Becomes A Billionare With Card System

Becomes A Billionare With Card System
Gadis Bertopeng Putih



Beberapa tamu undangan sudah mulai berdansa dengan pasangan dansa pilihannya masing-masing. Namun tidak untuk Yuji, karena dia sedang mencari seorang gadis yang sesuai untuk misinya kali ini.


Yuji segera melirik jam tangan yang melingkar dengan manis di pergelangan tangan kirinya dan seketika membulatkan matanya.


"Sudah jam 7 PM. Itu artinya aku hanya memiliki waktu satu jam saja. Aku harus segera menemukan gadis bertopeng putih itu!" gumamnya kembali menebarkan pandangannya untuk mencari gadis bertopeng putih itu.


Namun kebanyakan dari mereka memakai topeng berwarna-warni cerah, atau warna yang gelap seperti hitam. Yuji sama sekali tak melihat gadis bertopeng putih.


"Yuji, kau sedang mencari siapa?" Ara yang masih berada di dekatnya keheranan menatap Yuji yang seolah sedang mencari seseorang.


"Ahh ... tidak! Aku hanya sedang mencari minuman saja karena aku sangat haus. Hehe ..." Yuji berkilah dan dengan asal mencomot segelas jus jeruk yang kebetulan sudah disajikan di atas meja sampingnya, lalu segera meminumnya.


"Oh ... anu, Yuji. Sebenarnya aku tidak banyak mengenal anak laki-laki di kelas kita, apalagi di sekolahan kita. Aku hanya mengenal kamu karena kamu duduk tepat di sebelahku. Jadi ... apakah kamu mau menari bersama denganku? Pasti akan sangat aneh jika aku menari bersama orang lain." ucap Ara terlihat ragu dan malu untuk mengucapkannya.


Yuji tidak segera menjawabnya. Namun dia menelisik Ara untuk mencari dan melihat topeng milik Ara. Dan ternyata Ara memiliki topeng berwarna peach lembut yang kebetulan sedang dia lepaskan.


"Uhm ... anu ... Ara! Tapi aku ingin pergi ke kamar mandi dulu, jadi ... kamu bisa menari bersama Jin dulu." ucap Yuji menarik lengan Jin lalu meninggalkan mereka berdua begitu saja.


Sebenarnya Jin merasa cukup terkejut dan beberapa saat melongo menatap kepergian Yuji, namun pada akhirnya Jin mengajak Ara untuk menari bersama.


Sementara Yuji masih berusaha untuk mencari gadis bertopeng putih. Dia menyisiri setiap ruangan namun belum juga menemukannya.


"Sial! Dimana sebenarnya gadis bertopeng putih itu?!" gumam Yuji masih saja menebarkan pandangannya di sekitar taman samping aula.


"Zero! Tidak ada gadis bertopeng putih disini!" gumam Yuji merasa lelah mencari.


Hingga pada akhirnya Yuji melihat seorang gadis dengan penampilannya yan anggun dan cantik sedang duduk seorang diri ayunan taman tersebut dengan meneguk jus jeruknya.


Meskipun sedang menggunakan topeng, namun raut wajahnya tetap terlihat murung, namun bukan karena bertemu dengan gadis yang cantik bak bidadari yang membuat Yuji berbinar. Melainkan karena gadis cantik itu sedang menggunakan sebuah topeng putih yang memiliki hiasan kristal-kristal yang indah dan berkilauan.


Yuji yang masih mengenakan topeng hitamnya, bergegas untuk menghampiri sang gadis untuk menjalankan misinya kali ini. Dan dia segera menyampaikan ajakan berdansa tanpa berbasa-basi atau mengajaknya untuk berkenalan terlebih dulu, karena waktu yang sudah tersisa hanyalah 15 menit saja.


"Selamat malam, Nona. Maukah kamu berdansa denganku?" tanya Yuji to the point.


"Tidak mau! Aku tidak mau berdansa dengan siapapun!" tandas gadis itu tegas.


Mendengar penolakan tegas dari sang gadis membuat Yuji seketika kalang kabut. Seketika dia kebingungan bukan main. Namun tak sengaja Yuji malah menjatuhkan topengnya.


Dan disaat itulah sang gadis menatap Yuji cukup lama, seperti sedang ada sesuatu yang sedang dipikirkan olehnya saat ini.


"Kamu! Cowok yang di mall itu!" ucap sang gadis sambil menunding Yuji.


"Ehh??"


Sang gadis segera melepas topeng putihnya dan membuat wajah cantiknya terlihat oleh Yuji. Seketika Yuji melongo karena terkejut bukan main. Rupanya gadis itu adalah gadis yang pernah ditolong oleh Yuji saat di pusat perbelanjaan.


"Ka-kamu ..." ucap Yuji menuding gadis itu masih dengan sepasang mata yang membulat.


"Nona ..."


"Namaku Shiina! Panggil aku Shiina!" sela sang gadis berbinar.


"Oh. Baiklah, Nona Shiina ... begini ... maukah kamu ..."


"Shiina! Panggil saja Shiina. Sepertinya usia kita juga tak terlalu jauh kok. Jangan memanggilku nona." lagi-lagi gadis bernama Shiina itu menyela ucapan Yuji.


"Baiklah, Shina ..."


[ Waktu pelaksanaan misi hanya tersisa 7 menit 30 detik lagi, Tuan. Hati-hati, jika sampai tuan gagal dalam misi kali ini. Tuan akan mendapatkan sebuah pinalti. ]


Suara Zero sang pemandu sistem tiba-tiba terdengar dan membuat Yuji semakin kalang kabut.


"Nah, begitu lebih baik!" Shiina menyauti dengan senyum lebarnya yang manis, memperlihatkan gigi kelincinya yang lucu. "Jadi kamu mengenal Ara juga ya?"


"Kami satu kelas. Oh iya ngomong-ngomong hampir semua orang sedang menikmati pesta ulang tahun Ara. Dan mereka juga sedang menari bersama. Bagaimana jika kita juga menari bersama?"


"Eehh? Menari bersama?" celutuk Shiina memudarkan senyumannya, seakan ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba merasa berat.


"Hhm. Tentu saja! Kita sudah bertemu kembali di tempat ini seperti ini. Bagaimana jika kita menari bersama?"


Ucap Yuji dengan tatapan penuh harap, seakan memaksa Shiina untuk menari bersamanya. Bahkan Yuji juga mulai mengulurkan tangan kanannya.


Meskipun pada awalnya Shiina terlihat ragu dan berat, namun pada akhirnya Shiina menerima ajakan dari Yuji dan menyambut uluran tangan itu. Mereka melenggang bersama kembali ke aula dan menari bersama, berbaur bersama para pasangan yang sudah menari dengan pasangannya masing-masing.


[ Mission completed . Selamat, Tuan. ]


Suara Zero kembali terdengar begitu jelas, membuat Yuji tersenyum penuh kepuasan saat berdansa dengan Shiina yang kini sudah mengenakan topeng putihnya lagi.


Sementara itu dari kejauhan terlihat seorang pemuda dengan setelan jas putih sedang menikmati red wine miliknya. Dia terlihat sedang kesal dan frustasi sehingga meminum cukup banyak wine.


Dia ditemani oleh beberapa pria dengan setelan jas hitam serta kacamata hitam yang sudah bertengger manis di hidung mancungnya yang berdiri di belakangnya.


"Tuan Shuzo! Bukankah itu nona Shiina? Dia terlihat sedang menari bersama seorang pemuda." salah satu dari anak buahnya mulai berkata sambil menatap pada satu titik di tengah-tengah aula itu.


"Apa? Tidak mungkin!" sahut pria bernama Shuzo sembari mengikuti arah pandangan anak buahnya.


Hingga akhirnya raut wajahnya mulai berubah ketika melihat gadis yang merupakan tunangannya sedang berdansa bersama pemuda lain. Padahal beberapa saat yang lalu sang gadis menolaknya mentah-mentah saat dirinya mengajaknya berdansa bersama.


Wajahnya yang sudah sedikit mabuk itu kini menjadi semakin merah padam. Dan rahangnya juga mulai mengeras.


"Dasar!! Beraninya gadis kecil itu memperlakukanku seperti ini!! Jelas-jelas dia menolak ajakanku untuk berdansa karena lelah! Namun kini dia malah menari bersama pemuda lain di hadapanku!! Kurang ajar!! Lihatlah bagaimana seorang Shuzo akan memberimu pelajaran!!" geram pria bernama Shuzo itu mulai bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan menuju aula utama.