padamu dengan jelas dan tolong dengarkan baik-baik! Aku sudah memiliki seorang kekasih yang jauh lebih baik dari kamu! Dia sangat cantik, cerdas, sexy, baik hati dan tidak sombong. Dan tentunya dia menjadi kekasihku dengan tulus karena dia benar-benar menyukaiku apa adanya!"


Ucap Yuji dengan asal lalu segera meninggalkan kantin begitu saja karena malas untuk meladeni Ai.


Ai yang meragukan ucapan Yuji, kini segera berbalik dan menantangnya.


"Jika memang benar seperti itu, maka buktikan kepada kami! Kami semua yang berada disini sudah mendengar ucapanmu. Maka ajak kekasihmu untuk menghadiri acara di sekolah kita saat Festival Budaya nanti!" tantang Ai tersenyum miring menatap punggung Yuji.


Mendengar tantangan dari Ai membuat Yuji seketika menghentikan langkah kakinya. Untuk beberapa saat Yuji terdiam kebingungan, namun akhirnya dia mulai menjawabnya dengan santai.


"Tenang saja! Pada saat festival Bunkasai nanti, aku pasti akan mengundangnya untuk datang ke SMU kita." jawab Yuji tanpa berbalik dan menoleh ke arah Ai.


Setelah mengatakan hal itu, Yuji segera meninggalkan kantin sekolah. Jin juga segera berlari mengejar Yuji.