
Kesulitan dalam mencari bahan baku di dalam bisnis kuliner merupakan masalah yang cukup serius. Karena pada dasarnya bahan baku adalah kebutuhan paling penting dalam usaha makanan atau minuman. Bahan baku menjadi kebutuhan pokok yang menentukan jadi atau tidaknya produk tersebut.
Ketersediaan bahan baku yang dinamis dalam waktu tertentu akan membuat para pengusaha kuliner harus memutar otak. Tidak heran apabila permasalahan bisnis kuliner ini membuat biaya produksi meningkat karena harus mengambil bahan baku dari tempat jauh.
Setelah terdiam selama beberapa saat dan mencoba untuk mencari jalan keluar, akhirnya Yuji menemukan sebuah cara sederhana untuk mengatasi masalah kali ini.
Namun bukan berarti setelah ini dia harus berdiam diri dan bersantai saja, melainkan dia harus segera menyelesaikan secara menyeluruh dan mendapatkan beberapa bahan baku seperti semangka Densuke, melon yubari, dan jamur matsutake.
"Hilangkan segala daftar menu yang menggunakan bahan baku semangka Densuke, melon yubari, dan jamur matsutake dari daftar menu untuk saat ini. Segera cari suppliar lain untuk men-cover semua masalah ini! Dan lagi ... kirim beberapa orang untuk menyelidiki masalah ini ke Hokkaido! Karena aku merasa ada yang sedikit aneh dengan hal ini."
Ucap Yuji memutuskan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah kali ini.
"Baik, Tuan Yuji. Aku akan melakukannya sebaik mungkin. Dan akan mengusahakan semua madalah ini cepat teratasi.
"Oh ya. Tolong rubah juga interior dari seluruh cabang. Berikan interior yang lebih menarik dan nyaman di Yummy restoran. Karena interior juga menjadi hal menarik yang dapat menjadi pemikat para konsumen agar mereka juga tidak merasa bosan juga." imbuh Yuji lagi.
"Baik, Tuan Yuji. Dipahami. Kalau begitu aku permisi, Tuan. Aku akan segera mengurus semua ini." ucap manager Yanai berpamitan.
"Baiklah. Terima kasih karena sudah bekerja keras, Manager Yanai."
"Baik, Tuan Yuji. Permisi." ucap manager Yanai membungkukkan badannya menghadap Yuji.
Setelah mengatakannya, managet Yanai segera meninggalkan kediaman Yuji. Sementara Yuji masih saja terdiam selama beberapa saat, terduduk di atas sofa dan memijit keningnya.
Baru setelah beberapa saat dia memutuskan kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan diri dan beristirahat.
...πππ...
Keesokan harinya, usai kelas berakhir Yuji segera pergi ke sekolahan Yor untuk menjemputnya dengan motor besarnya. Dan hal ini sungguh menghebohkan kembali teman-teman Yor.
Dulu saja gadis-gadis SMP itu sudah begitu heboh dan mulai melirik Yuji disaat Yuji datang ke sekolahan Yor. Dan kini Yuji datang dengan menggunakan motor besar yang begitu gagah. Tentunya hal ini semakin membuat para gadis itu terpana.
"Whoa ... kakakmu semakin lama semakin terlihat tampan dan mempesona deh, Yor! Benar-benar terlihat seperti seorang pangeran dan keren!" celutuk salah satu teman Yor yang kebetulan keluar meninggalkan sekolahan bersama Yor.
"Pangeran apaan sih? Kak Yuji masih saja sama saja deh menurutku. Hanya saja ..." ucap Yor terhenti karena dia tak ingin mengatakannya kepada teman-temannya jika saat ini kakaknya sudah termasuk sukses dan memiliki sebuah restoran besar dengan memilili kebih dari 500 cabang.
"Hanya saja apa, Yor?" tanya teman Yor bersemangat.
"Hehe ... tidak ada kok." sahut Yor meringis
Dari kejauhan, tepatnya seberang jalan, Yuji yang sudah melihat Yor meninggalkan sekolahannya segera melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Yor membalasnya dengan senyum lebar dan segera berpamitan dengan kedua temannya.
"Aku pulang duluan ya! Kak Yuji sudah menunhguku. Jaa matte ne! " ucap Yor memegangi kedua penggendong tasnya dan bersiap untuk menyebrang jalan.
Namun kedua temannya malah menahannya, "Yor, tunggu!"
"Ha? Ada apa?" tanya Yor menatap kedua temannya bingung.
"Ehh? Tumben sekali. Biasanya kalian paling malas kalau belajar kelompok di rumahku deh!" sahut Yor curiga.
"Hehe ... aku janji deh akan bawakan kue kesukaanmu nanti. Bagaimana?" ucap gadis itu berusaha untuk membujuk Yor.
"Hhm? Okay deh terserah kalian saja. Ya sudah aku pergi dulu ya. Bye ..."
"Bye ..."
Yor segera menyebrangi jalan dan menghampiri Yuji.
"Mengapa lama sekali? Mengapa teman-temanmu menahanmu, Yor?" selidik Yuji sambil memberikan helm untuk Yor.
Yor mendengus dan memasang wajah cemberut sambil mengenakan helm, "Huft. Gara-gara kakak tuh!" sungut Yor.
"Eh? Bagaimana bisa karena kakak? Kakak bahkan tidak terlalu mengenal mereka loh." sahut Yuji tak mengerti.
"Entah deh. Akhir-akhir ini kakak sering tebar pesona sih di hadapan mereka. Jadi mereka malah seperti itu dan merengek-rengek untuk dicomblangin sama kakak. Huft ..." ucap Yor lalu naik dan duduk di belakang Yuji.
"Ehh? Tebar pesona? Perasaan kakak tidak pernah melakukannya lo."
"Hehe entahlah, Kak. Ya sudah ayo kita ke Queen square mall !"
"Okay! Apa ada sesuatu yang sedang ingin kamu beli?" tanya Yuji sambil memakai helmnya kembali.
"Hhm. Ada beberapa yang sedang aku inginkan, Kak."
"Ya sudah, kalau begitu pilih saja semua yang kamu mau. Kakak akan membelikan semua yang kamu inginkan."
"Hhm. Okay!"
Yuji segera menghidupkan mesin motornya kembali dan mulai melajukan motornya. Tak butuh melakukan perjalanan yang lama, bahkan hanya dalam 20 menit saja mereka sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan itu.
Yor terlihat begitu antusias memasuki tempat perbelanjaan itu. Dan sepertinya dia memang berniat untuk membeli beberapa barang yang diinginkan. Dia memasuki sebuah butik besar di dalam pusat perbelanjaan itu.
Namun anehnya Yor malah mendatangi tempat pakaian pria. Dan hal ini sungguh membuat Yuji menatap Yor yang sedang sibuk memilih pakaian pria itu dengan tatapan rumit.
Apakah dia sudah memiliki seorang kekasih? Dan kali ini dia sedang ingin membelikan sesuatu untuk kekasihnya? Haishh ... ini tidak boleh dibiarkan! Bukan berarti aku tak mengijinkan dan mengajarinya untuk pelit, tapi dia juga harus menjaga dirinya sendiri agar tidak mudah untuk memberikan apapun untuk seorang pria. Terlebih hubungan mereka seharusnya masih sangat baru.
Batin Yuji segera menghampiri sang adik dan berniat untuknmenengurnya.
"Ehem ..."
Yuji berdehem sekali dan segera berniat untuk menyampaikan sesuatu. Namun disaat itu Yor malah menempelkam sebuah kemeja berwarna hitam bada tubuh Yuji, hingga membuat Yuji kehilangan kata-kata yang sebelumnya sudah dia siapkan untuk menegur Yor.
Raut wajah Yor terlihat begitu berbinar disaat disaat melakukan hal itu. Bahkan bukan hanya satu kemeja saja yang ditempelkan pada tubuh depan Yuji, melainkan ada lebih dari 10 pakaian yang terdiri dari sweater, kemeja, kaos, pakaian hangat maupun beberapa celana jeans dari warna gelap hingga warna terang.