
"Tempat macam apa ini?" celutuk Yor menatap sekelilingnya dengan tatapan aneh, karena sebelumnya Yor sama sekali belum pernah mendatangi tempat seperti ini.
Tak berbeda jauh dengan Shiina, gadis cantik bermata bulat itu juga menatap sekelilingnya aneh. Seperti tidak merasa nyaman. Bahkan dia juga tidak berani untuk berada jauh dari Yor, Yuji dan Jin. Dia masih saja menempel duduk di dekat Yuji.
Yeap, setelah menyelesaikan makan malam di Yummy restaurant, tiba-tiba saja Jin membawa mereka meendatangi sebuah tempat karaoke yang cukup unik. Tempat karaoke ini malah terlihat seperti sebuah bar, karena terbuka dan dinikmati bersama.
Mereka yang ingin bernyanyi dipersilakan dan semua orang bisa mendengarkannya sambil menikmati makan malam mereka sambil menikmati wine mereka, atau hanya sekadar datang untuk cuci mata. Karena begitu banyak gadis-gadis cantik berpakaian super minin, tipis dan sexy disini.
Yuji memijit keningnya pusing melihat semua ini dan menggeleng samar. Dia menyikut lengan Jin dan berbisik sesuatu, "Tempat macam apa ini, Jin? Kita bahkan masih SMU! Dan lagi aku juga sedang mengajak Yor dan Shiina!"
"Memang bagian mana yang salah, Yuji? Tempat seperti ini sangat umum dan siapapun bisa mengunjunginya. Lihat mereka yang berada di pojok ruangan itu!" sahut Jin menuding ke arah pojokan depan menggunakan tatapannya.
Terlihat sekelompok pemuda yang sedang bersenang-senang dengan menikmati wine ditemani beberapa wanita cantik berpakaian super minim dan sexy.
"Shoto?"
Gumam Yuji pelan dan masih berusaha untuk memastikan sesuatu apakah pemuda itu benar-benar Shoto atau bukan. Karena keadaan ruangan ini sangat remang-remang, dengan lampu berwarna-warni yang meneranginya, membuatnya merasa ragu.
"Ya. Kau benar! Shoto sering mengunjungi tempat ini bersama teman-temannya. Terutama saat akhir pekan. Tempat ini sebenarnya cukup elit dan berkelas. Aku sering mendengar saat mereka membicarakannya di kantin sekolah. Maka dari itu aku penasaran dan mengajak kalian malam ini mengunjungunya. Hehe ..." jawab Jin juga berbisik.
"Jika kita hanya datang berdua aku tidak akan mempermasalahkannya, Jin. Namun kali ini ada Yor dan juga Shiina. Bagaimana jika sampai tunangan Shiina tau jika aku mengajaknya datang ke tempat seperti ini? Dan apa pandangan Yor melihat dunia seperti ini." balas Yuji masih berbisik.
"Sudahlah! Sebaiknya aku mengajak mereka pulang saja! Kamu bersenang-senanglah sendirian! Dan jangan khawatir, aku akan membayar semuanya!" ucap Yuji mulai bangkit dari tempat duduknya dan beralih menatap Yor dan Shiina.
"Yor, Shiina! Ayo kita pulang saja!" ajaknya yang sudah menggendong ransel hitamnya dengan satu bahu saja.
Yor dan Shiina segera berdiri dan ingin mengikuti Yuji.
"Ehh ... Yuji, tunggu! Tega sekali kamu mau meninggalkanku sendirian disini." sergah Jin.
"Salahmu sendiri membawa kami ke tempat ini! Ayo, Yor! Ayo, Shiina!" ucap Yuji mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Jin.
Kedua gadis itu segera membuntuti Yuji karena tak mau tertinggal olehnya. Namun tiba-tiba saja suara sang pemandu sistem mulai terdengar olehnya kembali dan membuat Yuji menghentikan langkah kakinya, hingga membuat Shiina menabrak punggungnya.
DING ...
[ Misi akan segera dimulai kembali, Tuan. Selamatkan semua orang dan kalahkan para betandalah itu! Misi dimulai dari sekarang. ]
Eh? Lagi-lagi misi dadakan?
Batin Yuji saat langkahnya kembali terhenti.
"Ada apa, Yuji? Mengapa kamu berhenti mendadak seperti ini?" tanya Shiina memegangi keningnya yang terasa sedikit sakit karena menabrak punggung Yuji.
"Apa ada sesuatu yang tertinggal, Kak?" Yor juga mulai bertanya.
Namun belum sempat Yuji menjawab mereka, tiba-tiba sebuah suara tembakan dan pecahan kaca mulai terdengar dan mengejutkan semua tamu di dalam tempat ini.
PRANG ...
Para tamu wanita seketika berteriak histeris dan mereka berlarian karena takut. Sementara Yor dan Shiina reflek meraih lengan pakaian Yuji dan bersembunyi di belakang Yuji karena juga ketakutan.
Yuji mengedarkan pandangannya untuk mencari tau apa yang sedang terjadi saat ini. Hingga pada akhirnya dia melihat seorang pria berpenampilan seperti preman dengan tubuh yang kekar, besar dan dipenuhi dengan banyak tato. Dia juga membawa sebuah senjata api laras pendek.
Sementara di belakangnya juga ada 5 pria dengan penampilan yang sama, layaknya seorang preman. Mereka membawa masing-masing senjata seperti pisau lipat kecil.
"Semua angkat tangan dan jangan ada yang berani keluar dari tempat ini!!" tandas salah satu dari mereka menggelegar.
Sontak saja semua pengunjung tak ada yang berani bergerak. Mereka dia di tempat dan mengangkat kedua tangan masing-masing. Termasuk Yuji dan Yor. Namun Shiina tak mengangkat kedua tangannya, dia masih berpegangan erat pada lengan pakaian Yuji dengan raut wajah ketakutan.
"Hoi kamu!! Mengapa tidak mengangkat tanganmu?!! Apa kamu ingin memberontak dan melawan kami?! Cepat angkat tanganmu, gadis manis!" hardik preman itu menatap tajam Shiina yang hanya berjarak kira-kira 7 meter darinya.
Shiina masih saja tidak mengangkat kedua tangannya dan masih berpegangan semakin erat hingga malah memeluk lengan Yuji. Sepasang matanya bergetar dan tubuhnya pun gemetaran. Seumur hidup dia tak pernah berhadapan dengan para preman seperti ini. Bahkan dia juga tidak pernah mengunjungi tempat seperti ini.
"Shiina angkat tanganmu! Jangan takut, aku akan melindungimu." Yuji berbisik dan sedikit memiringkan wajahnya melirik Shiina yang masih berada di sisi kiri belakangnya.
Perlahan Shiina melepaskan cengkeramannya dan mengangkat kedua tangannya.
"Gadis manis! Sepertinya kami akan sangat rugi jika melepaskannu begitu saja ..." sang preman rupanya malah tertarik pada Shiina dan hendak berjalan mendekati Shiina.
Hal ini tentu saja semakin membuat Shiina ketakutan bukan main dan semakin menyembunyikan dirinya di belakan tubuh Yuji.
Namun tiba-tiba saja salah satu dari mereka malah meraih kerah pakaiannya dan menahannya.
"Bodoh! Jangan macam-macam dan segera selesaikan tujuan utama kita malam ini!!" tandasnya mengingatkan.
"Cihh!! Baiklah!!" dengus pra itu kesal karena gagal untuk mendapatkan mangsanya.
"Lakukan dengan cepat dan segera tinggalkan tempat ini!" perintah sang bos yang membawa senjata api laras pendek.
Mereka mulai menggeledah beberapa tas pengunjung dan mengambil barang-barang berharga milik mereka. Namun tiba-tiba saja perhatian mereka mulai fokus pada seorang pemuda yang sudah berdiri dengan berkacak pinggang dalam keadaan yang sudah mabuk. Dia adalah Shoto yang malah berusaha menantang keenam berandalan itu.
"Hei kalian!! Jangan berbuat sesuka hati kalian! Kau pikir siapa kalian hingga berani mengaturku?!! Apa kalian tidak tau siapa aku?! Hah??" ucap Shoto dengan wajah yang sudah memerah karena mabuk.
Ckk ... si bodoh Shoto ini dalam keadaan mabuk pun masih saja sombong seperti ini!
Batin Yuji mendengus kesal.
"Angkat tanganmu, Bocah!! Kau pikir siapa yang memegang kendali disini saat ini?!!" tandas seorang pria naik di atas meja dan berkacak pinggang menatap Shoto.
"Hhm? Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?" ucap Shoto malah menantang preman itu dan terkekeh pelan.