
"Cih ... sialan! Gara-gara om-om sialan itu aku malah tidak jadi bertemu dengan senior Ken dan anggota Blue Gazzete lainnya deh! Lagipula apa salahnya sih jika tetap berada disana sebentar lagi untuk melihat Blue Gazzete sih, Jin?! Hhuuhh!!"
Yuji mendengus kesal di sepanjang perjalanan saat kembali pulang lebih awal, karena Jin memaksanya untuk segera pulang setelah Shuzo dan Yuji bersiteru di pesta ulang tahun Ara. Mereka pulang dengan menaiki taxi dan kali ini Jin malah mengajaknya ke butik milik kakak sepupunya.
"Tidak mungkin kamu lebih lama lagi untuk memamerkan wajahmu di hadapan para tamu lainnya bukan setelah kalian mengacaukan pesta ulang tahun Ara malam ini? Apa kamu tidak punya malu lagi, Yuji?" Jin menyauti dengan sepasang mata yang terpejam, sementara badannya disandarkannya dengan santai pada sandaran kursinya.
"Lagipula saat ini masih ada urusan lainnya lagi yang lebih penting jika dibanding dengan bertemu Blue Gazzete!" imbuh Jin lagi menghembuskan nafas kasarnya di udara.
"Hhm? Urusan apa itu?" tanya Yuji dengan penasaran dan melirik temannya.
Jin tak menjawabnya, dia mulai membuka sepasang matanya kembali dan melirik Yuji dengan tatapan malas bercampur kesal.
Hingga setelah beberapa saat, akhirnya mereka telah sampai di sebuah gedung yang tidak terlalu besar dan luas, namun sangat mewah. Jin mengajak Yuji memasuki gedung yang di dalamnya dipenuhi dengan cukup banyak pakaian-pakaian branded super mewah berjejer di lemari terbuka maupun pada manekin-manekin. Atau bisa dikatakan ini adalah sebuah butik.
Mereka menemui pemilik dari butik tersebut di sebuah ruangan yang kebetulan masih belum meninggalkan tempat kerjanya. Jin dengan rasa bersalah dan ketar-ketir mulai menjelaskan kepada seorang wanita dewasa dengan jujur, jika tak sengaja Yuji malah mengotori dan merusak jas yang telah mereka pinjam.
"Apa?! Jas keluaran terbaru dari LV Fashion yang hanya mengeluarkan 5 jas saja untuk seri ini telah rusak dan kotor?!!" seorang wanita dewasa terlihat sangat syok luar biasa saat melihat jas yang menjadi salah satu koleksi dari butiknya telah kotor dan rusak begitu saja karena kecerobohan pemuda-pemuda itu.
"Ini semua gara-gara kamu, Jin! Mengapa kita harus memakai pakaian mewah seperti ini?! Padahal kita bisa memakai pakaian biasa milik kita." Yuji berbisik dan menyikut lengan Jin.
"Tidak mungkin kita datang ke pesta ulang tahun Ara dengan pakaian seperti gembel donk! Mereka semua yang datang berpenampilan wow dan sangat keren. Bahkan gara-gara penampilan ini aku mendapatkan seorang kenalan gadis manis loh!" balas Jin berbisik dan menyikut lengan Yuji.
Yuji tak bisa berkata-kata lagi untuk membalas ucapan Jin yang begitu menggilai fashion, namun selama ini mengalami keterbatasan dana, karena dia juga berasal dari keluarga biasa.
"Hei kalian!! Aku sedang berbicara dengan kalian! Bagaimana kalian akan membayar ganti rugi untuk jas yang sudah tidak akan diproduksi lagi ini? Oh my God! Padahal ini adalah salah satu harta karunku yang langsung aku dapatkan dari nyonya Yuna." wanita dewasa tang tak lain adalah kakak sepupu dari Jin itu terlihat sangat frustasi.
"Kak ... aku akan mencucinya. Dan noda merah keunguan ini pasti akan bisa hilang dan bersih kembali bukan? Aku akan segera menyerahkannya kembali kepada kakak." ucap Yuji berusaha untuk menenangkan wanita yang masih saja terlihat sangat frustasi itu.
"Jas ini tidak boleh kotor oleh cairan seperti jus atau minuman yang penuh dengan warna. Serat pada pakaiannya sangat berbeda dengan pakaian biasa. Pada kesimpulannya, jas ini sudah rusak dan tidak bernilai lagi." ucap wanita cantik itu lagi mengusap wajahnya dengan kasar lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya.
Jin tampak menciut dan tak berdaya. Biarpun bukan dia yang telah merusak jas yang sedang Yuji kenakan saat ini, tapi dialah yang bertanggung jawab sepenuhnya. Karena dia yang telah meminjamnya dari sang kakak sepupu.
"Kak, maafkan aku ... ini adalah salahku. Aku ..." ucap Jin terlihat sudah sangat tak berdaya dan merasa menyesal telah memaksakan diri untuk meminjam jas super mahal itu dari kakak sepupunya.
Rinka menengadahkan wajah lesunya menatap Yuji yang kini berlagak akan menggantinya. Dia berpikir jika bocah SMU kelas 2 itu tak akan sanggup untuk membayarnya sekalipun menggunakan gaji bekerja sebagainkasir mini market selama bertahun-tahun.
"Lupakan soal harga! Sebaiknya kau bekerja paruh waktu selamanya padaku tanpa dibayar!" ucap Rinka lesu.
"Katakan saja padaku berapa aku harus membayar ganti ruginya? Aku akan segera mentrasfernya sekarang juga." ucap Yuji sembari mengeluarkan ponsel tuanya dan berniat untuk segera mentransfernya.
"Delapan ratus lima puluh delapan ribu yen ( kira-kira 100 juta rupiah )." balas Rinka sudah lesu dan tidak bertenaga saat menjawabnya.
Dia kembali mengusap kasar wajah ayunya yang kini sydah terlihat sangat kusut.
TRING ...
Sebuah notifikasi tiba-tiba terdengar dari ponsel Rinka. Wanita itu segera membuka pesan itu masih dengan wajah lesunya. Namun seketika sepasang matanya membulat dengan mulut yang terbuka cukup lebar menatap pesan tersebut.
Ada uang sejumlah 858 ribu yen tiba-tiba masuk ke dalam rekeningnya atas pengirim Yuji Kamiya. Rinka dengan cepat beralih menatap pemuda SMU itu yang kebetulan juga baru saja menyimpan ponsel tuanya kembali dalam pakaiannya.
"Yu-Yuji ... ka-kau ... darimana kamu punya uang sebanyak itu?" selidiknya keheranan.
"Hanya sebagian tabungan dari kerja sampingan kok. Ya sudah kalau begitu kami permisi dulu, Kak. Aku akan tetap mencuci jas ini. Mudah-mudahan saja noda ini masih bisa dihilangkan. Terima kasih dan selamat beristirahat, Kak!" Yuji membungkukkan sedikit badannya berpamitan dan segera meninggalkan tempat itu.
Jin yang masih kebingungan segera berlari menyusul Yuji setelah berteriak kepada Rinka, "Jas ini akan aku kembalikan lusa, Kak Rinka! Sampai jumpa!"
Sedangkan Rinka masih saja terdiam kebingungan menatap kepergian Yuji dan Jin dengan sepasang alis indahnya yang berkerut saling berdekatan.
"Sejak kapan Yuji menjadi sekaya ini? Bahkan dia mengeluarkan uang sebanyak itu dengan begitu mudah. Bahkan gaji kerja paruh waktunya di mini market saja hanya sedikit. Apakah yang dimaksud dengannya bekerja sampingan itu bukan dari kerja sampingan sebagai seorang kasir di mini market? Oops ... atau jangan-jangan Yuji sudah berbelok arah ... jangan-jangan pekerjaan sampingannya adalah merampok? Atau menemani tante-tante kesepian?"
Rinka segera membungkam mulutnya sendiri masih dengan sepasang mata yang membulat menatap ke arah kepergian kedua pemuda itu.
"Oh my God! Tidak aku sangka tidak memiliki kedua orang tua membuatnya begitu hidup bebas seperti ini. Aku tidak bisa berdiam diri melihatnya salah jalan seperti ini! Biar bagaimanapun dia adalah teman baik Jin! Benar! Tidak bisa dibiarkan!" gumamnya serius.
...πππ...