V E

V E
55. Kebahagiaan Hiroshi Dan Harumi



Setelah mengucapkan ijab kabul dan mengadakan syukuran kecil-kecilan di mushola, kini kedua pengantin baru dan anaknya serta Erick pulang ke rumah.


Malam sudah beranjak pukul sembilan malam, dan keduanya sudah sampai di rumah. Ve sendiri merasakan kebahagiaan kedua orang tuanya yang kini jadi pengantin baru.


"Ehem, cieee pengantin baru niih." uacapan Ve pada kedua orang tuanya untuk meledek mereka.


"Iya dong, papa senang sekarang. Papa bahagia bisa kembali lagi pada kalian." jawab Hiroshi yang tidak mau melepas pelukannya pada istrinya.


"Malam pertama nih nantinya." ucap Ve lagi menggoda ibunya.


"Jelas dong, malam pertama yang kedua." ucap Hiroshi lagi menimpali ucapan anaknya.


Kali ini dia lebih berani mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Dan tentu saja membuat ibu Tika malu.


"Jadi, aku bakal punya adik nih? Sebesar ini?" tanya Ve sambil menunjuk dirinya tidak percaya.


"Sudah dong pembicaraan begitunya, sudah sana kamu antar nak Erick pulang. Ini sudah malam." kata bu Tika yang menghentikan pembicaraan ngawur antara anak dan suaminya, menurutnya.


Erick yang melihat dan mendengar percakapan keduanya hanya tersenyum saja. Kemudian dia menarik Ve untuk mengantarnya pulang sampai di depan rumah.


"Sudah, jangan goda ibu sama papa kamu lagi. Kasihan ibu tuh, malu." kata Erick.


"Aku suka goda ibu sama papa, kak." kata Ve ketika mereka sudah di luar rumah.


Erick hanya tersenyum menanggapi ucapan Ve. Dia memegang kedua tangan Ve dan mendekat padanya, lalu memeluk Ve yang sedang menghadap padanya.


"Kamu sendiri, kapan kamu mau aku nikahi sayang?" tanya Erick.


Tangannya membelai pipi pacarnya itu, dia gemas dengan sikap Ve saat ini. Dan tentu saja Ve kaget, dia lalu menunduk, pipinya memerah menahan malu.


"Ve, kapan kamu siap aku nikahi? Aku juga ngga sabar lho nikahi kamu, emm?" ucap Erick yang membuat Ve semakin menunduk dan kepalanya menyentuh dada Erick.


"Lho, kok di tanya malah menunduk begitu sih?"


"Aku malu kak." ucap Ve, pipinya memerah.


"Hahah, kamu suka banget ya meledek ibu sama papa kamu. Tapi kamu sendiri ngga mau jawab kapan kamu siap menikah denganku." kata Erick lagi memeluk erat Ve.


"Ya, kan pertanyaan kakak mendadak begitu. Aku belum bisa jawab sekarang." jawab Ve.


Erick tersenyum, sebenarnya dia juga hanya menggoda Ve saja. Tapi jika dia mendapatkan jawaban pasti dari Ve, itu adalah bonus. Karena dia sudah di peringatkan oleh Hiroshi, setidaknya nanti setelah Ve lulus kuliah baru dia bisa menikahi anaknya.


"Ya, tinggal jawab aja. Apa kamu tidak mau merasakan malam pertama seperti ibu dan papamu?" kembali Erick menggoda Ve.


"Kak Erick, jangan ledek aku terus." ucap Ve dengan manjanya.


"Hahaha, kan biar tahu bagaimana rasanya malam pertama." ucap Erick lagi, dia senang menggoda kekasihnya itu.


"Udah deh, kak Erick sana pulang. Kenapa aku yang jadi di ledek sih." kata Ve merajuk manja.


"Habis aku gemas melihat wajah kamu yang lagi merajuk itu." ucap Erick.


Mereka tidak sadar jika posisi keduanya masih berpelukan. Hingga tetanggan dua orang lewat di depan rumah Ve melihat adegan itu sambil berlalu mereka menyindir Ve dan Erick.


"Hadeeeh, yang menikah ibunya kenapa yang ngebet itu anaknya ya?" ucap salah satu tetangga sambil berlalu.


"Mungkin, mereka juga pengen kawin juga." jawab temannya itu.


"Kenapa tadi ngga di kawinin keduanya aja ya?"


"Takut ketuker."


"Hahaha!!"


Ve melepas pelukan Erick, dia malu bukan main masi di posisi berpelukan.


"Kenapa lepas?" tanya Erick heran.


"Tadi dengar ngga sih, tuh tetangga nyindir-nyindir gitu? Aku malu kak." ucap Ve.


"Ya udah, aku pulang dulu ya. Langsung tidur ya, jangan begadang lagi." ucap Erick lagi.


"Iya."


Setelah berpamitan, Erick pergi dari rumah Ve. Mobilnya masih terparkir di depan mushola tadi.


_


Sementara itu, di kamar ibu Tika. Keduanya tampak sedang mengganti bajunya. Ibu Tika yang di rias sederhana dan memakai kebaya dan kerudung saja, sedangkan Hiroshi memakai jas kemeja putih.


Dan keduanya duduk saling berhadapan. Hiroshi menatap istrinya penuh cinta, rasa bahagia dan rindu yang terpendam.


Dia membelai pipi istrinya dengan lembut. Perlahan wajahnya mendekat pada Harumi, lalu dia menyambut bibir istrinya yang lama tidak dia sentuh.


Bibir keduanya saling bertaut dan mengulum, mata Harumi terpejam. Menikmati ciuman yang lembut dari suaminya, dan semakin lama nafas keduanya semakin memburu karena gairah yang semakin meningkat.


Lama keduanya saling merasakan hangatnya berpagutan. Dan akhirnya melepas satu sama lain, Harumi tertunduk malu. Hiroshi tersenyum senang, kembali dia meraup bibir istrinya yang sudah menjadi candunya.


Rasa bahagia yang membuncah di rasakan keduanya, dan kini saling melepaskan kerinduan dengan menumpahkannya saling merasakan kehangatan pada tubuh masing-masing.


Malam semakin larut, kedua suami istrinyang sedang menimati kebahagiaan tak terkira hingga larut malam. Meski keduanya baru pertama kali melakukan setelah berpisah sekian lama, namun gairah keduanya tidak kalah dengan anak muda pada umumnya.


Dan setelah keduanya kelelahan, kini mereka menyudahi kegiatan yang membahagiakan itu. Mereka saling berpelukan, mencari kenyamanan dan keamanan pada diri masing-masing.


"Aku bahagia akhirnya bisa bersama kamu lagi, Harumi." ucap Hiroshi.


Dia mengeratkan pelukannya pada istrinya.


"Aku juga, sejujurnya aku ragu dan tidak berharao kamu akan menemuiku dan kembali padaku. Karena ayah Takahiro, tapi ternyata takdir berpihak padaku. Aku bisa bertemu denganmu lagi dan kembali bersama." ucap Harumi.


"Ku pikir ayah memang sengaja membuatku meninggal di sana, agar aku bisa bertemu kamu dan hidup denganmu lagi."


"Bagaimana keadaan di sana? Apakah Eiko kesulitan hidup di sana?" tanya Harumi.


"Tidak, dia tampaknya senang sekali. Ada Erick dan juga Ryu yang menjaganya. Aku sangat bersyukur mereka berdua menjaga Eiko. Terutama Erick, dia sangat bisa di percaya." ucap Hiroshi.


"Aku juga percaya padanya, bagaimana kalau kita izinkan Eiko menikah dengan Erick secepatnya. Apa kamu keberatan?" tanya Harumi.


"Apa sebaiknya menunggu dia lulus kuliah dulu?" kata Hiroshi.


Jarang sekali dia menemui seorang gadis menikah sebelum kuliahnya selesai, tapi di Indonesia itu sudah lumrah.


"Aku takut Erick semakin menunggu lama dan takut terjadi sesuatu di luar dugaan kita. Ku lihat keduanya sudah sangat dekat." ucap Harumi lagi.


"Misalnya apa?" tanya Hiroshi heran.


"Ya, kamu tahu sebagai laki-laki. Aku takut Erick tidak sadar dengan sikapnya yang semakin dekat dengan Eiko dia bahkan mendahuluinya." ujar Harumi.


"Sayang, jelaskan yang benar. Aku tidak paham apa yang kamu katakan." kata Hiroshi masih belum mengerti apa yang di ucapkan istrinya.


"Begini, kamu laki-laki. Bagaimana rasanya jika bertemu denganku? Apa yang ingin kamu lakukan padaku?" tanya Harumi.


Sebenarnya bisa saja dia mengatakan secara langsung. Tapi dia ingin suaminya berpikir dari sisi laki-laki. Dan memang tampaknya Hiroshi berpikir ke arah itu.


"Kamu berpikir Eiko dan Erick akan melakukan hal terlarang? Dan tanpa sadar?" tanya Hiroshi.


"Ya, seperti apa yang kita lakukan barusan. Dan aku tidak mau anakku memberikan kesuciannya sebelum dia menikah, meski pun pada kekasihnya." ucap Harumi.


"Emm, bukankah mereka sudah besar?" tanya Hiroshi.


Karena menurutnya wajar jika keduanya saling mencintai melakukan itu. Tapi bagi Harumi, dia tidak mau anaknya sampai melakukan itu Baginya harga diri seorang gadis itu terletak pada mahkota keperawanannya.


"Suamiku, bagaimana rasanya ketika mendapati diriku waktu itu aku sudah tidak suci lagi ketika menikah denganmu? Dan bagaimana rasanya jika kamu mendapati aku masih suci?" tanya Harumi untuk mengetahui pikiran suaminya.


"Emm, ya ya. Aku mengerti, baiklah. Aku akan pikirkan itu. Aku setuju denganmu, aku juga tidak mau hal itu terjadi pada anakku." ujar Hiroshi


"Terima kasih kamu mau memikirkannya, walau bagaimana pun kamu papanya Aku hanya tidak mau putriku memberikan mahkotanya sebelum dia menikah. Meski pun sekarang sudah bukan hal yang aneh, tapi menjaga sesuatu yang sangat berharga itu adalah hal yang paling wajib bagi seorang gadis." kata Harumi lagi.


Hiroshi mengecup kening istrinya, dan memeluk erat lagi Harumi.


Malam semakin larut, keduanya pun kini tertidur masih saling berpelukan. Sedangkan Ve ternyata masih berlanjut dengan saling menelepon dengan Erick.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊