Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Pergi Bersama Shiina



"Bagaimana? Apa kamu bertunangan dengan putriku? Meskipun kalian bertunangan, namun kalian boleh memutuskan kapan untuk menikah dan tidak perlu terburu-buru. Aku hanya melakukan hal ini untuk antisipasi saja."


Ucap Takahara kembali karena Yuji masih saja terdiam.


Usiaku masih baru akan 18 tahun. Dan waktu untuk menikah itu masih sangat jauh. Jika bertunangan itu artinya aku harus menjaga dan membatasi diri dengan gadia lain ataupun sebaliknya. Selama ini bahkan Shiina juga terkekang karena pertunangannya dengan Shuzo. Pertunangan ini juga akan tidak bagus dan membebaninya. Namun tuan Takahara malah meminta kita bertunangan. Huft ...


Batin Yuji kebingungan.


"Begini saja, Paman. Aku akan membicarakannya dengan Shiina dulu mengenai hal ini. Karena aku tidak ingin ada unsur keterpaksaan akan hubungan ini. Setidaknya Shiina tidak merasa terkekang seperti saat Shiina bersama Shuzo." jawab Yuji mengusulkan.


"Baiklah. Jika memang seperti itu. Memang benar dulu aku menjodohkan mereka karena urusan bisnis. Dan kini aku tak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Biar bagaimanapun kelak Shiina lah yang akan menjalaninya. Pikiranmu memang sungguh dewasa. Aki sangat kagum padamu. Bahkan di usia yang masih begitu muda seperti ini, kamu sudah terlihat sangat sukses."


Ucap pria paruh baya itu kagum kepada Yuji.


Perbincangan mereka terus berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan. Hingga setelah ponsel Takahara berdering karena seorang klien menghubunginya, dia segera berpamitan untuk menemui klien tersebut.


Yuji masih berada di tempat itu dan menghela nafas.


"Bagaimana menurutmu, Zero? Apakah aku harus menerima tawaran ini? Dan kira-kira apakah Shiina juga akan setuju dengan semua ini?" gumam Yuji lirih sambil mengaduk-aduk minumannya.


[ Mungkin hal ini juga tidak terlalu buruk, Tuan. Setidaknya nona Shiina juga gadis yang baik dan lebih baik dan tulus jika dibandingkan dengan nona Ai yang hanya bisa memanfaatkan dan mengkhianati tuan Yuji. ]


Sahut Zero, sang pemandu sistem.


"Kau benar, Zero. Shiina memang jauh lebih baik dari Ai. Dan dia juga cukup manis ..." sajut Yuji mengukir senyum tipis di bibirnya tanpa sadar.


...🍁🍁🍁...


Suatu hari Shiina dan Yuji mengunjungi Queen's Square Mall untuk menonton dan mentraktir Shiina makan malam seperti yang telah dijanjikan oleh Yuji sebelumnya.


Gadis pecinta warna hitam itu kini juga tidak gagal keren dengan penampilannya hari ini yang juga bernuansa hitam dan terlihat energik dan ceria.


Sementara Yuji mengenakan pakaian kasual yang terlihat santai namun juga keren. Mereka mendatangi teater di dalam gedung dengan 6 lantai itu.


"Shiina, kamu ingin menonton apa? Pilihlah mana yang kamu suka." ucap Yuji sembari melihat beberapa judul film yang tertera di dalam beberapa layar yang tergantung di teater megah itu.


"Aku suka film action dan horor. Tapi sayang sekali tidak ada film action yang tayang hari ini. Jadi bagaimana jika kita nonton film horor saja?" tanya Shiina beralih menatap Yuji yang berdiri di sebelahnya.


"Okay. Terserah kamu saja." sahut Yuji seadanya.


"Baik. Dua tiket untuk film The Shinigami's Come Back. Dan kami memilih bangku ini dan ini ..." ucap Shiina sambil menuding kedua tempat yang terlihat di sebuah layar tablet untuk pemesanan tiket.


Shiina memilih bangku 3 baris dari belakang dan berada hampir di tengah-tengah.


"Kami juga memesan 1 Capucino ice blend dan popcorn original. Bagaimana denganmu Yuji?" ucap Shiina beralih menatap Yuji kembali.


"Samakan saja pesanannya."


"Baiklah. Berarti kami memesan 2 Capucino ice blend dan 2 popcorn rasa original."


"Baik, Nona."


"Biar aku yang membawakannya. Ayo masuk! Film akan segera dimulai 15 menit lagi." sahut Yuji mulai melenggang lebih dulu.


Shiina segera melangkah cepat untuk menyusul dan mengimbangi langkah Yuji hingga mereka mulai memasuki salah satu teater.


Sementara itu ada dua orang gadis yang baru memasuki gedung teater ini. Dan mereka sempat melihat Yuji dan Shiina sebelum mereka berdua meninggalkan loket pembelian tiket.


"Eh, Ai! Lihat! Bukankah itu adalah Yuji? Tapi ... mengapa dia bersama dengam gadis itu? Bukankah gadis yang dia ajak ke sekolahan kita yag dikenalkan sebagai kekasihnya saat festival budaya saat itu bukan gadis itu? Gadis saat itu kalau tidak salah namanya adalah Misa, dan dia terlihat sangat anggun."


Celutuk salah satu dari gadis itu masih menatap Yuji dan Shiina dari kejauhan.


"Itu artinya dia buaya! Aku tidak menyangka jika dia bisa seperti ini! Huft ... untung saja aku sudah putus dengannya!" dengus gadis lainnya yang tak lain adalah Ai.


Ai cukup merasa kesal dan menatap tajam mereka berdua dari kejauhan dengan kedua tangan yang disilangkannya di bawah dadanya.


"Yuk kita nonton juga!!" imbuh Ai sambil menarik tangan Megu untuk mengajaknya membeli tiket.


Ai yang sebenarnya tidak terlalu menyukai menonton film horor, kini dia malah memutuskan untuk menonton film horor hanya untuk ingin mengikuti Yuji dan Shiina.


.


.


.


"Ai, mengapa kita malah menonton film horor? Bukankah sebelumnya kita ingin menonton film terbaru dari Keichiro?" protes Megu keheranan.


Megu berkata setengah berbisik karena saat ini mereka berdua sudah berada di dalam teater untuk menonton sebuah film horor. Bahkan mereka duduk di belakang Yuji dan Shiina, dan hanya berselang benerapa kursi saja. Namun Shiina dan Yuji belum menyadari semua ini.


"Entah tiba-tiba saja aku ingin menonton film horor. Kita bisa menonton film terbaru dari Keichiro lain kali." jawab Ai dengan entengnya, sepasang matanya bahkan tak terlepas untuk terus menatap Yuji dan Shiina.


"Lain kali apanya?! Hari ini adalah hari terakhir film terbaru Keichiro tayang di teater lo! Apa kamu melupakan hal sepenting itu, Ai?!" dengus Megu kesal.


"Oh ..."


Jawaban singkat dan padat dari Ai, tentunya semakin membuat Megu kesal. Dan kini pandangannya mulai mengikuti pandangan Megu. Hingga akhirnya Megu mulai menyimpulkan sesuatu.


"Huft ... kamu masih menyukai Yuji. Mengapa kamu tidak bicara jujur saja dengannya? Siapa tau dia juga masih menyukaimu, Ai? Daripada kamu bersikap seperti ini terus, lebih baik kamu mengatakannya padanya. Yuj ..."


Dengan cepat Ai membungkam mulut Megu dan menariknya untuk menunduk.


Sementara itu Yuji merasa jika ada yang baru saja memanggilnya. Dia menoleh ke sekitar dan ke belakangnya, namun tak ada yang dikenalinya. Ditambah lagi saat ini lampu sudah padam, tentu saja suasana remang-remang ini sedikit menyulitkan untuk mengenali seseorang.


"Ada apa, Yuji?" tanya Shiina karena melihat Yuji celingukan.


"Aku merasa jika ada seseorang yang memanggilku. Tapi mungkin aku hanya salah dengar saja." sahut Yuji kembali duduk dengan benar.


[ Tuan Yuji, misi akan segera dimulai. Misi kali ini adalah membuat nona Ai merasa kesal dan mengira jika tuan sudah benar-benar sudah melupakannya. ]


Tiba-tiba saja suara Zero mulai terdengar.