Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Pertarungan



Shoto bukanya segera menganggangkat kedua tangannya. Namun dia malah berkacak pinggang dan menatap keenam pria itu secara bergantian dengan pandangan yang sudah sedikit berbayang.


"Hhm? Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?" ucap Shoto malah menantang preman itu dan terkekeh pelan.


"Kau akan habis ditanganku jika berlagak sok keren, Bocah sialan!" salah pria itu berlari kecil ke arah Shoto dan berniat untuk memberikan pelajaran untuknya.


Jelas saja Shoto yang memang sudah tidak berdaya tak bisa menghindari serangan itu dan malah membuat tubuhnya terhempas ke belakang hingga menabrak sebuah meja.


Sang pria yang sudah merasa ditantang tak mau mengakhirinya begitu saja, dia masih saja menghajar Shoto dengan tendangan dan tinjunya.


Yuji yang melihat kekacauan yang telah diperbuat oleh Shoto, tak mau melewatkannya begitu saja. Dia juga akan segera beraksi untuk segera menyelesaikan semua kekacauan ini demi misinya. Biar bagaimanapun Yuji juga harus melindungi Shoto demi misinya.


"Yor, Shiina! Kalian menyingkirlah dan cari tempat persembunyian yang aman! Aku akan menghitung sampai 3. Dan pada hitungan ketiga, kalian harus segera berlari bersama dan jangan sampai terpisah. Apa kalian mengerti?" ucap Yuji berbisik kepada kedua gadis yang masih berdiri di belakangnya.


"Ba-baik! Aku mengerti, Kak!" Yor menyauti terbata, karena pastinya dia juga sangat ketakutan saat ini.


Sedangkan Shiina masih saja terdiam dan wajahnya pucat.


"Shiina, apa kamu bisa melakukannya?" bisik Yuji beralih memiringkan wajahnya ke sisi kiri, dimana Shiina berdiri di sisi belakang kirinya.


"Ba-baik ..." ucap Shiina gemetar.


"Yor, ajak Shiina bersamamu! Kakak percaya padamu!" ucap Yuji kembali karena tak sepenuhnya yakin jika Shiina bisa melarikan diri dengan baik.


"Baik, Kak Yuji. Percayakan padaku!" sahut Yor yang juga berbisik dan mulai bersiap.


"Baiklah ... kakak akan mulai menghitung. Kalian bersiaplah! Satu ... dua ... tiga ... SEKARANG!!" tepat disaat itulah Yuji segera menendang sebuah meja dan mengenai beberapa pria itu hingga mereka terjungkal.


BRAKK ...


BRUGHH ...


Dan disaat itulah Yor segera meraih tangan Shiina dan segera membawanya berlari untuk pergi ke ruangan dapur bersembunyi. Sementara beberapa pengunjung masih ada yang tak bergeming di tempat, tapi sebagian dari mereka ada yang panik dan berlarian.


Sementara Yuji mulai berlari cepat ke sisi kanannya dan segera berpegangan pada sebuah tiang besi yang biasanya dipergunakan untuk para penari tiang yang berpakaian dengan cukup sexy dan terbuka.


Kedua tangan Yuji berpegangan pada tiang besi itu, lalu dia mulai mengayunkan tubuhnya berputar dengan cepat berlawanan dengan arah jarum jam dan sukses menendang 2 orang preman yang sedang berada di sekitarnya.


BRRAAKK ...


GUBRRAAKK ...


PRRANNGG ...


Kedua preman yang terkena tendangan kuat dari kaki panjang Yuji, seketika langsung ambruk dan menimpa beberapa meja dan kursi sekaligus dan menjadikan ruangan ini semakin menjadi berantakan.


TAR ...


Yuji yang sudah mendarat di atas lantai, mulai menguling beberapa kali. Lalu dengan sebuah pergerakan cepat, Yuji naik ke atas sebuah meja bar dengan sekali hentakan tubuhnya.


Lalu dengan cepat Yuji terjun kembali dengan menghantam tubuh seorang preman hingga terjatuh dan menimpa preman yang lainnya. Hingga kini masih tersisa seorang preman lagi, dan dia adalah sang bos yang saat ini sudah menodongkan senjata laras pendeknya dari kejauhan ke arah Yuji yang belum siaga kembali.


Sang bos yang berada dalam posisi arah jam 2 dari Yuji, kini mulai menarik pelatuk senjata laras api laras pendeknya. Posisi ini cukup menguntungkan untuk Yuji, karena dia bisa melihat pergerakan tersebut.


Hingga pada akhirnya Yuji segera menarik salah satu pria yang baru saja dikalahkannya dan kini digunakan untuk menjadi perisainya.


TAR ...


Satu amunisi panas meluncur dari senapan api tersebut dan tepat mengenai dada sang preman yang dijadikan Yuji sebagai perisai untuknya.


Dengan cepat Yuji segera menghempaskan tubuh pria itu ke arah sang bos dan ambruk tak jauh dari sang bos. Disaat itulah Yuji segera keluar dari balik tubuh sang pria perisai yang sudah ambruk itu.


Dengan pergerakan cepat, Yuji meraih dan menarik sebuah taplak meja berwarna putih mengkilap yang di atasnya sudah tersaji beberapa makanan yang begitu menggiurkan saliva, namun semua makanan itu masih sangat rapi dan masih utuh. Dan sepertinya semua makanan itu belum disentuh sama sekali oleh sang pemesan.


Dengan begitu gesit Yuji mulai menghempaskan taplak beserta segala sesuatu yang berada di atasnya ke arah sang bos yang sedang berniat untuk menarik pelatuk dari senjata apinya kembali untuk melukai Yuji.


Namun belum sempat sang bos menarik pelatuk dari senjata apinya kembali, taplak itu sudah berhasil menutupi dan membungkus sang bos preman itu. Sedangkan segala makanannya mulai berjatuhan menghujani preman itu, hingga akhirnya tembakan itu tertahan.


Namun rupanya salah satu dari mereka masih ada yang sadar dan kembali berusaha untuk menyerang Yuji. Dan rupanya pria itu adalah pria yang pada awalnya menghajar Shoto.


Pria itu berlari dari arah jam 10 dan sudah bersiap dengan sebuah pisau lipat keci yang akan digunakan untuk menghunus tubuh Yuji. Yuji yang menyadari pergerakan itu, segera menendang sebuah meja berbentuk kotak dengan begitu santai hingga meja itu menabrak preman itu hingga mendorong tubuhnya menabrak dinding.


BRRAAKK ...


Preman itu terbatuk-batuk dan memuntahkan seteguk darah segar.


"Hei, Bocah sialan!" tiba-tiba terdengar teriakan seorang pria. "Cepat hentikkan semua ini dan angkat tangan jika kau tak mau nyawa gadis ini berakhir begitu saja!" ucap seorang pria dengan suara yang menggelegar dan berasal dari belakang Yuji.


Yuji menghentikan aksinya dan perlahan mulai berbalik. Kali kini dia dibuat sedikit terkejut saat mengetahui seorang preman sedang menyandra seorang gadis, dan gadis yang sedang disandra ternyata adalah Yor.


Ternyata ada salah satu preman yang sudah mulai pulih kembali dan dia segera mencari seorang sandera untuk menghentikan aksi Yuji.


"Yy-Yoorr ..." Yuji bergumam lirih dengan sepasang pupil kecoklatannya yang bergetar menatap sang adik yang sedang disandera oleh salah satu dari pria itu.


Satu kartu kelemahannya kini sudah berhasil dipegang oleh preman itu. Meskipun ini hanyalah sebuah kebetulan semata, namun tentunya cukup membuat Yuji semakin berhati-hati saat bertindak.


Yor terlihat begitu ketakutan saat melihat sebuah pisau yang berada tak jauh dari wajah dan lehernya. Bahkan dia terlihat sedang menahan napasnya kali ini. Begitu juga dengan Yuji yang seketika merasa cemas menyaksikan semua itu. Semua ini seperti sebuah dejavu untuk mereka berdua.