V E

V E
27. Bronis Buatan Ve



Ve kini sibuk membuat bronis malam-malam, sampai ibunya heran kenapa Ve membuat bronis?


"Ve, kamu buat bronis untuk siapa?" tanya ibunya heran.


Ve sedang mixer campuran bahan bronis dengan suara keras, hingga pertanyaan ibunya tidak dia dengar. Mungkin di sertai melamun, jadi panggilan ibunya tidak dia dengar.


Sampai tangan ibu Tika menempel di pundaknya dan dia terkejut menatap ibunya.


"Eh ibu, bikin kaget aja sih." kata Ve mengelus dadanya.


"Kamu di tanya sama ibu, untuk siapa kamu bikin bronis sendiri?" tanya ibu Tika lagi.


"Oh, ini ada teman yang ulang tahun bu. Ve mau buatkan bronis buatan sendiri." jawab Ve berbohong.


"Yakin buat teman kamu? Atau untuk seseorang?" tanya ibunya membuat Ve jadi salah tingkah.


"Yakin bu, udah ah. Ibu jangan ganggu Ve terus, nanti ngga pas ini ngaduknya." kata Ve kesal.


Ibu Tika tersenyum, dia tahu Erick dan Ve ada masalah. Tapi entah itu masalah apa, soalnya dia tahu ketika Ve datang Erick langsung pulang. Atau ketika Ve berangkat, Erick datang ke rumahnya. Dan ibu Tika hanya menebak seperti itu saja.


"Ya sudah teruskan, jangan sambil melamun nanti ngga enak bronisnya." kata ibu Tika mengingatkan.


"Iya."


Ibu Tika masuk lagi ke kamarnya, hari ini dia sangat lelah setelah menyelesaikan pesanan tetangganya beberapa loyang bronis kukus dan bolu klasik, di tambah pesanan punya Erick dua.


Jadi ibu Tika baru bisa istirahat malam ini, besok dia ada pesanan lagi untuk kantor lurah tiga kotak, jadi dia harus mempersiapkan tenaganya untuk besok.


Sedangkan Ve masih berkutat di dapur membuat bronis, tapi bukan kukus melainkan di panggang. Jika di kukus enaknya masih anget di makan.


Setelah di mixer sudah cukup, Ve mamasukkan adoanan ke dalam loyang yang sudah di beri lapisan mentega agar tidak lengket ketika sudah matang dan mudah lepas.


Loyang sudah penuh, dia masukkan ke dalam oven untuk di panggang selama empat puluh menit, dia membuat dua loyang cukup untuk Erick saja.


Senyumnya mengembang ketika Ve teringat Erick, dosen yang sudah hampir sebulan mengacuhkannya. Baik di kampus maupun jika ketemu di klub karate.


Tapi kini, Ve malah jadi sering uring-uringan dengan Erick yang acuh padanya.


Empat puluh menit sudah, kini bronisnya sudah matang dan Ve mengambil bronis dari pemanggang lalu di pindahkan ke meja makan. Dia keluarkan bronis itu dan di masukkan ke dalam kotak, di biarkan terbuka agar cepat dingin.


Ve menunggu setengah jam agar bronis itu lumayan adem, baru setelahnya di masukkan ke dalam kulkas. Setelah semua selesai, Ve merapikan kembali alat-alat yang tadi di pakai dan dia cuci agar ibunya tidak mencucinya lagi besok.


_


Pagi ini Ve siap untuk berangkat ke kampus, dia membawa bronis yanga tadi malam dia buat. Dalam hatinya, dia berharap bisa bertemu Erick di parkiran dan bisa bicara berdua lalu memberinya bronis buatannya pada Erick.


"Bu, Ve berangkat dulu ya. Assalamu alaikum." kata Ve.


"Wa alaikum salam, hati-hati Ve."


Lalu Ve melajukan motornya dengan cepat, setidaknya dia lebih cepat sampai di kampus dan menunggu di parkiran di mana Erick memarkirkan mobilnya di sana.


Satu jam perjalanan Ve menuju kampusnya. Terasa lambat kali ini karena dia memang ingin cepat sampai, namun entah kenapa motornya berjalan melambat meski kecepatan sudah dia tambah menjadi tujuh puluh, delapan puluh kilo meter.


Tapi akhirnya sampai juga Ve si kampusnya, dia mencari parkiran seperti biasanya. Dan melihat apakah mobil Erick sudah sampai di kampus atau belum, matanya berkeliling. Dan ternyata dia tidak menemukan mobil Erick terpakir, Ve pun tersenyum. Berarti Erick belum sampai kampus.


Ve menunggu di motornya sambil bermain sosial media di ponselnya. Lima menit menunggu dengan gelisah, namun mobil Erick belum juga datang.


Dan akhirnya di menit ke sepuluh, mobil Erick datang juga. Ini memang masih pukul delapan lebih, Ve sudah ada di parkiran.


Mobil Erick terparkir di tempat biasanya, Ve bangun dari duduknya dan mengambil kantong berisi dua kotak bronis untuk Erick.


Erick keluar dari mobilnya dengan menggunakan kacamata hitamnya, sambil membawa tas ranselnya satu tangannya menjinjing satu buku agak besar, dia melihat Ve menghampirinya.


Wajar datar dia siapkan menghadapi Ve yang kini kian mendekat, dia lepas kacamatanya. Tampak Ve tersenyum sanggung pada Erick, tapi itu terlihat manis di mata Erick.


"Pak Erick." sapa Ve.


Dia pun berhenti di hadapan Ve, matanya menatap dingin membuat Ve semakin gugup.


"Ada apa Ve?" tanya Erick, dia melirik jam di pergelangan tangannya, seperti malas menghadapi Ve.


Erick memandangi kantong kresek itu diam sejenak, dia mencium seperti bronis. Lalu tangannya di ulurkan mengambil kantong kresek dari tangan Ve.


"Itu...."


"Terima kasih ya, saya langsung masuk ke kantor dulu." kata Erick.


Setelah mengambil kantong itu dari tangan Ve, Erick berlalu pergi meninggalkan Ve di parkiran dengan kaget dan bingung. Sedetik kemudian Ve menarik nafas panjang, ada rasa kecewa di hatinya.


Tapi kemudian dia juga pergi menuju ruang kelasnya. Hari ini memang Erick masuk jam sebelas, setelah mata kuliah bahasa oleh ibu Amalia.


Ve masuk kelas dengan langkah gontai menuju bangkunya. Rasanya dia ingin pulang saja, merasa malu dan lecewa Ve rasakan ketika tadi Erick sepertinya masih tidak mau menerimanya.


Kepala Ve di rebahkan di meja, matanya di pejamkan. Hingga tangan besar milik Gilang menyentuh rambutnya dan menariknya jahil.


Tentu saja Ve kaget, dia bangun dan menatap tajam pada sahabatnya itu yang tertawa kecil tanpa dosa.


"Lo kenapa sih, datang-datang narik rambut gue!" tanya Ve ketus.


"Ya lo lagi, udah di kelas kenapa tiduran? Ngantuk? Tidur di rumah yang nyenyak, jangan di kelas." kata Gilang, dia duduk di samping Ve.


"Berisik lo!" bentak Ve.


Dia kesal, hatinya lagi sedih dan kecewa malah di ganggu si Gilang.


"Selamat pagi anak-anak." sapa ibu Amalia.


"Selamat pagi buu." jawab semau mahasiswa satu kelas.


Dan mata kuliah bahasa pun di mulai, semua tampak masih fokus pada mata kuliah pertama, hanya Ve yang kini kadang fokus kadang pikirannya entah kemana. Dua jam mata kuliah bahasa selesai, di lanjutkan oleh mata kuliah matematika.


Kini Ve bersemangat, karena ini adalah mata kuliah matematika dan itu berarti Erick masul di kelasnya. Dia tersenyum senang.


Ramon keluar, ternyata dia di panggil oleh Erick di kantornya. Semua berharap Erick masuk ke kelas, namun ada juga yang berharap Erick tidak masuk ke kelas, hanya memberi tigas saja.


Dan tak lama Ramon masuk lagi, memberi pengumuman bahwa pak Erick tidak masuk ke kelas. Ada rapat di kantornya, dan hanya memberinya tugas saja selama dua jam mata kuliah.


Ada yang senang juga pasti ada yang kecewa, seperti halnya Ve. Dia kecewa Erick tidak masuk ke kelasnya.


_


Pukul dua siang, Ve selesai kuliah. Dia langsung pulang ke rumah, karena tiba-tiba saja kepalanya pusing. Gilang mengajak Ve nongkrong di kafe langganannya saja Ve tolak, biasanya kalau nongkrong di kafe bersama Gilang dan lainnya kadang dia ikut jika sedang malas pikirnanya.


Tapi kali ini dia langsung pulang, dan segera pergi dari kampusnya.


Namun baru saja dia memakai helm, tangan kekar menarik lengannya dan mengambil helm yang akan di gunakannya.


Ve kaget, dia menoleh ke belakang dan ternyata itu dosennya tadi.


"Pak Erick, ada apa" tanya Ve kaget.


"Ikut ke mobil." kata Erick sambil membinbing Ve menuju mobilnya yang agak jauh dari motor Ve.


Mau tidak mau Ve mengikuti langakah Erick, tangan tidak lepas dari cengkeramannya di lengan Ve.


Sampai Ve masuk ke dalam mobil dan Erick masuk di sebelahnya. Ada rasa aneh di hati Ve, kenapa Erick seperti itu.


Mereka duduk berhadapan, Erick masih menatao tajam pada Ve. Ve sendiri tidak tahu kenapa Erick membawanya masuk ke dalam mobilnya.


"Pak Erick ada apa ya?"


_


_


_


😊😊😊😊😊😊😊😊