V E

V E
36. Ryu Merasa Bersalah



Setelah menghidangkan cemilan, kini Ve masuk kw kamarnya. Dia akan pergi ke klub untuk melatih karate. Kemudian dia keluar lagi dengan berganti pakaian dan mendekat pada kedua laki-laki yang sedang berbicara serius itu.


"Kak, aku ke klub dulu ya." kata Ve pada Erick.


"Memang motor kamu sudah ada di rumah? Aku lihat motor belum sampai di depan rumahmu?" tanya Erick.


"Aku ke rumah Andre, pasti ada di sana. Mungkin dia buru-buru di suruh ibunya jadi ngga sempat mengantar kesini." jawab Ve.


"Ooh, ya sudah. Tapi ibu sudah di kasih tahu kan?" tanya Erick.


"Udah, tadi sih bilangnya tanggung menunggu lima menit ngukus bronisnya." jawab Ve.


"Eiko, kamu mau kemana?" tanya Ryu.


"Karate, latihan." jawab Ve singkat.


Dia belum terbiasa dengan panggilan Ryu padanya dengan nama sebenarnya.


"Biarkan saja, lo hanya butuh ibunya Ve kan?" tanya Erick.


"Yes."


Ve pun pergi, kemudian tidak lama ibu Tika keluar dari dapur dan menuju ruang tamu yang di mana ada Ryu dan Erick.


Ibu Tika tertegun, dia perlahan mendekat pada Erick dan Ryu. Erick melihat ibu Tika dan menyalaminya, sedangkan Ryu berdiri dan memberi hormat dengan setengah membungkuk.


Ibu Tika hanya tersenyum, lalu dia duduk di depan kedua laki-laki itu menatap satu persatu secara bergantian.


Meski pun dia sudah mengira bahwa laki-laki berperawakan tinggi itu adalah anak dari istri pertama suaminya, karena memang ada kemiripan dari wajah suaminya.


Sejenak ibu Tika berdebar melihat wajah Ryu lalu menunduk sebentar, kemudian menarik nafas panjang.


"Nak Erick, siapa dia?" tanya ibu Tika pelan.


"Dia Ryu bu, emm anaknya tuan Hiroshi dari Jepang." jawab Erick ragu.


Kemudian dia menatap Ryu dan memberi isyarat agar menyapanya.


Ryu pun menyapa ibu Tika dengan bahasa Jepang, dia merasa ibu Ve pasti bisa bahasa Jepang.


"Halo, apa kabar?" tanya Ryu.


"Saya baik, Ryu. Ada apa kamu kemari?" tanya ibu Tika dengan lancarnya.


Tentu saja Ryu senang, karena dia tidak perlu lagi translate bahasa dari Erick.


"Saya ingin bertemu ibu juga Eiko, adikku. Kalian apakah sangat senang hidup di sini?" tanya Ryu masih agak canggung.


"Ya, seperti apa yang Ryu lihat, Eiko sangat senang hidup di sini. Meski pun kami hidup dengan kesederhanaan." jawab ibu Tika.


"Apa saya boleh membawa Eiko ke Jepang?" tanya Ryu.


"Untuk apa?" tanya ibu Tika.


"Saya mau memperkenalkan pada papa, kalau anak gadisnya sudah besar dan cantik." jawab Ryu.


Ibu Tika diam, dia bingung. Haruskah Ve bertemu dengan papanya? Tapi, bagaimana nanti dengan kakeknya?


Erick yang hanya diam, memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka meski mengerti, tapi dia tidak berhak ikut campur urusan Ryu dangan ibu Tika.


"Apakah harus ke sana?" tanya ibu Tika.


"Papa harus tahu kalau ada anaknya yang sudah besar." kata Ryu.


"Saya belum siap untuk bertemu papamu, lagi pula kakekmu juga tidak akan menerima Eiko." kata ibu Tika lagi.


"Kalau ibu tidak mau juga tidak apa-apa, setidaknya pikirkan nasib Eiko ke depannya. Dia tidak pernah tahu kan dengan papa? Mana tahu dia merindukan papa, aku tidak mau adikku tidak mengenal papanya. Juga tidak menerima kasih sayang papa, aku merasa bersalah, karena hanya aku yang mendapatkan kasih sayang papa sedangkan ada anak yang lain yang juga butuh kasih sayang papa." kata Ryu.


Ibu Tika diam, dia juga kasihan dengan Ve. Meskipun anaknya itu terlihat acuh, tapi dari lubuk hatinya dia tahu Ve itu merindukan sosok seorang ayah.


"Tanyakan saja sama Eiko, dia apakah mau kamu ajak ke Jepang untuk menemui papanya. Ibu terserah dia, Ryu. Tapi maaf, ibu tidak bisa ikut jika Eiko mau pergi dengamu." kata ibu Tika.


"Saya mengerti, akan saya tanyakan pada Eiko tentang ini. Dia juga belum saya kasih tahu." kata Ryu lagi.


Ibu Tika tersenyum, dia lalu melirik ke arah Erick yang sejak tadi hanya diam saja.


"Oh ya? Nak Erick tahu apa yang kira bicarakan?" tanya ibu Tika.


"Ya bu, saya mengerti semua." jawab Erick tersenyum.


"Dia tidak rela Eiko saya bawa ke Jepang bu." kata Ryu tersenyum sinis.


"Kita lihat keputusan Ve, apakah dia mau pergi bertemu dengan papanya." kata ibu Tika.


"Memang seharusnya Ve bertemu dengan tuan Hiroshi bu, dia harus tahu tentang papanya. Tapi..." kata Erick berhenti sesaat.


"Kenapa?"


"Dia tidak bisa jauh dari Eiko, heh. Pacar macam apa itu?!"


"Hei, gue mendukung dia jika itu harus di lakukan ya. Aku tidak melarang Ve untuk bertemu papanya, lagi pula aku juga akan berkunjung menemuinya." kata Erick.


"Mau apa lo?"


"Gue akan meminta izin juga padanya, kalau gue ini pacarnya. Juga meminta padanya nanti Ve untuk jadi istriku." kata Erick lagi dengan serius.


Baik Ryu atau pun ibu Tika terdiam mendengar keseriusan Erick. Ternyata Erick adalah laki-laki yang bertanggung jawab.


"Yes, good. Lo harus meminta izin pada papa, kalay anaknya punya kekasih sepertimu. Apa dia akan menerimamu dengan baik." kata Ryu mencibir.


"Jelas beliau akan menyetujuinya, gue yakin sekali." kata Erick dengan percaya diri.


"Tapi kakaknya yang akan menantangnya." kata Ryu dengan bangganya.


Ibu Tika menggeleng kepala saja dengan perseteruan mereka. Tapi ibu Tika merasa tenang, karena ada dua laki-laki yang akan melindunginya nanti. Setidaknya dia merasa tenang saat ini, mungkin kah Ryu akan membantu Ve untuk di akui oleh keluarga besarnya?


Tapi bagi ibu Tika, Ve bertemu dengan ayahnya sudah cukup. Dia tidak menuntut untuk di akui oleh keluarga besar papanya, apa lagi kakeknya.


Namun begitu, ibu Tika akan membicarakan semuanya pada Ve mengenai keinginan Ryu itu.


"Apa Ryu akan tinggal lama di sini?" tanya ibu Tika.


"Saya satu minggu di sini, jadi jika Eiko bersedia ikut denganku bertemu papa. Minggu ini juga akan berangkat dengan Eiko ke Jepang." kata Ryu.


Hati ibu Tika tiba-tiba sedih, dia sebenarnya tidak rela. Namun itu hak anaknya mau bagaimana.


Hari semakin sore, tak terasa obrolan mereka hampir memasuki waktu sholat magrib.


Erick pergi ke mushola di depan untuk sholat berjamaah, sedangkan Ryu masih di rumah Ve.


Ve sendiri juga sedang mandi dan juga sholat magrib. Ryu sendiri masih di ruang tamu, sedang memeriksa sosial media dan juga kabar dari sekretarisnya Tamada di Jepang.


'Tuan, ada kabar baru di sini.' tulis pesan Tamada pada Ryu.


'Kabar apa itu?' balas Ryu.


'Saya khawatir akan terjadi sesuatu di sana tuan. Sepertinya tuan Takahiro tahu anda menemui keluarga adik anda.' tulis Tamada lagi.


Ryu menarik nafas panjang, dia kemudian membalas lagi.


'Pantau terus pergerakan kakek, aku takut sebelum aku bawa Eiko ke Jepang kakek mencegahnya dengan mengirim orang suruhannya.' tulis Ryu.


'Ya tuan, saya akan memantau terus. Lalu, apakah anda akan pulang sesuai jadwal atau lebih cepat?'


'Semoga lebih cepat, karena aku sudah bertemu ibunya Eiko. Dan ku rasa tinggal meyakinkan Eiko untuk bertemu papa.'


'Baik tuan, anda di sana juga harus berhati-hati. Karena sepertinya tuan Takahiro juga tidak peduli anda ada di sana.'


'Iya, Tamada. Kamu jangan khawatir, aku akan bicara dengan sahabatku untuk meminta ibunya Eiko di jaga agar tidak terjadi apa-apa dari suruhan kakek.'


Setelah saling balas pesan pada Tamada, Ryu lalu menutup pembicaraannya dengan Tamada melalui pesan singkat.


_


_


_


😊😊😊😊