
Ve sudah masuk ke dalam kelasnya, dia duduk seperti biasa di samping Gilang. Gilang sendiri heran kenapa Ve tidak masuk kuliah tanpa memberi kabar pada ketua kelas.
"Lo masuk juga?" tanya Gilang.
"Iyalah, kan gue butuh ilmu." ucap Ve santai.
Gilang mencibir, dia meneruskan menulis dengan tugas dari pak Doni.
"Eh, emang ada tugas ya?" tanya Ve pada Gilang.
"Iya, dari pak Doni. Kan hari ini dia masuk siang." jawab Gilang.
"Emang tugas apaan? Kok lo ngga ngasih tahu gue sih?" tanya Ve.
"Yee, lo udah gue kirim pesan. Tapi belum lo baca kali." ucap Gilang dengan bersungut.
Ve mengambil ponselnya dan melihat pesan dari Gilang. Ve menepuk jidatnya tanda lupa tidak membaca pesan dari Gilang.
Dia tertawa kecil dan memasukkan kembali ponselnya di tasnya.
Tak lama, dosen masuk dengan beberapa buku di tangannya. Semua mengucapkan salam pada dosen, dan hanya melambaikan tangannya saja. Memang setiap dosen berbeda ketika di beri salam.
Semua tampak serius mendengarkan penjelasan dosen, Ve merasa bosan mendengarkan penjelasan dosen yang terlalu monoton menurut dia. Tapi tetap harus mendengarkan, sesekali kepalanya dia tundukkan di meja.
Hingga dosen memperhatikan Ve yang sedang menunduk, karena terlihat sedang mengantuk.
"Ve, kamu maju ke depan. Jelaskan apa yang saya ucapkan tadi sama teman-temanmu." kata dosen Ruli menunjuk Ve langsung.
Tentu saja Ve kaget, dia menengok kana kiri. Semua teman-teman sekelasnya menatap Ve, ada yang tersenyum senang. Ada juga yang memberi isyarat pada Ve dengan tangan di gorok ke leher dan menjulurkan lidahnya, tanda meledek Ve
Ve pun mengepalkan dan mengacungkan tangannya pada teman yang tadi meledeknya.
"Ayo maju, Ve." kata pak Ruli dengan keras.
Mau tidak mau Ve berdiri dan hendak maju. Tapi dia terselamatkan dengan suara lonceng tanda pergantian dosen. Ve tetap berdiri, dia memastikan hukuman itu tidak berlaku karena waktu jam kuliah sudah habis.
Pak Ruli menatap Ve dengan datar, dia lalu melambaikan tangan pada Ve untuk mendekat. Kembali teman-teman Ve meledek dan menatap sinis.
Ve pun mendekat, dia berdiri di depan dosen tersebut.
"Iya pak, apa yang harus saya lakukan?" tanya Ve.
"Kamu bawa buku-buku saya ke kantor dan letakkan di meja saya. Saya harus ke kelas lainnya. Saya tidak peduli kamu terlambat masuk ke kelas lagi, saya tahu setelah ini adalah mata kuliah pak Doni." ucap pak Ruli dengan enteng.
Dia kemudian berjalan keluar kelas, sedangkan Ve terdiam. Dan meledaklah tawa teman-teman satu kelas.
"Hahaha! Ve hukuman lo berlanjut sampai pak Doni masuk. Lo harus berkejaran dengan waktu sebelum pak Doni masuk kelas. Hahaha...!"
Ve menatap semua teman-temannya yang menertawakannya, terutama Gilang. Dia merasa senang Ve dapat hukuman.
Ve mengacungkan tangannya pada Gilang, kemudian dia mengambil buku-buku di meja lalu membawanya keluar menuju ruang kantor dosen Ruli.
Dia berjalan dengan cepat agar sampai di kantor pak Ruli sebelum pak Doni masuk ke dapam kelasnya.
Di pintu kantor, Ve berpapasan dengan Erick. Ve hanya menunduk dan langsung masuk ke ruang kantor pak Ruli dan meletakkan buku-bukunya.
Erick memperhatikan apa yang di lakukan Ve, dia terus memperhatikan sampai Ve keluar lagi tanpa menyapanya. Dia langsung berlari dengan cepat agar tidak di hukum lagi oleh pak Doni.
Erick yang melihat Ve lari dengan cepat hanya geleng-geleng kepala. Dia tahu, sekarang waktunya pak Doni masuk di kelas Ve.
Kemudian Erick keluar menuju gedung fakultas mipa. Dia sekarang mengajar di fakultas di sana karena dia mengampu mata kuliah matematika.
_
"Seharusnya kamu tahu di jam saya itu tidak boleh terlambat sedetik pun. Ini sudah terlambat satu menit masih ngeyel saja, mau jadi apa kamu nanti setelah lulus kuliah?" tanya pak Doni, dosen kiler yang selalu di takuti dan di segani mahasiswa di kampus Ve.
Ve menunduk, dia serba salah. Membela diri juga salah, jadi lebih baik diam dan menunduk. Teman-temannya semua yang sedang duduk hanya menatap Ve kasihan.
Sejak masuk terlambat empat menit lalu karena Ve membawakan buku pak Ruli ke kantornya, Ve terlambat masuk.
Bukan terlambat, memang ketika Ve keluar pak Doni langsung masuk jadi Ve sudah selesai di kantor langsung masuk kelas, dan sialnya pak Doni sudah masuk lebih dulu.
"Pak, apa tidak ada keringanan untuk Ve? Kasihan sejak tadi berdiri terus di depan." kata Ramon sang ketua kelas mencoba membantu Ve.
Hukuman itu terjadi lagi, saat Ve sekolah dasar dan kini dia harus berdiri.
Dengan tidak ada belas kasihan, pak Doni memberu hukuman pada Ve.
"Boleh saja duduk, tapi jangan harap hari ini absen masuk di catatanku. Dan itu artinya nilah Ve akan turun jadi D." kata pak Doni dengan tegas.
Dia tidak suka ada mahasiswanya terlambat dan seenaknya saja masuk kelas. Apa lagi tertidur di kelas. Persis seperti guru di sekolah dasar atau di sekolah menengah, memberikan hukuman seperti itu.
Ramon diam, dia menatap Ve yang masih menunduk dalam. Dia menghela nafas panjang, usahanya membantu Ve sia-sia. Dia juga merasa kasiha pada Ve, apa lagi mata kuliah saat ini jamnya sungguh panjang.
Waktu terus berjalan, mata kuliah pak Doni akhirnya selesai juga. Semua nampak lega, itu artinya hukuman Ve selesai.
Tapi rupanya pak Doni belum puas memberikan hukuman pada Ve, dia memberi tugas membuat makalah tentang kehidupan di kota. Dan itu membuat Ve jadi melongo, karena membuat makalah hanya empat hari dari sekarang.
"Jangan sampai telat kamu menyerahkan makalah pada saya. Empat hari lagi saya ada jam kuliah di kelas matematika. Kamu bisa menyerahkan di kelas itu di jam sepuluh." kata pak Doni.
"Baik pak." jawab Ve sambil menunduk.
Pak Doni pun keluar kelas, Ve bernafas lega. Dia duduk di bangkunya, Gilang memberikan minuman untuk Ve. Ve mengambil botol minuman yang di sodorkan Gilang.
"Lo ngga apa-apa?" tanya Gilang.
"Gue ngga apa-apa. Tapi kaki gue agak nyeri, ini baru sembuh eh di suruh berdiri lagi." jawab Ve memegangin kakinya.
Ramon mendekat, dia melihat Ve sangat kelelahan.
"Ve, lo kenapa kakinya?" tanya Ramon.
"Kaki gue ngga apa-apa, nyeri dikit aja." jawab Ve.
Ramon memarik nafas panjang, dia kemudian duduk lagi di kursinya. Satu mata kuliah lagi, yaitu mata kuliah Erick.
"Ve, lo bisa menyelesaikan makalah dalam waktu empat hari?" tanya Gilang.
"Insya Allah, kalau materinya memadai gue bisa menyelesaikannya." jawab Ve.
Dia memgeluarkan buku catatan untuk mata kuliah selanjutnya.
"Nanti gue bantu cari bahannya deh, gue cari buku di perpustakaan." kata Gilang lagi.
"Iya, thanks ya."
"Sip, gue kasihan sama lo. Sudah di hukum sama pak Ruli di tambah hukuman berdiri di kelas. Hukumannya kayak anak SD, berdiri di kelas." ijar Gilang.
Ve hanya tersenyum kecil saja, dia juga heran kenapa masih ada dosen memberikan hukuman seperti anak sekolah dasar.
Tak berapa lama, Erick masuk kelas Ve, ini jam terakhir di kelas Ve. Semua nampak antusias kecuali Vr yang sejak tadi masih meringis karena kakinya nyeri. Dia tadi berlari dan berdiri, tentu saja membuat kaki Ve bekerja lebih keras lagi.
"Ve, coba kamu tuliskan beberapa rumus di buku ini, nanti saya jelaskan sama teman-temanmu." kata Erick.
Semua mahasiswa menatap Erick, lalu beralih pada Ve.
Benar-benar sial hari ini bagi Ve, dia ke kerjai tiga dosen sekaligus.
"Pak, biar saya saja yang menulis." ucap Gilang ingin membantu Ve.
Erick diam, dia memandang Ve lama lalu beralih memandang kaki Ve yang sejak tadi di pegang oleh Ve sendiri.
"Ya sudah kamu saja, cepat maju dan tulis di papan tulis." kata Erick.
Ve bernafas lega, Ramon melirik Ve sebentar lalu melihat ke depan lagi.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊