
Tuan, aku sudah menemukan dalang dari penyebab gagal panen terhadap suppliar kita yang berasal dari Hokkaido. Manager Yanai.
Siang itu saat pergantian jam pelajaran, Yuji menerima sebuah pesan dari manager Yanai. Dia segera membalas pesan itu.
Temui aku di K Group setelah aku pulang sekolah! Sekalian aku ingin melihat-lihat K Group. Yuji.
Setelah mengirimkan pesan itu, Yuji segera menyimpan kembali ponsel berlogo strawaberry itu. Dan disaat itulah seseorang mulai menghampirinya.
"Yuji, bisa bantuin aku ngantar tugas-tugas ini ke ruang guru tidak?" tiba-tiba Ara sudah berada di sebelah meja Yuji dengan membawa sebuah tumpukan tugas para siswa yang akan dikumpulkan di ruangan guru.
"Oh iya. Biar aku saja yang membawakannya." sahutnya lalu merapikan buku-bukunya dan segera bangkit dari tempat duduknya.
Yuji segera meraih tumpukan tugas itu dan berniat untuk membawa tumpukan tugas itu seorang diri. Namun Ara berusaha untuk meraih beberapa buku tugas itu.
"Kita bagi jadi dua, Yuji. Dan kita akan mengantarnya bersama." sahut Ara sembari meraih beberapa buku tugas itu.
"Tidak, Ara. Aku saja yang membawakannya. Ayo!" sahut Yuji mulai melenggang dengan membawa tumpukan tugas yang cukup tinggi itu dan segera diikuti oleh Ara.
Sedangkan Jin yang melihat semua itu hanya sekilas memasang wajah murung dan lesu, lalu kembali mengerjakan tugas sekolahnya yang seharusnya dia kerjakan di rumah. Dan sebenarnya kali ini dia tidak sedang benar-benar mengerjakan tugas itu, melainkan dia hanya menyalin tugas milik Yuji. Sesekali dia juga mendengus masih dengan wajah kusutnya.
"Ayolah, Jin! Semangat menyalin semua ini sebelum jam guru killer itu tiba!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
"Hhm. Tapi mengapa akhir-akhir ini Yuji berubah sedikit lebih pintar dan rajin ya? Padahal dulu kita sering sama-sama melupakan tugas sekolah. Tapi akhir-akhir ini dia sangat rajin dan selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Hmm ..." gumamnya lagi bingung.
"Fokus, Jin! Jangan pikirkan yang lain saat ini! Dan segera salin semua ini!!" imbuhnya lagi kembali menyemangati dirinya sendiri dan segera menyalin pekerjaan rumah Yuji.
Sementara itu, Yuji dan Ara masih bersama-sama untuk menuju ke ruangan guru. Namun karena tumpukan yang lumayan tinggi itu, dia sedikit kurang bisa melihat jalan. Dan disaat itu seorang siswa yang berada tak jauh darinya mulai mengamatinya.
"Bukankah itu adalah si sampah miskin Yuji? Rupanya dia masih saja bertahan di SMU ini ya. Aku kita kepala sekolah sudah menendangnya karena dia yang tak bisa melunasi pembayaran sekolah. Ckkk ..." cibirnya dengan senyum mengejek.
Pemuda dengan rambut keemasan dan sedikit gondrong itu menghempaskan bola rughby-nya dan mulai menghadang Yuji dan Ara dengan berkacak pinggang. Pemuda itu adalah Kensho Ono, salah satu siswa dari klub rugby SMU Keio sebagai quarter back. Dan selama ini dia juga selalu meremehkan Yuji. Dia baru saja melakukan cuti sekolah selama 3 bulan, dan kini baru saja kembali ke sekolahannya.
"Hei hei hei ... lihatlah siapa yang sedang menghalangi jalanku saat ini? Apakah dia sangat merindukan serangan tackle kuatku yang bisa meremukkan tulang rusuk?" ucap Kensho Ono dengan tawa meremehkan yang sangat menyebalkan.
Bahkan kedua temannya yang berdiri di belakang pemuda arogan itu juga tertawa renyah meremehkan Yuji.
"Kensho, aku harus segera mengantarkan tugas-tugas ini ke ruang guru. Ayo, Ara!" sahut Yuji berniat untuk meninggalkan tempat itu dan sedikit berjalan melewati pinggir, karena sepertinya Kensho ono memang sengaja menutup jalannya.
"Hei, Pecundang Yuji! Setelah 3 bulan tak mendapatkan serangan dariku kamu sudah berubah menjadi begitu percaya diri, sombong dan sangat tak tau diri seperti ini ya. Berani sekali kamu!! Berikan dia pelajaran!" geram Kensho Ono lalu memberikan titahnya untuk kedua temannya.
"Okay, Bos Kensho!" sahut mereka berdua kompak dan segera meregangkan otot bahunya lalu kembali melenggang menghadang Yuji.
Yuji menghentikan langkah kakinya karena mereka tak memberikan jalan untuk Yuji dan Ara.
"Hmm. Tapi bagaimana denganmu, Yuji?" ucap Ara yang terlihat keberatan dan ragu.
"Aku akan baik-baik saja. Pergilah ..." sahut Yuji datar.
Meskipun cukup banyak dan berat, namun sebenarnya Ara masih bisa membawanya. Dan dia segera membawanya ke ruang guru sendirian, meskipun sebenarnya sangat berat hati ketika melihat ada 3 preman sekolah yang sedang berusaha untuk mengganggu Yuji kembali.
"Rasakan ini karena telah berani melawan bos Kensho! Hiathh!!" salah satu pemuda itu melayangkan tinjunya dengan penuh percaya diri.
Yuji tak berusaha untuk menghindarinya sama sekali. Dia malah menangkap tinju yang menurutnya sangat lemah itu, lalu meremas tangan pemuda itu.
"Argghh ... tanganku!!" pekik pemuda itu mengaduh kesakitan karena jemarinya terasa sangat sakit.
BRUGHH ...
Yuji menghempaskan pemuda itu, karena kini pemuda lainnya telah datang dan bersiap untuk menyerangnya juga. Namun Yuji lebih dulu mengangkap pergelangan tangannya dan menggunakan cara yang sama.
Yaitu mencengkeramnya sangat kuat hingga pemuda itu memekik kesakitan setelah terdengar sebuah retakan. Bahkan cengkeraman itu juga meninggalkan bekas memar nyata.
"Tanganku ... arghh ... sakit sekali ..." pekiknya.
"Dasar tak berguna! Memberikan pelajaran untuk sampah miskin ini saja tidak bisa!! Kalian berdua sungguh sangat lemah!!" Kensho Ono merasa sangat kesal dengan kedua anak buahnya dan kali ini mulai berniat untuk menyerang Yuji sendiri.
"Hiiatthh ..." pemuda berambut keemasan dan sedikit gondrong itu kini sedikit menunduk dan melayangkan tackle-nya untuk menyerang pagian bawah dada Yuji.
BUAGHH ...
Yuji sama sekali tak berusaha untuk menghidari serangan tackle kuat dari Kensho Ono. Karena saat ini Yuji telah memiliki kekuatan tubuh kuat dan kebal dari sistem. Bahkan dia juga akan segera pulih meskipun mengalami cedera.
Yuji menarik sudut-sudut bibirnya hingga menyembulkan sebuah seringai. Pandangannya masih menatap lurus ke depan, sementara sepasang matanya menatap pemuda berambut keemasan itu dengan sebuah seringai. Sehingga akan menimbulkan angle layaknya seorang devil yang menyeramkan jika Kensho sedang menatapnya dari bawah.
Dan kali ini Yuji meraih bahu lebar kiri Kensho Ono dan mencengkeramnya dengan kuat. Terlihat seperti bukanlah sebuah serangan, melainkan hanya terlihat seakan Yuji sedang menepuk bahu pemuda berambut keemasan itu saja.
Padahal sebenarnya Yuji mampu membuat tulang bahu pemuda itu hampir saja retak dengan tekanan yang sangat kuat.
"Eeemmhh ..." wajah pemuda berambut keemasan itu seketika memerah dan berkeringat. Sangat terlihat jika dia sedang menahan kesakitan.
Tenaga apa ini? Mengapa hanya dalam 3 bulan tak bertemu dengannya saja, dia sudah berubah menjadi sangat kuat seperti ini? Padahal saat itu, dia akan selalu babak belur hanya karena melawan kedua anak buahku saja.
Batin Kensho Ono masih berusaha untuk menahan rasa sakit pada bahu kirinya.