V E

V E
68. Hari Pertunangan



Sejak peristiwa Ryu mabuk di kafe dan mencium paksa Hana, kini Ryu lebih banyak diam dan dia sering melamun. Apa yang di katakan kakeknya selalu dia turuti.


Tamada yang melihat perubahan sikap Ryu jadi heran, memang semenjak Ryu mencium Hana malam itu bosnya jadi pendiam.


Dan Hana pun sudah tidak kerja di toko aksesoris milik Ryu lagi setelah dia bekerja satu bulan. Ryu juga tidak pernah bertanya tentang Hana dan ke toko itu lagi.


"Tuan, hari Minggu ini anda bersiap bertunangan dengan nona Ayana." ucap Tamada mengingatkan Ryu.


"Ya, aku tahu." jawab Ryu malas.


Dia kini sedang memeriksa laporan di laptopnya dengan serius. Baginya kini dia akan menyibukkan diri dalam bekerja, tidak peduli apa yang di lakukan oleh orang lain. Termasuk kakeknya atau ibunya. Entah, dia merasa sudah tidak peduli lagi dengan semua orang di sekelilingnya.


Tamada merasa kasihan dengan bosnya, harus terpaksa dengan cara yang aneh. Sudah tahu calon tunangannya menolak, tapi kakeknya tetap mengadakan pertunangan dengan gadis itu.


"Tuan, sekarang nona Hana sudah tidak bekerja di toko aksesoris lagi. Dia hanya bekerja selama satu bulan saja, lalu keluar." kata asistennya memberitahu.


Barangkali, Ryu memperhatikannya jika dia menyinggung soal Hana. Tapi Tamada salah, Ryu hanya menghentikan tangannya yang mengetik, namun kembali melanjutkannya lagi.


"Emm." hanya itu tanggapan Ryu.


Tamada diam, ternyata Ryu juga sudah tidak peduli lagi dengan Hana. Bukankah dia salah telah mencium paksa gadis itu? Seharusnya dia meminta maaf. Tapi percuma, gadis itu juga beberapa hari lalu telah pulang ke negaranya. Kemungkinan untuk menjemput kedua orang tuanya, untuk hadir di acara wisuda dan kelulusannya kuliahnya di Jepang.


Dan waktu sudah beranjak malam, Ryu masih betah di kantornya. Dia terus saja mengetik laporan dan juga proposal yang akan di ajukan pada pihak lain. Yang biasanya Ayumi yang mengerjakan, kini Ryu yang mengerjakan.


"Tuan, ini sudah jam delapan malam. Apa anda tidak ingin pulang?" Tamada bertanya.


"Kamu pulang dulu saja, aku belum selesai dengan proposal ini." jawab Ryu masih fokus pada laptopnya.


Tamada diam, dia menghela nafas panjang. Lalu berkas yang ada di meja tamu kini di beresi olehnya lalu di letakkan di tempatnya.


"Apa anda tidak mengapa saya tinggal? Karena istri saya sedang hamil tuan, jadi tidak bisa di tinggal kalau malam hari." ucap Tamada lagi.


"Aku tidak apa-apa, Tamada. Pulanglah, istrimu lebih membutuhkanmu di banding aku. Jangan khawatir, satu lembar lagi aku selesai." kata Ryu.


"Baiklah, saya akan pulang. Jika anda butuh sesuatu hubungi saya tuan, saya akan datang pada anda." ucap Tamada lagi.


"Ya, pergilah."


"Jaga diri tuan, jangan lupa makan malamnya."


"Ya."


Setelah berpesan seperti itu, Tamada langsung keluar dari ruangan Ryu. Ryu menghentikan ketikannya setelah Tamada keluar dari ruangannya. Dia menyenderkan tubuhnya di kursi empuknya dan memejamkan matanya.


"Hana, maafkan aku." gumam Ryu dalam lamunannya.


Tiba-tiba dia merindukan gadis itu, dan dadanya sesak. Rasa bersalah dan rasa rindu menjadi satu, membuat Ryu menangis pelan. Entah apa yang membuat dia menangis.


"Hana, di mana kamu?" masih dengan gumamannya.


Sejak dia memaksa mencium Hana, Ryu semakin gelisah. Dia sadar waktu itu mencium bibir Hana, rasa rindu dan keinginan selalu dekat dengan Hana membuatnya dia nekat mencium Hana malam itu.


Tapi sialnya, dia kini malah akan bertunangan dengan gadis model itu. perasaan Ryu kini perlahan menyukai Hana, gadis sopan dan ramah serta mandiri dan juga tidak menggunakan kesempatan ketika dia dekat dengan Ryu, membuat Ryu semakin menyukainya.


Entah nanti seperti apa jalan cintanya, dengan Hana atau gadis model itu.


Tiba-tiba Tyu menangis, dia terisak dan sesekali dia menyebut papanya Hiroshi.


"Papa, apa yang harus aku lakukan? Ternyata aku rapuh, namun tidak bisa berbuat apa-apa pa. Hik hik hik." ucap Ryu dalam sepinya malam.


_


Malam yang di tunggu bagi Takahiro dan Naomi, malam pertunangan cucu satu-satunya. Naomi sendiri senang dengan pertunangan itu, karena setelah pertunangan itu dirinya juga akan menikah dengan pengusaha di Osaka. Pengusaha itu juga di kenalkan oleh Takahiro, karena laki-laki yang dulu di kenalkan oleh ibunya tidak datang di acara pertemuan keluarga Takeda.


"Heiji, kamu lihat Ryu apakah masih ada di kamarnya?" pinta Takahiro pada asistennya itu.


"Baik tuan."


Heiji mengetuk pintu kamar Ryu, dan terdengar sahutan dari dalam kamar Ryu.


"Masuk."


Heiji menarik handle pintu dan mendorong daun pintu untuk masuk lebih dalam. Dia melihat Ryu sedang duduk termenung, Heiji lalu mendekat.


"Ada apa Heiji?" tanya Ryu pelan.


"Saya hanya memastikan anda baik-baik saja tuan." jawab Heiji.


Dia tidak mau mengatakan kalau kakeknya khawatir Ryu akan pergi.


"Kamu jangan khawatir, aku bahkan tidak punya kekuatan untuk melarikan diri dari rumah ini." ucap Ryu lirih.


Dia paham maksud Heiji menghampirinya, karena di suruh kakeknya agar Ryu tetap ada di kamarnya dan tidak lari dari pertunangan.


Dan Heiji pun diam, dia lebih mendekat pada Ryu untuk memberi semangat pada cucu majikannya itu.


"Tuan Ryu, anda harus sabar dan bersemangat. Ini adalah hari pertunangan anda dan nona Ayana." ucap Heiji.


Tak lama, Tamada masuk ke dalam kamar Ryu. Dia juga memastikan Ryu baik-baik saja. Tapi dia sudah yakin Ryu tidak dalam keadaan baik-baik saja. Makanya dia masuk ke dalam kamar Ryu.


"Tuan Ryu." ucap Tamada.


Heiji dan Ryu menoleh, kemudian Heiji melangkah pergi. Tapi sebelumnya dia menepuk pundak Tamada.


"Temanilah dia sejenak, barangkali tuan Ryu butuh teman bicara." kata Heiji.


Tamada hanya mengangguk, dan Heiji pun pergi keluar meninggalkan Tamafmda dan Ryu. Tamada menepuk pundak Ryu, kadang memang Ryu itu dia anggap adik di situasi seperti sekarang, karena Tamada tahu Ryu butuh teman bicara.


"Tuan Ryu, anda harus sabar menghadapi tuan Takahiro. Saya yakin maksud dari memaksakan kehendak untuk pertunangan ini adalah agar tahu kalau semua tidak di paksakan." ucap Tamada, membuat Ryu mendongak padanya.


"Apa yang kamu bicarakan Tamada?" tanya Ryu tidak mengerti.


"Saya tahu sebagian cerita dari Heiji, kalau yang memaksa melanjutkan perjodohan itu memang tuan Takahiro juga tuan Takagi Daichi. Tapi itu juga sebenarnya tuan Takahiro masih ragu, namun beliau ingin tahu apakah anda bisa menolaknya atau tidak." kata Tamada menjelaskan.


"Tapi aku sudah menolaknya, Tamada. Bahkan Ayana juga menolak, kenapa kakek malah memaksanya. Jadi aku harus bagaimana?" ujar Ryu menekankan ucapannya.


Tamada diam, dia masih memegang pundak Ryu.


"Saya pikir memang anda harus mengikuti apa yang tuan Takahiro rencanakan, bersabarlah tuan."


"Ya, memang ini nasibku sebagai pewaris tunggal dari keluarga besar kakek, harus menurut apa mau kakek. Yang jelas-jelas calon tunanganku saja menolaknya." ucap Ryu kesal.


Pembicaraan Ryu dan Tamada terpotong karena pelayan menyuruh Ryu dan Tamada segera ke tempat acara sesuai perintah tuan Takahiro.


"Ayo tuan Ryu, kita ke tempat acara itu."


"Baiklah."


Lalu keduanya bersiap dan sebentar saja mereka keluar dari kamar Ryu.


Di luar sudah banyak yang datang, para undangan sudah mulai menikmati hidangan cemilan yang di sediakan. Keluarga Takagi Daichi dan beberapa rekan kerjanya sudah hadir. Tinggal menunggu kedua pasangan yang akan bertunangan.


Ryu memasuki tempat acara, dan semua mata memandang ke arah Ryu yang terlihat tampan dan gagah. Namun wajahnya terlihat sedih dan kecewa.


Dan semua nampak menunggu kedatangan Ayana yang katanya sedang bersiap di salon.


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊😊