Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Hasil Medis Yang Mengejutkan



St. Luke's International Hospital 4 PM, Yokohama, Tokyo.


Seorang pria dewasa dengan jas almamater putih kebanggaannya terlihat sedang duduk di meja kerjanya sambil memandangi sebuah berkas dengan tatapan rumit.


Sementara di hadapannya ada seorang pemuda yang masih mengenakan seragam SMU nya lengkap dengan jas almamaternya. Namun dia masih mengenakan pakaian hangatnya.


"Tuan Yuji, kami menemukan sesuatu yang cukup aneh dan langka yang terjadi dengan nona Yor." ucap seorang pria dengan almamater putih kebanggaannya menatap Yuji dengan ekspresi serius, dan sesekali kembali menatap laporan medis itu kembali.


"Sesuatu yang aneh dan langka? Maksud dokter?" tanya Yuji rumit, dan tentunya dia malah semakin mengkhawatirkan keadaan sang adik saat ini.


Bukankah Yuji baru saja mendapatkan sebatang korek api pengabul harapan? Dan dia juga meminta kesembuhan serta kebahagiaan Yor? Lalu mengapa malah seperti ini? Yuji bahkan sudah berniat akan memarahi Zero saat tiba di rumah nanti jika sampai sang adik kenapa-kenapa.


Jika sampai terjadi sesuatu kepada Yor, awas saja kamu, Zero! Ini semua gara-gara kamu!


Geram Yuji di dalam hati sembari mengepalkan kedua tangannya.


"Keadaan nona Yor Kamiya sudah sepenuhnya membaik. Operasi yang dilakukan sebelumnya juga tidak meninggalkan bekas sama sekali. Bahkan kanker paru yang sebelumnya ada, kini tiba-tiba sepenuhnya tiada. Kejadian seperti ini sungguh sangat langka. Bahkan tak pernah terjadi sebelumnya, Tuan. Nona Yor sangat beruntung sekali karena keajaiban ini." ucap pria dengan jas almamater putih itu lagi sembari menyodorkan laporan medis itu untuk Yuji.


Mendengar penjelasan dari sang dokter, seketika membuat Yuji melongo tak percaya. Namun tak bisa dipungkiri, dia juga merasakan sebuah kebahagiaan tak terkira dan menarik ucapannya kembali untuk Zero.


Untung saja Zero hanyalah sebuah sistem yang tidak berhati, mungkin saja jika dia memiliki hati, dia akan merajuk karena perkataan dan prasangka buruk Yuji terhadapnya.


Ternyata begitu ya? Aku sudah salah sangka kepada Zero. Ternyata korek api pengabul harapan itu benar-benar mengabulkan harapanku. Huft ... syukurlah ... aku lega sekali. Terima kasih, Zero! Aku benar-benar senang sekali!


Batin Yuji dalam hati, dan tak dia sadari dia sudah tersenyum sambil menatap laporan medis milil Yor.


"Selamat, Tuan. Akhirnya nona Yor benar-benar sudah pulih total." ucap sang dokter membuyarkan angan Yuji.


"Baik. Terima kasih banyak, Dokter! Kalau begitu aku permisi, Dokter!" ucap Yuji penuh binar dan segera meninggalkan ruangan sang dokter.


Di luar ruangan, dua gadis cantik yang sejak dari tadi menunggunya di sebuah bangku panjang kini seketika bangkit dari duduknya ketika menyadari Yuji sudah keluar dari ruangan sang dokter.


Kedua gadis itu menatap wajah Yuji yang masih menampilkan ekspresi ceria dan penuh kebahagiaan.


"Bagaimana, Kak Yuji?" tanya salah satu dari gadis yang tak lain adalah Yor.


Sementara gadis satunya adalah Shiina. Karena sebelumnya saat Yuji hendak mentraktir Shiina, tiba-tiba Yuji ingat jika dia harus memeriksakan Yor ke rumah sakit. Hingga pada akhirnya Shiina malah ikut bersama dengan mereka berdua.


Yuji tak segera menjawabnya. Dia hanya menatap Yor masih dengan wajah berseri-seri, dan malaj membuat Yor kebingungan.


Yuji mulai beralih menatap Shiina masih dengan ekspresi yang sama. Hanya ada senyuman dan Yuji masih tak bisa berkata-kata untuk menjelaskan hal tak masuk akal ink kepada mereka berdua.


"Shiina, Yor!! Kita berpesta malam ini!! Kita akan bersenang-senang!! Yaa-haa!!" ucap Yuji kegirangan. "Kalian rundingkan saja tempatnya! Mau kemanapun tidak masalah! Oh iya, aku akan mengundang Jin dulu untuk mengajaknya!" imbuh Yuji masih bersemangat lalu segera menjauh dari kedua gadis itu untuk menghubungi Jin.


"Ada apa dengan kakakmu, Yor? Mengapa malah jadi seperti ini? Bukankah seharusnya kamu beristirahat?" ucap Shiina menatap Yor bingung.


Yor mengangkat kedua tangannya bingung dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia mencoba untuk memikirkan sesuatu, namun tetap saja Yor tak bisa memperkirakan hal apa yang kali ini membuat sang kakak bahagia tak terkira.


"Bagaimana? Apa kalian sudah menentukan kemana kita akan pergi?" tiba-tiba saja Yuji sudah datang kembali menghampiri mereka berdua, namun kedua gadis itu malah belum menemukan tempat itu karena sibuk memikirkan penyebab kebahagiaan Yuji.


Kedua gadis itu menggeleng pelan,.dengan jujur mengatakannya.


"Hhm? Bagaimana jika kita makan di restoran saja? Atau berbelanja? Menonton film? Pergi jalan-jalan? Karaoke? Atau kemana?" ucap Yuji berusaha untuk mengusulkan pendapatnya.


"Kak Yuji, tapi mengapa tiba-tiba saja seperti ini? Sebenarnya apa yang telah dikatakan oleh dokter itu? Mengapa kakak tidak mengatakan hasil pemeriksaannya kepadaku lagi? Aku tau, Kak ... kanker paru yang aku derita selama ini suatu saat akan membuatku tiada." ucap Yor malah terlihat murung.


"Siapa yang mengatakan semua itu, Yor? Itu semua tidak benar ..." sahut Yuji cukup terkejut mendengar ucapan sang adik.


"Ada saudara temanku yang pernah memiliki penyakit yang sama denganku. Dan kini dia sudah tiada ..." ucap Yor masih dengan murung.


"Itu tidak benar, Yor! Tidak semuanya seperti itu!" Yuji meraih kedua bahu Yor dan menunduk, menatapnya lekat.


"Apakah dokter itu mengatakan jika usiaku tinggal sebentar lagi, Kak? Apakah aku akan segera mati, Kak? Apakah aku sudah tidak bisa diselamatkan lagi, Kak? Apakah sudah tidak ada harapan lagi untukku, Kak? Dan apakah karena hal ini kakak sering memanjakanku akhir-akhir ini?" tanya Yor yang terdengar cukup memilukan.


"Tentu saja tidak, Yor! Kamu mengapa berpikiran seperti itu? Tentu saja itu semua tidak benar." ucap Yuji meyakinkan sang adik. " Justru kondisimu saat ini sudah jauh lebih baik. Kamu jangan khawatir lagi, paru-parumu saat ini sangat sehat. Kamu juga sudah bisa melakukan apapun semaumu! Dan kamu juga bisa memakan semua yang kamu inginkan! Kakak tidak akan membatasinya lagi." imbuh Yuji mengusap kepala Yor dengan hangat.


"Benarkah itu, Kak? Kakak tidak sedang berbohong padaku bukan?"


"Tentu saja tidak. Jika kamu masih saja tidak percaya, periksalah sendiri laporan medis ini! Hhm ..." Yuji menyauti sambil memberikan laporan hasil medis itu kepada Yor.


Gadis itu membaca laporan medis miliknya dengan detail, namun rupanya dia tidak memahami semua itu dengan baik. Karena bahasa yang digunakan cukup asing baginya.


"Aku tidak bisa membacanya, Kak."


"Pada intinya kanker parumu sudah tiada. Dia menghilang dan sekarang kamu sudah pulih sepenuhnya." jawab Yuji kembali beralih menatap Shiina. "Ya sudah, ayo kita makan bersama dulu saja kalau begitu! Setelah itu baru putuskan mau pergi kemana!"