V E

V E
54. Menikah Yang Kedua



Ibu Tika masuk ke dalam rumahnya, dia melihat ada suaminya dan Erick serta Ve sedang mengobrol. Dia pun mendekat, ikut bergabung dengan ketiga orang tersebut.


Hiroshi menoleh ke arah istrinya dan tersenyum padanya, tangannya menyambut kedatangan istrinya itu.


Erick dan Ve saling menatap dan tertawa kecil melihat perlakuan manis Hiroshi.


"Kamu dari mana?" tanya Hiroshi oada ibu Tika.


"Dari rumah teman, membicarakan rencana kita nanti." jawab ibu Tika.


Dia duduk agak jauh dari suaminya, dia tidak enak di lihat oleh anaknya dan pacarnya.


"Ehm, ibu kenapa jauh-jauhan duduknya sama papa." kata Ve menggoda ibunya.


"Ish, kamu tuh." ucap ibu Tika merasa malu di ledek anaknya.


Hiroshi kini yang mendekat pada istrinya dan mendekapnya kemudian menciumnya di depan anakmya. Kontan saja Ve dan Erick jadi tertawa.


"Apa sih kalian, kenapa juga menggoda ibu." ucap ibu Tika mendorong suaminya.


Dia kesal kenapa suaminya itu berbuat seperti itu di depan anaknya, terlebih di depan dosen anaknya itu.


"Ngga apa-apa bu, kami sudah dewasa juga. Jangan malu." ucap Erick sambil tersenyum.


"Kalian ini, kenapa membuat ibu kesal." ucap ibu Tika dengan wajah masam.


"Makanya cepat menikah lagi, aku ngga sabar bermesraan denganmu lagi sayang." ucapan Hiroshi membuat ibu Tika jadi tambah masam.


"Papaaa!" teriak Ve tidak percaya dengan ucapan papanya.


"Hahah, kenapa kamu berteriak?" tanya Hiroshi.


Ibu Tika juga tertegun, dia baru melihat suaminya itu tertawa senang bercanda dengan anaknya. Ada senyum tipis di bibir ibu Tika.


"Papa, ngga sabar banget sih." ucap Ve lagi.


"Memang rencana menikah lagi kapan bu?" tanya Erick untuk menyudahi rasa malu ibu Tika.


"Nanti sore baru bisa bertemu ustadnya, jadi keputusannya ya nanti setelah bicara sama pak ustad." jawab ibu Tika.


"Boleh aku ikut bertemu ustadnya?" tanya Hiroshi pada ibu Tika.


"Ya, sebaiknya tuan Hiroshi ikut dengan ibu juga." kata Erick menyambungi.


"Ya boleh, biar nanti pak ustad tidak bingung." ujar ibu Tika.


Kini ke empat orang itu kembali bercengkrama, lalu ibu Tika permisi untuk membuat bronis kukus lagi untuk pesanan ibu Salma. Dia memang hari ini membatasi pesanan, karena harus bicara lebih serius dengan ustad Hasyim dan juga ibu Siti.


_


Bertemu dengan ustad Hasyim sudah di lakukan dan menceritakan semuanya. Tinggal kapan pernikahan secara agama di laksanakan, karena secara negara sudah di lakukan dua puluh tahun silam dan belum bercerai.


Kata ustad Hasyim lebih baik secepatnya di lakukan pernikahan, dan akan di laksanakan malam ini juga.


Ibu Tika kaget, dia ingin meminta di undur dua hari lagi atau seminggu. Namun menurut ustad Hasyim lebih baik di laksanakan secepatnya agar tidak timbul fitnah. Itu memang benar, dari pada tetangga semua bergunjing yang tidak benar.


Sekaligus nanti memberitahu pada warga setempat bahwa sebenarnya ibu Tika sudah punya suami, namun harus menikah lagi.


"Bagaimana bu Tika? Apakah siap menikah malam ini?" tanya ustad Hasyim.


"Emm, terserah saja pak ustad. Katanya harus cepat lebih baik." jawab ibu Tika.


"Iya memang, nah tinggal pak Hiroshi mempersiapkan semua maharnya. Apakah ibu Tika meminta mahar pada pak Hiroshi?" tanya pak ustad lagi.


"Terserah dia mau memberi mahar berapa, saya hanya setuju saja pak ustad."


"Baiklah, pak Hiroshi. Anda persiapkan semuanya dan hafalkan lagi bacaan ijab kabulnya." kata ustad Hasyim.


"Emm, pak ustad. Bisakah nama saya di ganti jangan Hiroshi?" tanya Hiroshi ragu.


"Kenapa?"


"Karena nama itu sudah mati, maksudnya nama itu sudah tidak di kenal lagi. Bisakah pak ustad memberiku nama lain?" kata Hiroshi lagi.


Dia tidak mau nama itu mencurigai orang Jepang yang ada di Indonesia yang mengetahui dirinya. Ibu Tika pun setuju dengan usul suaminya.


"Baiklah, bagaimana kalau nama anda adalah Rasyid Abdullah?"


"Boleh, saya terima nama itu dengan senang hati."


"Alhamdulillah, kalau begitu nanti sekalian mengumumkan pada warga kalau anda itu pak Rasyid Abdullah dan akan melangsungkan pernikahan dengan ibu Tika Harumi."


"Siap pak ustad."


Setelah berbicara dengan ustad Hasyim, kini ibu Tika, Hiroshi atau Rasyid dan juga ibu Siti pergi dari rumah pak ustad Hasyim.


"Ish, Siti. Kamu itu, jangan meledekku terus." ucap ibu Tika, dia malu sekali dengan ucapan ibu Siti.


Apa lagi di depan suaminya. Sedangkan Hiroshi hanya tersenyum saja dengan ucapan ibu Siti.


"Nanti malam bakda magrib aku ke rumahmu, membantu persiapkan hidangan seadanya." kata ibu Siti lagi.


"Iya, biar nanti Ve yang membeli kebutuhan untuk hidangan di mushola."


"Nanti si Andre suruh bantuin Ve beres-beres atau di suruh apa gitu." kata ibu Siti.


"Iya boleh, tinggal ke rumah aja si Andrenya.


Setelah berbicara seperti itu, kini ibu Tika dan Hiroshi pulang ke rumah. Mereka akan mempersiapkan untuk nanti malam. Karena acaranya mendadak jadi harus bersiap secara cepat.


"Kamu mau minta mahar apa sayang?" tanya Hiroshi setelah mereka sudah di rumah.


"Terserah kamu, uang juga boleh. Kalau perhiasan tidal bisa beli mendadak kan?"


"Ya, boleh. Terserah kamu saja."


_


Waktu terus berjalan, seusai sholat magrib di mushola. Ustad Hasyim memberikan pengumuman akan ada pernikahan antara ibu Tika dan pak Rasyid atau Hiroshi di mushola tersebut. Semua jamaah sholat di harapkan untuk menyaksikan pernikahan kedua antara ibu Tika dan pak Rasyid, begitu pengumuman ustad Hasyim.


Dan tentu saja bisik-bisik dari jamaah semakin santer terdengar. Terutama ibu-ibu yang ikut hadir sholat berjamaah di sana.


Sementara itu ibu Tika dan Hiroshi bersiap untuk segera ke mushola di antar oleh anaknya dan juga ibu Siti serta Andre. Tidak ketinggalan Erick juga hadir, dia ingin menyaksikan kedua orang tua Ve bersatu dalam satu ikatan pernikahan untuk yang kedua kalinya.


"Kamu gugup?" tanya Hiroshi pada ibu Tika.


"Ya, tentu saja." jawab ibu Tika.


Semua berkumpul di mushola, dan waktu adzan isya berkumandang. Kini bersiap untuk sholat isya dan menyaksikan pernikahan ibu Tika dan Hiroshi.


Terasa lama mereka menunggu waktu sholat isya selesai. Dan akhirnya, ustad Hasyim pun selesai lalu menyuruh ibu Tika dan Hiroshi maju ke depan. Meja kecil di siapkan untuk melakukan akad pernikahan.


Semua juga sudah siap menunggu, ibu Siti dan beberapa tetangga membantu menyiapkan hidangan sederhana di mushola untuk para saksi dan jamaah yang menyaksikan pernikahan kedua suami istri itu.


"Baiklah, tidak perlu lama-lama lagi. Mari kita saksikan pernikahan sakral ini." kata ustad Hasyim.


Ustad Hasyim sudah duduk di hadapan Hiroshi dan ibu Tika. Tampak jelas Hiroshi tegang dan sedang merapalkan ijab kabul yang dulu pernah dia ucapkan. Ibu Tika melihat suaminya tegang, dia pun ikut tegang.


"Pak Rasyid, apakah anda sudah siap?" tanya ustad Hasyim.


"Insya Allah siap pak ustad." jawab Hiroshi.


Beberapa kata dia sudah hafal, lalu dengan bacaan pembuka dan doa serta sedikit wejangan. Ustad Hasyim kini bersalaman.


Kalimat demi kalimat ijab kabul di ucapkan, dan di jawab dengan ragu karena masih gugup dan tegang. Banyak yang ikut tegang juga, namun kini akhirnya bisa terucap dengan jelas dan lancar.


"Saya terima nikah dan kawinnya Tika Harumi binti Sobari dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Hiroshi dengan lantang.


"Bagaimana saksi? Sah?"


"Sah!"


Semua kompak menjawab sah, dan suara tepuk tangan dan ucapan selamat pada kedua mempelai itu dengan sangat senang. Tidak ada lagi bisikan aneh di mulut tetangga karena sudah di jelaskan oleh ustad Hasyim setelah sholat magrib tadi.


Ibu Tika menyalami suaminya, Ve bahagia melihat kedua orang tuanya bersatu kembali dan Erick pun ikut bahagia menyaksikan kedua orang tua Ve. Dia membayangkan dirinya yang duduk di sana, mengucapkan kalimat ijab kabul dengan Ve. Senyumnya mengembang lalu menunduk dalam.


"Pak Erick ngiri ya?" ucap Andre di samping Erick yang sejak tadi melihat sikap Erick.


"Tentu saja, aku laki-laki normal yang ingin menikah juga. Apa kamu tidak ingin menikah?" tanya balik Erick pada Andre.


"Hehe, tentu saja ingin menikah juga pak. Tapi saya belum bisa cepat karena harus cari pekerjaan dulu. Pak Erick sudah mapan, bisa langsung menikah dengan Ve." ucap Andre.


Senyum Erick mengembang, lalu dia menepuk pundak Andre merasa bangga pada sahabat Ve itu.


"Ya, laki-laki harus mapan untuk menikahi seorang gadis di cintainya, agar nanti tidak hidup susah." ucap Erick.


Dia sendiri juga masih harus menunggu untuk menikahi Ve, kekasihnya itu harus lulus kuliah lebih dulu. Jadi Erick harus menunggu dua tahun lagi untuk menikah dengan Ve.


Apakah dia sanggup menunggu selama dua tahun itu?


Semoga saja, pikir Erick. Dia sangat mencintai Ve, jadi dia akan menunggu kekasihnya itu lulus kuliah.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊