V E

V E
43. Bertemu Papa Hiroshi



Pagi menjelang, Ve bangun dan dia mengambil air wudhu untuk sholat subuh. Tapi dia bingung kemana arah kiblatnya.


Tak lama, pintu apartemen di ketuk dari luar. Ve bingung, lalu dia menuju pintu dan hendak membukanya, tapi dia tidak tahu bagaimana membuka pintunya.


Akhirnya dia melihat ada sebuah kotak seperti layar yang menampilkan wajah, dia menekan dan melihat siapa yang datang sepagi ini.


"Who is it?" tanya Ve.


"I'm Hana." jawab orang yang ada di luar.


Ve tampak berpikir, Hana? Orang mana? Apakah dia orang suruhan kakaknya?


"Dari mana?"


"Indonesia."


"Aaah, akhirnya benar juga. Begini, maaf ya. Aku belum bisa membuka pintu apartemen ini, apakah anda bisa membukanya?" tanya Ve ragu.


"Oh, maaf nona. Anda dari Indonesai juga?" tanya Hana.


"Ya, tapi aku baru datang tadi malam. Jadi belum tahu cara membuka pintu apartemen ini." kata Vr lagi.


"Apakah anda di beri kartu untuk pegangan?" tanya Hana lagi.


Ve berpikir, dia ingat tadi malam Ryu memberinya sebuah kartu dengan memberikan penjelasan. Namun dia tidak memperhatikan apa yang di ucapkan kakaknya itu.


"Oh ya, saya ingat. Tunggu sebentar, saya ambil di kamar."


Ve lalu menuju kamarnya dan mengambil kartu yang dia simpan di meja. Setelah di ambil, dia langsung keluar lagi dan menuju pintu. Dia mencoba gesekkan kartu tersebut, dan benar saja pintu terbuka. Dia melihat seorang gadis berperawakan mungil dengan baju yang lengkap dengan mantel tebalnya sedang tersenyum padanya.


"Hai, saya Hana. Saya adalah pemandu anda selama satu minggu di Tokyo." sapa Hana dengan ramah.


Ve tersenyum dan menyalami tangan Hana yang terulur padanya.


"Salam kenal Hana, saya Ve. Emm bukan nama saya Eiko, di sini saya Eiko panggilnya." kata Ve dengan senyum mengembang.


"Apakah ada yang bisa saya bantu nona Eiko?" tanya Hana.


"Oh ya, saya bingung mau sholat subuh. Meski pun sudah siang, tapi saya bingung dengan arah kiblat ke mana ya? Heheh.." tanya Ve.


Hana tersenyum, dia lalu melihat jamnya yang memang ada kompasnya. Lalu dia melihat sekeliling dan akan memberi tanda pada tembok untuk menentukan arah kiblat.


"Di mana kamarnya?" tanya Hana.


"Itu, memangnya mau apa?" tanya Ve heran.


"Saya akan memberikan tanda di tembok, apakah anda sholat di kamar?" tanya Hana lagi.


"Oh ya, saya sholat di kamar."


Lalu Ve menuju kamarnya dan di ikuti Hana, Ve masuk ke kamar dan memberi ruang untuk Hana masuk ke dalam kamarnya.


Hana mengambil sebuah buku dalam tasnya dan membuat gambar seperti sebuah tanda panah. Lalu di bawahnya bertuliskan kiblat. Dia ambil lagi dobletip untuk di tempelkan di tembok.


Ve memperhatikan apa yang di lakukan oleh Hana, dari membuat gambar sampai menempelkan kertas tersebut di tembok.


"Sudah, anda bisa sholat menghadap ke arah di mana tulisan itu menunjuk." kata Hana.


"Oh, terima kasih ya Hana."


"Sama-sama nona."


Hana lalu keluar dari kamar Ve, dia lalu duduk di sofa empuk di ruang tamu yang di belakangnaya adalah dapur minimalis namun sangat nyaman untuk memasak.


Sedangkan Ve melanjutkan sholat subuhnya meski sudah siang, dia tidak mau meninggalkan kewajiban lima waktunya. Ibunya selalu berpesan, di mana pun dirinya berada kewajiban lima waktu tidak boleh dia tinggalkan meski berada di negeri orang.


_


Sudah tiga hari Ve di temani Hana di apartemen kakaknya, semenjak malam itu Ryu belum datang lagi. Ve sangat gelisah, dia seperti di tinggalkan begitu saja. Sedangkan dia lupa untuk meminta nomor ponsel Ryu, agar bisa menghubunginya.


"Hana, apakah kamu kuliah di sini?" tanya Ve untuk menghilangkan kecanggungannya.


"Ya, saya masih kuliah. Dan tahun depan saya selesai dan lulus, kemudian pulang ke Indonesia." jawab Hana masih dengan bahasa formalnya.


"Emm, sudah berapa lama kamu di Jepang?"


"Sekitar tiga tahunan, saya mahasiswa pertukaran pelajar. Dan tahun depan saya lulus dan kembali ke negeri kita."


"Kamu betah tinggal di Jepang?"


"Emm, ya selama tiga hari ini hanya di apartemen bersama kamu jika siang hari. Tapi malam hari rasanya sepi." jawab Ve lirih.


Dia menarik nafas panjang, ada rasa rindu pada ibunya, sahabatnya Gilang dan Andre serta kekasihnya Erick. Dia belum menghubungi orang-orang itu, karena nomor ponselnya belum dia ganti.


Tak berapa lama, suara pintu di ketuk dari luar. Seperti ada banyak derap langkah kaki di luar, Ve menatap daun pintu lalu beralih pada Hana.


"Boleh saya buka nona?" tanya Hana.


"Emm, ya. Siapa tahu itu kakakku." jawab Ve masih penasaran siapa yang datang.


Apakah kakaknya atau papanya, Hana pun bangkit dari duduknya dan membuka pintu apartemen itu. Dan tampak di depan pintu tiga orang dengan satu orang yang sudah paruh baya, dan di belakang adalah Ryu. Sedangkan di belakangnya lagi adalah asisten Tamada.


Ve berdiri, dia terpaku melihat tiga orang di depan pintu. Dan ketiganya masuk sesuai dengan laki-laki paruh baya melangkah pelan ke arah Ve.


Ve sendiri tertegun, pikirannya pun melamglang ke sebuah album foto ibunya. Apakah dia papanya? pikit Ve.


Laki-laki itu menatap Ve lebih dalam dan lama, bibirnya bergetar dan mengatup rapat. Hana keluar dari apartemen itu sesuai perintah Tamada.


Ryu melihat pemandangan yang tak biasa itu, dia melihat banyak sekali kerinduan di kedua mata papanya. Meski Ve marasa bingung, dia juga sepertinya mengerti kalau laki-laki di depannya itu adalah papanya.


"Eiko." lirih Hiroshi dengan bibir bergetar.


Dia lebih mendekat pada Ve dan mengangkat kedua tangannya untuk meraih tubuh Ve dan mendekapnya erat.


"Eiko anakku, papa sayang kamu." ucap Hiroshi dengan masih bibir bergetar.


Dia memeluk erat tubuh Ve dan tiba-tiba dia menangis haru. Mau tidak mau Ve juga membalas memeluk Hiroshi. Adegan haru itu berlangsung lama, Ryu juga ikut menangis dengan papanya dan adiknya itu berpelukan sambil menangis satu sama lain.


Setelah di rasa cukup, Hiroshi melepas pelukannya dan menggiring Ve untuk duduk du sofa yang tadi Ve duduk dengan Hana.


"Papa?" tanya Ve ragu.


"Iya sayang, ini papa kamu. Maafkan papa yang tidak bisa menemanimu sedari kecil. Papa benar-benar menyesal telah meninggalkan kalian, hik hik hik." ucap Hiroshi kembali menangis.


Ve kagum dengan papanya, ternyata Hiroshi masih fasih berbahasa Indonesia. Sehingga Ve tidak perlu lagi menerjemahkan apa yang di katakan oleh papanya.


"Tidak pa, kami cukup bahagia kok hidup berdua saja di sana. Maaf ibu tidak bisa ikut kesini."


"Tidak sayang, papa yang minta maaf karena papa belum bisa menemuimu. Papa malu, yang bisa menemuimu hanya kakakmu, Ryu." kata Hiroshi lagi.


Ve menatap Ryu, lalu kembali menatap Hiroshi.


"Oniichan juga tahu dari sahabatnya di sana, dan juga ibu bercerita tentang papa dulu itu tidak lama. Kalau ibu tidak cerita, aku tidak akan ketemu dengan papa dan tidak bisa melihat papa di sini." kata Ve lagi.


Hiroshi kembali memeluk anaknya, dia sangat bahagia bisa berjumpa dengan anak dari perempuan yang sangat di cintainya itu.


"Papa akan datang menjemput kalian, papa ingin bertemu mamamu dan meminta maaf sama mama dan kamu sayang." kata Hiroshi lagi.


"Tidak papa, papa tetap di sini saja. Papa punya kakak Ryu dan mamanya." ucap Ve lirih.


"Sayang, papa sangat menyayangi kalian. Papa akan berjuang kali ini untuk bisa berkumpul dengan kalian, cukup sudah penderitaan kalian juga papa yang terpisah selama hampir dua puluh tahun. Papa ngga mau berpisah lagi dengan kalian, papa janji akan membawa kalian ke rumah baru papa sayang." kata Hiroshi untuk meyakinkan anaknya.


"Tidak usah papa, aku takut papa akan kenapa-kenapa. Aku cukup sekali bertemu papa juga sudah bahagia, aku takut papa jadi lebih sulit lagi."


"Hei, apa kamu tidak mau bertemu papa lagi? Apa kamu tidak mau punya papa?" tanya Hiroshi tiba-tiba sakit hatinya dengan ucapan Ve seperti itu.


Dia tahu kenapa anaknya berkata seperti itu, mungkin juga karena ayahnya Takahiro.


"Tidak pa, aku senang bertemu papa. Tapi apakah papa akan baik-baik saja setelah papa menemuiku?"


"Papa akan baik-baik saja, jangan berkata seperti itu sayang. Papa tidak suka, papa merasa tidak di butuhkan oleh anak papa sendiri. Hik hik hik."


"Tidak begitu papa, tapi kami hanya khawatir dengan papa."


"Papa merasa sebagai seorang ayah dan suami yang pengecut, kalian berpikir seperti itu papa iuga tahu. Tapi papa berjanji akan berjuang untuk berkumpul dengan kalian, dengan mamamu. Papa sangat rindu dengan Harumi, Eiko." kata Hiroshi


Ve terdiam, dia juga tahu itu. Tapi dia hanya takut jika papanya akan melakukan hal seperti apa yang di katakannya akan menimbulkan banyak masalah ke depannya. Dia hanya melindungi ibunya, dan saat ini Ve mengkhawatirkan ibunya di sana.


Ryu yang melihat kedua orang di depannya saling diam dan berpikir jadi heran. Meski tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh papa dan adiknya, tapi dari raut wajah dan sikap sudah di ketahui kalau keduanya juga sedang memikirkan sesuatu.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊