
Pelukan keduanya semakin erat, Hana seakan tidak mau melepas Ryu begitu pun Ryu tidak ingin melepas Hana. Lama keduanya berpelukan, hingga akhirnya suara panggilan pada Hana membuat keduanya melepas pelukannya satu sama lain.
"Sedang apa kalian?" tanya ibu Hana heran.
Dia menatap Hana dan bergantian menatap Ryu yang menunduk padanya memberi hormat. Hana mendekat pada ibu dan romonya lalu memperkenalkan Ryu sebagai kekasihnya sekarang.
"Kamu yakin dengan pilihanmu?" tanya ayahnya.
"Nggih romo, bukankah romo memberikan kebebasan untuk menentukan jodoh untukku?" kata Hana meminta persetujuan dan restu pada romonya dan juga ibunya.
Ryu yang tidak mengerti pembicaraan Hana dan kedua orang tuanya hanya tersenyum saja.
"Baiklah, tapi kamu tahu kan apa yang akan kalian lakukan nanti sebelum menikah? Kamu juga harus menikah sesuai dengan adat kebiasaa di keraton." kata romonya.
"Nggih, romo aku mengerti. Aku akan menjelaskan pada Ryu tentang ritual dan adat keraton nanti. Dia pasti akan menerimanya dan menjalaninya dengan baik." kata Hana meyakinkan kedua orang tuanya.
"Ya sudah, itu terserah kamu. Kamu memilih laki-laki asing dari pada pribumi. Romo juga tidak bisa mencegahmu untuk menikah dengannya, romo dan ibumu hanya ingin kamu bahagia dengan pilihanmu." kata romonya.
"Terima kasih romo, terima kasih ibu." kata Hana sambil memeluk keduanya.
Ryu hanya mengangguk saja dan seperti mengerti apa yang di katakan Hana pada keduanya.
"Bilang sama kekasihmu itu, suruh belajar bahasa Indonesia agar romo bisa bicara dan ngobrol dengannya." kata Raden Mangku Wijaya.
Hana tertawa kecil, dia menatap Ryu yang hanya tersenyum saja.
"Sekarang romo dan ibu mau pulang, padahal hanya duduk dan melihat kamu di wisuda tapi rasanya capek sekali." kata ibunya.
"Hana, mau kemana kedua orang tuamu?" tanya Ryu heran.
"Beliau mau pulang, mereka kelelahan." jawab Hana mengikuti langkah romo dan ibunya.
Ryu pun mengikuti kemana Hana melangkah.
"Naik apa?" tanya Ryu.
"Taksi."
"Tidak, jangan naik taksi. Lebih baik pulang sama aku aja, kamu dan ayah dan ibumu bisa naik ke mobilku."
"Tapi kamu sibuk kan? Harus bekerja lagi."
" Hei, sekarang aku kekasihmu. Kamu lupa? Di kantor ada Tamada, aku hanya ingin bersamamu Hana." ucap Ryu.
Hana tersenyum, dia lalu mengangguk pasti. Ryu pun senang, dia lalu menggandeng tangan Hana dan mengecup pelipis Hana, membuat Hana malu dengan ciuman Ryu itu.
"Terima kasih, Hana. Aku mencintaimu, sangat." bisik Ryu pada Hana.
Dan tentu saja membuat Hana jadi tersipu malu, dia juga benar-benar bahagia bisa mengungkapkan perasaannya pada Ryu. Meski mendadak, tapi memang takdir berpihak padanya.
Saat dia dan Ryu sama-sama ingin melupakan, tapi dorongan hati yang kuat membuat Hana memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.
_
"Sebelum kamu pulang ke Indonesia, maukah kamu aku ajak menghadap kakekku?" tanya Ryu ketika mereka malamnya bertemu dan Ryu mengajak Hana keluar.
"Emm, apa kakekmu akan menerimaku?" tanya Hana ragu.
"Kakek sudah menyerahkan pilihanku sendiri, aku memilihmu untuk jadi istriku, Hana. Kamu mau menikah denganku?" tanya Ryu yang secaa tiba-tiba.
Tentu saja Hana kaget, apa harus secepat itu?
"Emm, Ryu apa tidak terlalu cepat? Maksudku kita saling mengenal dulu satu sama lain atau..."
"Tidak, aku sudah mengenalmu. Aku ingin cepat menikah denganmi, agar tidak akan berjauhan lagi. Kamu tahu, jika sekarang kamu pulang. Kita bertemu lagi itu lama." kata Ryu lagi.
Hana membenarkan ucapan Ryu, memang lebih baik secepatnya menikah. Tapi, apakah dia akan rela secepatnya meninggalkan kedua orang tuanya?
Karena sudah tentu jika menikah akan ikut dengan suaminya.
"Hana."
"Ya?"
"Mau kan kamu menikah denganku secepatnya?" tanya Ryu lagi.
"Ya, makanya besok kita menghadap kakekku." kata Ryu.
Terasa mendadak bagi Hana, namun dia mencoba untuk bertemu dengan keluarga Ryu. Terutama kakeknya juga ibunya. Dan ayahnya yang Hana tahu sudah meninggal.
"Baiklah, tapi aku takut bertemu kakekmu."
"Kenapa takut? Apa kamu pernah bertemu dengan kakekku?"
Hana menggeleng lalu tersenyum malu. Ryu mencubit hidung Hana gemas.
"Memang kakekku itu menakutkan, tapi bagiku kalau kakek sudah memberiku izin membawamu menghadap padanya. Jadi pasti kakekku menerima kamu dengan senang hati." jawab Ryu.
Lama mereka keluar malam ini, menikmati malam pertama sebagai pasangan kekasih. Hana dan Ryu sangat bahagia, di selingi canda dan obrolan tentang keduanya. Terutama tengang adat kebiasaan dan aturan keluarga masing-masing. Baik Ryu atau pun Hana keduanya sangat menerima adat keluarga masing-masing.
Malam semakin larut, Ryu mengantarkan Hana pulang ke kontrakannya. Mobil Ryu berhenti di pinggir jalan, mobilnya tidak bisa masuk ke depan rumah sewa Hana.
Ryu memegang tangan Hana, lalu menciumnya lembut. Hana hanya diam saja, dia menatap Ryu. Dan Ryu pun juga menatap Hana penuh cinta.
Tangan Ryu membelai pipi Hana dan menarik wajah Hana pelan, hingga wajah keduanya pun semankin mendekat. Bibir keduanya saling menempel dan Ryu mengecup dan mengecap bibir Hana pelan. Hana memejamkan matanya sejenak, lalu dia menatap Ryu yang masih mencium bibirnya.
Tangan Hana mendorong dada Ryu pelan, dia tidak mau Ryu sampai lupa kalau mereka masih belum terikat ikatan suci.
"Ryu, sudah." ucap Hana lirih.
Ryu pun melepas ciumannya dan menatap Hana penuh cinta dan kerinduan juga. Rindu akan mencium Hana tadi.
"Maaf, ya. Aku tidak tahan denganmu." kata Ryu mengusap bibir Hana dengan ibu jarinya.
Hana tersenyum, memang ada baiknya dia cepat menikah. Pikir Hana.
Setelah di rasa cukup, Hana pun turun dari mobil Ryu. Dia melambaikan tangannya dan melangkah menjauh. Tapi Ryu memanggil Hana.
"Hana!"
Hana menoleh padanya.
"I love you." ucap Ryu dengan keras.
Hana tersenyum dan dengan bibir bergerak mengucapkan kalimat yang sama namun tanpa suara. Ryu senang, dia tersenyum dan melambaikan tangannya lalu melajukan mobilnya meninggalkan komplek rumah sewa Hana.
_
Hana ini berada di rumah utama bersama Ryu, hatinya berdebar akan bertemu dengan kakek dan ibunya Ryu.
Ryu sengaja tidak memberitahu Hana dulu kalau papanya Hiroshi masih hidup di Indonesia. Setelah mendapatkan restu dari kakeknya, dia akan terbang ke Indonesia bertemu papanya. Dan katanya akhir bulan ini Erick dan Eiko akan menikah.
Jadi dia akan ke Indonesia sekalian bertemu dan melamar Hana secara resmi dan bertemu papanya bersama Hana.
Kini Hana dan Ryu sedang duduk di ruang tamu, tak lama datang ibunya Ryu. Naomi, dia tersenyum pada Ryu juga Hana. Hana pun membalas senyuman Naomi dan membungkukan badannya tanda hormat.
Takahiro pun sudah masuk dan mendekat pada cucunya. Hana berdiri dan membungkuk juga pada kakek Takahiro, begitu pun Ryu.
"Duduklah, kakek hanya bertemu kalian sebentar dan memberikan beberapa pertanyaan pada calon istrimu itu Ryu." kata kakeknya pada Ryu.
Ryu memegang tangan Hana agar jangan gugup dengan pertanyaan kakeknya.
Dan sesi tanya jawab berlangsung, Hana menjawab dengan cepat dan lugas. Semua pertanyaan Takahiro seputar keluarganya juga keluarga Hana.
Tentu saja membuat Ryu kagum dengan jawaban Hana. Ryu tahu Hana itu lulus dengan nilai cumlaude. Jadi pantas saja Hana menjawab dengan tegas dan cepat.
Semua sejarah Jepang dan silsilah keluarga Ryu Hana tahu. Meski sebagian dia lupa atau bahkan tidak tahu. Tapi bagi Takahiro, memang gadis bernama Hana itu pantas untuk jadi istri Ryu.
"Baiklah, karena dia sudah memjawab semua pertanyaan kakek dengan hampir benar. Jadi, kakek merestui kalian untuk menikah. Kakek hanya menunggu kabar kapan kalian akan menikah." Kata tuan Takahiro.
Baik Hana maupun Ryu sangat senang, ternyata kakeknya mudah sekali memberinya restu. Dan ibunya Naomi, hanya mengikuti apa katakan oleh mertuanya saja. Dia pun merestui Ryu menikah dengan Hana.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊😊