
Yuji masih saja mengekori Shiina dan Yor yang sedang menuju ke ruangan makan. Tata letak rumahnya sebenarnya cukup mirip dengan rumahnya. Hanya saja rumah ini sudah banyak direnovasi dan tentunya menjadi sangat berbeda.
Namun betapa terkejutnya Yuji ketika dia malah melihat beberapa orang yang dia kenali sudah duduk di meja makan. Namun perhatian Yuji lebih terfokuskan saat menatap pria berpakaian super rapi dan terlihat berkharisma namun sangat arogan.
Dan saat pandangan mereka saling bertaut satu sama lain, mereka saling pandang cukup lama. Bahkan pria itu menatap Yuji dengan sangat dingin dan penuh kebencian.
Mengapa ada mereka disini?
Batin Yuji setelah melihat beberapa orang yang dikenalinya. Seorang wanita yang selalu terlihat cantik, anggun dan elegan dan seorang pria arogan yang selalu bersikap seenak jidatnya sendiri. Lalu dia kembali beralih menatap pria itu.
Sial! Mengapa ada orang itu di sini? Ahhh mengapa aku bisa melupakan sesuatu? Bukankah dia adalah tunangan Shiina? Tidak aku sangka aku malah bertemu dengannya lagi disini..Huuftt ... semoga saja dia tak membuat keributan lagi!
Batin Yuji yang tak bisa untuk tidak memberikan tatapan tajamnya juga untuk pria itu.
Perang mata itu kembali dimulai diantara mereka berdua. Biar bagaimanapun Yuji juga cukup merasa kesal, karena pria itulah dia gagal untuk bertemu dengan Blue Gazzete idolanya. Bahkan karena pria itu, Yuji malah merusak jas mahal milih Rinka.
"Yuji! Kemarilah!" teriakan dari Shiina seketika membuyarkan angan Yuji.
"Ohh, i-iya ..." ucapnya lalu melenggang kembali mendekati mereka dan duduk bersama mereka.
Saat ini, di ruangan makan ada 4 orang. Yuji, Yor, Shiina, Shuzo dan Misa. Yuji duduk di antara Yor dan Misa. Sementara tepat di seberangnya ada Shuzo dan Shiina. Beberapa kursi lain masih kosong.
Sementara Misa cukup lama menatap Yuji, seakan ada keterkejutan bukan main karena bertemu kembali dan seakan dia ingin menyampaikan sesuatu. Menyadari jika masih terus ditatap oleh wanita cantik dan anggun itu, akhirnya Yuji menyapanya.
"Hallo. Kita bertemu kembali, Misa." sapa Yuji dengan ramah. "Apa kamu juga putri dari keluarga Misaka juga?"
"Oh ... hai, Yuji. Uhm ... bukan. Sebenarnya aku datang karena diundang bibi Rin saja. Dia adalah salah satu pelanggan VIP-ku. Bagaimana denganmu?" ucap Misa malah balik bertanya dengan ekspresi antusias.
"Aku juga diundang karena aku baru pindahan dan menjadi tetangga baru. Hehe ..." sahut Yuji seadanya.
"Wah kalian berdua saling mengenal rupanya ya." ucap Shiina ceria seperti biasanya.
Wah, kak Yuji keren sekali. Dia mengenal kakak-kakak cantik dan terlihat baik seperti mereka. Kakak bernama Misa ini juga terlihat begitu baik dan lembut. Sepertinya dia juga cerdas dan menyenangkan. Aura keibuannya sangat terpancar. Sementara kak Shiina juga sangat manis dan cantik. Aduhhh ... kak Yuji benar-benar sedang dihadapkan 2 pilihan yang sulit. Aku pun juga bingung harus memilih calon kakak ipar yang mana?
Batin Yor menatap Shiina dan Misa penuh binar secara bergantian dengan menangkupkan kedua jemarinya pada dagu indahnya.
Yuji yang bisa membaca pikiran Yor, seketika menatapnya dengan tatapan aneh.
Anak ini! Pilihan yang sulit apanya?! Kakak ipar apanya?! Aku bahkan hanya bertemu dengan mereka berdua 3 kali saja. Lagipula aku ini masih SMU! Bagaimana bisa anak SMP seperti dia berpikiran jauh seperti ini? Sepertinya Yor terlalu banyak menonton drama dan membaca novel percintaan. Aku harus lebih mengawasi dan membatasinya mulai sekarang!
Batin Yuji menunduk dan memijat keningnya karena memikirkan hal ini.
"Yuji, apa kamu baik-baik saja?" pertanyaan ini diucapkan bersamaan Misa dan Shiina.
Sehingga kedua gadis cantik itu seketika saling bertatapan dan suasana berubah menjadi canggung. Bahkan Yor kembali semakin berbunga-bunga karena menyaksikan semua ini.
Berbeda dengan Shuzo yang sudah sejak tadi menahan diri dan amarahnya. Namun kini dia menjadi semakin geram ketika melihat tunangannya sangat mempedulikan Yuji.
TAK ...
Shuzo meletakkan gelas kosongnya di atas meja dengan cukup keras dan membuat semua orang terkejut.
"Jus buah naga? Bukankah sebelumnya kamu hanya meminta jus jeruk?" tanya Shiina dengan kening berkerut menatap Shuzo.
"Aku sedang ingin minum yang lainnya."
"Baiklah. Tunggu sebentar ..." ucap Shiina patuh dan segera meninggalkan ruangan makan.
Namun bersamaan dengan itu tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun mulai menghampiri mereka dan bergabung.
"Jadi kamu adalah tetangga di sebelah yang baru pindah ya?" ucapan lembut dari seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu seketika mencairkan situasi mencekam yang terjadi beberapa saat lalu di ruang makan.
Seketika Yuji dan Yor menengadahkan wajah dan segera berdiri kembali untuk menyambut wanita itu.
"Be-benar, Bibi. Salam kenal. Aku adalah Yuji. Dan ini adalah adikku-Yor." ucap Yuji dengan ramah dan juga memperkenalkan Yor yang berada di sebelahnya.
Yor hanya tersenyum dan membungkukkan badannya.
"Oh iya. Kalian masih terlihat sangat muda. Sepertinya Yuji seumuran dengan Shiina."
"Benar sekali, Bibi. Aku masih kelas 2 SMU." jawab Yuji ramah.
"Lalu dimana orang tua kalian? Apakah mereka sangat sibuk? Sehingga tidak memenuhi undangan dari kami?" tanya Rin ramah menatap Yuji dan Yor secara bergantian.
"Kami hanya tinggal berdua, Bibi. Kedua orang tua kami sudah tiada sejak kami kecil." jawab Yuji lirih namun masih bersikap biasa.
"Hhm? Jadi hanya seorang anak yatim piyatu ya?" cibir Shuzo meremehkan.
Seketika semua orang terdiam dan suasana menjadi canggung, namun Yuji segera mencairkan suasana dan tidak ingin mereka membahas hal ini.
"Oh iya. Aku belum sempat bepergian ke luar semenjak pindah padi pagi. Jadi aku hanya memasak sedikit kari ayam dan makanan untuk pencuci mulut. Semoga bibi dan yang lainnya menyukainya." Yuji melirik Yor, lalu Yor segera menyodorkan sebuah bingkisan beraroma gurih dan manis itu.
"Bilang saja tidak punya cukup uang untuk membeli barang mahal di luar. Jadi hanya bisa memasak makanan murah! Sudah seperti wanita saja kamu ini punya hobi memasak!" cibir pria itu dengan nada menghina.
Dan seketika suasana menjadi sangat canggung karena ucapan dari Shuzo.
"Sebenarnya memiliki hobi memasak itu tidak selalu harus seorang wanita yang memilikinya kok. Benar begitu kan, Bibi? Bukankah paman Yoshinosa juga pandai memasak? Aku dengar paman Yoshinosa pernah menjadi seorang juru masak profesional sebelum dia memutuskan untuk fokus dalam bisnisnya bukan?"
Ucapan dari Misa terdengar begitu manis, namun sebenarnya cukup membuat Suzho merasa skak mat. Secara tidak langsung dia sudah mencibir calon mertuanya sendiri. Hingga Shuzo menjadi salah tingkah sendiri.
"Bi-bibi, maksudku bukan seperti itu. Maksudku adalah ..." ucap Shuzo gelagapan.
"Tidak masalah, Suzho. Bibi tau kamu hanya bercanda kok. Ayo, sebaiknya kita segera makan." ucap Rin dengan ramah dan segera memulai mengambil beberapa lauk dan sayur.
DING ...
[ Misi akan segera dimulai, Tuan. Misi kali ini adalah menolong seorang gadis dan mengantarkannya pulang. Misi akan dilakukan dalam satu jam lagi. Tepat di depan Sugoi cafe tuan akan melihat siapa gadis itu. Tugas tuan adalah menolongnya dan mengantarkannya pulang hingga selamat. ]
Ditengah-tengah keseriusannya menikmati makan malamnya, Yuji kembali mendengarkan suara Zero kembali.