Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Masa Lalu



Senyuman tipis mulai terukir menyembul dari bibir tipisnya ketika melihat kedatangan seorang pria berpenampilan necis itu.


"Selamat malam, Tuan Yanai!" sapa petugas kepolisian itu berdiri dan membungkukkan badannya.


Seketika ekspresi petugas kepolisian itu juga berubah. Jika pada awalnya masih tegas dan penuh keyakinan jika Yuji memang bersalah karena telah mencuri, maka kini tiba-tiba ekspresinya menjadi rumit karena memiliki firasat yang kurang baik.


Darimana pencuri kecil ini mengenal tuan Yanai? Manager utama dan orang penting dalam salah satu perusahaan kuliner terbesar di negeri ini? Dia memiliki relasi yang cukup banyak dan sangat berpengaruh di kota. Tidak mungkin bukan jika dia datang untuk anak ini? Pasti ini hanyalah sebuah kebetulan semata bukan? Gawat sekali jika memang seperti itu ...


Batin petugas kepolisian itu mengusap peluh sebiji jagung pada pelipisnya dan berkedip cepat 2 kali sambil mengatur nafasnya. Namun sepasang mata petugas kepolisian ini tiba-tiba mulai membulat sempurna ketika melihat manager utama Yanai membungkukkan badannya menghadap Yuji.


Tidak mungkin! Sebenarnya siapa pemuda ini?


Batin petugas kepolisian itu dengan nafas yang sedikit tercekat.


"Tuan Yuji, maaf jika aku datang sangat terlambat. Ada sedikit kendala saat dijalan ..." ucap manager utama Yanai sungkan.


"Manager utama Yanai pasti orang yang sangat sibuk, disiplin dan memiliki waktu yang sangat berharga. Tidak ada yang berani mengganggu pekerjaan dan waktumu, tapi kali ini aku malah membuatmu datang ke tempat ini." ucap Yuji melirik petugas kepolisian itu, seakan sedang menyindirnya.


Dan hal itu semakin membuat pria berseragam aparat keamanan itu meneguk ludah dengan berat.


"Kamu hanya terlambat 3 menit saja kok. Aku akan memaafkanmu. Tidak masalah ... sekarang cepat selesaikan semua ini karena aku harus segera pulang dan tidak mau membuat adikku merasa khawatir." ucap Yuji masih dengan gaya santainya.


"Baik, Tuan Yuji." sahur manager utama Yanai lalu beralih menatap petugas kepolisian itu tajam.


"Pak kepala polisi, sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tuan Yuji tidak sedikitpun berniat buruk untuk mengambil motor itu. Seperti yang dia katakan, dia hanya meminjam. Dan kini dia sudah mengembaikannya bukan? Lalu dimana letak masalahnya?"


"Tidak bisa! Dia meminjam tapi merebutnya dariku dan membawa motorku pergi begitu saja! Itu namanya pencuri!!" tandas sang pemilik motor kekeh.


"Begini saja, aku akan memberikan uang kompensasi atas semua kejadian ini. Bagaimana dengan 1 juta yen? Apa itu cukup?" ucap manager utama Yanai menatap paman itu.


"Sa-satu juta yen?" ucapnya tak percaya dengan sepasang mata yang membulat sempurna.


"Apa masih kurang? Bagaimana jika 1.500 ribu yen?"


"Ehhh? Ba-baiklah!! Aku setuju!" ucap paman itu dengan cepat.


"Baik, aku akan segera mentransfernya." ucap manager utama Yanai mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah aplikasi.


Lalu setelah beberapa saat dia menyodorkannya kepada paman itu untuk memasukkan nomor rekeningnya. Setelah paman itu memasukkan beberapa digit angka, dia kembali memberikannya untuk manager utama Yanai dengan wajah berbinar.


Dan wajahnya semakin berbinar, ketika dia menerima sebuah notifikasi ponselnya yang berisikan pemberitahuan jika ada pentransferan sejumlah uang di dalam rekeningnya.


"Semua masalah sudah beres. Kalau begitu kami harus segera pergi. Silakan, Tuan Yuji." ucap manager utama Yanai memberikan jalan untuk Yuji.


Yuji segera beranjak dari tempat duduknya dan hanya menatap sekilas paman dan petugas kepolisian itu dengan helaan nafas kasar. Meski niat Yuji memang hanya meminjam sebentar saja, namun biar bagaimanapun cara Yuji memanglah salah.


.


.


.


"Tuan Yuji, bagaimana ini bisa terjadi?" tanya manager utama Yanai saat mereka berada di dalam sebuah Rolls Royce hitam metalik miliknya.


"Hhm. Sebenarnya aku hanya sedang mengejar beberapa berandalan yang sedang berusaha untuk menculik temanku. Karena hanya ada motor milik paman itu, akhirnya aku meminjamnya dengan paksa." jawab Yuji seadanya.


"Apa? Ini sangat berbahaya, Tuan. Aku akan segera memberikan beberapa pengawal untuk tuan Yuji. Untuk mengantisipasi jika hal-hal semacam ini akan terjadi lagi." sahut manager utama Yanai terlihat mengkhawatirkan Yuji dengan tulus.


"Oh ... baiklah." ucapnya dengan sangat terpaksa. "Apakah aku harus mempersiapkan sebuah mobil khusus untuk tuan? Tuan bisa memberitahukan padaku jika memang memerlukan sesuatu."


"Untuk saat ini, aku hanya sedang memerlukan sebuah ponsel baru. Jadi tolong siapakan segera untukku." ucapnya lirih karena merasa mengantuk. "Namun tidak ada salahnya kamu juga menyiapkan sebuah mobil dan motor untukku. Hanya untuk mengantisipasi saja sih ..."


"Baik, Tuan. Aku akan segera menyiapkan semua itu." sahutnya dengam nada rendah.


Dalam beberapa menit, mereka sudah sampai di kediaman Yuji. Setelah mengantarkan Yuji, sang manager pusat kembali berpamitan pulang.


...🍁🍁🍁...


Usai membersihkan dirinya, Yuji kembali duduk di tepian pembaringannya sembari mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Tak sengaja tatapannya menjadi nanar ketika melihat ponsel tuanya yang sudah rusak yang ada di atas nakasnya.


Helaan nafas panjang mulai dilakukannya. Ponsel itu sudah cukup lama menemani dirinya selama ini. Mungkin sudah ada sekitar 8 tahun yang lalu. Dan ponsel itu adalah hadiah terakhir dari kedua orang tuanya disaat Yuji berulang tahun yang ke-10 tahun.


Dan tiga hari setelah hari ulang tahun Yuji, kedua orang tuanya mengalami sebuah kecelakaan maut hingga menyebabkan kedua orang tuanya meninggal.


Pada awalnya sang paman mau merawat Yuji dan dan Yor saat itu. Namun waktu terus berlalu, dan tiba-tiba saja dia meminta Yuji dan Yor untuk meninggalkan kediamannya dengan alasan mereka sudah tak mampu secara perekonomian untuk mengurus Yor dan Yuji.


Padahal kediaman yang cukup megah itu merupakan salah satu warisan dari kakeknya yang saat itu mencetuskan ayah Yuji lah yang seharusnya mendapatkan warisan itu sebagai pewaris sah.


Namun takdir berkata lain, tak beberapa lama setelah kedua orang tua Yuji tiada, sang kakek juga meninggal karena sudah sebuah penyakit. Dan disaat itulah, Yuji dan Yor mulai meninggalkan kediaman itu karena perintah sang paman.


Yuji menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan. Dia mulai menepis kembali potongan ingatan yang menyesakkan itu. Karena meninggalkan rumah itu, mungkin adalah yang terbaik. Hal itu membuat Yuji tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan mandiri.


Dunia memang begitu kejam dan seperti rantai makanan. Yang lemah selalu berada di bawah dan ditindas. Sementara yang kuat, akan berdiri di puncak kejayaan. Mungkin saat itu dia berada di titik terendah.


Namun disitulah Yuji belajar dari semuanya! Disaat tak ada bahu untuk bersandar dan berkeluh kesah. Dia hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bertahan saat-saat itu. Hingga pada akhirnya di masa-masa terpuruknya saat itu, beruntungnya dia bertemu dengan sebuah sistem yang bisa perlahan merubah hidupya.


[ Tuan, apa kamu sedang merasa bersedih saat ini? ]


Tanya Zero tiba-tiba memecah keheningan.


"Darimana kamu tau, Zero?" jawab Yuji tersenyum simpul.


[ Otot-otot wajah dan raut wajah tuan menggambarkan semua itu. Mata bagian atas tuan Yuji sedikit turun ke arah bawah. Serta, mata tuan Yuji juga menjadi tidak fokus. Dan bagian sudut bibir tuan Yuji sedikit turun. ]


Lagi-lagi Yuji tersenyum simpul mendengarkan ucapan Zero.


"Aku hanya sedang merindukan ayah dan ibu." ucap Yuji dengan tatapan nanar masih menatap ponsel tua itu.


"Lupakan saja! Kamu tidak akan memahaminya, Zero." imbuhnya cepat dan merasa sia-sia karena berpikiran untuk bercerita mengenai kehidupannya dengam Zero.


"Uhm ... Zero, bisakah kamu sedikit menghiburku?" ucapnya lagi asal.


Zero terdiam selama beberapa saat lalu mulai menjawabnya.


[ Sistem tidak bisa merasakan apapun perasaan manusia. Sistem hanya bisa memberikan beberapa hadiah untuk tuan. ]


"Huft ... ya sudah. Kalau begitu berikan hadiah untukku!"


[ Baik, Tuan. ]


Segerumul cahaya kebiruan menyilaukan mulai terlihat di hadapan Yuji lalu mulai terlihat beberapa kartu berwarna hitam dengam tepian bercahaya dalam posisi tertutup.