
Satu bulan setelah pernikahan Erick, kini akan mempersiapkan pernikahan Ryu dan Hana. Semua sudah sepakat jika Ryu dan Hana menikah di akhir bulan.
Tuan Takahiro tidak bisa hadir di pernikahannya cucunya nanti karena kesehatannya sedang tidak baik. Sedih memang bagi Ryu, namun lebih baik menjaga kesehatan kakeknya dari pada harus mengorbankan kesehatan kakeknya. Sedangkan dia harus cepat menikah.
Dan menurut mitos Jawa, memang harus segera di laksanakan pernikahan. Karena waktunya memang bagus di akhir bulan ini untuk menikahkan Ryu dan Hana.
Hiroshi dan ibu Tika juga ikut sibuk. Karena Ryu tinggal sementara di rumah papanya, sedangkan Naomi datang besok malam.
"Mama kamu besok datangnya?" tanya Hiroshi pada Ryu.
Ryu memang di suruh Hiroshi untuk tinggal dengan papanya menjelang pernikahan tiga hari lagi. Ryu tahu papanya bingung nanti jika bertemu dengan mamanya.
"Papa bingung nanti bertemu mama?" tanya Ryu seolah tahu pikiran yang mengganggu papanya.
"Emm, ya. Apa mamamu tahu papa masih hidup?" tanya Hiroshi.
"Tidak, tapi biarkan aja pa. Lagi pula mama sudah punya calon kok untuk menikah lagi. Tinggal menunggu kakek sembuh dari sakit, mama menikah. Papa jangan khawatir, mama akan kaget . Dan memang sepertinya mama pasti kaget pa, hehe." ucap Ryu menggoda ayahnya itu.
"Kamu itu, papa hanya merasa bersalah sama mama kamu aja. Niatnya papa nanti mau minta maaf sama mama kamu, papa banyak salah selama ini." kata Hiroshi lagi.
"Ya, tinggal bilang sama mama. Tapi jangan kasih tahu ibu Harumi ya, kalau papa bertemu mantan. Hahah." kembali Ryu menggoda papanya.
"Sudah, kalau ngomong sama kamu selalu saja papa di ledek terus. Seharusnya kamu yang mau menikah di ledek karena ngga sabar mau menikah. Kamu iri sama adikmu?"
"Tentu saja pa, bagaimana mungkin mereka bahagia sedangkan aku harus gigit jari melihat kalian bermesraan di depanku."
"Hahah, ternyata itu ya yang membuat kamu cepat pengen menikah?"
"Salah satunya, dan juga biar aku ngga sering bolak-balik kemari pa. Maksudnya aku itu harus menjaga dua perusahaan, jadi repot juga. Kasihan Tamada sama Sinjo harus menghadapi ada klien yang cuma pengen sama aku." kata Ryu lagi.
Memang benar kata Ryu, dia harus mengurus dua perusahaan miliknya juga Hiroshi. Hiroshi menghela nafas panjang.
"Maafkan papa ya, papa harus pensiun lebih dulu."
"Ngga begitu pa, jika aku harus konsentrasi di sana kan bisa aku kendalikan. Sedangkan aku ngga bisa jauh juga sama Hana. Ya, dari pada lama-lama seperti itu dan semua jadi tidak terkendali. Lebih baik cepat menikahi Hana dan menetap di sana."
"Ya memang benar, itu terserah kamu sayang. Papa hanya bisa merestuimu juga mendoakanmu. Tapi, apakah kedua orang tua Hana itu setuju jika anaknya dia bawa ke Jepang nanti?"
"Kan, dulu waktu dia kuliah juga di tinggal selama empat tahun. Jadi udah biasa kan."
"Berbeda Ryu, menuntut ilmu dan menikah itu berbeda. Ada rasa sedih yang amat sedih, jika kuliah pasti anaknya akan kembali lagi pada rumahnya. Sedangkan menikah, hanya singgah dan menjenguk saja. Meski pun memang pada intinya sama. Seperti papa, papa sedih ketika Eiko di bawa pergi oleh suaminya. Padahal hanya pindah rumah, tapi rasanya berbeda sedihnya. Papa baru beberapa bulan tinggal dengan Eiko, baru memberikan kasih sayang papa sama Eiko. Tapi dia sudah di bawa oleh suaminya, papa sedih." ucap Hiroshi panjang lebar.
Entah kenapa percakapan itu berubah jadi sendu, yang tadinya kalimat ledek meledek satu sama lain kini malah berubah sendu.
Ryu diam, dia tahu rasanya di tinggalkan oleh seseorang yang di sayangi. Dia baru kemarin merasakan di tolak oleh Hana, dan nyatanya Hana hanya butuh berpikir untuk menerimanya. Dia juga mencintai Ryu, tapi Eiko itu anak Hiroshi yang baru bertemu tahun ini dan sangat dramatis juga pertemuannya.
Sekarang malah harus berpisah lagi dengan anaknya. Aah, terkadang orang tua itu berlebihan rasa cintanya pada anaknya dan ketika berpisah sedih tak terkira.
Dalam hati Ryu berjanji akan bicara dengan sahabatnya mengenai papanya.
_
Tiba hari pernikahan Ryu Shin Hiroshi dan Hana Pramuningtyas. Semua sudah bersiap untuk melakukan ijab kabul di kota Hana. Rakyat sekitar berbondong-bondong ingin menyaksikan pernikahan besar antara putri keraton Jawa dan anak bangsawan Jepang.
Dua keluarga besar sudah hadir, Naomi juga sudah hadir di sana. Dia juga sudah bicara dengan Hiroshi. Awalnya dia kaget, namun pada akhirnya dia mengerti maksud dari mertuanya itu. Mungkin dia ingin anaknya dan menantunya sama-sama ingin bahagia meski harus ada yang di korbankan.
Tentu saja, Naomi memahami itu. Dan sepertinya sudah tidak ada masalah antara Naomi dan Hiroshi. Tika Harumi juga akrab dengan mantan istri Hiroshi itu, mereka kompak memberi semangat pada Ryu.
Hiroshi senang dengan keakraban Harumi dan Naomi.
Erick dan Ve juga sudah berkenalan dengan Naomi. Naomi baru pertama kali bertemu dengan Ve, dan dia mengakui anak mantan suaminya itu memang manis dan sedikit mirip dengan mertuanya. Ya, nenek Maori.
Dia senang Ve memanggilnya mama juga seperti kakaknya Ryu. Dan pantas saja semua sangat sayang dengan Ve, karena selain cantik dan manis Ve juga pandai menyesuaikan diri dengan siapa saja.
Jam sembilan pagi, semua nampak berkumpul di masjid terdekat. Keluarga Hana tidak mau ijab kabul di masjid agung yang berada di dalam keraton. Karena nanti, proses pernikahan akan di adakan di aula keraton dengan adat keraton juga yang sarat dengan budaya dan adat istiadat.
Ryu sudah di beritahu oleh Hana kalau proses pernikahan ala keraton Jawa itu sangat panjang dan rumit. Dan Ryu tidak masalah, selama dia mau melakukannya dan belajar adat yang ada di keraton.
Baginya itu perjuangan mendapatkan Hana, melakukan segala ritual sejak sebelum di adakannya akad nikah dan sesudahnya. Meski ramgkaian acara terlalu panjang dan melelahkan. Namun itulah budaya setiap daerah di negeri ini.
Jam sepuluh pagi sudah berkumpul, mengambilan sumpah dan ijab kabul juga sudah mulai berkumandang di masjid itu. Keheningan dan kesakralan acara sangat terasa.
Beberapa kali Ryu harus belajar dan berlatih untuk mengucapkan ijab kabul. Dan kini Ryu sudah hafal.
Penghulu menjabat tangan Ryu, tangan berkeringat dingin. Namun otak dan pikirannya serta hatinya sudah siap mengucapkan ijab kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Hana Pramuningtyas binti Raden Mangku Wijaya dengan mas kawin emas seberat seratus gram di baya tunai."
Ucapan ijab kabul Ryu terdengar lantang dan lancar, hingga suara kata Sah terdengar juga dengan cepat. Tepuk tangan dari hadirin membuat Ryu bangga dia bisa dengan lancar mengucapkan ijab kabul.
Hana yang berada di belakang, menangis haru mendengar Ryu mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Dia takut Ryu salah mengucapkannya, tapi nyatanya Ryu mengucapkan dengan lancar dan benar.
"Eecieee, kak Hana sekarang jadi kakak iparku beneran." goda Ve pada Hana.
Hana hanya tersenyum malu di goda oleh adik iparnya.
"Emm, oniichan semalaman menghafal terus lho mengucapkan ijab kabul, belajar sama kak Erick." kata Ve pada Hana.
Hana terharu mendengar suaminya sekarang belajar dengan gigih, dan akhirnya berhasil dengan baik.
"Hana, ayo keluar. Suamimu sudah menunggumu." kata ibunya.
Hana bangkit dan langsung keluar dari kamarnya di antar oleh Ve dan ibunya. Rasa deg-degan bertemu Ryu yang sekarang jadi suaminya.
Dan kini Hana duduk di samping Ryu, menyalaminya sebagai istri Ryu. Kini duduk bersama menanda tangani buku nikah masing-masing dan setelahnya bersungkem pada kedua orang tua.
Acara sakral dan resmi itu suasananya mengharukan.
Kebahagiaan kedua keluarga antara Ryu dan Hana semakin lengkap. Dan besok proses pernikahan menurut adat keraton di aula keraton.
_
_
_
😊😊😊😊😊😊😊😊😊