Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Permintaan Tolong Yor



Usai melakukan pertemuan bersama Hans, Yuji memutuskan untuk segera pulang. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering saat dia hampir saja mengendarai motor kerennya yang selalu terlihat menyilaukan mata para pemuda maupun para gadis.


"Moshi-moshi ( hallo ). Ada apa, Yor?" ucap Yuji saat mengangkat panggilan itu.


"Kak Yuji ... kakak masih lama pulang ya?" tanya Yor lirih, bahkan terdengar seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit.


"Kakak sudah mau pulang, Yor. Ada apa? Apa telah terjadi sesuatu? Apakah tubuhmu terasa sakit lagi?" tanya Yuji mulai mengkhawatirkan keadaan Yor.


"Ughh ... iya, Kak. Perutku sedang sakit sekali. Dan aku tidak bisa pergi kemana-mana saat ini. Bolehkah aku meminta tolong kepada kakak?" ucap Yor masih terdengar menahan rasa sakit.


"Tentu saja! Katakan saja pada kakak! Kalau tidak kakak akan segera ngebut. Dan kita akan segera pergi ke rumah sakit saja. Tunggu sebentar di rumah dan jangan pergi kemana-mana!" ucap Yuji terburu dan segera ingin mengakhiri panggilan itu, karena ingin segera secepat mungkin sampai di kediamannya.


"Tidak perlu ke rumah sakit, Kak. Aku hanya sedang butuh sesuatu saja kok. Bisakah kakak membelikan untukku?" ucap Yor dengan cepat karena khawatir jika Yuji akan benar-benar mengakhiri panggilan itu.


"Baiklah. Katakan pada kakak. Kakak akan membelikannya untukmu. Apapun itu!" ucap Yuji penuh dengan keyakinan.


"Uhm ... ano ... itu, Kak ... persediaan milikku di rumah sedang habis. Dan aku sungguh tidak bisa pergi ke luar saat ini." ucap Yor masih terbata dan ragu-ragu.


"Katakan pada kakak. Barang apa itu?"


"Pembalut ..." ucap Yor lirih, dan sudah bisa dipastikan wajahnya saat ini sudah meringis dan memerah seperti tomat.


Mendengar satu kata yang cukup mengejutkan itu, seketika membuat Yuji membeku selama beberapa saat karena cukup bingung. Bahkan selama ini dia tak pernah melihat atau memegang secara langsung barang keramat itu.


"Yy-Yor ... uhm ... ano ... beli saja melalui online dengan go-send. Kakak sama sekali tidak tau dengan barang semacam itu ..."


"Hiks ... semua kurir pengantar kebanyakan adalah pria, Kak. Itu akan sangat memalukan sekali. Hiks ..." ucap Yor memelas dan lemas.


"Baiklah-baiklah! Kakak akan membelikannya untukmu deh. Bye ..."


"Bye ..."


Yuji segera mengakhiri panggilan itu dan segera mengenakan helmnya. Dia mengendarai motor besarnya ke arah jalur Danenchofu, dan akan mampir ke mini market yang berada di dekat rumahnya saja.


Namun baru saja melakukan parkir di hadapan mini market itu, tiba-tiba saja Yuji mendengarkan kembali suara Zero.


[ Misi akan segera dimulai, Tuan. Misi kali ini adalah membantu orang yang tertindas dan memberikan pelajaran terhadap sang penindas. ]


"Penindas dan sang penindas?" gumam Yuji menatap sekelilingnya untuk mencari tau siapa yang akan berurusan dengan misinya kali ini.


Namun di sekitarnya tak ada siapapun. Hingga akhirnya Yuji segera memasuki mini market itu. Dan sebenarnya mini market itu adalah tempat dimana dia pernah bekerja sebelumnya.


Sesampainya di dalam, Yuji segera mendatangi meja kasir dan berniat untuk meminta tolong kepada petugas penjaga untuk mengambilkan pembalut itu tanpa repot mencari dan memilihnya. Karena tentu saja pilihan akan sangat banyak.


Dan Yuji sangat berharap juka pe jaga kasir adapah seorang pemuda. Namun betapa sialnya dia, sayangnya yang bertugas saat ini adalah seorang gadis.


"Hallo. Ada yang bisa kubantu, Kak?" sang gadis petugas kasir menyambut kahadiran Yuji dengan ramah.


Yuji terlihat ragu untuk mengatakannya, dia juga mengusap tengkuknya bingung harus mengatakannya seperti apa.


"Begini ... aku sedang mencari sebuah ... uhm ..." ucap Yuji sangat lirih.


"Ya, Kak? Bisakah kamu mengatakannya dengan lebih keras? Aku sama sekali tidak mendengarnya." ucap gadis petugas kasir itu.


"Oh pembalut wanita ya." sahut gadis itu kembali dengan suara nyaringnya.


"Ssttt ... pelankan suaramu, Nona."


Seketika Yuji menjadi gelagapan dan celingukan memperhatikan sekitarnya berharap tak ada pengunjung lain yang mendengarnya. Hanya ada 3 pengunjung lainnya saja yang masih sibuk untuk mencari beberapa barang di dalam rak-rak itu.


Dan sebenarnya niat Yuji meminta tolong kepada penjaga mini market adalah agar semua bisa lebih cepat terselesaikan. Namun rupanya pilihan Yuji telah salah. Hal ini malah semakin panjang dan rumit saja.


"Baik. Kakak mau yang tipe yang seperti apa? Dan mau merk apa?" tanya gadis itu kembali.


"Merk apa saja tidak masalah." jawab Yuji dengan cepat, berharap gadis itu akan segera mengambilkan barang yang sedang dibutuhkanya saat ini.


"Baiklah, Kak. Lalu apakah pembalut yang sedang kakak cari bersayap atau tidak bersayap?" tanya gadis petugas itu lagi.


"Eh ... apanya yang bersayap? Aku hanya sedang mencari pembalut yang aman saja." jawab Yuji dengan konyol karena dia benar-benar tidak mengetahui jenisnya.


"Baiklah kalau begitu kusarankan yang bersayap saja agar lebih aman dan tidak bergeser-geser. Sebentar ..."


Namun baru satu langkah melangkah, gadis itu kembali berhenti dan menatap Yuji lagi.


"Oya pembalutnya untuk siang atau malam hari, Kak?" tanya gadis itu kembali.


"Apa saja! Ambilkan saja yang lengkap deh!" ucap Yuji hampir saja frustasi karena beberapa pengunjung mulai menatapnya aneh.


Namum Yuji mengalihkan pandangannya untuk menghidari melakukan kontak mata dengan mereka semua.


Sungguh aku tidak pernah menyangka, jika memilih pembalut saja susah sekali seperti ini. Huft ...


Batin Yuji menghembuskan nafas kasarnya ke udara.


Setelah beberapa saat akhirnya gadis itu segera kembali lagi dengan membawa beberapa bingkisan kecil yang berwarna-warni dengan gambar-gambar lucu.


"Aku membawakan beberapa, silakan kakak memilihnya." ucap gadis itu setelah kembali.


"Bungkus saja semua ini!" Yuji menyauti dengan cepat.


"Baiklah, Kak." sang gadis penjaga kasir mulai membungkus semua itu dan Yuji juga segera membayarnya.


Dia berniat untuk segera meninggalkan mini market ini, namun tiba-tiba saja seorang pria sangar menyenggol tubuhnya dan meletakkan 2 botol wine dan 2 bungkus rokok di atas meja kasir. Sementara kedua temannya yang yang kalah sangar menunggunya di pintu.


Pada awalnya Yuji tak ingin ikut campur, namun setelah melihat siapa mereka, akhirnya Yuji menghentikan langkah kakinya. Sang bos adalah sosok yang pernah menghajarnya di masa depan, disaat Yuji masih bekerja dimini market.


Dan disaat itu sang bos yang sebenarnya masih memiliki usia di bawah umur, memaksa untuk membeli wine. Namun karena Yuji menghalanginya semua itu, Yuji malah dihajar hingga babak belur olehnya.


TAK ...


"Aku ingin membeli semua itu!" tandas pria sangar itu penuh dengan intimidasi dan penekanan.


"Tolong perlihatkan kartu identitasnya, Tuan." ucap sang wanita penjaga kasir dengan ramah.


"Apa?!! Apa kamu sedang tidak mempercayaiku?!!!"